Arsip Tag: john kuan

Kuli Kontrak, Bengkalis, 1921

Puisi John Kuan

5 euro mengunduh kau dari sebuah pusat arsip kolonial

bersama sebatang kayu terjepit di antara paha dan betis

bersama sepotong tali yang terikat di luar waktu.

Sedang di dalam waktu aku bisa mencium bau sedihmu

dan rindu dan fermentasi daun gugur.

Apa kisahmu? Aku kira aku tahu, kau tentu diperdaya

di sebuah losmen murah, di sebuah rumah gadai, di sebuah agen kerja

bisa saja di Amoy, bisa saja di Quanzhou, bisa saja di Kanton, bisa saja di Kuilin.

Siapa peduli. Kalian semua disebut [ anak babi ], kalian dihitung kiloan

demi beberapa tahil perak buat ibu di kampung halaman.

 

Sepasang matamu menyimpan ombak dan badai

Beberapa garis petir menggores keningmu, segaris senyum sinis

telah menutup satu abad kekalahanmu. Aku kira aku kenal kau

Wong Feihung? Huo Yuanjia? 72 Jurus Shaolin? Akhirnya kau kalah jurus

pada selembar kontrak kerja, disusun ke dalam palka kapal uap

seperti daging kalengan. Membelah samudera, keluar masuk novel-novel kolonial

Hindia Belanda, tanpa meninggalkan nama, tanpa raut, sekalipun

cuma fiksi belaka. Malam ini aku melihat kau adalah sebongkah batu

kungkum di dalam kristal cair, ingin bertapa seribu tahun lagi

menjelma jadi satu jurus telapak tangan Buddha.

jurus-telapak-tangan-buddha
Gambar disediakan oleh John Kuan
Iklan

24 Posisi Matahari ( 7 )

Kolom John Kuan

musim dingin
gambar diunduh dari guim.co.uk

☉霜降

——— serigala mempersembah hasil buru; tumbuhan kuning luruh; serangga hibernasi

Duduk membaca teks berjalan di kaca jendela gerimis. Kadang puisi, kadang cerita pendek, kadang flash fiction, terutama di malam hujan. Hari itu saya membaca sebuah roman, sedikit picisan, tapi khas teks berjalan.

Mobil biru keabuan, bersih mengkilap, hatinya demikian juga, dinihari pukul dua lewat lima menit masih belum dapat penumpang, memilih pulang. Hujan berhenti, menurunkan kaca jendela, isap rokok. Tiba-tiba hati sangat kacau, sering seolah teringat sesuatu, lalu tidak teringat lagi. Di mulut jalan depan berdiri satu bayang memutih, matikan rokok, mobil dibawa mendekat… muda… anggun… sudah melambai… Dia buka pintu, perempuan muda masuk ke tempat duduk depan, agar mudah menunjuk jalan?

“Ke mana?”

Dia membantunya menyulut rokok…

“Ingin ke mana?”

“Terserah kamu “

“Maksud saya mesti mengantar kamu ke mana?”

“Oh, my god!”

“Maaf, aku yang salah!”

Perempuan itu bergegas keluar mobil, mengucapkan selamat malam, dengan pinggul menutup kembali pintu mobil.

Mobil tidak bergerak. Perempuan itu juga tidak bergerak.

Dia melongok keluar jendela

Perempuan itu melangkah ke arah berlawanan.

Setelah perlahan mengemudi lewat beberapa mulut jalan, putar balik, jalanan sangat lengang, membuat dia merasa kekacauan tadi telah meresap, matanya menyapu dua sisi jalan, bangunan, bayang lampu lalu lintas, suara mobil lain, dia merasakan semuanya telah menyatu jadi sebuah tubuh besar, dan perempuan tadi adalah selembar bentuk manusia digunting dari kertas putih, entah basah kuyup menempel ke mana.

Perempuan itu di bawah kanopi sebuah bar, sedang membuka pintu, tiba-tiba menoleh, seolah ada orang memanggilnya. Dia mengajak perempuan itu minum, menari, tidak usah lihat arloji, akhirnya perempuan itu melihat. Mengantarnya pulang ke Greenwich Village. Pemandangan jalan kabur menyatu, gerimis lagi.

“Hagan… Sejak kapan mulai?”

” … dua tahun lalu… Kamu?”

“Apa?”

“Sudah berapa lama bawa taksi?”

“Juga hampir dua tahun “

“Sepenuhnya mengandalkan tip?”

“Iya, siang hari bolak-balik Long Island, jauh lebih baik daripada di dalam kota.”

“Tidak akan seumur hidup begini?”

“Iya, tidak tahu kapan-kapan menukar yang lain.”

 “Tim, kau memang luar biasa.”

“Mana ada… lagipula, memandang ekspresi orang, enakan pemandangan jalan.”

“Keras kepala adalah tabiat paling susah berubah.”

“Seandainya mau berubah, juga mesti dengan keras kepala mengubahnya.”

“Tidak usah diubah, orang keras kepala paling lembut.”

“Macam mana tahu?”

“Umpama, sangat memperhatikan cara berpakaian, demikian sudah sangat lembut terhadap dirinya.”

“ Kalau begitu kamu lebih luar biasa…. aku sungguh tidak mengerti… kamu…”

“Ibu, adik, aku, buru-buru ingin menyelesaikan kuliah pergi kerja.”

“Sudah mau nikah, besok dia ulang tahun.”

“Selamat ulang tahun!”

“Terima kasih, kami ingin makan malam di Village, restoran mana bagus? Okra?”

“Setelah koki Okra meninggal dunia, sekarang tinggal orang dari luar kota yang datang mencicipi nama.”

“Assam, bagaimana?”

“Bagus sekali, jika kau berminat boleh bertemu pemiliknya, bilang dari nona Ula Hagan, penutupnya akan disajikan teh Pangeran Wales… berhenti di sini, Tim, terima kasih!”

“Hagan!”

“Apa?”

“Nomor telepon.”

Hagan menyambut pena, ditulisnya di atas telapak tangannya.

Menyusuri sebentar sisi Sungai Hudson, dia memutar balik ke sudut jalan Hagan turun, apartemen hitam di dalam gerimis, terasa seolah tebing curam.

Di bawah cahaya kapsul telepon umum, angka di telapak tangan, berbaur dengan keringat, sisa 2, 5 bisa dikenali.

Pagi berikutnya menemukan di tempat duduk Hagan ada sebuah tas. Malam Tim bersama tunangannya datang ke Assam, tas dititip ke pemilik restoran untuk dikembalikan kepada pemiliknya. Selesai makan, teh Pangeran Wales bening warna amber, kental dan harum, monopoli pedagang teh kesohor Twinings.

Saat mau bayar, pelayan bergegas datang berkata: “Sudah dibayar nona Hagan, dia memberi selamat ulang tahun kepada kalian.”

 Tim dicurigai, penjelasan demi penjelasan, pernikahan tetap dibatalkan ——— akhirnya dia baru jelas dicerca hanya alasan belaka. Prelude perkawinan terlalu panjang. Juga berarti ikatan kasih sayang pendek.

Bahkan ke Assam minum secangkir teh juga tidak ada semangat, terhadap makanan kian tajam mengkritik, badan makin kurus, samasekali tak beriak.

Pada acara wisuda Ula Hagan, Tim hadir, sepatah dua patah kata, apapun tidak beritahu.

Lewat satu tahun, Hagan menikah, pengantin lelaki bukan Tim.

Lewat tiga tahun, Tim menikah, pengantin perempuan Ula Hagan, keluar dari gereja, sepenuh jalan adalah gerimis yang sama.

Perkawinan perak, perkawinan emas, ingat selalu gerimis, kemudian, tidak lagi berhubungan dengan gerimis, abadi jadinya.

24 Posisi Matahari ( 5 )

Kolom John Kuan

☉秋分

 ——— guruh mulai diam; serangga menutup sarang; air menyurut

Membawa beberapa lembar peta dan sekepala labirin sejarah, saya sampai di Alhambra. Jauh-jauh datang mendengar kisahnya, sebuah kisah musim gugur:

Sekitar abad ke-7 Masehi ada sekelompok Orang Arab dan Orang Berber menyeberang dari Afrika Utara bagian barat masuk Semenanjung Iberia, membangun sebuah rezim, sejarah memanggilnya [Orang Moor]. Sampai di abad ke-15 Masehi, Orang Moor telah memerintah tanah ini lebih dari 700 tahun, darah persaudaraan dan bahasa telah lama terbaur, mereka samasekali tidak pernah curiga terhadap kepatutan mereka memerintah. Cuma beberapa catatan sejarah awal mengutarakan, nenek moyang mereka bagaimana mengarung dari Afrika Utara ke sini pada masa itu.

Namun, orang Spanyol tidak lupa, mereka sudah sejak awal memupuk gerakan merebut kembali tanah yang dirampas. Gerakan inilah yang mengingatkan Orang Moor, urusannya sedikit merepotkan. Pada masa itu Orang Moor dilihat dari segi apapun jauh lebih kuat daripada Orang Spanyol, sebab itu sekalipun merasa repot, mereka tetap bisa hadapi dengan tenang. Namun bibit yang ditanam dalam-dalam begini, sungguh memiliki waktu.

Seratus tahun, seratus tahun perlahan berlalu, kekuatan politik daerah utara mulai bangkit, gerakan perebutan kembali tanah yang dirampas pelan-pelan juga memiliki pemimpin dan momentumnya. Akhirnya, berubah menjadi operasi militer yang kuat dan bergaung. Ketika Orang Moor sadar, mereka telah dikepung, dan lingkaran kepungan makin lama makin mengecil, sudah tidak bisa diterobos.

Solusi paling masuk akal adalah dengan sukarela pergi. Namun mereka bukan baru datang puluhan tahun, masih bisa menemukan titik awal berangkat, di tempat ini mereka telah puluhan generasi mengakar, sudah tidak tahu harus balik ke mana.

Hal paling mengejutkan adalah, Orang Spanyol yang telah menaklukkan sebagian besar daerah selatan, seperti sengaja menyisakan Granada terisolir, dan pengepungan ini ternyata bisa berlangsung lebih dari 200 tahun!

Para sejarawan menyampaikan banyak alasan dan teori untuk menjelaskan kenapa pengepungan ini bisa berlangsung demikian lama, namun saya paling tertarik adalah psikologi silang budaya kedua pihak selama lebih dari 200 tahun itu.

Orang Moor tentu membuka banyak rapat, menggunakan banyak akal, memikirkan banyak jalan keluar, namun setelah berulang kali gagal, mereka terpaksa harus mengakui, ini adalah dinasti terakhir Orang Moor di Semenanjung Iberia. Keputus-asaan begini pada tahap awal adalah pedih pilu dan amarah, tapi karena waktu diundur terlalu lama, pelan-pelan mengerut jadi hening. Dan keputus-asaan yang hening selalu indah.

Istana Alhambra yang diukir dan dipahat demikian persisi dan indah ini adalah diselesaikan dalam keputus-asaan yang hening. Oleh sebab itu, segala ketelitiannya bukanlah demi diwariskan ke generasi berikutnya, lebih bukan demi pamer, namun adalah memasuki suatu tahap nirguna.

Saya pikir, perumpamaan yang paling tepat untuknya adalah berhias di depan maut. Tahu ajal sudah menyusul, namun masih memiliki sedikit waktu, sendiri masih penuh daya, indera bekerja sempurna, sebab itu dengan perlahan dan teliti mulai menghias diri. Sudah tidak peduli lagi esok, tidak peduli lagi penonton, tidak peduli lagi penilaian, seluruhnya adalah buat dinikmati sendiri, seluruh akal pikiran yang halus dan rumit telah ditaruh di dalamnya.

Kapan pasukan musuh akan datang menyerang, membakar, membinasakan seluruh ini? Mungkin saja besok, mungkin juga ratusan tahun. Tidak peduli, hanya ingin sedikit-sedikit dibangun, sepenggal-sepenggal diukir. Suasana hati dan pikiran begini masih belum pernah saya alami di tempat lain.

Sekarang kita lihat di luar benteng. Pada waktu itu pasukan dipimpin langsung oleh Fernando II dan Isabel I, perkawinan Raja Aragon dan Ratu Kastilia ini telah mendorong Spanyol bersatu, hanya sisa Granada sebagai batu sandungan terakhir. Dan di dalam benteng, di antara pilar dan dinding berukir sedang bertahta seorang raja berusia muda, namanya Abu Abdullah Muhammad XII. Orang Spanyol memanggilnya el chico, saya tidak tahu ini keluar dari simpati atau penghinaan. Ayahnya karena mencintai seorang pengikut agama Kristen dan diturunkan dari tahta, dan Abdullah sendiri setelah memegang tampuk kuasa langsung berhadapan dengan sebuah kondisi kacau yang tak terurai. Keabsurdan ayahnya adalah menggunakan cinta mengkhianti politik, sudah tahu seluruh rakyat sedang mengangkat panji agama melawan musuh di luar benteng, sebab selain itu sudah tidak ada panji lain bisa dilambaikan, dia justru menyerahkan cintanya kepada agama di luar benteng. Abdullah tidak tahu yang dilakukan ayahnya ini mau disebut berdamai, menerobos kepungan, atau menyerah, yang jelas dia sendiri tiba-tiba sudah diletakkan di atas batu menjadi domba korban.

Semua inilah yang menyebabkan pilihan Abdullah yang terakhir: Menyerah. Sebab itu tenda-tenda Fernando dan Isabel yang rapat berlapis-lapis menjadi tidak berguna. Orang Spanyol anggap ini adalah mujizat, puluhan ribu orang setelah mendengar kabar ini langsung berlutut di bawah benteng bersyukur, saya kira mereka semestinya berterima kasih kepada raja yang muda dan berakal jernih ini. Seandainya waktu itu pikirannya menjadi keruh, atau ingin memperagakan sedikit gaya ksatria, mungkin saja menyebabkan ujung tombak bertemu ujung tombak, bumi bersimbah darah dan entah berapa banyak nyawa akan melayang.

Raja yang masih muda itu mencari sebuah pintu samping istana, berjalan sampai di atas bukit jauh baru menoleh, diam-diam meneteskan airmata. Menurut cerita saat itu ibunya berdiri di sisinya berkata: “Tangislah, anakku, seorang lelaki yang tidak mampu membela dirinya, semestinya menetes sedikit airmata!”

Sebuah dinasti, sepotong sejarah, ternyata bisa berakhir demikian damai. Sebab itu, bahkan setiap lekuk motif yang paling halus di dalam Istana Alhambra hingga hari ini pun masih bisa tersenyum tanpa pernah diusik.

Hari itu, adalah 2 Januari 1492

24 Posisi Matahari ( 4 )

Kolom John Kuan

☉處暑

  ——— elang giat memburu; alam gugur luruh; bulir padi penuh

Seperti apa musim gugur itu? Musim gugur pernah adalah milik Qu Yuan, milik Du Fu dan Li Shangyin. Namun musim gugur kali ini milik Rilke. sebab musim gugur saya begini datangnya, malam buka jendela membaca, melihat orang lalu-lalang dengan langkah-langkah gegas, teringat Rilke; di dalam riuh rendah seharian merasa sangat lelah dan bosan, teringat Rilke; bertemu orang asing, berbincang dengan orang asing, berpisah dengan orang asing, pulang sendiri ke kamar hotel, juga teringat Rilke.

Musim gugur tidak perlu basa-basi, dia begitu saja tiba. Sebab itu daun musim gugur yang diselip di halaman buku akhirnya tinggal urat-urat daun, semua urat daun juga memiliki masa lalu, juga pernah memikirkan isi hati. Musim gugur sering tiba di saat isi hati semua orang membisu, memberi isyarat kepada saya hidup pada dasarnya hanya mengikuti hati bagai awan berarak, namun juga dalam terukir bagai cetakan besi. Tetapi saya tetap ingin melakukan sesuatu, di saat mengutip selembar daun kuning tergenang air hujan, ada pergolakan yang bernama [sia-sia], sebab itu saya baca kembali Rilke:

Herbsttag

Herr: es ist Zeit. Der Sommer war sehr groß.
Leg deinen Schatten auf die Sonnenuhren,
und auf den Fluren laß die Winde los.

Befiel den letzten Früchten voll zu sein;
gib ihnen noch zwei südlichere Tage,
dränge sie zur Vollendung hin und jage
die letzte Süße in den schweren Wein.

Wer jetzt kein Haus hat, baut sich keines mehr.
Wer jetzt allein ist, wird es lange bleiben,
wird wachen, lesen, lange Briefe schreiben
und wird in den Alleen hin und her
unruhig wandern, wenn die Blätter treiben.

 

Musim Gugur

Tuan: ini saatnya. Musim panas pernah begitu montok.
Lemparkan bayang pekatmu ke arah jam matahari,
dan biarkan angin gila meniup lewat padang liar.

Perintahkan buah terakhir segera ranum;
tambah lagi dua hari terik tanah selatan,
desak mereka sintal dan penuh, agar harum
manis terakhir, tenggelam di anggur kental

Siapa kini tiada rumah, tidak usah lagi dibangun
Siapa kini sendiri, biarkan dia selamanya sepi
terjaga, membaca: menulis surat-surat panjang
dan biarkan dia mondar-mandir di setapak
melangkah ke dalam tarian daun gugur

☉白露

  ——— angsa liar terbang selatan; burung layang-layang ke utara; semua burung berbekal

Saya duduk menyandar di jendela kereta api, kereta melaju dengan ritme yang stabil dan teratur, bagai sebuah nyanyian yang akrab, saya mengatupkan mata merasakan bunyi repetisi begini. Setengah tertidur, seolah di mulut jendela mimpi. Tiba-tiba merasa ada sebiji mata lain terbuka, tampak benda-benda yang biasanya tidak mudah kelihatan. Saya melihat di atas punggung gunung ada bayang awan berpindah perlahan. Sepotong bayang hitam di atas punggung gunung yang amat hijau, bagai tanda lahir di tubuh manusia, seperti sedang mengisyaratkan sesuatu yang telah lama kita lupakan. Sebuah mitos purba yang menghubungkan lanskap dan gejala alam dengan tubuh manusia. Dan seluruh garis lekuk pegunungan, juga karena sepotong bayang awan yang bergerak itu, kelihatan luar biasa indah.

Perlahan tapi pasti, saya merasa cahaya matahari musim gugur miring menembus masuk dari jendela kereta, melumuri sebagian lengan dan wajah. Cahaya warna kuning emas dan hangat, mengikuti goyangan kereta sebentar kuat sebentar lemah. Di dalam cahaya matahari keemasan juga diaduk sedikit bayang hitam sekuntum awan itu, sedikit hijau ladang di dua sisi rel, dan sedikit silau pantulan air sungai yang bertebaran batu-batu bulat telur.

Kereta masuk terowongan, cahaya matahari disimpan di luar gua. Derit gesekan rel dan roda kereta kian tajam, seluruh gua penuh gema. Di dalam sebuah gua gelap dan panjang, segala mata di dalam setengah tidurku terbuka. Saya melihat cahaya-cahaya lemah berseliwer, berkedip-kedip di dinding gua.

Di dalam indera penglihatan tidak ada gelap absolut, di dalam penglihatan batin juga tidak ada kegelapan absolut.

Di dalam gelap penuh dengan cahaya yang bergetar, persis seperti melihat lukisan Rembrandt, pertama kali melihat adalah selapis hitam; tenangkan pikiran sedetik lalu cermati, akan menemukan sebersit cahaya.

Rembrandt di abad ke-17 melukis di dalam cahaya lilin dan obor. Dia juga mengamati cahaya dari fajar menyingsing hingga matahari terbenam, lalu dari matahari terbenam hingga bulan muncul. Di musim dingin negeri utara yang kelam, dia akan konsentrasi menatap sedikit cahaya di atas salju malam yang tidak mudah terasa, dia akan konsentrasi hingga lelah, lalu mengatup mata.

Saya selalu merasa, setelah mengatup mata, Rembrandt baru benar-benar melihat cahaya yang paling indah. Cahaya itu bergerak di punggung telapak tangan renta ibu yang membuka kitab suci, punggung telapak tangan yang penuh garis-garis keriput, di celah garis-garis keriput yang gelap penuh berisi cahaya tipis.

24 Posisi Matahari (3)

Kolom John Kuan

☉大暑

 ——— rumput mati kunang-kunang lahir; tanah lembab udara basah; hujan lebat menyapa

jejak kaki
ilustrasi dari 2.bp.blogspot.com

Orang tua di dalam cerpen Borges [El Libro de Arena] akhirnya menyelipkan buku yang menghabiskan seluruh uang pensiunnya itu ke dalam rak berdebu di Perpustakaan Nasional Buenos Aires. Ini adalah sebuah metafora yang sangat puitis: Mungkin hanya pengetahuan dapat menelan pengetahuan; tulisan dapat menampung tulisan. Borges berkata: [Tidak peduli pasir ataupun buku, sama-sama tak bertepi]. Dia bukan cuma menguasai semiotika, dia juga seorang pakar teori sastra dan seni yang penting, saya kira tentu bukan [pasir] yang menjadi perhatiannya, itu hanya sekedar simbol buat mengumpamakan pengetahuan manusia yang terus menggelembung.

Setiap kali membaca kembali cerita ini, akan timbul keingin-tahuan: kenapa dia berkata pasir tidak bertepi? Apakah pasir di sini berarti gurun, namun gurun juga bertepi. Atau mungkin maksudnya lebih abstrak, tempat sebiji pasir terakhir jatuh itulah batas gurun. Tak bertepi yang dimaksud Borges, mungkin ingin mengatakan ketika sejurus angin berembus, gurun akan mempunyai bentuk baru, batas baru, semacam amorfos.

Hari panas bisa membuat saya teringat gurun, tetapi lebih sering pulau kecil tempat lahirku. Petang turun sendiri ke pantai, mengutip siput, mengutip kerang, mencari lokan, mentarang, ketam bakau. Di bibir pantai yang berbuih saat pasang naik selalu ada yang tak terduga, dapat sebiji bola kaki, sebuah mainan plastik, seekor ikan mati, mayat anjing; kadang-kadang juga lari terbirit-birit melihat mayat manusia atau disengat sembilang. Seringkali juga terbangun di tengah malam negeri asing, pikiran kacau, melihat keluar jendela, seolah di luar berlapis-lapis pencakar langit ada segaris pantai panjang, bukan berpasir putih, tetapi lumpur pasir abu-abu penuh jejak kaki. Itulah magis realismeku. Sangat kempes.

☉立秋

 ——— angin mengiris; kabut turun; tonggeret pekik dingin

Daun itu bulat lonjong, kurang lebih sebesar telapak tangan, sedikit menguning, hampir tembus pandang, taruh di telapak tangan dapat jelas kelihatan jaringan urat-urat daun yang halus dan rumit. Tepinya samar-samar ada gerigi kecil, seluruh gerigi menunjuk ke satu arah, dari pangkal daun hingga ujungnya yang meruncing, bagai selembar jahitan yang paling rapi dan indah. Saya bertanya penduduk setempat yang istirahat di taman, kata mereka daun bodhi. Saya ingat daun bodhi jauh lebih besar, ujung daun yang runcing mungkin dua tiga kali lipat lebih panjang dari yang di tanganku.

kekuatan daun
Ilustrasi dari Inankittikaro.com

Saya suka daun bodhi, mungkin ada hubungannya dengan cerita-cerita tentang Buddha Gautama. Membayangkan seorang pertapa duduk di bawah pohon bodhi di Bodgaya mendengar suara angin lembut melewati sela dedaunan, atau mungkin daun-daun dengan tenang jatuh, menyentuh bumi, menimbulkan getaran seketika di hati. Namun renungan tetap hanya sekedar renungan, daun ini bisa saja tidak ada hubungannya dengan cerita. Seorang teman yang belajar botani sering memberi saya jawaban yang tidak serupa, katanya: tangkai daun walau kecil tetapi sangat kuat, sebab harus menopang beban seluruh daun. Dia juga berkata: Kebanyakan gerigi di tepi daun adalah siasat pertahanan, dan terhadap ujung daun yang meruncing indah dia menjelaskan: Ujung daun yang runcing umumnya adalah buat pembuangan air. Dia melengkapi: terutama di daerah tropis, hujan badai sering datang tak terduga, air hujan yang terlalu banyak tergenang di permukaan daun akan menyebabkan daun mudah terluka, rusak dan hancur; maka daun tumbuhan terus memperbaiki fungsi pembuangan airnya, bentuk sesungguhnya hanyalah hasil penyempurnaan fungsi dalam jangka waktu yang panjang.

Jadi kekuatan tangkai daun, urat-urat daun yang serumit sistem syaraf manusia, gerigi tepi daun yang bagai rajutan, ujung daun yang meruncing sehalus bulu itu, semua yang kusebut-sebut itu, hanya jejak berbagai penderitaan selembar daun untuk bertahan hidup dalam jangka waktu yang pelan dan panjang?

Perlu berapa lama berevolusi hingga bentuk begini? Saya bertanya teman. Dia mengangkat sedikit bahunya jawab: Mungkin puluhan juta tahun.

Jawabannya membuat saya terpelosok ke dalam keheningan. Apakah keindahan adalah ingatan terakhir dari penderitaan bertahan hidup? Apakah semacam kepedihan dalam merampungkan diri? Sebab itu indah membuat saya suka, juga membuat saya duka.

24 Posisi Matahari (2)

Kolom John Kuan

☉夏至

 ——— kijang bersalin tanduk; tonggeret mulai menjerit; si naga hijau tumbuh

Hari berikutnya saya sudah hampir lupa hamparan bukit putih itu. Melangkah pulang ke penginapan sudah menjelang malam, pada tikungan terakhir saya melihat sebuah taman. Tidak luas, membentang satu jalan pintas yang menghubungkan dua jalan utama, sederet bangku, orang-orang pulang kantor lalu-lalang. Saya pilih sebuah bangku kosong, duduk teringat bunga tung, kesukaanmu. Waktu itu umur kita berapa? 20, 23? Saya berkata saya lebih suka bunga alpinia, sebab berasal dan tumbuh liar di hutan, di dalam jelita yang pedas membawa sedikit aroma jalang yang memabukkan. Daunnya hijau berminyak lancip memanjang, sedikit menyerupai bunga gandasuli, tetapi tidak seapik itu dan agak sembrono. Daunnya juga sering dipakai buat membungkus bakcang; di dalam wangi beras bercampur sedikit wangi pedas daun yang kenyang menerima cahaya matahari dan air hujan. Bunga alpina putih porselin, satu tangkai berkerumun berpuluh kuntum. Setiap kuntum ujungnya ada sedikit merah, merah yang menggetarkan, merah yang terlalu kampungan. Bunga putih selalu dengan wanginya mengundang datang lebah, wangi bunga alpinia tidak mengecewakan, apalagi di ujung mahkotanya masih memberi tanda merah yang merebut mata, biar kumbang lebih mudah mengenalinya.

Suatu hari kamu bertanya: Apakah seorang anak muda yang belajar seni mesti menyimpan seluruh ingatan [ indah ]? Saya kira kamu bukan sedang menanyaku, kamu sedang tanya jawab sendiri, saya tentu tersenyum tanpa kata, menunggu kamu membuat kesimpulanmu. Saya tahu sendiri terlalu serakah [ keindahan ], tak terobati. Namun saya bisa memiliki berapa besar kapasitas memori, buat menyimpan segala yang ada di dunia luas ini?

Keluar taman, melangkah di kerumunan, seolah ada aroma yang mengitariku, terus mengikutiku hingga kamar penginapan. Waktu ganti baju baru menyadari rambut dan punggung melekat serpihan bunga kuning. Saya periksa di bawah lampu, ternyata adalah bunga akasia dari taman, terbawa saat duduk di bangku.

Mereka tidak bermaksud ikut masuk ke dalam duniaku, hanya saya sendiri rindu, anggap semacam jodoh, bisa diingat, bisa dilupakan.

 ☉小暑

 ——— angin telah hangat; jangkrik sembunyi di tembok; elang belajar memburu

Melangkah sendiri di kota asing sering membuat saya teringat buku-buku perjalanan Jiang Yi ( 1903 -1977 ), dia menyebut dirinya Silent Traveller. Dia menulis London, menulis Oxford, menulis Edinburgh, suasana di dalam tulisannya selalu ringan penuh humor, ditambah ilustrasi yang sangat berkarakter, kadang-kadang juga dihias satu dua buah puisi pendek, demikian kental gaya cendekiawan Cina tradisional. Ketika menulis gubuk Ratu Victoria:

Taman Kew kuasai seluruh sejuk malam,

lonceng biru habis mekar masih tersisa harum.

Percuma berkunjung jejak jelita ratusan tahun,

gubuk sepi menatap matahari terbenam.

mendaki bukit belakang Kebun Binatang Edinburg, dia menulis:

Sejenak di batu cadas duduk,

angin pinus jernih hatiku.

Melongok bibir tebing curam,

entah berapa dalam biru lautnya?

Ini sudah mendekati gaya kehampaan Wang Wei dan Wei Yingwu, namun yang ditulis adalah lanskap negeri asing, Jiang Yi berkata dia adalah kelana senyap, mungkin yang ingin diutarakan adalah sekat bahasa dan budaya antara Inggris dan Cina. Namun saya kira senyap tidak berarti bisu, mungkin lebih mendekati pengalaman indah di dalam puisi Cina yang disebut [ 忘言- wangyan; kehabisan kata-kata? ], puisi Cina yang sesungguhnya, selalu bertunas sehabis senyap.

Perjalanan penyair, ataupun penyair dalam perjalanan, kadang setelah membaca puisi-puisi begitu, akan timbul keinginan melancong, berusaha di jalan yang pernah dilalui penyair mencari lanskap yang pernah menyentuhnya, ingin mengalami suasana yang bisa menghasilkan baris-baris puisi yang indah, namun kita juga tahu itu adalah hal yang paling sia-sia. Lahirnya puisi selamanya adalah sebuah rahasia, jawaban puisi juga selamanya perlu satu perjalanan hidup untuk merampungkannya — kita bagaimana bisa hanya dengan beberapa perjalanan pendek, sudah ingin mengerti keabadian atau sampai di tujuan seberang?

Melewati jalan besar dan lorong sempit sebuah kota juga sering membuat saya terasa bagai kelana senyap, atau mungkin flaneul, pengembara di bawah pena Baudelaire, di luar gedung tinggi sesekali ada bulan jernih, kehampaan sejenak di musim semi, bahkan slogan-slogan yang kering kerontang dan kerumunan orang-orang yang basah kuyup, sering begitu menyentuh, seolah menghasilkan sesuatu yang menyerupai puisi. Namun saya tetap tidak menulisnya jadi puisi, hanya dengan cara yang sederhana mencatatnya, tunggu hingga suatu hari mungkin benar-benar dapat menjelaskan keindahan mereka, benar-benar mengerti kata-kata yang belum pernah diucapkan, sekalipun berserpih bagai angin.

…bersambung

Saat Aku Kembali ke Bumi

Puisi John Kuan

saat turun ke bumi

1/9
Camar berputar di muara, kota kembali hutan
Sebuah jam telanjang bulat di hamparan pantai

Sebagian tergenang, sebagian berdetak melingkar
Saat aku kembali ke bumi, manusia telah lama pergi

2/9
Dermaga berkarat peti kemas, matahari senja pingsan
pancarkan memori, mata polos lumba-lumba percik

bunga api peradaban. Saat aku kembali ke bumi, hewan
piara masih membawa sedih dan kelembutan leluhur.

3/9
Selain dua tiga titik lampu, malam telah diserahkan
kepada bulan. Seorang diri melangkah di atas pulau bulat,

mendengar soliter telah kuasai seluruh ruang, dan kau
juga mereka telah lama pergi, saat aku kembali ke bumi

4/9
Kita telah lama tidak di atas pantai beranak atau
bertelur, namun hingga kini tubuh masih wariskan

laut purba, dan laut hanya atmosfer terlalu biru, terlalu
kental, nyanyian menyebar jauh, selamanya tidak mengendap

5/9
Seringkali ada organ dalam palung laut dihempas ke pantai
jemur jadi bangkai hewan atau tumbuhan. Metabolisme

setiap saat planet ini, adalah makhluk raksasa nan lembut
46 miliar tahun menjilat garis pantai seluruh dunia

6/9
Dan aku demikian mencintaimu, demikian tubuh dan androgen
terus berevolusi, demi satu keindahan, laksana ubur-ubur

kembang-kempis tubuh purba resonansi kebahagiaan
yang sunyi, demikian mencintaimu, tembus cahaya, getaran cair

7/9
Pakis adalah pribumi planet ini, ketika spesies punah melankoli
melangkah lewat di depannya. Aku selalu merasa dia telah

deposit sesuatu, saksikan sesuatu, setiap lembar daun
berpijar lembab dan dingin, dunia bagai sebiji bola kristal

8/9
Saat aku kembali ke bumi, peradaban telah lama tutup pintu
lapisan es kutub koyak, genangan jalan memantul cahaya bintang

Perpustakaan kuyup berbukit bubur kertas, pengetahuan
muai dan lembek, aksara lumer ke dalam nyanyian paus biru

9/9
Kuduga kereta terakhir akan abadi berhenti di kutub, bangun
aku menguap di stasiun tropis remuk, sisa sekolam teratai ungu

di bumi soliter aku duduk di garis khatulistiwa, andai peradaban
manusia hanya bisa catat selembar, aku mesti menulis  apa buatmu