Arsip Tag: Kau

Kuli Kontrak, Bengkalis, 1921

Puisi John Kuan

5 euro mengunduh kau dari sebuah pusat arsip kolonial

bersama sebatang kayu terjepit di antara paha dan betis

bersama sepotong tali yang terikat di luar waktu.

Sedang di dalam waktu aku bisa mencium bau sedihmu

dan rindu dan fermentasi daun gugur.

Apa kisahmu? Aku kira aku tahu, kau tentu diperdaya

di sebuah losmen murah, di sebuah rumah gadai, di sebuah agen kerja

bisa saja di Amoy, bisa saja di Quanzhou, bisa saja di Kanton, bisa saja di Kuilin.

Siapa peduli. Kalian semua disebut [ anak babi ], kalian dihitung kiloan

demi beberapa tahil perak buat ibu di kampung halaman.

 

Sepasang matamu menyimpan ombak dan badai

Beberapa garis petir menggores keningmu, segaris senyum sinis

telah menutup satu abad kekalahanmu. Aku kira aku kenal kau

Wong Feihung? Huo Yuanjia? 72 Jurus Shaolin? Akhirnya kau kalah jurus

pada selembar kontrak kerja, disusun ke dalam palka kapal uap

seperti daging kalengan. Membelah samudera, keluar masuk novel-novel kolonial

Hindia Belanda, tanpa meninggalkan nama, tanpa raut, sekalipun

cuma fiksi belaka. Malam ini aku melihat kau adalah sebongkah batu

kungkum di dalam kristal cair, ingin bertapa seribu tahun lagi

menjelma jadi satu jurus telapak tangan Buddha.

jurus-telapak-tangan-buddha
Gambar disediakan oleh John Kuan
Iklan

Angin Daun Pisang Angin Gubuk Rumput

Chinese poet Li Bai from the Tang dynasty, in ...
Chinese poet Li Bai from the Tang dynasty, in a 13th century depiction by Liang Kai. (Photo credit: Wikipedia)

Puisi John Kuan

|| Angin Daun Pisang ||

 

Kau berkata: Biar di Kyoto, dengar wiwik

menjerit. Kurindu Kyoto. Aku bilang: Biar

di Daik, lihat ombak merajuk. Kurindu Daik.

Berkasut jepang aku injak empat musim

dan kau, lewat setahun lagi ——— tangan

memegang caping, kaki bersandal jerami.

Kau bilang: 行く春や鳥啼き魚の目は涙

yuku haru ya tori naki uo no me wa namida

berlalu musim semi, mata ikan sembab,

burung berkicau Blues. Sebab itu kita tahu

jalan hidup amat sempit, musim bunga

amat pendek. Begitu lengser musim salju

sebaiknya kau buka bilik hatimu, jajakan

riang bunga. Jelas itu sehamparan hening

bagaimana kau bisa dengar suara tonggeret

menyusup ke balik batu? Lalu bagaimana

pula di antara nasi dan asmara, induk kucing

jadi kurus? Kau berkata: Laut dah gelap,

suara panggilan camar, agak memutih.

Aku melihat kadang Selat Berhala kadang

Selat Malaka, laut kampungku pelan-pelan

gelap, kunang-kunang berkedip di kelam

bakau, bagai berjalan di bawah pijar bintang

negeri jauh. Kau berkata: Seladang kapas

laksana bulan telah merekah bunga

Aku bilang: Sekolam cahaya bulan, bagai

ikan perak, menggelepar sisik-sisik tubuhnya.

Di lubuk botan/ seekor lebah miring/ mundur

keluar. Ah, bukan main sedap, kau sedang

di dalam dunia rasa membuat filem iklan

tujuh belas detik tujuh belas silabel, bukan?

Di bawah pohon pinus bertanya katak, ekor

angin telah kacir ke mana: Dia satu suara,

ping pong, lompat ke dalam perigi tua,

daun pisang di permukaan air, suara serpih

daun pisang koyak, perlahan bergoyang

 

|| Angin Gubuk Rumput ||

 

Telah lebih sepuluh musim gugur menginap

di dalam puisimu, Mister Du. Kertas serbuk

emas di dalam angin barat memantul burung

dan tangga giok. Merah padam api peperangan

telah dingin abu. Gemeretak roda kereta juga

barisan prajurit terbangun di dalam sehamparan

panorama huruf-huruf kuning krisan. Chang’an,

sebuah gelas anggur, tidak bisa kau genggam

terlalu erat. Tamu datang, kau utang arak

Musim semi datang, pergi tonton bunga

Harum padi tentu telah habis dipatuk bayan

Setumpuk beras perang, aku curiga sangat

erat terkait dengan sintaksis terpelintir itu

selalu rampung dengan api kecil, berulang kali

diaduk, dikukus. Bukankah aku telah melihat

kau tuang sana tuang sini, meniup sambil nyanyi

karya baru selesai kau tanak, seolah seluruh

dunia hanya mendengar kau Mister Du seorang.

Namun, puisi bagaimana bisa cuma demi nama

ditulis. Saat memancing masih terkenang

Mister Tao Mister Xie, dan mengenai seafood

di mata kail itu, mana tahu apa epik apa liris?

Malam ini menumpang di dalam puisimu lagi

Mister Du, sebaris krisan di depan gubukmu

kuning hingga bibir sungai. Hanya teringat

seperti kemarin saja, aku melihat dia pulang

kantor, demi kupu-kupu sepanjang jalan

mengadaikan jubahnya. Sebuah kotak obat

kosong tercenung di pojok gubuk. Sakit tentu

masih punya, namun gelisah justru berkurang.

Tahu-tahu yang datang mengetuk pintu mimpi

adalah gerombolan ini ——— Li Bai telah mati,

Wei Ba hilang. Itu terjadi di malam bintang

padat merayap seperti kemacetan di pusat kota.

Mendengar angin musim gugur mengepak

atap gubuk, Mister Du buka mulut: Mau main

catur? Ke bandar besar di atas papan catur

adu langkah sambil petik bunga liar di luar bandar

Tiga Puisi Ahmad Yulden Erwin

KITAB HALAMAN

Kini mulai kubaca lagi halaman rumahku:
Pagar batu, dua rumpun seruni, sepasang
kelinci, atau tiga larik haiku berlari memeluk

ranting petai cina. Kau tidak bisa bertanya:
Apakah Tuan tengah bermimpi atau terjaga?
Tiada batas kecuali dalam pikiranmu semata.

Tanah basah, genangan air bekas hujan, kilat
tiba-tiba menyergap seperti sekuntum anyelir
mekar penyap di fajar mataku. Jika kau dapat

melihat dengan jernih, maka akan kaudengar
sepasang kutilang berkicau di dahan mangga;
akan kaurasakan manis desir angin membelai

kuntum-kuntum widuri di halaman tetangga.
Pada saat itu, janganlah sungkan bertanya:
Apakah Tuan tengah bermimpi atau terjaga?

————————————————————————–

IMPROVISASI

                                       Aku pergi…
                                       – Tanzan

1
Hujan belum turun pada baris sajakmu,
juga ke jalan berbatu dan atap rumahmu.
Malam yang tersangkut ranting kering

tak juga bergeming oleh tatap matamu.
Kau tahu, semua mesti berakhir, seperti
bangkai capung yang terinjak sepatumu.

Pintu. Debu. Remah roti. Semut-semut
merayap di toples gula. Segalanya adalah
mimpi yang terbakar di telapak tanganmu.

Tak ada yang kekal, juga bayangan bulan
yang terpantul pada kedua bola matamu.
Sepatu kautaruh di raknya. Baju, celana,

singlet, sempak: kaugantung di samping
jendela. Kautatap tubuhmu di depan kaca:
Bukan sabda. Bukan kata. Bukan tanda.

2
Tak ada satori saat kautatap percik hujan
di nako jendela kamarmu. Tak ada kensho
saat petir menyergap gendang telingamu.

Kau tersenyum memandang kotak sampah
di pojok ruang tamu. Waktu telah menjadi
segelas air bening yang mengalir perlahan

di dinding ususmu. Kau tak lagi menatap
arloji di tangan kirimu. Kaubiarkan saja
detik-detik memercik pada tiga larik haiku.

Kautatap bunga-bunga krisan di meja tamu.
Kau tertawa. Semua menjelma metafora:
Bukan suara. Bukan udara. Bukan cahaya.

———————————————————————–
MENATAP KELUAR JENDELA

Ujung sebatang ranting
kering, langit biru bening,
sepasang capung hijau
hinggap di pucuk ranting.
Pikiran adalah lidah-lidah
kering, amat merindukan
setetes air: kesegaran dalam
kebeningan. Tapi langit,
di sana, terlihat amat jauhnya.

Kini kau kembali terkurung
dalam kenyerian kamar.
Mungkin ada baiknya kau
belajar mencintai kamar,
menghargai arti debu dan abu,
tumpukan kertas tak terpakai,
serakan pena tak terpakai,
sederet rencana di luar rencana.

Dari balik jendela,
di luar segala rencana,
kau mulai menyerap
kebeningan: kristal kilau maut,
pikiran hanyut menuju awal,
awal pun hanyut menuju akhir,
akhir yang berawal di jendela terbuka.

Kini, dalam kekinian
yang paling kini,
kau mulai menyadari
ada yang tak bisa kausadari.
Ujung sebatang ranting
kering, langit biru bening —
daun hijau tumbuh di pucuk ranting.

——————————————————

Bandarlampung, 2012 – 2013