Arsip Tag: gerundelan

Tujuh Jurus dari Nyonya Wei ( 6 )

Gerundelan John Kuan

Jurus Keenam: Persendian Kuat Tali Busur
Contoh kaligrafi gaya ‘ Resmi ‘ Dinasti Han, diambil dari [ Epitaf Cao Quan ]
Satu jurus lagi dari Nyonya Wei yang menggunakan perumpamaan pemanahan: Persendian Kuat Tali Busur , dan jurus ini bukan membicarakan kelenturan, ketegangan, namun ingin Wang Xizhi memperhatikan sebuah busur, bagaimana menggulung mengikat tali busur dan dahan busur menjadi satu. Sebuah busur, seandainya sambungan tali busur dan dahan busur ( limb ) tidak bagus, maka sangat sulit menghasilkan kekuatan.     Persendian Kuat Tali Busur membicarakan tentang ‘sambungan’ di kelokan tajam pada goresan pertama di dalam karakter 力 ( baca: li, artinya: tenaga ). Goresan ini bermula dari ‘ garis horizontal ‘ lalu berputar tajam lurus ke bawah menjadi ‘ garis vertikal ‘, menjaga kekuatan goresan ‘ garis horizontal ‘ agar tetap berlanjut ke dalam ‘ garis vertikal ‘, bagaimana supaya di antara dua goresan yang berbeda arah, berbeda kekuatan menemukan ‘ sambungan ‘ yang paling mantap. Persis seperti persendian tubuh manusia, karena harus menahan kekuatan yang sangat besar lalu menjadi rumit. Pergelangan dan siku tangan, lutut, pergelangang kaki, semuanya juga begitu.

Coba perhatikan sebuah busur yang bagus, di dua ujung dahan busur baik terbuat dari kayu maupun besi, tersambung dengan tali yang terbuat dari urat atau kulit binatang. Dan di antara tali dan busur, agar tidak lepas, digunakan perekat, digulung dan diikat dengan tali dan benang, sangat mirip persendian tubuh manusia, sangat kuat dan bertenaga. Sewaktu tali busur ditarik, ketegangannya membuat kita merasa ada kekuatan yang tersimpan di dalamnya.

 Jurus Persendian Kuat Tali Busur juga merupakan semacam perubahan di masa peralihan dari gaya 汉隶 ( baca: Han Li ), yaitu gaya ‘ Resmi ‘ pada masa Dinasti Han menuju gaya 楷书 ( baca: Kai Shu ) atau gaya ‘ Umum ‘ pada masa Dinasti Tang.

Kaligrafi Ouyang Xun ( 557 – 641, Dinasti Tang )
Di dalam gaya ‘ Resmi ‘ Dinasti Han, kelokan di ujung ‘ garis horizontal ‘ menuju ‘ garis vertikal ‘, tidak tampak ada perhentian kuas. Namun, di dalam gaya ‘ Umum ‘ Dinasti Tang sudah jelas kelihatan perhentian kuas di kelokan tersebut. Seperti saat menulis karakter 力, di ujung ‘ garis horizontal ‘ gerakan kuas pelan-pelan diangkat sedikit, lalu berhenti sesaat, baru menikung turun menjadi goresan ‘garis vertikal ‘

Di dalam gaya ‘ Umum ‘ Dinasti Tang, perhentian kuas ini telah menjadi ciri khas, seperti dapat dilihat dalam kaligrafi Ouyang Xun, Yan Zhenqing ( contoh kaligrafinya ada di catatan sebelumnya ) dan Liu Gongquan.

Persendian Kuat Tali Busurdari Nyonya Wei ini bukan hanya salah satu pelajaran kaligrafi kepada Wang Xizhi saja, tetapi mungkin menyimpan beberapa isyarat perubahan gerakan kuas di masa peralihan dari gaya ‘ Resmi ‘ Dinasti Han menuju gaya ‘ Umum ‘ Dinasti Tang.

Kaligrafi Liu Gongquan ( 778 – 865, Dinasti Tang )
Dan setelah menulis enam jurus Formasi Tempur Kuas, saya merasa mungkin tidak mesti sepenuhnya mengikuti perumpamaan Nyonya Wei. Fenomena alam seperti dalam jurus Batu Jatuh dari Puncak Tinggi, Arakan Awan Seribu Li, Rotan Kering Sepuluh Ribu Tahun, bisa dipahami jaman dahulu maupun sekarang. Mengenai pemahaman terhadap kekuatan, ketegangan sebuah busur, sebenarnya bisa diubah sesuai tempat dan waktu. Saya kira banyak alat-alat moderen yang dapat digunakan sebagai perumpamaan ketegangan dan kelenturan. Formasi Tempur Kuas sudah melewati seribu tujuh ratus tahun, mungkin sudah perlu perumpamaan-perumpamaan baru.

Iklan

Tujuh Jurus dari Nyonya Wei ( 5 )

Gerundelan John Kuan

Jurus Kelima: Busur Melepas Seratus Pikul

Kaligrafi Ouyang Xun ( 557 -641, Dinasti Tang )
Waktu kecil belajar kaligrafi ada banyak ‘ aturan ‘, kemudian baru pelan-pelan menyadari, ternyata bukan semuanya tentang kaligrafi, tetapi adalah ‘ aturan ‘ bersikap terhadap orang maupun dunia luar. Misalnya, waktu kakek mengajari saya menulis karakter Han, selalu menekankan ‘ lurus dan benar ‘, kalau duduk dengan posisi benar dan punggung lurus, pena dengan sendirinya akan ‘ lurus dan benar ‘, maka ‘ lurus dan benar ‘ adalah pelajaran kaligrafi saya yang pertama.

Sebelum mulai menulis, melatih tubuh duduk ‘ lurus dan benar ‘, dua kaki dibuka, selebar bahu. Kakek berkata: ” Ruang di antara kakimu harus bisa ‘ tidur ‘ seekor anjing. ” Perumpamaan ini agak aneh. Suatu sore yang panas, saya sedang latihan kaligrafi, Si Hitam tiba-tiba menyusup ke kolong meja, berbaring tepat di antara kakiku. Saya menunduk lihat anjing itu, senang sekali, sore itu sangat tenang latihan menulis. Saya kira sekarang Si Hitam pasti menemani kakek di atas sana, terakhir kali melihatnya sudah beberapa puluh tahun yang lalu, dia kelihatan lemah dan murung, mungkin depresi karena dua kali berturut-turut gagal membesarkan anaknya. Akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir di dalam semak. Kakek berkata: ” Anjing baik tidak akan mati di depan tuannya, dia bahkan berusaha agar kita tidak menemukan jasadnya ” Saya yang menemukan dia tergeletak kaku di dalam semak. Latihan menulis pada masa kecil seperti dilengkapi dengan berbagai kenangan yang tidak mudah aus.  Mungkin kakek menyuruh saya melebarkan kedua kaki, hanya ingin tubuh saya tidak terkekang, terasa lepas.

Kaligrafi Su Dongpo ( 1037 – 1101, Dinasti Song )

‘ Pergelangan Gantung ‘ adalah salah satu latihan penguasaan kuas, dengan kuas di tangan, pergelangan dan siku tangan menggantung, tidak boleh bersandar pada permukaan meja.  Satu sisi adalah untuk menjaga tubuh tetap ‘ lurus ‘, dan yang lebih penting adalah setelah ‘ Pergelangan Gantung ‘,  maka gerakan kuas tidak lagi hanya dari jari-jari tangan, kekuatan gerakan akan melalui pergelangan tangan yang lentur, menggerakkan siku, lengan dan bahu. Terutama waktu menulis karakter besar, bersama gerakan dari bahu, punggung, sangat menyerupai kungfu, bisa bercucuran keringat.

Kakek selalu berkata bahwa kaligrafi juga semacam olah raga, mungkin karena gerakan dalam kaligrafi mirip Tai Chi, melatih pernafasan dan keseimbangan tubuh, dengan menggunakan tarik lepas gerak diam tubuh, memang sangat mirip dengan latihan pernafasan dalam olahraga Timur.

Berbicara tentang kungfu dan olahraga, jurus kelima dalam Formasi Tempur Kuas adalah pelajaran yang berhubungan erat dengan keduanya: memanah, dan jurusnya disebut Busur Melepas Seratus Pikul

Memanah dan kaligrafi adalah dua dari enam pelajaran ( seni ) yang mesti diikuti kaum terpelajar pada jaman Dinasti Qin ( 221 SM – 207 SM ), sehingga sangat wajar menghubungan goresan kuas dengan pemanahan. Busur Melepas Seratus Pikul di dalam Formasi Tempur Kuas membicarakan ‘ garis vertikal ‘ yang memiring ke kanan, dan ujungnya disertai dengan satu gerakan menekuk jadi mata kail, seperti dalam karakater 戈 ( baca: ge, semacam mata tombak )

Ketika Nyonya Wei mengajari Wang Xizhi menulis karakter seperti 戈 begini, dia mengingatkan Wang Xizhi yang masih kecil, di dalam goresan ada suatu kelenturan yang sangat kuat, seperti busur yang memiliki kekuatan seratus pikul, siap melepaskan sebatang anak panah.

Nyonya Wei tidak menekankan bentuk busur atau pun anak panah, namun adalah kelenturan yang luar biasa setelah tali busur ditarik hingga menegang, maka, kata ‘ Lepas ‘ berubah menjadi sangat penting ——— satu goresan kuat yang penuh kelenturan, yang dapat melepaskan anak panah.

Memanah harus menggunakan busur, menarik tali busur, ada tarikan antara bahu dan busur, kuat atau lemah tarikan itu hanya sendiri saja yang bisa merasakan. Nyonya Wei memang ingin Wang Xizhi merasakan kekuatan lenturan saat anak panah melesat pergi, dan menggunakan pengalaman ini untuk menulis goresan di dalam karakter 戈

Ini sudah merupakan pelajaran estetika, bukan sekedar teknik menulis. Melalui pelajaran menulis, mengembalikan apa yang dialami tubuh sendiri untuk memahami hidup.

Kaligrafi Yang Ningshi ( 873 -954, Dinasti Tang )

 

Tujuh Jurus dari Nyonya Wei ( 4 )

Gerundelan John Kuan

Jurus Keempat: Tebas Putus Cula dan Gading

Kaligrafi Su Dongpo ( 1037 – 1101, Dinasti Song )
Kalau melihat tiga jurus sebelumnya, dapat diketahui bahwa yang diajarkan Nyonya Wei kepada Wang Xizhi seperti bukan sepenuhnya kaligrafi, tetapi membiarkan Wang Xizhi sendiri merasakan berbagai macam bentuk, berat, tekstur, dan gejala di alam terbuka.

Hubungan goresan kaligrafi dengan alam yang ada di dalam tiga jurus sebelumnya tidak sulit dipahami oleh anak sekarang. Namun, jurus keempat ini saya rasa tidak mudah, dan juga telah melanggar perlindungan binatang: Tebas Putus Cula dan Gading.

Tebas Putus Cula dan Gadingadalah berbicara tentang satu unsur di dalam karakter Han: Tendangan kuas menurun ke arah kiri yang disebut 撇 (baca: pei), misalnya karakter 匕 (baca: bi, bisa diartikan, sendok, sekop, mata panah…), pada goresan terakhir ada satu tendangan kuas menurun dari kanan ke kiri, itu yang disebut ‘pei’. Ini adalah gerakan kuas lawan arah, ujung kuas bergerak ke arah berlawanan, harus seperti cula badak yang tajam ditebas putus, atau seperti gading gajah yang melengkung ditebas putus, mesti terasa tajam dan keras.

Dua benda yang diumpamakan dalam jurus keempat ini tidak mudah kita temui hari ini, mungkin sesekali dapat melihatnya di kebun binatang, tetapi tetap terasa sangat asing. Jurus Tebas Putus Cula dan Gading adalah dari tubuh binatang memahami tendangan kuas ke arah kiri dalam kaligrafi, seperti dalam jurus Rotan Kering Seribu Tahun belajar ‘ garis vertikal ‘ yang lentur dan kuat dari tumbuhan. Begitulah Formasi Tempur Kuas, menggunakan berbagai benda di alam untuk mempelajari kaligrafi. Oleh sebab itu, jika bisa memahami inti dari Formasi Tempur Kuas, mungkin bisa menggunakan contoh yang berbeda di jaman yang berbeda pula.

‘Tendangan ke kiri’ di dalam karakter Han, harus tajam, keras, dan ada terasa semacam gerak lawan arus. Satu goresan begini, misalkan di jaman sekarang, tidak tahu Nyonya Wei akan mengumpamakan benda apa untuk menjelaskan kepada Wang Xizhi?

***

Urutan goresan kuas [ Delapan Unsur Karakter Yong ]
   Formasi Tempur Kuas selain sebagai sebuah cara belajar, juga membuka dunia pengetahuan dan rasa yang kaya bagi seorang anak.
Di masa antara Dinasti Chen ( 557 – 589 ) dan Dinasti Sui ( 589 – 618 ) mulai beredar buku pelajaran kaligrafi bernama: 永字八法 ( baca: Yong Zi Ba Fa, (artinya: Delapan Unsur Karakter Yong), dengan cara membongkar karakter Han, dibagi menjadi delapan unsur, sebagai dasar seorang anak mengenal karakter Han. Delapan Unsur Karakter Yong sangat jelas dikembangkan dari Formasi Tempur Kuas, dan pengelompokan unsur dasar karakter Han menjadi lebih sempurna. Namun, Delapan Unsur Karakter Yong agak abstrak, membongkar karakter 永 berdasarkan urutan goresan kuas menjadi delapan unsur ——— 侧 ( baca: ze, artinya: menyamping ) sama dengan ‘titik’ dalam Formasi Tempur Kuas ; 勒 ( baca: le, artinya: tali kekang ) sama dengan ‘ garis horizontal ‘ dalam Formasi Tempur Kuas ; 努 ( baca: nu, artinya: berusaha, berupaya ) sama seperti ‘ garis vertikal ‘ dalam Formasi Tempur Kuas ; 趯 ( baca: ti, artinya: lompat ) sama dengan ‘ mata kail ‘ dalam Formasi Tempur Kuas ; 策 ( baca: ce, artinya: memcambuk ) sama dengan ‘ garis horizontal menengadah ‘ dalam Formasi Tempur Kuas ; 掠 ( baca: lue, artinya: merebut, merampas ) sama dengan ‘ tendangan panjang ke kiri ‘ dalam Formasi Tempur Kuas ; 啄 ( baca: zhuo, artinya: mematuk ) sama dengan ‘ tendangan ke kiri ‘ dalam Formasi Tempur Kuas ; 磔 ( baca: zhe, artinya: membelah ) sama dengan ‘ tendangan ke kanan ‘ dalam Formasi Tempur Kuas

Kaligrafi Huang Tingjian ( 1045 -1105, Dinasti Song )
Walaupun pengelompokan unsur dasar menjadi lebih sempurna, terutama dapat membagi ‘ tendangan kuas ‘ menjadi empat unsur: 策 ( memcambuk ), 掠 ( merampas ), 啄 ( mematuk ), 磔 ( membelah ) lalu dibagi lagi menjadi bagian-bagian yang lebih terperinci ( saya rasa kurang cocok dimasukkan semuanya di sini ), namun dari segi pengajaran ——— terutama untuk seorang anak, kurang perumpamaan yang mudah dimengerti, sehingga belajar kaligrafi kehilangan pemahaman estetika, terjerumus ke dalam penjiplakan bentuk belaka.

Saya sendiri lebih menyukai Formasi Tempur Kuas, karena cara pengajarannya berdiri di atas landasan ‘ apresiasi keindahan ‘, bukan hanya mengajari bentuk saja, tetapi lebih menekankan seorang anak sendiri merasakan dan memahami proses belajar itu.

Saya rasa apresiasi keindahan mesti berhubungan erat dengan kegiatan dalam kehidupan sendiri, seandainya kehilangan itu, seni dan keindahan tidak lebih hanya bentuk saja.

Tujuh Jurus dari Nyonya Wei ( 3 )

Gerundelan John Kuan

Kaligrafi 徐渭 ( Xu Wei, 1521 – 1593, Dinasti Ming )
Pelajaran ketiga dari Nyonya Wei untuk Wang Xizhi adalah ‘ garis vertikal ‘, inilah garis di tengah yang ditarik memanjang ketika menulis karakter 中 ( baca: zhong , artinya: tengah ). Ketika menulis karakter Han, menggoreskan satu garis tegak lurus ini memang sedap. Waktu kecil saya sering melihat tukang obat memamerkan kemampuannya di depan kelenteng, selain jual obat, juga memperagakan jurus kungfu, gambar jimat, sering juga menulis kaligrafi, dia akan di atas selembar kertas besar menulis karakter 虎 ( baca: hu, artinya: harimau ) yang juga sangat besar. Karakter ‘ harimau ‘ ini jika ditulis dengan salah satu gaya kaligrafi: ‘ Gaya Rumput ‘ ( semacam stenografi ), maka garis terakhir akan ditarik sangat panjang, memanjang hingga ke ujung kertas, satu ‘ garis vertikal ‘ yang sungguh panjang.Saya pernah melihat tukang obat menggunakan sebuah kuas yang kurang lebih sebesar sapu, penuh tinta, leluasa dan meluap, dengan gerakan tarian atau kungfu, seakan terbang dengan kuas di atas kertas, qi-nya penuh meluap. Ketika menulis hingga goresan terakhir, kuasnya berhenti di satu tempat di atas kertas, bersiap menarik ke bawah satu goresan ‘ garis vertikal ‘, muridnya harus sigap menarik kertas ke depan, ditarik jadi satu garis yang sangat panjang. Kecepatan tarikan garis begini harus benar-benar terjaga, dan garis itu akan timbul semacam bentuk yang disebut putih terbang. Putih Terbang ini terjadi karena tinta di dalam kuas tidak cukup, dan kuas kering akan menciptakan garis-garis tipis, seperti serat-serat di dalam rotan kering, di indera penglihatan berubah menjadi sangat indah. Seperti pohon tua, seperti rotan kering, seperti serat-serat di dalam kayu atau bambu yang penuh kelenturan dan tidak mudah ditarik putus.

Bagian Putih Terbang dalam kaligrafi Cina menciptakan perasaan kecepatan kibasan dan kealotan. Nyonya Wei membawa Wang Xizhi ke dalam hutan, dari rotan kasar dan tua belajar kekuatan gerakan kuas.

Lukisan 徐渭 ( Xu Wei, 1521 – 1593, Dinasti Ming )
Nyonya Wei mengajari Wang Xizhi melihat Rotan Kering Sepuluh Ribu Tahun, saat mendaki gunung berpegang pada sepotong rotan kering, sepotong yang di dalam perjalanan waktu yang panjang tumbuh menjadi kehidupan. Anak itu meminjam kekuatan rotan, menaikkan tubuhnya ke atas, meminjam kekuatan rotan, menggantung di udara. Tubuh yang menggelatung di udara dapat merasakan kealotan sepotong rotan ——— kekuatan yang alot dan keras yang tidak dapat ditarik putus.

Rotan tua tidak bisa ditarik putus, alot dan keras, ingatan ini kemudian berubah menjadi penghayatan di dalam menulis kaligrafi. ‘ Garis vertikal ‘ ini mesti ditulis hingga tidak bisa ditarik putus, ditulis menjadi alot, ditulis menjadi lentur, di dalamnya akan ada daya yang meluap keluar dari dua sisi.

Rotan Kering Sepuluh Ribu Tahun bukan hanya tumbuhan di alam terbuka, ia telah diumpamakan menjadi sepotong garis kehidupan yang tegar dan kuat dalam kaligrafi Cina. Rotan Kering Sepuluh Ribu Tahun terhadap apa saja kelihatan sangat tua, tetapi ada kehormatan terhadap ketegaran hidup yang samasekali tak tertaklukan.

Wang Xizhi masih anak kecil, namun Nyonya Wei melalui Rotan Kering Sepuluh Ribu Tahun membuat dia di dalam perjalanan hidup yang pelan dan panjang memiliki kekuatan yang alot. Keindahan kaligrafi, selalu saling berhubungan dengan kehidupan.

Batu Jatuh dari Puncak Tinngi mempelajari berat dan kecepatan

Arakan Awan Seribu Li mempelajari kelapangan dada

Rotan Kering Sepuluh Ribu Tahun mengerti keteguhan dan ketegaran

Nyonya Wei adalah guru kaligrafi, dia juga guru kehidupan

 

Tujuh Jurus dari Nyonya Wei ( 2 )

Gerundelan John Kuan

Jurus Kedua: Arakan Awan Seribu Li

Kaligrafi Yan Zhenqing, 709 -784, Dinasti Tang
Banyak sisi dari Formasi Tempur Kuas milik Nyonya Wei yang pantas untuk direnungkan. Pelajarannya yang kedua adalah membawa Wang Xizhi mengenali unsur dasar lain dari tulisan Han, yaitu ‘ garis horizontal ‘ atau karakter Han [ 一 ] yang artinya ‘ satu ‘

Seandainya menarik keluar [ 一 ] dari sebuah karakter, kita akan menemukan beberapa rahasia kaligrafi: [ 一 ] dan ‘ titik ‘ sama-sama adalah unsur dasar pembentukan tulisan Han. Pelajaran kaligrafi yang diberikan Nyonya Wei kepada Wang Xizhi memang dimulai dari latihan unsur dasar. Saya ingin memberikan beberapa contoh [ 一 ] dari kaligrafer-kaligrafer berbagai Dinasti setelah Wang Xizhi, seperti: 颜真卿 ( Yan Zhenqing, 709 -784, Dinasti Tang ), 宋徽宗 ( Song Huizong, 1082 -1135, Dinasti Song ), 董其昌 ( Dong Qichang, 1555 – 1636, Dinasti Ming ), 何绍基 ( He Shaoqi, 1799 -1873, Dinasti Qing ). Karya-karya mereka sangat berpengaruh dan berkarakter, jadi sekalipun mereka yang tidak begitu kenal dengan kaligrafi Cina juga dapat membedakan unsur [ 一 ] di dalam karya kaligrafi mereka.

Unsur [ 一 ] dalam karya Yan Zhenqing dan Song Huizong berbeda sangat jauh, ‘ garis horizontal ‘ Yan Zhenqing begitu kokoh dan berat, sedangkan ‘ garis horizontal ‘ Song Huizong kurus langsing dan di ujungnya ditekuk jadi mata kail; begitu juga unsur [ 一 ] dalam karya Dong Qichang dan He Shaoqi juga tidak sama, ‘ garis horizontal ‘ Dong Qichang tipis jernih bagai benang sutera melambai di dalam air, dan unsur [ 一 ] He Shaoqi ada ketegaran yang kusut mengikat.

Kaligrafi Song Huizong, 1082 -1135, Dinasti Song

Pada jaman Nyonya Wei mengajari Wang Xizhi menulis, masih belum begitu banyak maestro dari Dinasti sebelumnya yang dapat dijadikan panutan, dan Nyonya Wei seperti juga tidak menganjurkan seorang anak terlalu cepat mencontoh kaligrafer yang sudah ‘ jadi ‘. Oleh sebab itu, Wang Xizhi bukan mulai mengenal garis horizontal dari [ 一 ] yang ditulis kaligrafer sebelumnya.
Kaligrafi Dong Qichang, 1555 – 1636, Dinasti Ming
Pelajaran pengenalan terhadap unsur [ 一 ] ini justru berlangsung di alam yang luas.

Nyonya Wei membawa Wang Xizhi keluar rumah, seorang anak kecil, berdiri di padang datar yang luas, menatap cakrawala, menatap cakrawala yang merentang jauh, menatap barisan gumpalan awan di atas cakrawala pelan-pelan bergerak ke dua arah. Nyonya Wei berbisik di telinga anak itu: ” Arakan Awan Seribu Li

Kaligrafi He Shaoqi, 1799 -1873, Dinasti Qing
Arakan Awan Seribu Li, empat kata ini tidak mudah dijelaskan, selalu merasa menulis [ 一 ] hanya perlu pergi memperhatikan cakrawala. Sesungguhnya Arakan Awan Seribu Li adalah menunjukkan barisan awan di atas horizon. Awan rendah-rendah memenuhi, berbaris, menggelinding di atas horizon, itu yang dimaksud Arakan Awan Seribu Li. Ada perasaan yang luas, ada perasaan terbuka menjulur di kedua sisi. Saya agak lama berpikir, mengapa mesti mengunakan dua kata ini, ‘ arakan awan ‘?

Ketika awan membuka barisan, ada semacam gerakan yang sangat pelan, sangat mirip dengan kandungan air kuas perlahan diserap dan menebar di atas kertas. Maka, Arakan Awan Seribu Li adalah hubungan antara kuas, tinta, dan jenis kertas yang kuat menyerap. Menggunakan pena atau pensil atau alat tulis berujung keras sangat sulit merasakan Arakan Awan Seribu Li

Waktu kecil belajar kaligrafi, sering mendengar orang berkata bahwa kaligrafi yang bagus mesti seperti ‘ bekas bocoran di dinding ‘ Waktu itu saya kurang mengerti apa sesungguhnya yang dimaksud ‘ bekas bocoran ‘ itu. Kemudian baru pelan-pelan menemukan, sewaktu menulis kaligrafi, di sekitar goresan kuas akan meninggalkan segaris bekas air agak bening di atas kertas kasar, ini adalah bekas yang menebar dari serapan air tinta, bukan sesuatu yang yang sengaja digores kuas. Sebab bukan garis yang sengaja digores, sehingga mirip kesederhanaan yang primitif dan ketidak-beraturan yang dicapai bekas-bekas yang tercetak alamiah, oleh sebab itu kelihatan agak kalem.
Air bocor merambat dari atap, tanpa warna, bekasnya tidak jelas. Namun setelah lama diendap waktu, bekas-bekas ini akan timbul warna yang agak kuning, agak cokelat, agak merah, dan itu adalah jejak dari penderitaan waktu, oleh sebab itu adalah tingkat teratas apresiasi keindahan.

Kaligrafi Wang Xizhi, 303? -361?, Dinasti Jin
Kalau jaman dulu mengajar kaligrafi mesti membawa anak-anak pergi melihat ‘ bekas bocoran ‘, pergi mengubah jejak yang ditinggalkan waktu ke dalam kaligrafi, mungkin Arakan Awan Seribu Li juga mempunyai makna tersendiri? Yaitu ketika menulis garis horizontal, bagaimana agar ia ditarik terbuka sehingga tercipta hubungan yang bergerak beraturan antara kuas, tinta dan kertas, adalah timbulnya ingatan terhadap lapisan awan yang bergerak tenang di atas padang luas yang senyap, memahami kebesaran, keheningan kehidupan, dan setelah itu jika menulis [ 一 ] lagi, baru mungkin ada gema percakapan antara langit dan bumi.

Inilah pelajaran kedua Wang Xizhi

Tulisan sebelumnya: Tujuh Jurus dari Nyonya Wei ( 1 )

Tujuh Jurus dari Nyonya Wei ( 1 )

Gerundelan John Kuan

Tidak banyak yang tahu nama ini, kecuali mereka yang tertarik dengan sejarah kaligrafi Cina. Dia samasekali tidak meninggalkan jejak tulisan tangannya, kita hanya dapat menduga tulisannya dari delapan baris jiplakan dalam cetakan kayu yang tersimpan di dalam sebuah buku bernama: Kumpulan Kaligrafi Chunhua ( 淳化阁帖, baca: Chun Hua Ge Tei, terbit sekitar tahun 992 ). Dialah Wei Shou – 卫铄, biasa dipanggil Nyonya Wei, hidup di masa Dinasti Jin ( 265 -420 ). Mungkin sedemikian saja yang kita ketahui tentang dirinya.Walaupun Nyonya Wei tidak meninggalkan karya penting, tetapi memiliki pengaruh besar yang tidak bisa diabaikan: Dia telah berhasil melatih seorang kaligrafer paling penting dalam sejarah kaligrafi Cina: Wang Xizhi – 王羲之 dan sebuah karangan pendek mengenai teknik penguasaan kuas Cina: Formasi Tempur Kuas ( 笔阵图, baca: Bi Zhen Tu ). Karangan ini sering dimuat di dalam berbagai macam buku yang membahas kaligrafi, semacam pelajaran dasar kaligrafi Cina. Dan bagi saya, makna Formasi Tempur Kuas adalah untuk memahami bagaimana Nyonya Wei mengajari Wang Xizhi memasuki dunia kaligrafi pada masa itu.

***

Tulisan tidak pasti sama dengan kaligrafi, menulis mungkin hanya ingin menyampaikan maksud. Bentuk tulisan yang dibangun dari garis, belum pasti akan menimbulkan getaran keindahan bagi indera penglihatan. Artinya, fungsi sebagian tulisan hanya bersifat praktikal. Namun, seandainya kita melihat sepucuk surat yang ditulis seseorang, sehabis membaca, setelah mengerti maksudnya, tidak tahan masih ingin melihat lagi, begitu ‘ melihat ‘ berulang kali, pelan-pelan melupakan artinya, mulai merasa lekuk garis-garisnya amat indah, bentuknya amat indah, bidang kosongnya amat indah, saat itu baru disebut kaligrafi. Kaligrafi bukan hanya teknik, kaligrafi adalah semacam apresiasi keindahan. Melihat keindahan garis, keindahan antara titik dan goresan, keindahan bidang kosong, masuk ke dalam mabuk apresiasi keindahan yang murni, dengan begitu sisi seni kaligrafi baru akan tampak.

Sewaktu kecil, Wang Xizhi dilatih menulis oleh Nyonya Wei, saya ingat waktu kecil juga dilatih menulis tulisan Han oleh kakek dengan sejenis buku tulis bernama ‘ sembilan petak ‘. Buku tulis ini adalah untuk melatih struktur tulisan, setiap halaman penuh dengan kotak-kotak yang dibagi dengan garis merah menjadi sembilan petak.

Jumlah goresan setiap karakter Han bisa sangat jauh berbeda. Bisa banyak hingga tiga puluh sampai empat puluh goresan, misalnya 籲 ( baca: yu, artinya: mengimbau ); ada yang sesederhana hanya satu goresan, misalnya 一 ( baca: yi, artinya: satu ), tidak peduli tiga puluh dua goresan atau pun satu goresan semuanya mesti ditaruh ke dalam ‘ sembilan petak ‘, menempati ruang yang sama, mencapai keseimbangan, serasi, harmonis, mantap dan penuh.

Andaikan mengembalikan kaligrafi ke strukturnya yang paling dasar, dia sesungguhnya adalah latihan indera penglihatan yang sangat menarik. Keseimbangan, keserasian, interaksi, isi dan hampa, berbagai macam latihan dasar apresiasi keindahan ada di dalamnya.

Di dalam sebuah kotak kecil, seperti seorang arsitek, latih menggunakan dan mengatur ruang. Memasukkan karakter dengan goresan paling banyak dan paling sedikit ke dalam ruang ‘ sembilan petak ‘ yang sama besar. Penguasaan setiap ruang harus seolah sama ——— sisi ini paling menarik, sebab sekalipun [ 一 ], di dalam ‘ sembilan petak ‘ juga tidak boleh terasa terlalu lapang, terlalu sedikit, terlalu sepi, sebaliknya, mesti seolah penuh memenuhi ruang. Demikian juga dengan [ 籲 ] yang ditaruh di dalam ‘ sembilan petak ‘, tidak boleh terasa terlalu sesak, terlalu ramai. Dan di saat ini, di antara isi dan hampa, di antara garis dan titik, akan ada perubahan-perubahan yang tak terduga banyaknya.

***

Jurus Pertama: Batu Jatuh dari Puncak Tinggi

Pertama kali membaca Formasi Tempur Kuasyang ditulis Nyonya Wei, saya agak terkejut, sebab catatan yang diwariskan ini terlalu sederhana, sederhana hingga sedikit sulit menafsirkannya. Misalnya, dia membongkar sebuah karakter ( huruf ), setelah dibongkar terdapat sebuah unsur, mungkin adalah unsur paling dasar dalam kaligrafi Cina ——— sebuah titik. Titik ini digunakan di banyak karakter. Menulis 江 ( baca: jiang, artinya: sungai ) ada tiga titik di sisi kiri, namun arah, tekanan, ukuran, gaya ketiga titik ini tetap sedikit berbeda.

Titik, di dalam struktur kaligrafi adalah dasar yang sangat penting

Walaupun hanya berupa sebuah titik, tetapi perubahannya sangat banyak. Misalnya, karakter 無 ( baca: wu, artinya: hampa, tiada ), ada empat titik di bagian bawah, cara menulis empat titik ini baik arah, tekanan, ukuran, maupun gaya kemungkinan juga berbeda. Di lain kesempatan ketika melihat sebuah tulisan Han, mungkin bisa perhatikan apakah ada unsur ‘ titik ‘, atau coba analisa watak ‘ titik ‘ itu, renungkan sejenak ‘ titik ‘ itu, apakah seperti Batu Jatuh dari Puncak Tinggi yang disebut Nyonya Wei.

Kalau melihat Formasi Tempur Kuas, Nyonya Wei seperti tidak mengajari Wang Xizhi menulis, tetapi membongkar karakter ( huruf ), dan ketika sebuah karakter dibongkar, maka maknanya akan menguap. Dia menuntun Wang Xizhi memasuki apresiasi keindahan indera penglihatan, hanya mengajari dia menulis sebuah ‘ titik ‘, melatih ‘ titik ‘, merasakan ‘ titik ‘. Dia ingin Wang Xizhi kecil melihat bekas yang ditinggalkan kuas yang telah mencelup tinta di atas permukaan kertas, sekalian menjelaskan frasa ini: Batu Jatuh dari Gunung Tinggi.

Dia ingin anak ( Wang Xizhi ) yang belajar kaligrafi ini merasakan, merasakan di atas tebing ada sebongkah batu jatuh, ‘ titik ‘ itu, persis seperti kekuatan batu jatuh dari tempat yang tinggi.

Mungkin ada yang curiga: Sebenarnya Nyonya Wei sedang mengajari Wang Xizhi kaligrafi atau gerak jatuh bebas ilmu fisika? Kita tahu yang diajarkan Nyonya Wei kepada Wang Xizhi seperti bukan kaligrafi saja. Saya selalu berpikir, mungkin Nyonya Wei benar-benar membawa anak ini ke atas gunung, membiarkan dia merasakan batu, lalu menjatuhkan sebuah batu dari puncak, atau bahkan melempar sebuah batu agar Wang Xizhi menyambut. Kalau begini, pelajaran Batu Jatuh dari Puncak Tinggi pasti menjadi sangat menarik.

Batu adalah sebuah benda, di indera penglihatan ada wujud, saat dipegang ada berat. Bentuk dan berat berbeda. Tangan memegang batu, dapat menimbang beratnya, merasakan lekukannya. Saat batu jatuh, akan memiliki kecepatan, kecepatan sendiri di dalam rangka ‘ jatuh ‘ masih memiliki percepatan yang ada di ilmu fisika; menghantam ke atas tanah, akan menimbulkan kekuatan benturan dengan permukaan tanah ——— semua ini begitu kaya rasa diserap seorang anak kecil. Kaya rasa adalah permulaan apresiasi keindahan.

Kata Pengantar Lanting
Kata Pengantar Lanting 兰亭序

Saya tidak tahu ‘ titik ‘ yang ditulis Wang Xizhi setelah dewasa, apakah ada hubungannya dengan pendidikan yang diberikan Nyonya Wei. Banyak yang berkata bahwa titik di setiap karakter 之 yang ada di dalam karya kaligrafinya yang paling terkenal: Kata Pengantar Lanting兰亭序 ( baca: Langting Xu ) berbeda. Ini adalah sebuah draft yang ditulis Wang Xizhi ketika mabuk, oleh sebab itu ada salah tulis, ada coretan. Setelah sadar, dia sendiri mungkin juga terkejut, bagaimana dirinya bisa menghasilkan kaligrafi yang begitu indah, dan mungkin mencoba lagi, namun bagaimana pun sudah tidak bisa menghasilkan yang sebagus ‘ draft awal ‘

Di belakang karya kaligrafi terkenal ini tersembunyi beberapa hal yang menarik, membuat kita menerka: mengapa Nyonya Wei tidak begitu peduli tulisan Wang Xizhi baik atau tidak, malahan sangat peduli Wang Xizhi mampu atau tidak merasakan kekuatan batu jatuh?

Sebenarnya pelajaran pertama Nyonya Wei ini meninggalkan banyak bagian kosong, saya tidak dapat menduga Nyonya Wei membiarkan Wang Xizhi latih berapa lama, apakah waktunya mencapai beberapa bulan atau beberapa tahun, baru dilanjutkan dengan pelajaran kedua? Namun jurus dasar mengenai ‘ titik ‘ ini, seperti sangat dalam mempengaruhi seorang kaligrafer besar di kemudian hari.

Cinta: antara Budaya dan Tanggung-Jawab, Juga antara Perasaan dan Akal Sehat

Gerundelan Rere ‘Loreinetta

bersyukur
Gambar diunduh dari bp.blogspot.com
Cinta memiliki dimensi spiritual yang dinamakan Isyq-o muhasbat yang memberikan daya kreatifitas yang hidup dan sebagai berdirinya suatu pribadi dan kepribadian. Dimana cinta menduduki urutan pertama dalam tariqh (suatu jalan, cara atau ikhtiar) hingga menuju penyempurnaan diri dan pensucian hati. Cinta juga merupakan stasiun terakhir yang terletak pada Tuhan yang bersifat fundamental.

*Muhamad Iqbal, seorang philosof asal Pakistan ketika bicara tentang cinta.

Definisi tepat yang dapat menggambarkan tentang cinta sangatlah sulit untuk dijelaskan secara terperinci dan sempurna, karena jika api cinta sudah berkobar dan tertebar maka sesungguhnya akan sangat sulit untuk dipadamkan.

Cinta merupakan kekuatan spiritual yang dapat membangkitkan fungsi – fungsi kecerdasan emosional dan secara spiritualitas dapat menembangkan potensi – potensi dari orang yang sedang mengalaminya.

Cinta bukan lagi sebuah rasa, bukan sebuah tampilan emosi saja, TETAPI Cinta adalah sebuah KEADAAN, dimana cinta tak hanya berdiri sendiri, karena ada banyak hal tersimpan di dalam kata cinta itu..

Perasaan yang berawal dari pandangan mata hingga turun kehati merupakan bagian dari hidup dan kehidupan manusia, yang esensinya dapat melahirkan kreativrtas dan sesuatu sebagai hasil karya melalui proses tahap akhir, yaitu tanggung jawab.

Cinta pada dasarnya boleh dikatakan sebagai budaya yang menggunakan perasaan serta akal sehat. Yup, CINTA adalah sebuah KEADAAN yang sendi-sendinya mampu membuat (memaksa) Manusia untuk berpikir. Apa yang sebaiknya…dan Apa yang tidak sebaiknya. Yang Tak Sama antara Individu satu dengan yang lainnya, walau semua itu SAMA, yaitu tentang CINTA.

Selebihnya CINTA adalah sebuah ANugerah dari TUHAN, yang bahkan ada yang bilang bahwa tak semua mampu merasakan RASA CINTA itu….eh yang bener…weeeehhh?? Karenanya ALHAMDULILLAH, jika anda masih memiliki cinta dan kasih sayang.