Arsip Tag: Joshua Oppenheimer

Indonesia Harus Menonton Film Ini: The Act Of Killing

Resensi Film – M. Jojo Raharjo

the jagalFilm dibuka dengan pemandangan kota Medan. Nampak suasana sebuah sudut jalan raya. Di beberapa adegan, kamera diam tak bergerak, seperti seseorang yang diam terpaku menatap jalan yang di dalamnya ada kehidupan yang bergerak. Pemandangan berganti dengan sebuah papan reklame besar. Di sini juga diam, kamera  tak menoleh ke mana pun, kecuali ke satu arah. Adegan ini seperti mengajak saya membayangkan, seperti apa tempat ini di masa lalu.

 Flm ini berkisah mengenai pengakuan beberapa orang yang telah menjadi eksekutor untuk menghabisi orang-orang yang disebut PKI di tahun 1965-1966. Para eksekutor itu hingga sekarang masih hidup, sehat dan bugar serta hidup sejahtera.

 Film ini tidak beredar secara bebas, untuk keselamatan para pembuatnya. Pemutarannya diatur oleh para pembuat film ini yang kebanyakan nama mereka ditulis sebagai anonymous dalam credit titlenya, kecuali produser dan sutradaranya yang ditulis sebagaimana adanya, Joshua Oppenheimer. Setelah pemutaran perdananya di Canada pada bulan Oktober tahun 2012, film ini memang menghasilkan kontroversi dan bahkan membuat beberapa orang menjadi terganggu, terutama yang menjadi pelaku dan juga sederetan master mind dari peristiwa pembantaian PKI di masa itu. Film ini hingga kini terus diputar di kalangan terbatas untuk menghasilkan wacana yang semakin luas terutama di Internet dan social media. Para pembuatnya berharap suatu waktu film ini diharapkan menjadi film yang “bebas” diputar di mana saja.

Anwar Congo, sebagaimana pengakuannya sendiri di dalam film ini, dan beberapa kawannya dulu saat muda, mungkin di awal umur 20-an, bekerja sebagai calo karcis bioskop di kota Medan. Anwar sangat menggemari film-film Holywood, seperti jenis cowboy dan mafia. Kegemarannya itu masih tampak di umurnya sekarang yang saya perkirakan di atas 70 tahunan, karena Anwar gemar menggunakan western suit lengkap dan sepatu kulit mengkilap serta topi ala mafia Amerika di tahun 30 hingga 60-an. Anwar bahkan masih lincah menarikan tarian Cha-cha-cha. Saat menjadi calo karcis bioskop itu Anwar muda sangat diuntungkan dengan film Amerika. Namun ketika PKI semakin berkuasa dan semakin menempati berbagai posisi strategis di pemerintahan Sukarno, film Holywood kemudian dilarang diputar. Padahal film itu yang paling laris ditonton dan membuat kantong Anwar dan kawan-kawan menjadi selalu tebal. Itulah yang membuat Anwar dan kawan-kawan termotivasi menerima pekerjaan untuk menghabisi orang-orang PKI dan Cina setelah peristiwa G30S PKI terjadi. Dalam film ini tidak digambarkan dengan tegas siapa yang memberi order atau pekerjaan itu kepada Anwar dan kawan-kawan.

Joshua mungkin harus disebut hebat, karena ia mampu menggiring Anwar dan kawan-kawan untuk berkisah mengenai apa yang dilakukannya pada orang-orang PKI dan Cina di masa lalunya. Kisah mengerikan itu termasuk bagaimana ia menggunakan cara yang menurut Anwar lebih “manusiawi” dalam menghabisi orang-orang yang disebut penghianat oleh Anwar dan kawan-kawan, yaitu dengan kawat sebagaimana ia saksikan di dalam beberapa film Holywood kegemarannya. Joshua bahkan mampu merekam sedikit kisah tentang Pemuda Pancasila di Medan sejak masa PKI itu dan sekarang. Bahkan hubungan Anwar dengan beberapa pejabat pemerintahan di Sumatra Utara, seperti gubernur Syamsul Arifin yang baru-baru ini dijatuhi hukuman penjara 6 tahun karena menyelewengkan dana bantuan sosial.

Joshua dalam pembuatan film ini yang dimulai sejak tahun 2005 lalu itu telah menggiring Anwar dan kawan-kawan untuk mendokumentasikan kisah atau pikiran mereka tentang pembantaian itu dengan sangat polos. Padahal pengakuan itu bisa menjadi bumerang bagi mereka. Joshua di dalam official web-nya (http://theactofkilling.com) menyebut seperti di bawah ini, bahwa mereka digiring pada sebuah harapan untuk membuat sebuah film fiksi berjudul “Arsan dan Aminah” yang ditulis sendiri oleh Anwar dan kawan-kawan dan bahkan mereka membintanginya sendiri film itu yang berkisah tentang kiprah Anwar dan kawan-kawan di seputar pemberantasan PKI di tahun 1965-1966. Namun Joshua ternyata juga mendokumentasikan proses pembuatan film fiksi itu, yang di dalamnya kaya dengan pernyataan dan kisah mengerikan yang tak terbayangkan oleh kebanyakan orang:

In The Act of Killing, Anwar and his friends agree to tell us the story of the killings. But their idea of being in a movie is not to provide testimony for a documentary: they want to star in the kind of films they most love from their days scalping tickets at the cinemas. We seize this opportunity to expose how a regime that was founded on crimes against humanity, yet has never been held accountable, would project itself into history.

And so we challenge Anwar and his friends to develop fiction scenes about their experience of the killings, adapted to their favorite film genres – gangster, western, musical. They write the scripts. They play themselves. And they play their victims.

Anwar kemudian menyebut Joshua menipunya, karena ia tak pernah melihat hasil dari film fiksi yang dibintangi dan ditulisnya sendiri itu. Namun Joshua malah menghasilkan film dokumenter tentang pembuatan film fiksi itu yang diberi judul oleh Joshua: The Act of Killing yang bahkan sudah diputar di festival film internasional, di Toronto Canada pada Oktober 2012 lalu.

Ya, film ini adalah film tentang pengakuan polos beberapa orang yang telah menghabisi nyawa orang-orang PKI dan Cina di Medan di masa 1965-1966. Film yang layak tonton untuk merenungkan mengapa orang biasa begitu mudah untuk direkayasa untuk menjadi eksekutor yang “efisien”. Bagian akhir film ini menjadi menarik untuk direnungkan juga, karena ada drama perubahan watak Anwar, sang eksekutor, yang mulai merasa bersalah.

Apa yang sebenarnya terjadi di masa itu? Pertanyaan seperti ini sebenarnya sudah lama bergaung, namun semakin besar bergaung setelah menonton film ini. Indonesia harus menonton film ini, karena Indonesia harus mengenali sejarah kelamnya sendiri jika ingin melangkah maju ke masa depan yang lebih baik.  Ini mungkin film yang akan memicu film selanjutnya seputar pengungkapan berbagai peristiwa di tahun 1965-1966.

Ini memang film yang mendokumentasikan pengakuan para eksekutor itu. Cara mendokumentasikannya sangat cerdas. Tidak ada adegan yang sadis, tapi membayangkan apa yang terjadi di tahun 1965-1966 itu sangat mengganggu sekali. Saya menjadi mual. Para eksekutor di Medan itu kebetulan adalah satu kelompok preman (seperti yang diakui sendiri oleh Anwar dan kawan-kawan, bahwa mereka memang preman) yang kemudian direkayasa dengan sangat berhasil menjadi eksekutor yang “efisien”. Para eksekutor di Indonesia tahun 1965-1966 memang bukan hanya preman tapi ada beberapa macam kelompok masyarakat yang lain, seperti misalnya di Jawa Timur adalah para santri. Namun film ini hanya mendokumentasikan pengakuan eksekutor di Medan dan yang dilakukan oleh preman.

Film ini ditutup dengan adegan yang absurd.  Anwar bersama dengan beberapa perempuan muda yang mengelilingi Anwar dan juga beberapa lelaki menari dengan tangan ke atas di sebuah tempat yang indah dan damai. Mereka nampak dalam keadaan bahagia. Di belakang mereka nampak sebuah air terjun. Angin meniup rambut dan pakaian mereka. Suasana terlihat begitu religius. Anwar menggunakan pakaian seperti kain yang diselempangkan ke tubuh secara sederhana. Begitu juga dengan pakaian beberapa perempuan muda lainnya di sekeliling Anwar. Mungkin maksud dari adegan ini adalah menggambarkan suasana di surga kelak sebagaimana yang mungkin diidamkan oleh Anwar. Kemudian salah seorang lelaki dari beberapa lelaki yang juga berpakaian sederhana itu mengalungkan sebuah medalion ke leher Anwar sambil berkata (kira-kira begini, karena saya tak ingat persisnya: “Saya berterimakasih karena anda telah membantu saya untuk cepat dan mudah berada di surga ini”. Nampaknya Anwar berimaginasi, kelak ia masuk surga dan bahkan korban-korban yang dihabisinya malah berterimakasih, karena Anwar telah memberi jalan yang mudah dan cepat bagi mereka untuk ke surga. Absurd.

Sumber: FB M. Jojo Raharjo

Mengkritisi G30S

Gerundelan Soe Tjen Marching

g30s-pki
gambar diunduh dari facebook

Setelah saya membuat dan menyebarkan petisi “Sarwo Edhie bukan Pahlawan” di change.org, pembahasan tentang G30S bergulir lagi. Film Joshua Oppenheimer jelas menyajikan bagaimana para jagal telah membabat nyawa manusia-manusia tak bersalah. Begitu juga akademik seperti John Roosa dan Benedict Anderson, menyatakan bagaimana sejarah pembunuhan massal yang begitu kejam itu, telah dimanipulasi oleh Orde Baru menjadi sejarah kepahlawanan Suharto. Baru-baru ini, sejarawan Asvi Adam juga memaparkan tentang trik-trik keji Sarwo Edhie dalam penumpasan mereka yang diPKI-kan.

Tapi, setelah semua usaha pengungkapan sejarah ini, tetap saja ada yang bertanya: “Lalu versi siapa yang mesti kita percaya?” Ada juga yang masih ngotot setelah nobar film ‘Jagal’. “Itu kan cuma versinya Joshua Oppenheimer. Masih banyak versi lain yang membuktikan kekejaman PKI dan pembunuhan ’65 itu harus dilaksanakan demi menyelamatkan bangsa.” Dengan orang-orang yang ngotot tanpa mau meneliti atau pun membaca lebih lanjut, saya sodorkan argumen berikut: yang terdiri dari 5 bagian (biar mirip Pancasila).

Pertama: Jika memang PKI yang melakukan pembunuhan para Jendral, apa buktinya? Bukti utama yang ditampilkan oleh Suharto dan pasukannya, adalah mayat para jenderal (yang dipertontonkan fotonya di televisi dan di koran-koran). Tetapi mayat adalah bukti bahwa orang  tersebut sudah mati, bukan bukti PKI melakukan pembunuhan. Hal ini seperti mengatakan bahwa rumah saya dibakar oleh warga desa A. Buktinya? Rumah saya rata dengan tanah dan telah menjadi abu. Lalu, apa bukti bahwa penduduk desa A membakarnya? Hanya abu rumah saya! Jika saya mengatakan demikian, banyak orang akan mudah berpikir bahwa saya gila, tapi mengapa tidak dengan Gestapu?

Kedua: Bagaimana mereka bisa sampai pada kesimpulan bahwa PKI serta para komunis-lah yang melakukan pembunuhan para Jenderal, dengan begitu cepat? Kejadian 30 September banyak dikenal sebagai saat di mana 6 Jenderal dibunuh oleh komunis (meskipun sebenarnya kejadian itu terjadi pada 1 Oktober, karena telah melewati tengah malam). Versi sejarah Suharto adalah, para Jenderal disiksa dan dimutilasi sebelum dibunuh. Juga tersebar berita bahwa perempuan Gerwani menari telanjang di sekitar jenderal saat menyilet-nyilet mereka. Kemudian, Sim Salabim Abrakadabra . . . Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober: Suharto berhasil menemukan biang keladinya dan menegakkan Pancasila, dengan komandan Sarwo Edhie, yang sekarang sudah dinobatkan jadi Pahlawan oleh menantunya sendiri.

Bahkan pembunuhan terhadap satu orang, Munir, memakan waktu investigasi bertahun-tahun, masih saja belum terselesaikan. Tetapi pembunuhan enam orang memakan waktu hanya beberapa hari bahkan beberapa jam saja, untuk menyelidiki. Mengapa keputusan untuk membinasakan para komunis datang begitu tiba-tiba, bahkan terburu-buru? Segera setelah pemakaman para jenderal pada tanggal 5 Oktober 1965, kampanye yang menuduh PKI sebagai dalang pembunuhan para Jenderal itu, menyebar luas di seluruh Indonesia. Tidakkah kita berpikir bahwa hal ini pasti bukan keputusan hati-hati atau bijaksana, tapi soal peluang bagi sebagian orang yang memiliki keinginan untuk melakukan genosida?

Ketiga: mungkin sudah waktunya kita mengalah dengan Suharto dan Sarwo Edhie. Kita anggap saja mereka berdua sesakti Batman. Tanpa proses pengadilan atau penyidikan yang ruwet pun, mereka langsung tahu siapa yang jahat. OK, Suharto benar: pembunuhan para Jenderal itu dilakukan oleh komunis. Berapa banyak dari mereka melakukannya? Para anggota PKI dan komunis di seluruh Indonesia? Sekitar 1-3 jutaan dibunuh, jutaan lainnya dipenjara tanpa pengadilan. Apakah jutaan dan jutaan orang-orang ini semua mengambil bagian dalam pembunuhan para jenderal? Apakah mereka menangkap pembunuh sebenarnya dari para jenderal? Atau pembunuhan itu adalah dalih belaka, skenario untuk memberi mereka alasan untuk melakukan genosida? Jika memang anggota PKI membunuh para Jenderal, mengapa tidak mencari pembunuh ini, dibawa ke pengadilan dan dihukum selayaknya? Namun, tidak! Mereka malah sibuk membunuh jutaan orang, yang banyak di antaranya tidak tahu tentang komunis.

Keempat: Pembunuhan para jenderal berlangsung di Jakarta. Tapi mengapa pasukan harus pergi mengembara ke seluruh Indonesia, bahkan sampai ke desa-desa kecil untuk memusnahkan mereka yang dikomuniskan? Banyak dari korbana dalah petani, seniman tradisional dan buruh yang belum pernah ke Jakarta atau aktif terlibat dalam politik!

Kelima: Jika komunis memang agresif dan sadis, mengapa pemberantasan mereka cukup cepat dan efisien? Jika orang-orang komunis memang licik dan sedang mempersiapkan sebuah kudeta ambisius, seperti yang digambarkan oleh Orde Baru, mengapa mereka tidak bersenjata? Mengapa tidak ada perlawanan balik dari mereka? Jika orang-orang komunis memang kejam, mestinya yang terjadi bukan pemberantasan yang singkat, tetapi perang besar! Kebanyakan dari mereka tidak bersenjata, tidak siap atas serangan itu.

Dan bila yang dikudeta adalah Sukarno, mengapa nasib Sukarno hampir sama dengan PKI – digulingkan dan diasingkan? Bahkan beberapa anggota keluarga Sukarno menguak bahwa Sukarno tidak mendapat perawatan ketika sakit. Ini ternyata jadi argumen nomer enam.

Apakah Anda masih berpikir bahwa genosida jutaan jiwa pada 1965-67 dapat dibenarkan? Jika seseorang dirampok dan orang ini dengan cepat menuduh sekelompok manusia, kemudian meminta mereka untuk dihukum seberat-beratnya, Anda akan bertanya-tanya motif di balik tindakan ini. Terutama ketika orang ini masih belum puas, dan men-stigma anak dan cucu dari kelompok manusia yang telah dituduh sebagai perampok dan telah dihukum berat itu. Jika ini adalah tentang salah satu pembunuhan massal terbesar dalam sejarah, mengapa kita tidak bisa berpikir serupa? (Sekarang, jadi nomer tujuh).

Karena itulah, lebih baik saya tutup argumen ini dengan pertanyaan: Masihkah Anda mendukung Sarwo Edhie sebagai pahlawan?

Versi yang lebih pendek dari artikel ini dapat dibaca di Tempo