Arsip Tag: jatuh cinta

Namrudz

Cerpen Bruno Schulz
Alih Bahasa John Kuan

anjing
Gambar diunduh dari flickrhivemind.net

Agustus tahun itu, aku senantiasa bermain dengan seekor anjing kecil yang amat lucu. Ia suatu hari begitu saja muncul di atas lantai dapur kami, gerakannya kikuk, terus-menerus mendecit halus, tubuhnya membawa aroma bayi dan susu. Kepalanya bulat, agak bergetar, belum sepenuhnya terbentuk; dua kaki depannya terbuka ke samping seperti tikus tanah, dan bulu yang menutupi tubuhnya halus tak terkira, amat lembut.

Sejak pandangan pertama, benda kecil ini langsung menaklukkan hatiku yang belum ranum, membuat aku kelabakan jatuh cinta padanya.

Benda kecil kesayangan para dewa ini, yang melebihi segala macam mainan paling indah dan menyenangkan ini bisa jatuh dari surga mana? Sungguh tak terbayangkan, tukang cuci piring yang tua dan membosankan itu ternyata bisa mencetuskan ide yang begini cemerlang, pada pagi buta, pada saat yang belum disentuh orang sudah membawa seekor anjing kecil dari pinggiran kota ke dalam dapur kami!

Ah! Pada saat ——— sungguh disayangkan ——— kita masih belum berada di tempat kejadian, pada saat kita masih belum terlahir dari rahim kelam dunia mimpi, perihal bahagia ini sudah terjadi, menunggu kita. Dia dengan kikuk berbaring di atas lantai dapur yang dingin, sedikitpun tidak dihargai oleh Adela dan orang-orang rumah. Kenapa mereka tidak lebih awal membangunkan aku! Piring yang penuh berisi susu di lantai dapur menunjukkan naluri keibuan Adela, sungguh tidak beruntung, dan juga membuktikan ini adalah kenyataan ——— sudah ada yang merasakan kegembiraan sebagai ibu angkat, tetapi aku tidak ada kesempatan terlibat di dalamnya. Bagiku, sepenggal sukacita ini telah hilang buat selamanya.

Namun di depanku masih terpampang sepotong  masa depan yang indah. Betapa kaya dan menakjubkan segala pengalaman, eksperimen, penemuan yang terbentang di saat ini! Saripati rahasia hidup, sekarang telah menjelma jadi bentuk yang begini sederhana, praktis, dan menarik, terkuak di depan keingin-tahuanku yang tidak pernah terpuaskan. Ini benar-benar luar biasa menarik ——— dapat memiliki sepotong kehidupan di dalam genggaman tangan, partikel-partikel rahasia kekekalan, eksis di dalam bentuk yang begini baru dan menakjubkan. Sebab ia berbeda dengan kita, maka mengobarkan keingin-tahuan kita yang tak bertepi dan rasa hormat yang misterius. Ini sungguh fantastik ——— di dalam tubuh hewan yang samasekali berbeda dengan kita, ternyata memiliki percikan hidup yang sama.

Binatang! Objek yang selamanya tidak akan memuaskan rasa ingin-tahu kita, sampel dari teka-teki hidup, seolah tujuan mereka diciptakan adalah untuk memperagakan kepada manusia dirinya yang lain, menjabarkan keragaman dan kompleksitas mereka dengan ribuan kemungkinan serupa kaleidoskop, dan setiap jalur akan menembus batas kontradiksi, menembus perkembangan keluar batas yang penuh karakater. Binatang tidak ada beban keegoisan, tidak usah memikul hubungan antar manusia yang kacau dan berat, terhadap kehidupan lain yang asing mereka selalu membuka diri, penuh kebaikan, juga rasa suka yang meluap, kuriositas untuk bekerjasama, tersembunyi di bawah rasa lapar dan haus yang mereka sendiri amat sadar.

Anjing kecil itu memiliki bulu kulit seperti beledu dan tubuh yang hangat. Ketika kau meletakkan tangan di atas tubuhnya, dapat meraba denyut nadinya yang lebih cepat dari manusia biasa. Dia punya dua lembar daun telinga yang lembut, sepasang mata kebiruan keruh, mulut yang berwarna merah jambu (  kau bisa memasukkan jari, sedikitpun tidak berbahaya ), empat tungkai yang halus dan lugu ——— di tumit kaki depan juga ada tonjolan daging berwarna merah jambu yang mempesona. Dia dengan kaki-kaki ini jatuh bangun berlari sampai di depan piring berisi susu, dengan rakus dan tergesa menggunakan lidahnya yang berwarna merah mawar menjilat susu. Setelah kenyang, ia dengan kecewa mendongak wajahnya yang kecil, di dagunya masih melekat setetes susu, lalu tunggang-langgang berlari meninggalkan kolam mandi susu.

Cara jalannya seolah berguling yang canggung, tubuhnya bergerak miring, tidak berarah, sempoyongan seperti orang mabuk. Emosinya yang paling utama adalah semacam rasa pilu yang tak terukur, kesepian terhadap ketidak-berdayaan dan ketelantaran ——— dia masih belum mengerti bagaimana menutup kekosongan hidup di antara  jam makan yang penuh sensasi. Semua emosi itu ditunjukkan dengan gerakannya yang tidak beraturan dan tidak berkelanjutan, tidak logika, melankoli yang tiba-tiba menyerang, diikuti dengan suara-suara ratapan, serta tidak mampu menemukan tempat yang menjadi milik sendiri. Bahkan di dalam alam mimpi sekalipun, ia juga masih perlu menggulung diri jadi segumpal tubuh yang menggigil agar dipeluk, didukung ———  yang menemaninya tetap adalah kesepian yang tiada rumah untuk pulang. Ah, hidup ——— hidup yang muda, rapuh, ditarik keluar dari kegelapan yang ia andalkan, didorong dari rahim hangat yang memeluknya ke sebuah dunia yang besar, asing dan terang, tubuhnya mengerut jadi satu gumpalan, terus mundur, menolak sebuah pesta perayaan yang disiapkan orang-orang buatnya ——— penuh dengan kejijikan dan ketidak-ikhlasan.

Namun perlahan, Namrudz kecil ( ia memperoleh nama membanggakan, khusus buat petarung ini ) telah mulai menikmati citarasa hidup. Dunianya yang pada awal ditentukan oleh tubuh ibu, sekarang telah berubah menjadi dikendalikan oleh daya tarik hidup yang penuh ragam.

Dunia mulai menciptakan berbagai macam jebakan buatnya: makanan berbeda memiliki rasa yang asing namun fantastik, cahaya matahari pagi berbentuk persegi empat yang menempel di atas lantai adalah tempat paling enak untuk berbaring di dalamnya. Gerakan tubuhnya ——— misalnya kaki dan ekor ——— dengan jenaka menggodanya, ingin ia bermain dengan mereka. Ia dapat merasakan tangan manusia yang merabanya, di bawah tangan ada semacam hasrat keusilan yang mulai terbentuk, tubuhnya dengan riang bergerak, mulai menghasilkan semacam keinginan pada gerakan yang sepenuhnya baru, kasar dan berbahaya ——— semua ini telah menaklukkan, menyemangati ia untuk menerima, setuju dengan eksperimen hidup.

Ada satu hal lagi ——— Namrudz mulai mengerti, hal-hal yang mendekati ia sekalipun tampak luar amat baru, namun sesungguhnya sudah pernah terjadi, mereka telah terjadi berpuluh ribu kali, sesungguhnya sudah tak terhitung. Tubuhnya sudah bisa mengenali berbagai situasi, kesan, dan objek begini, pada dasarnya, segala hal sudah tidak akan membuat dia terlalu kaget lagi. Setiap kali berhadapan dengan keadaan baru, dia akan menyelam ke dalam ingatan sendiri, menyelam di kedalaman ingatan tubuhnya, meraba gelap, sangat hafal mencari jawaban di sana ——— kadangkala, di dalam tubuh sendiri menemukan jawaban tepat yang telah disiapkan: ini adalah warisan turun-temurun, bersembunyi di dalam cairan darahnya dan kearifan di sistem sarafnya. Ia menemukan beberapa tindakan dan keputusan  yang telah matang di dalam tubuhnya ( bahkan ia sendiri juga tidak tahu ), hanya menunggu saat yang tepat untuk meloncat keluar.

Lapangan hidupnya yang muda adalah dapur yang memiliki ember yang berbau sedap, di dalamnya juga ada tergantung kain lap yang rumit, aroma yang menarik perhatian, bunyi sandal Andela yang menepuk lantai, dan suara-suaranya yang diperas keluar ketika dia mengerjakan pekerjaan rumah tangga ——— semua ini sudah tidak mengejutkan ia lagi. Ia sudah terbiasa menganggap dapur sebagai teritori dan kampung halamannya, dan bersamanya telah berkembang jadi semacam, yang seolah ada seolah tidak, menyerupai hubungan dengan tanah leluhur.

Mungkin satu-satunya pengecualian adalah  ketika kegiatan mencuci lantai tiba-tiba sudah seolah bencana alam yang menimpanya. Seluruh hukum alam dibuat terbalik, seketika cairan alkali yang hangat sudah disiram di atas lantai dan seluruh perabot rumah, di tengah udara juga penuh dengan suara penyikat di tangan Andela yang sangat mengancam.

Namun bahaya juga ada saatnya berlalu. Penyikat reda kembali, samasekali tidak bergerak, dengan tenang berbaring di satu sudut dapur, lantai mengeluarkan aroma kayu basah yang sedap dicium. Namrudz kembali lagi ke dalam aturan yang biasa dan akrab, kembali pada kebebasan sesuka hati berkegiatan di atas teritori sendiri. Dia merasakan sejurus hasrat yang bergelora, ingin dengan gigi menarik karpet tua yang ditaruh di atas lantai, lalu dengan seluruh tenaga menghempasnya ke kiri ke kanan. Berhasil menekan kekuatan alamiah, membuat dia mempunyai suatu rasa senang yang tak terucapkan.

Tiba-tiba, seluruh tubuhnya terpaku di atas lantai: kurang lebih tiga langkah di depannya (tentu adalah tiga langkah anjing kecil) ada satu monster yang hitam pekat amat buruk, menggunakan kakinya yang kusut seperti kawat besi bergerak dengan cepat. Namrudz yang amat terkejut dengan sorot mata mengikuti serangga mengkilap yang mondar-mandir di atas lantai itu, panik memperhatikan tubuh yang pipih, buta, tak berkepala ditarik oleh satu gerombolan yang berlari amat cepat seperti kaki laba-laba.

Ada sesuatu di dalam tubuhnya yang disebabkan oleh pemandangan di depan mata ini lalu menyatu, matang, berkecambah, sesuatu yang ia sendiri belum mengerti, seolah adalah amarah atau takut, sekalipun itu termasuk menyenangkan, disertai dengan getaran kekuatan, emosi, dan sifat menyerang.

Mendadak kedua kakinya menginjak ke depan, mengeluarkan suara yang ia sendiri juga belum begitu kenal, samasekali berbeda dengan jeritannya yang biasa.

Ia berulang kali menggunakan suaranya yang melengking, beberapa kali terdengar sumbang karena terlalu bersemangat meninggikan suaranya.

Ia ingin dengan bahasa baru yang ditemukan seketika ini buat berkomunikasi dengan serangga, namun ini hanya sia-sia. Di dalam otak kecoa tidak ada tempat buat memuat paparan yang panjang lebar begini, oleh sebab itu makhluk menjijikan ini melewati ruangan, dengan langkah-langkah biasa yang seperti prosesi, terus masuk ke salah satu sudut.

Namun, di dalam jiwa anjing kecil, rasa benci masih belum memiliki daya tahan, dan juga masih belum alot. Sukacita hidup yang baru dibangunkan itu telah membuat seluruh perasaan berubah menjadi keriangan. Namrudz masih terus menyalak, namun tanpa ia sadar makna ketika ia menyalak telah berubah, berubah menjadi parodi ——— sesungguhnya ia ingin mengatakan keberhasilan pesta kehidupan yang tak terucapkan itu, penuh dengan pertemuan tak terduga, getaran dan kesenangan yang memuncak.

Iklan

Puisi-Puisi Ragil Koentjorodjati #3

Semua Tentangmu

[1]

adalah engkau, puisi yang gagal kurangkai.
katakata tanpa bunyi,
lalu terbakar,

bukan amarah tapi hampa tak berkesudahan.
rasa ini, cobalah kaumaknai,
bukan sepi, bukan mati.
sebab kitalah sepi. kitalah yang telah mati.

[2]

airmatamu adalah bait puisi tersendiri yang paling kunikmati,
iramanya menganak sungai,

membelah bukit di dadamu yang gersang,
menetes,
menetas, lalu tuntas,
menyisakan jernih yang ibu,
mengajarmu lebih banyak diam menerima cinta yang kuajarkan.

 

Perjalanan Pulang

[1]

tak ada bintang, Sayang,
malam ini langit sepi,
dan lampulampu itu,
berirama merah dan kuning dan hijau,
tidak ada ungu.
rel itu masih amat panjang,
dengan kereta yang berjanji membawaku pulang,
menjauh dari kota tempat namamu tak lagi bertuan.

[2]

kereta itu, ya, kereta itu tak kunjung datang.
semoga kaupaham, Sayang.
perbuatan tak semudah perkataan.
mungkin, – sangat mungkin-, kereta itu
dan engkau, hanya ada dalam lamunan.
aku hanya rindu pulang,
semoga kaupaham, Sayang.

 

Kuhembuskan Namamu

pada ubun-ubun malam,
kuhembuskan namamu.
mengalir bersama deru
debar dada digunting suram.

 

Orang Gila

Orang gila itu, melangkah begitu gagah. Mungkin ia pernah jatuh cinta, menulis sebuah nama di batin yang miskin. Siapa ynag peduli tangis batin seseorang? Dan mendung tidak memilih waktu untuk menghujaninya dengan tusukan rindu. Ia tetap seperti biasa. Melangkah dengan gagah. Meski ia tahu, satu per satu sahabat meninggalkannya. Ia tetap berjalan. Sendirian.

 

The Opera

the bird sing ‘Halelujah’
and I said ‘Amen’,
the darkness shines,
a little one’s scream.

The opera has just begun.

Burung-burung Kertas

Puisi Ragil Koentjorodjati

burung kertas
Ilustrasi dari 2.bp.blogspot.com
(1)
Di tanganmu, satu demi satu kaucipta,
Burung-burung kertas yang kemudian kauterbangkan kian ke mari,
Melayang, menarikan mega-mega biru,
Meliukkan nafas cinta yang kausemayamkan pada sayapnya,
dan harapan tertakik pada kerinduan.

Wahai, udara ini serasa tak pernah hampa.

Ah, aku telah jatuh cinta,
Pada burung kertas yang hancur luruh di kali kecilku.

(2)
Aku ingin terbang bersamamu,
Melangit tinggi di awan maya -imaji bocah-bocah terbahagia-
Dengan tenang kita akan mengawang,
menantang tinggi nyiur yang tak terukur,
melintas semak perdu penuh biru,
Sembari aku akan berkisah tentang kampung halaman,
Tempat semua kerinduan berpulang,
Di sana, kita dapat leluasa terbang.
Lalu seperti biasa,
Ketika senja tiba, Ayah atau Ibu akan memanggil bocah-bocah itu,
Beruntun mereka berebut memeluk Bunda,
ditingkah selaksa cinta -tawa yang berderai-derai
Dan kita akan mendarat di tempat sampah atau nyala api,
Dengan sedikit rasa yang kupunya, akan kubisikkan kepadamu,
:jangan menangis, besok kita akan kembali terbang.

(3)
Adalah salahku mencintaimu,
mencintai hal-hal palsu,
hanya agar nafas tetap bertahan di badan.
Dan aku mohon,
jangan kaucaci aku tentang murninya hati,
ketika -dengan sedih- harus kucuri sesuatu dari kematianmu,
kunikmati di sela-sela ranggas kemarau istirahku,
deretan aksara yang tak lagi bermakna,
tertekuk, terlipat, tak lagi terbaca.
Engkau tahu, aku tidak mampu berterima kasih kepadamu,
aku tidak mampu berterima kasih pada hal-hal palsu,
seperti mereka yang mencuri dari nama-nama kosong,
yang mencuri dari yang ditinggalkan orang mati.
Dan ketika alam hidup mengajarkan kekejaman,
ijinkan aku tetap mencintaimu,
tanpa hati, tanpa jantung
tanpa darah, tanpa nadi.
Agar aku dapat tetap terbang bersamamu,
Meski aku menjelma burung kertas yang terlalu ungu.