Arsip Tag: hendi jo

Korupsi Pertama Sebuah Bangsa

Gerundelan Hendi Jo

gambar diunduh dari uniknyaindonesia.blogspot.com
gambar diunduh dari uniknyaindonesia.blogspot.com

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis tentang prilaku para pejuang dan lasykar yang kerjaannya “nyusahin” rakyat di daerah pendudukan selama Perang Kemerdekaan berlangsung (1945-1949). Mereka yang mengatasnamakan pejuang kemerdekaan, sesungguhnya hanya terdiri dari para “penumpang gelap” revolusi: berlaku gagah-gagahan tapi kerjaannya hanya merampok, menggarong dan memperkosa (mayoritas korbannya perempuan-perempuan Belanda dan Indo).

Tapi sesungguhnya prilaku konyol dan merugikan itu bukan hanya milik para bawahan saja ataupun terbatas hanya prilaku kaum bersenjata semata. Laiknya hari ini, di tingkat pejabat, praktek penggarongan dalam nama korupsi pun juga terjadi. Bahkan dengan memakan korban jumlah uang yang lumayan banyak. Inilah salah satu kisahnya.

Juni 1948, Presiden Sukarno melakukan muhibah ke Aceh. Di ranah rencong tersebut, ia tidak saja disambut secara gempita tapi juga didapuk oleh tokoh-tokoh setempat untuk menyebut sesuatu hal yang menjadi kebutuhan urgen dari pemerintah barunya. “Alangkah baiknya jika Indonesia mempunyai kapal udara untuk membuat pertahanan negara dan mempererat hubungan antara pulau dan pulau…”kata Sukarno seperti dituliskan oleh M. Nur El Ibrahimy dalam Kisah Kembalinya Tengku Muhammad Daud Beureueh ke Pangkuan Republik Indonesia (1979).

Begitu keluar ucapan tersebut dari mulut Sukarno, tanpa banyak cakap, rakyat Aceh merogoh saku dan mencopot perhiasan yang ada di tubuh mereka. Begitu tingginya semangat untuk berkorban, hingga konon antrian para donatur (terdiri dari kalangan kaya maupun kalangan biasa) di beberapa masjid dan pusat pemerintahan Kotaradja (sekarang Banda Aceh) panjangnya sampai ratusan meter. Beberapa jam kemudian terkumpulah dana sebesar 120.000 straits dollar ditambah 20 kg emas.

Singkat cerita, dana itu kemudian diancer-ancer untuk membeli sebuah pesawat terbang. Sebagai pimpro dipilihlah Wiweko Soepono, penerbang senior Indonesia sekaligus salah satu direktur Garuda paling sukses sepanjang sejarah. Dengan bekal wessel 120.000 straits dollar ia kemudian terbang untuk mencari pesawat di Thailand. Namun anehnya, saat Wiweko ke bank, mereka hanya bilang dana yang ada tinggal 60.000 straits dollar saja. Raib 50%!

Wiweko akhirnya mafhum, dirinya “dibokisin”. “Saya hanya menerima setengah dari dana sumbangan…,” ungkapnya ketika diwawancara oleh Majalah Angkasa pada tahun 2000.

Soal siapa yang bokis dalam masalah ini, Wiweko mengaku tak tahu sama sekali. Ia pun tak mau berspekulasi bahwa pemberi wessel (yang enggan ia sebut namanya) adalah penilep sebagian uang sumbangan itu. Untuk menghindari fitnah dan intrik, Wiweko memotokopi pencairan wessel tersebut. Hingga dirinya beranjak tua, fotokopi wessel itu tetap ia simpan.

Dengan uang 60.000 straits dollar, perwira Angkatan Udara Republik Indonesia itu berhasil membawa pulang sebuah Dakota DC-47B yang kemudian diberi nama Seulawah (artinya Gunung Emas). Nomor registrasi penerbangannya: RI-001. Pesawat itu kemudian secara resmi menjadi pesawat kepresidenan pertama sebelum beberapa tahun kemudian dikomersialisasi untuk melayani penerbangan sipil di Burma.

Lantas, bagaimana kabar uang 60.000 staits dollar dan 20 kg emas hasil sumbangan dari rakyat Aceh? Laiknya kasus-kasus mega korupsi yang terjadi kemudian, soal itu seolah sirna, tertumpuki cerita-cerita sejarah yang lainnya hingga orang-orang lupa sama sekali . Indonesia banget ya?

Iklan

Kapal Perang Ini Kami Ambil Alih! #3

Sebuah Catatan Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia (3)

Oleh Hendi Jo

SEHARI USAI MENINGGALKAN Pelabuhan Oleh Le, secara resmi pimpinan pemberontakan mengeluarkan suatu  pernyataan pers dalam bahasa Belanda, Inggris dan Indonesia. Pernyataan yang dibacakan oleh Rumambi berbunyi sebagai berikut:

berita
berita kapal tujuh di media belanda

“Kapal perang ini kami ambil alih. Zeven Provincien pada waktu ini ada di bawah kekuasaan kami, anak buah kapal  Zeven Provincien  berbangsa Indonesia, dengan bermaksud menuju Surabaya. Sehari sebelum tiba kami akan menyerahkan komando kembali kepada komandan semula. Maksud kami melakukan aksi ini adalah untuk memprotes pemotongan gaji yang tidak adil dan menuntut agar rekan-rekan kami yang ditahan pada waktu berselang segera dibebaskan! Keadaan dalam kapal aman tidak ada paksaan dan tidak ada orang yang terluka”

Pemerintah Hindia Belanda tentu saja tidak tinggal diam terhadap aksi pemberontakan tersebut. Lewat KM, mereka lantas  memerintahkan kapal perang Aldebaren untuk memburu Kapal Tujuh. Letnan Kolonel Laut Eikenboom  yang merasa terhina dengan aksi anak buahnya itu, turut serta dalam pengejaran itu.

Kendati berhasil menyusul Kapal Tujuh, namun  Kawilarang dan para marinir pemberontak tidak memberi kesempatan sedikitpun Aldebaran  untuk mendekat. Mereka mengirimkan isyarat jika kapal perang itu mendekat maka akan langsung ditembak. Aldebaran pun gentar dan menghentikan pengejarannya.

Habis Aldebaran muncul Goudenleeuw. Kapal perang penyebar ranjau itu dalam  kenyataannya tak memiliki nyali untuk mendekat. Mereka hanya bisa mengikuti kapal Tujuh dalam radius yang sangat jauh. Kenapa dua  kapal perang terkemuka milik KM itu sebegitu ciut nyalinya? Rupanya diantara ketiga kapal itu, Kapal Tujuh-lah yang memiliki kelengkapan paling canggih (saat itu)  termasuk tersedianya meriam yang paling besar dan persenjataan yang paling kuat.

Pada 5  Februari, Kapal Tujuh sudah memasuki wilayah Pulau Berueh. Besoknya, mereka merambah Pulau Simeuleu, Pulau Nias, Tapaktuan, Pulau Sinabang. Tepat jam 9 pagi, pada 10 Febuari 1933,  Kapal Tujuh berada di perairan Selat Sunda. Di laut sempit pembatas Sumatera dan Jawa itulah, Kapal Tujuh dikepung oleh 3 kapal perang (Goudenleeuw, Sumatera dan Java), dua kapal pemburu torpedo (Piet Hien dan Evetsen) dan dua skwardon Dornier (pesawat pemburu yang dilengkapi bom seberat 50 kg).

Sebelumnya, semua anak buah kapal bumiputera di kapal perang  Java, Sumatera, Piet Hein dan Evertsen yang dicurigai, telah di turunkan di Pelabuhan Surabaya dan senjata mereka telah dilucuti. Itu dilakukan sebagai bentuk tindakan antisipasitif pihak militer Hindia Belanda. Dikhawatirkan jika melibatkan pelaut bumiputera dalam pengejaran mereka akan menolak untuk menembak kawan sebangsanya.

Kapal perang Java  yang dipimpin oleh Van Dulm memberikan ultimatum agar Kapal Tujuh segera menyerah. Alih-alih takut terhadap ultimatum tersebut, Kapal Tujuh malah mengarahkan moncongn Meriam 28 ke arah kapal perang Java. Van Dulm mengancam lagi akan menyapu bersih Kapal Tujuh dari permukaan laut jika tidak mau menyerah. Tetapi lagi-lagi Kawilarang, Rumambi, Paradja, Boshart dan para marinir pemberontak lainnya,  enggan menyerah: “Kami tidak mau diganggu dan akan meneruskan pelayaran menuju Surabaya” jawab Kawilarang.

awak kapal tujuh ditangkap
awak kapal tujuh ditangkap

Begitu ultimatum ditolak, terdengar dengungan mesin pesawat terbang Dornier D 11 di atas Kapal Tujuh. Mereka mengirim pesan agar Kapal Tujuh menyerah saja. Tetapi rupanya urat takut Kawilarang dan kawan-kawannya  sudah putus. Mereka bertekad tidak mau menyerah dan tetap akan melanjutkan perjalanan sampai Surabaya.

Sepuluh menit berlalu tanpa jawaban. Deru pesawat Dornier terdengar seperti ribuan tawon yang ingin menerkam mangsanya. Rupanya mereka tengah menyiapkan formasi untuk menyerang. Pesawat Dornier pertama mulai menukik dan membuang bom seberat 50 kg itu.  Bom pertama hanya mengenai lautan biru Selat Sunda dan luput mengenai sasaran.

Pesawat Dornier kedua seperti marah. Ia menukik, bermanuver dan bergerak  cepat menghunjam ke arah geladak Kapal Tujuh. Serentetan tembakan senapan otomatis menyambut serangan si burung besi tersebut. Luput. Sebaliknya bom kedua yang dijatuhkan tepat mengenai geladak kapal. Bunyi dasyat mengerikan pun terdengar diiringi jeritan para marinir pemberontak yang tengah bertahan di Kapal Tujuh.

J Pelupessy  yang tengah bertahan dengan senapan otomatisnya mendapat luka-luka cukup parah. Namun ia sempat melihat rekannya, Sagino yang kehilangan sebelah mata mendekati dirinya sambil berkata lirih namun tegas,  “Pessy tolong aku, inilah nafasku yang penghabisan, aku yakin Kerajaan Belanda tidak lama lagi akan tamat riwayatnya. Dan bagi kita, tempat ini bukan Selat Sunda  tapi Selat Kapal Tujuh!”

Sagino kemudian melepaskan nyawanya.  Disusul oleh  marinir lainnya: Amir, Said Bini, Miskam, Gosal, Rumambi, Koliot, Kasueng, Ketutu Kramas, Mohammad Basir, Simon dan sang komandan: Paradja.

Kondisi Kapal Tujuh sendiri benar-benar lumpuh. Saat para marinir itu bahu membahu membentuk pertahanan,  sebuah bom meluncur lagi dari udara, menimbulkan desis mengerikan dan waktu itu pula langsung  memusnahkan sejumlah besar manusia yang berdiri menonton pesawat-pesawat terbang. Begitu bom jatuh, Boshart ingat dirinya terpelanting di atas geladak dan secara refleks ia berdiri lagi untuk mencari perlindungan.

Ia kemudian lari menuju bagian depan. Dan menyaksikan kawan-kawannya seperjuangan tergeletak di atas geladak dengan tubuh yang sudah terbagi-bagi menjadi potongan-potongan kecil. Ada yang terbakar, ada yang berguling-guling dan mandi dalam darahnya dengan luka-luka yang sangat mengerikan. Boshart menyaksikan pula seorang karibnya terluka membentuk lubang sebesar kepalan tangan manusia dewasa di dadanya. “Saya menangis, saya tidak dapat menahan air mata saya ketika menyaksikan pemandangan seperti itu,” kenangnya.

****

pemberontak dibawa ke pengadilan militer
pemberontak dibawa ke pengadilan militer

KAPAL TUJUH akhirnya takluk. Para pemberontak berbangsa Indonesia lantas diangkut dengan kapal perang  Java  sedangkan yang berbangsa Belanda diangkut dengan kapal Orion. Kapal pemburu  Eversten mengangkut para marinir yang gugur dan kemudian  memakamkan mereka dalam satu lobang di Pulau Kerkhof (Pulau Kelor), sedangkan rekan-rekannya yang berbangsa Belanda di Pulau Purmerend (Pulau Bidadari). Dua pulau yang termasuk dalam gugusan Kepulauan Seribu.

Para pemberontak yang masih hidup diborgol dengan rantai dan dimasukkan ke dalam kamp tawanan di Pulau Onrust. Itu nama sebuah pulau karang bekas galangan kapal-kapal VOC yang terletak di sebelah utara Batavia. Di sana mereka ditempatkan dalam sebuah barak  yang dikepung oleh sebuah tembok setinggi orang dengan atap terbuat dari seng. Diantara atap dan tembok terdapat ruang kosong setengah meter yang ditutup dengan kawat berduri.

Peraturan di barak tersebut sangat ketat. Setiap lima tawanan diborgol secara berantai. Jadi jika ada salah seorang tawanan yang ingin mandi atau buang hajat misalnya, otomatis keempat tawanan lain yang terhubung dengan rantai harus ikut pula.  Di Onrust juga diterapkan peraturan: ” Siapa yang melalui ruang terbuka akan ditembak tanpa peringatan. Jikalau membuat ribut, maka granat tangan akan dilemparkan tanpa peringatan ke dalam barak. Tindakan ini diambil juga terhadap kelasi-kelasi yang berani tertawa atau berbicara dengan suara keras,” ungkap Boshart.

Para tawanan yang tidak mau menandatangani pernyataan bersalah dihukum dengan tidak diberi makan selama 3 hari. Para tawanan yang diperiksa tidak boleh berpindah dari pusat atau melewati batas lingkungan yang diberi tanda garis di lantai dengan kapur. Mereka juga harus berdiri dari pagi sampai sore dengan tangan terborgol sambil dicaci maki oleh para serdadu bersenjata lengkap.

Tujuh bulan lamanya mereka menjadi penghuni “neraka” Onrust.  Hingga pada 19 September 1933, mereka dipindahkan ke Penjara Sukolilo kecuali Kawilarang dan Boshart (karena dianggap pentolan pemberontak paling berbahaya). Mereka berdua ditahan  di Batavia.

Dalam catatan Departemen van Marine (Departemen Kelautan Kerajaan Belanda), ada sekitar 545 marinir bumiputera dan 81 marinir bangsa Belanda dan Indo yang ditahan terkait pemberontakan di Kapal Tujuh. Itu sudah termasuk 182 awak Kapal Tujuh yang dipenjara di kamp konsentrasi Onrust.

Atas terjadinya Insiden Kapal Tujuh itu, Gubernur Jenderal De Jonge sendiri mendapat kecaman keras dari media-media Eropa dan Amerika Serikat. Ia dinilai tidak becus memimpin sebuah koloni terutama soal mengurus disiplin dan kesehjateraan tentaranya di Hindia Belanda. Sementara itu di tanah air, serangan bertubi-tubi pun dilontarkan oleh para jurnalis anti kolonial seperti Raden Tahir Tjindarboemi dari Harian Soeara Oemoem. Imbasnya,  harian milik Dr.Soetomo itu diberedel dan Raden Tahir Tjindarboemi dipenjara.

Lalu menyesalkah para marinir  yang melakukan pemberontakan di Kapal Tujuh tersebut? “Dihukum mati pun saya merasa bangga, karena bagaimanapun saya pernah memimpin De Zeven Provincien, kapal perang kebanggaan Kerajaan Belanda,”ujar Kawilarang, saat pengadilan Mahkamah Militer Hindia Belanda menjatuhkan hukuman 17 tahun penjara baginya. Kebanggan itu pula yang puluhan tahun kemudian masih dimiliki oleh Agih Subakti,seorang putera dari salah satu rekan seperjuangannya.

****

Baca sebelumnya: Pemberontakan Kapal Tujuh

Kapal Perang Ini Kami Ambil Alih! #1

Sebuah Catatan Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia (1)

Oleh Hendi Jo

Tepat delapanpuluh tahun yang lalu, De Zeven Provincien dibajak oleh ratusan awaknya yang terdiri dari kelasi pribumi, kelasi  Indo dan kelasi Belanda. Bagaimana revolusi  bisa terjadi di salah satu kapal perang terbesar milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda itu? Inilah kisahnya.

saleh basari
Salah Basari Wangsadireja di masa muda

Agih Subakti (67) bercerita dalam nada bangga. Sambil menyebut sebuah nama, ia mengisahkan tentang sebuah perlawanan lama. Ya, lebih kurang 80 tahun lalu, sang ayah yang bernama R. Saleh Basari Wangsadiredja adalah salah satu dari ratusan marinir yang terkait dalam  pemberontakan di atas Kapal De Zeven Provincien (Kapal Tujuh). Itu adalah nama sebuah kapal perang legendaris milik Koninklijke Marine (KM) atau Angkatan Laut Kerajaan Belanda.

Namun kebanggaan itu seolah bertepuk sebelah tangan. Lelaki dengan 9 cucu tahu betul generasi sekarang sangat asing dengan peristiwa tersebut. Padahal menurutnya, dari aspek sejarah, perlawanan itu sangat penting karena terkait dengan perjuangan bangsa ini dalam merebut kemerdekaan.

”Peristiwa Pemberontakan De Zeven Provincien itu sangat tajam bau nasionalismenya,” ujar mantan adminisratur di beberapa perkebunan milik negara itu.

Pernyataan Agih memang benar adanya. Suyatno Kartodiredjo dalam Pemberontakan Anak Buah Kapal Zeven Provincien Tahun 1933, menyebut Peristiwa Kapal Tujuh merupakan salah satu episode dari sejarah panjang pergerakan nasional di Indonesia.” Getarannya bahkan terasa sampai ke tingkat tertinggi pimpinan politik negeri Belanda saat itu,”tulisnya.

Bahkan sejarah mencatat, bukan hanya di Hindia dan negeri Belanda saja, dunia pun dibuat geger oleh kejadian tersebut. Pers Barat dan Amerika menyebut  pemberontakan Kapal Tujuh sebagai Potemkin jilid 2, sebuah nama yang mengacu kepada sebuah kapal perang milik Angkatan Laut Tsar Rusia yang para awaknya  pernah menjalankan pemberontakan pada 1905. Motivasi perlawanan mereka pun sama dengan yang dimiliki oleh para awak Kapal Tujuh: kesewenang-wenangan pihak penguasa terhadap mereka dan rakyat pada umumnya.

*

TAHUN 1930-an bencana ekonomi melanda dunia. Situasi krisis tersebut  sampai pula ke tanah Hindia Belanda. Harga berbagai komoditas ekspor andalan dari Hindia Belanda seperti teh, kopi, gula, tembakau dan karet harganya merosot tajam di pasaran internasional. Akibatnya banyak perusahaan perkebunan terancam bangkrut.

Pemecatan pun menjadi cerita sehari-hari para buruh di Hindia Belanda. Dalam catatan Suyatno Kartodiredjo, pada awal 1930-an, ada sekitar 100.000 buruh pribumi diberhentikan menyusul berhentinya produksi ratusan pabrik dan perusahaan perkebunan. “Rata-rata mereka memutuskan pulang dan kembali menjadi beban sosial dan ekonomi desa,” ungkap Suyatno.

Angkatan Perang Kerajaan Belanda tak lepas dari situasi depresi besar tersebut. Pada akhir Desember 1932, pemerintah Hindia Belanda di bawah Gubernur Bonifacius Cornelis de Jonge (1931-1936) memutuskan untuk melakukan pemangkasan gaji semua anggota militer sebesar 7%. Bisa jadi itu dilakukan sebagai upaya Pemerintah Hindia Belanda menghindari opsi pemecataan massal seperti yang terjadi di perusahaan-perusahaan swasta.

kapal tujuh
De Zeven Provincien dilihat dari atas

Bagi para marinir KM, keputusan De Jonge itu seolah menggarami luka yang sudah menganga. Bukan rahasia lagi jika sistem penggajian di tubuh KM saat itu berjalan tidak adil. Bayangkan saja, untuk para awak kapal pribumi, gaji mereka hanya 60%  dari gaji awak kapal  berkebangsaan Belanda. Nasib lebih baik dialami awak kapal Indo Belanda/Eropa. Mereka digaji  sebesar 75% dari  gaji awak kapal berkebangsaan Belanda. Padahal untuk masalah tugas dan tanggungjawab, mereka memiliki kewajiban sama dengan awak kapal Belanda totok.

Tidak cukup soal penggajian, dalam keseharian pun diskriminasi kerap dipraktekkan secara menyolok mata oleh para perwira Belanda. Sebagai contoh jika awak kapal pribumi cukup mendapatkan ransum ikan asin maka  para awak kapal bangsa Belanda selalu mendapatkan ransum daging. Jika lemari pakaian pakaian awak kapal pribumi mendapat tempat di bawah, berdekatan dengan ruangan kamar mesin yang selalu mengeluarkan hawa panas, sebaliknya orang-orang Belanda mendapatkan tempat di sebelah atas yang jauh dari hawa panas ruang mesin.

Perlakuan tidak adil tersebut makin kentara dengan adanya sikap sombong  sebagian awak kapal Belanda (terutama para perwiranya) terhadap awak kapal pribumi dan Indo. Tak jarang makian god verdomme alias goblok atau vuile inlander (pribumi tolol) keluar dari mulut orang-orang Belanda dan diterima sebagai sebuah “hal yang biasa” dalam keseharian tugas.

Sesungguhnya sikap diskrimanatif itu bukan hanya menjadi miliki KM semata. Di tubuh KNIL (Koninjlike Nederland Indisce Leger, Tentara Kerajaan Hindia Belanda) situasi yang sama terjadi. Bedanya orang-orang bumiputera di KNIL lebih memilih diam dan menerima nasibnya secara pasrah.

Pada mulanya, para marinir KM bumiputera bersikap sama. Namun lama kelamaan mereka merasa muak juga dan mulai bereaksi keras. Dari hari ke hari, reaksi keras itu semakin menyebar dan  membentuk aksi-aksi  yang mengarah kepada upaya pembangkangan militer. Contoh yang paling nyata adalah Peristiwa Januari 1933. Itu adalah peristiwa demonstrasi beruntun sebulan penuh yang berpuncak pada pemogokan massal yang melibatkan 308 marinir berkebangsaan pribumi dan indo serta 40  marinir berkebangsaan Belanda di hampir semua kapal perang milik KM.

Aksi ini kemudian melebar ke beberapa basis marinir lainnya di Surabaya seperti tangsi KM di Ujung dan kapal-kapal selam yang tengah berlabuh di Pelabuhan Tandjung Perak. Para awak KM yang bertugas di Pangkalan Pesawat Terbang Moro Kembangan pun tak mau kalah menjalankan aksi menolak untuk bekerja. Akibatnya untuk beberapa waktu kekuatan Angkatan Laut Kerajaan Belanda lumpuh. Sebuah situasi yang akan sangat fatal jika saat itu ada kekuatan musuh menyerang Hindia Belanda

Demi menghadapi aksi pembangkangan itu,seminggu kemudian Pemerintah Hindia Belanda melancarkan tindakan keras. Mereka mengirim satu batalyon (kurang lebih 700 sedadu) KNIL dari Malang dengan persenjataan lengkap seperti mitraliyur berat. Pada akhirnya, aksi damai para marinir itu dapat dibubarkan dengan cara kekerasan. Ratusan pembangkang dan pemogok pun dijebloskan ke Penjara Sukolilo di Madura.

**

Bersambung…

Duka Itu Nyata dan Seolah Abadi

Gerundelan Hendi Jo

hamparan lumpur lapindo
foto oleh Tatan Agus RST

Di Porong, Sidoarjo duka itu nyata dan seolah abadi. Hampir setiap orang di sana, akan langsung berwajah muram dan berkaca-kaca matanya, saat menceritakan tentang masa lalu mereka. “Kami tak lagi memiliki sejarah hidup. Semuanya sudah terkubur bersama lumpur-lumpur itu, “ kata Maidi (49), salah seorang penduduk Renokenonggo, salah satu desa yang baru tiga bulan kebagian dihantam bah lumpur Lapindo.

Kesedihan Maidi memang tidak mengada-ada. Sebelum 2006, Renokenongo dikenal sebagai salah satu desa makmur di wilayah Kecamatan Porong. Itu wajar, karena rata-rata warga di sana selain berprofesi sebagai penambak udang juga mereka memilki sawah yang menghasilkan padi yang berkualitas bagus. “ Pokoke, orang sini dulu pada sibuk, makanya tak pernah sepi,” ujar Cahyati (39), istri Maidi.

Kini situasi berputar seratus delapan puluh derajat. Renokenongo nyaris seperti desa mati. Alih-alih manusia, pepohonan pun mengering seperti terbakar. Di sana, kehidupan seolah hanya diwakili oleh puluhan kucing kurus yang berkeliaran dan beberapa ekor ikan sepat yang menggelepar, teracuni asam sulfat lumpur Lapindo. Dan bau zat kimia itu juga, salah satunya penyebab Maidi dan Cahyati menyingkir ke barak pengungsi di Pasar Porong.

Tapi situasi di barak pengungsian pun tak lebih bagus. Di pasar yang luasnya sekitar 1500 meter persegi itu, 2581 orang hidup berdesakan tanpa kepastian dan pekerjaan. Untuk membunuh rasa jenuh, sebagian laki-laki di sana menjadi pemandu jalan para “wisatawan” yang ingin menyaksikan hamparan lumpur Lapindo dari dekat. Sementara sebagian lagi, kerjaannya mempreteli barang yang tersisa di bekas rumahnya seperti genting, kusen, daun pintu dan benda-benda lainnya yang bisa dijual, “ Lumayan sekedar untuk bertahan di barak,” ujar Maidi.

Berbeda dengan kaum laki-laki, para ibu di barak pengungsian mengisi hari-harinya dengan membuat puli atau karak. Itu sejenis kerupuk yang dibuat dari nasi aking. Untuk puli dijual ke pengepul Rp.3500- per kilogram sedang untuk karak Rp.1000- per kilogram. “Setiap hari kami coba saling menguatkan hati dan menumbuhkan harapan,” kata Karyono (50).

Menurutnya, keadaan itu berbeda dengan beberapa bulan lalu. Saat awal pertama pengungsian, mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat. Pekerjaan rutin yang dilakukan tak ada lain adalah menunggu aliran bantuan dari para dermawan dan Lapindo cepat mencairkan uang ganti rugi. “Karena kami ingin penderitaan ini cepat selesai dan kembali hidup normal, “ kata salah satu sesepuh pengungsi di Pasar Porong itu.

Kendati demikian sampai detik ini, pihak Lapindo belum juga bergerak cepat. Begitu pula pemerintah. Kedatangan Presiden Yudhoyono ke Porong, beberapa waktu yang lalu, ternyata tidak menjadikan bantuan menjadi lebih kongkrit. Alih-alih bantuan dan ganti rugi terwujudkan,malah para korban bencana lumpur Lapindo seolah “dibunuh” perlahan dengan janji-janji dan aturan kaku administrasi yang juga berbelit-belit.

Salah satunya, itu dialami oleh Afifuddin. Pegawai Badan Urusan Logistik (BULOG) Jawa Timur itu mengaku lelah dengan berbagai aturan kaku administratif pihak pemerintah daerah. “ Masa kesalahan menulis titel saja dipermasalahkan? Kan hal yang seperti ini sangat remeh temeh” kata lelaki yang rumahnya di kawasan Jatirejo amblas dihantam lumpur.

Waktu berjalan begitu terburu-buru. Tak terasa, Indonesia sudah berada di ambang usia 68 tahun. Pada lebih setengah abad lalu itu, Soekarno pernah berkata “ Tak ada kemiskinan dan penderitaan dalam Indonesia merdeka.” Tapi, di Porong, Sidoarjo sampai detik ini, duka itu nyata dan seolah abadi.

Kegilaan Indonesia di Mata Jurnalis Bule

Catatan Hendi Jo

richard lloyd perryMinggu,21 Maret 1999. Senja baru saja mengunjungi pinggiran kota Sambas saat seorang bule jangkung tergagap-saat ditawari sepotong daging setengah matang oleh seorang prajurit Melayu. Daging berwarna kelabu itu berasal dari tubuh seorang Madura yang baru beberapa jam lalu berhasil mereka tembak dengan sebilah senapan buru. “Katakan kepadanya tidak, saya tidak mau itu,”katanya kepada Budi, sopir sekaligus penerjemahnya.
Budi lantas berbicara kepada lelaki Melayu itu. Demi mendengar penjelasan tersebut, alih-alih menghentikan aksinya, sang prajurit itu malah tergelak sembari secara demonstratif menjejalkan potongan daging manusia itu ke mulutnya. “Enak.Serasa daging ayam,”serunya. Inilah salah satu penggalan kisah yang menurut saya paling edan dari In The Time of Madness,sebuah buku yang berisi kumpulan catatan reportase konflik yang terjadi di Jakarta,Sambas, Singkawang dan Timor Timur selama rentang 1997-1999.
Jujur saja, saya terhenyak dan sedih membaca buku ini. Seperti Richard Lloyd Parry, (Bule yang menulis buku tersebut), kembali saya jadi tak habis pikir bagaimana kegilaan itu bisa dilakukan oleh seorang manusia kepada manusia yang lainnya? Ketika kebencian sudah mencapai ubun-ubun, kemanusian seseorang mencapai limitasinya dan seolah hilang dimakan rasa marah . Ironisnya, justru sebuah harapan tentang Indonesia yang lebih baik dan demokratis justru harus didahului oleh situasi horror gaya kanibalis, sebuah kondisi yang juga sempat saya saksikan di Jakarta, Tobelo, Ambon, Sampit dan Poso.
Disamping rasa sedih dan ngeri yang tak terkatakan, diam-diam saya juga kagum terhadap karya Parry ini. Ia nyaris sempurna merekam semua kegilaan tersebut. Bukan saja lewat sebuah tulisan reportase yang detail tapi juga tutur kata bagai perpaduan antara novel-novel Hemingway dan film-film Hithcock. Wajar jika kemudian, wartawan senior, Farid Gaban menjuluki karya Parry ini sebagai “jurnalisme sastrawi dalam praktik dan contoh nyata”.
Selama ini, untuk mendapatkan “data panas” mengenai sebuah berita, jurnalis perang yang berkiprah di The Times (Inggris) itu saya dengar tak segan-segan memburunya dengan berbagai cara. Termasuk dengan mendatangi nara sumber sampai ke berbagai kawasan medan perang di Afghanistan, Kosovo dan Irak. Di Indonesia, hal sama ia lakukan dengan “menjemput” berita langsung ke pelosok hutan dan kampung yang tersebar di Kalimantan dan Timor Timur.
“Parry adalah wartawan tak kenal lelah yang berani masuk ke relung kejahatan manusia paling dalam,”tulis sebuah ulasan dalam Literary Review.
Buku yang berisi liputan Parry tentang konflik etnis di Kalimantan,kerusuhan Mei 1998 dan Huru-hara Referendum di Timor Timur pada 1999 itu, menurut saya memang sangat laik untuk dibaca. Bukan saja oleh para jurnalis dan peneliti, tapi juga oleh semua orang Indonesia.Setidaknya untuk memberitahu,Indonesia yang kita kenal bukan sekadar sorga indah yang selalu kita saksikan di sinetron-sinetron tapi juga sebuah tanah yang kusam dan kaya dengan berbagai kegilaan berdarah di luar nalar manusia normal. Buktinya adalah kisah prajurit Melayu yang memakan daging seorang lelaki Madura, seperti dituturkan Parry di atas.


Judul: In The Time of Madness: Indonesia on the Edge of Chaos
Penulis: Richard Llyod Parry
Penerbit: Grove Press, New York, 2005
Harga: $7.66