Arsip Tag: integritas

Menyerukan Kembali Pentingnya Ijtihad

Resensi Arif Saifudin Yudistira*)

Bila kamu melakukan ijtihad dan benar maka kamu mendapatkan pahala senilai dua, sedang bila ijtihadmu salah maka kamu akan mendapat pahala satu. Sedang tak ada dosa dalam ijtihad.

allah, liberty and loveBegitulah kiranya agama sudah menganjurkan kita melakukan ijtihad. Ijtihad dimaknai memperjuangkan dan mencari kebenaran, untuk mencapai perubahan. Dalam konteks sekarang, agama berubah menjadi sosok yang mandek, stagnan dan tidak mampu menghadapi realitas jaman yang sudah sebegitu cepat dan rusak.

Betapa islam sendiri kemudian tak mampu menghadapi teror yang melanda sejak terjadinya 9/11. Peristiwa itu seperti meruntuhkan bangunan, hingga membangkitkan stereotype yang aneh. Islam itu teroris, islam itu kejam dan islam adalah bom dan kekerasan. Irshad Manji mengawali ceritanya dengan gambaran demikian. Ia ingin menolak stereotype itu. Islam tidak demikian, islam mesti keluar dari stigmatisasi ini. Islam mesti kembali ke islam sebenarnya yakni islam yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Pesan itu yang kini tegas dan layak disuarakan oleh Irshad Manji. Ia tak ingin mendengar lagi islam seperti di media massa yang identik dengan tiga kengerian yakni pengeboman, pemenggalan, dan darah.

Manji tak hanya ingin menegaskan bahwa, kenapa takut melakukan tafsir dan menjadikan iman itu melampaui teks saja. Kita tak tahu siapa yang memegang otoritas kebenaran, karena kebenaran hanya dipegang oleh Tuhan saja. Maka dari itu, orang-orang yang merasa memegang otoritas kebenaran dan menghakimi penafsiran yang lain itulah yang menurut Irshad justru menyimpang. Betapa Allah sudah memberikan kebebasan sebebas-bebasnya pada umatnya.

Integritas

Tanpa adanya kebebasan untuk berpikir dan berekspresi tidak mungkin ada integritas baik dalam diri maupun dalam masyarakat. Oleh karena itu, prasyarat dari integritas tak lain adalah kebebasan berpikir dan berekspresi. Menyikapi beragamnya ekspresi dan aneka ragam pemikiran itulah dialog menjadi jembatan dan media untuk menghindari konflik. Tak ada persoalan yang mestinya tak dapat diselesaikan, dialog mampu menjangkau dan mencapai yang lebih dari yang sebelumnya. Sikap dialog dan kebebasan berekspresi inilah yang seringkali membuat orang justru ditentang oleh kelompok atau sekte keagamaan lain. Dialog dilupakan, sedang kesempitan berpikir justru lebih dikedepankan. Akhirnya, jalan untuk menjembatani perbedaan jadi tak ada.

Integritas, menurut Irshad dalam buku Allah, cinta dan kebebasan, adalah fondasi yang mesti dibangun. Integritas bisa melampaui dinding dan tembok keagamaan. Bagian dari integritas itu misalnya menentang hukum rajam hingga mati. Hingga hukum pancung, hukum yang mengerikan dan kejam itu tentu saja akan kita sepakati bila sesuai konteksnya. Akan tetapi, bila kita melihat kasus di Arab Saudi yang seringkali melakukan hukuman pancung yang ternyata lebih banyak korban yang justru dipancung daripada pelaku asusila sebut saja kisah pembantu Indonesia (tki) yang sering mengalami hal itu. Maka hukum pancung mesti ditinjau kembali, di sinilah pentingnya ijtihad. Ijtihad jelas tidak meninggalkan nalar dan pikiran kita.

Integritas adalah bagaimana kita menempatkan Tuhan dalam kehidupan kita. “Tuhan bisa menjadi nurani anda, pencipta anda, atau gabungan keduanya yang sungguh memesona yang dikenal sebagai integritas”(xxvi). Maka dari itu, membangun integritas mesti dijalani dari hakikat kesadaran diri bahwa kita melampaui dari apa yang kita bisa. Agama adalah sarana, sedang bagaimana kita mempraktekkan agama dan mencapai kesempurnaannya itulah yang mesti kita laksanakan. Oleh karena itu, Irshad menyarankan kita untuk lebih menghilangkan identitas kita  dan menunjukkan integritas kita.

Relatifitas Budaya

Kita seringkali tak bisa menempatkan antara seberapa besar posisi budaya dan posisi agama dalam kehidupan sehari-hari kita. Orang tua kita sering mengajarkan “jangan berani padaku, niscaya engkau masuk neraka”, maka ketika kita menjawab “suruh saja Tuhanmu memasukkan aku ke nerakanya”. Jawaban semacam itu dinilai melanggar nilai-nilai agama. Maka agama tiba-tiba jadi sesuatu yang mencekam dan menerkam kita. Agama menjadi topeng kedirian kita.

Maka ketika melihat budaya yang ada di negeri ini, yang sudah lebih jauh berada daripada agama yang masuk di negeri kita, kita seringkali bersikap ekstrem terhadap kebudayaan yang ada. Atau sebaliknya ketika budaya yang ada di Arab yang mengekang masyarakatnya – utamanya perempuan- membelenggu mereka. Maka budaya lebih cenderung dianggap sebagai agama.

Oleh karena itu, budaya itu relatif dan tidak sakral. Ketidaksakralan budaya ini yang mesti dijelaskan. Budaya itu cipta dan karsa manusia, jika kita melebih-lebihkan budaya daripada agama, maka yang terjadi yakni perebutan kekuasaan tafsir keagamaan. Akhirnya agama pun dijalani dengan membabi buta dan identik dengan kekerasan dan juga permusuhan. Adat kehormatan sudah ada sebelum islam. Jika kita bertahan pada budaya dengan mengatasnamakan islam, maka kita sama saja menyembah apa yang manusia -bukan tuhan- ciptakan! Bukankah itu disebut menyembah berhala?(99)

Dengan buku ini, Irshad tak hanya menjelaskan bagaimana pentingnya mengembangkan integritas, karena dengan integritas itu pula ia berharap dapat membangkitkan para umat agama yang merasa takut berbicara tentang agama dan tentang kebenaran. Buku ini pun mengajak kita, bahwa agama mesti disandingkan dengan iman. Iman tidak melarang eksplorasi, dogmalah yang melarang. Secara intrinsik dogma terancam oleh pertanyaan-pertanyaan. Sementara iman menerima pertanyaan-pertanyaan karena iman meyakini bahwa Tuhan yang maha pengasih bisa menghadapi semua itu (xx).  Terakhir buku ini sebagaimana dalam pembuka setidaknya menyerukan pesan penting yakni pentingnya mengubah amarah menjadi aspirasi. Mengapa eskpresi kemarahan berbagai orang yang merupakan ekspresi keagamaan kita tidak kita jadikan aspirasi untuk membangun dunia yang lebih baik?

allah, liberty and loveJudul buku: Allah, Cinta dan Kebebasan
Penulis: Irshad Manji
Penerbit: Rene book
Tebal: 352 halaman
ISBN: 978-602-19153-4-9
Harga: Rp.69.900,00

*) Penulis adalah Mahasiswa UMS, mengelola kawah institute Indonesia

Catatan:

Download Buku Allah, Liberty and Love, GRATIS.

Generasi Muda Harus Berintegritas

Opini Nailatul Faiqoh

gambar diunduh dari bp.blogspot.com
Setiap tahun, ratusan perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri di seluruh Indonesia mencetak sekian banyak wisudawan, sarjana-sarjana yang siap kerja dengan berbagai visi dan karakter juga watak yang bebeda. Seiring dengan semakin banyaknya tenaga lulusan perguruan tinggi justru memunculkan spekulasi-spekulasi yang baik disadari atau tidak oleh masyarakat, sering terlupakan dalam perkembanganya. Sudah cukupkah hanya dengan ijazah dengan IPK tinggi dan gelar sarjana menjadikan individu tersebut dibilang berhasil? Lantas keberhasilan yang bagaimana?
Seseorang bisa dikatakan berhasil bukan hanya dipandang dari segi berapa banyak jumlah gaji yang diperoleh dari pekerjaan, atau berapa besar kekayaanya setelah mereka bekerja, melainkan keberhasilan yang lebih mencerminkan sebuah hasil yang telah kita lakukan dari hasil kerja atau kegiatan yang berintegritas. Banyak bukti yang dapat kita lihat secara mata telanjang dan terjadi di sekeliling kita, dapat kita lihat di setiap cover surat kabar, atau pun menjadi topik perbincangan terhangat di berita elektronik ibukota, mulai dari masalah maraknya korupsi baik di badan pemerintahan tertinggi sampai rakyat jelata atau masalah-masalah di dunia pendidikan misalnya saja, adanya demo mahasiswa yang anarki bahkan berbagai berita yang membahas tindakan-tindakan tercela para pendidik yang semestinya di gugu dan tiru malah memberi bocoran soal ujian pada siswanya. Sungguh hal menghawatirkan serta memberikan dampak besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang semakin membuktikan banyaknya pelanggaran-pelanggaran.

Integritas Generasi Muda

Salah satu penyebab dikatakan tidak berhasilnya seseorang adalah terkait telah hancurnya integritas masyarakat baik secara kolektif dan terutama personal. Perlunya kder- kader baru yakni genereasi muda yang sedari sekarang kita pupuk dan tumbuhkan dalam pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan sosial di sistem sosial serta mampu menjadi penyatu unsur-unsur di berbagai bidang kehidupan bermasyarakat
Sudah sewajibnya mulai dari sekarang generasi muda khususnya menyadari bahwa pemuda menjadi tonggak kemajuan segala bidang, yang harus mulai menumbuhkan loyalitas dan integritasnya. Sekarang bukan waktunya untuk mengutuk kegelapan atas apa yang terjadi di negara kita, lebih baik mulai dari masing-masing individu untuk menyalakan obor penerang, dengan menjadi leaderships visioner dan transformative, serta berkekuatan intelektual dan mampu menggunakan kemampuan tersebut secara bijak dan berintegritas. Begerak sesuai jalur dalam birokrasi, tidak melanggar hukum, dan menjadi pribadi anti korupsi. Yang bukan hanya memahami dan menghayati tapi jauh berimbas bila kita mau mengubah pikiran dan pandangan kita akan arti kesuksesan itu dan tentunya diimbangi dengan nilai-nilai budaya serta keagamaan dari masing-masing individu.

mahasiswa universitas negeri semarangNailatul Faiqoh adalah mahasiswa fakultas teknik sipil Universitas Negeri Semarang