Arsip Tag: kohar ibrahim

Nyanyian Kemerdekaan

Nota Puitika A. Kohar Ibrahim

a kohar ibrahim

(681)

HARI
GURU?

Sulit kiranya
melupakan peranan
penting guru diguru guru
di dalam hidup kehidupanku
selain guru guru diguru mengguru
di dalam keluarga istimewa sekali ortu
dan kalangan masyarakat manusia seumat
seperti terutama sekali kaum cerdik cendekia
seniman dan seniwati dalam ragam macamnya
Para penyedia penyaji pemberi ilmu pengetahuan
para pelaku pencerahan sesungguhnyalah sungguh
punya peranan amat penting sebagai pembimbing
Tanpa ilmu pengetahuan bagaimana seseorang
bagaimana grup kelompok kolektip manusia
bisa melakukan kegiatan bawa kemajuan?
Akan tetapi situasi kondisi mendebarkan
jika dalam kenyataan amat memprihatinkan
situasinya seperti stagnan alias jalan di tempat
maka tak urung timbul pertanyaan: keras menyengat
Apa yang sudah diberikan kaum guru kepada murid
Selama ini? Kenapa banyak putera puteri bangsa
yang putus sekolah
kenapa bahkan yang sekolahan
dan malahan pula tamatan perguruan tinggi,
bertitel sarjana, hanya untuk jadi pengangguran?
Kenapa dibandingkan dengan negeri-negara lain
di dunia Inddonesia berada di posisi belakang?
*
(25.11.2012)
*
(682)

KI-ASI
PU-ISI

Kias berkias kiasan
menghias rias kias isi puisi
Seperti gerak hidup kehidupan
Gerakan kehidupan tanpa henti.
Rubah berubah ubah perubahan
Maju mundur Merendah meninggi
Kanan kiri dari Segala penjuru
arah mengarah sang bayu.
Seperti ombak menggelombang
Gelombang pasang naik pasang surut.
Seperti perubahan cuaca musim musiman
Bervariasi Musim dingin Musim semi  Musim panas
Musim gugur Kesemuanya selaras gerak perubahan.
Oh iya iyah iyalah Seperti juga gerak  perubahan
alam perasaan dan pikiran Tanda pertanda
petunjuk bukti aksi tindakan  dilakukan.
Iya iyah iyalah selaras sikap pendirian.
Selaras petunjuk ajar: segala sesuatu
adalah waktunya. Awal mula kelanjutan
dan berakhirnya. Bisa dari ketiadaan
sampai kesadaran
hingga militansi penuh
dinamika dan keberanian.
Ah, bisalah pula berkebalikan:
ragu, stagnan, pangku-tangan,
mapan sampai tiarap ketakutan.
Karena mapan kemampanan
Karena takut kecut ketakutan
kehilangan kepentingan
kedudukan atau kepemilikan.
Itu begitulah lagak lagu manusia
dalam segala variasi bentuk nada
rama ragam warna warni nuansanya.
Aduhai Tuan Puan ! Jangan coba-coba
rayu aku ikut-ikutan  Segala ancaman terus
ancam mengancam Kebebas-Merdekaan Ku
akan terus ku lawan! Ku takkan kehilangan apapun
Keuali belenggu dan fitnah Yang kalian berlakukan
dari arogansi kekuasaan tirani ke dahiku dicapkan!
Lagi dan lagi aku tegak berdiri teriak semarak:
Tegakkan Kebenaran dan Keadilan
serta Hak-hak azasi Insani
Hak bagi Yang berhak!

*
(25 November 2012)
*

(683)

KI-ASI
PU-ISI

Kias rias kiasan
menghias puisi.
P u i s i
Itu puisi
ekspresi diri
c u r a h a n h a t i

*
(26.11.2012)
*

(684)
KI-ASI
PU-ISI
kias menghias
rias merias kiasi puisi
buah aktivitas-kreativitas bernas
tanda pertanda menanda ekspresi diri
tercurah rurahan rasa dirasa terasa rasa
hati sanubari. puisi swara nada irama hati
swara nyanyian jiwa. dalam gerak berjejak
juang perjuangan kehidupan senantiasa:
jikalah maju majulah mundur mundur lah
ah ah kata dimakna dikata orang itu doa
konsekwen konsistensi kata-tindakan
tindak bertindak lah utama ukuran.
seperti ujar kata aku ulang bilang:
asah pena terus lanjutkan juang
selaras dinamika kehidupan.
insyallah insyallah insyallah!

*
(27.11.2012)

*

(685)

KI-ASI
PU-ISI

Kias berkias
hias rias kiasan puisi.
Seperti indahnya kekuat-indahan
kembang ati Anggrek menarek hati
Mawar penawar Melati harum mewangi
Ah, seperti tanda pertanda bukti nyata
Aktivitas kreativitas bernas seni budaya
Takar utamanya adalah segar tegar:
buah hasil karya. Berkaryalah!
Rayakan Hidup Kehidupan
Bebas Merdeka Di Taman Raya Indah Seni Budaya
Pertanda Adab Peradaban Bangsa Bangsa Di Dunia

*
(27.11.2012)
*

(686)
KI-ASI

PU-ISI

Kias rias hias
kiasan isi berisi puisi.
Seperti pula seniman seniwati
Pencipta penyedia saji buah kreasi
Sesungguhnyalah kaum dermawan dermawati.
Pemurah hati Pemberi diberi berkahNya sedekah
Bagi Berbagi dalam Hidup Kehidupan Indah Megah
Tersirat tersurat swara terirama nada musikalia
gerak hidup dinamika. Seperti terkesan pesan
menggeitik puitik penyair Chairil Anwar:
aku mau hidup seribu tahun lagi!
Seperti juga manfestasi aksi
dinamika musikalia
Seniman Seniwati Madura:
Sandorennang. Nengsennengan.
Sungguh membanggakan
sekaligus mengharukan.
Salam Merdeka!
*
(27.11.2012)
*

(687)
KI-ASI
PU-ISI.

Kias dikias terhias
rias kiasan puisi.
Seperti kiasan
Tak Kenal Maka Tak Sayang.
Itu soal Rasa perasaan memang
Soal Hati soal kesubyektifan diri sendri.
Tak urung Suka atau tak itu memang soal
Rasa rasa dirasa terasa rasa bagi perasa
Ah ah ah bisa bisa saja terekspresi aksi
dalam ragam macam ekspresi diri
Terutama dalam kreasi Seni
terutama sekali dalam puisi
Di Ruang Waktu Tertentu
Yang Sudah sudah
Yang Sedang sedang
Yang Mendatang terjelang
Sambung Berkesinambungan
Seperti rangkai serangkai mata rantai
Seperti butir dan butir permata mutiara
Seperti planit bintang dan bintang di langit?
Iya iyah iyalah, sayang disayang. Oh Sayang!
Kenalilah Maka sayang disayang.
Dahulu Kini Masa Datang Mendatang.
Segala sesuatu ada waktunya. Memang.

*
(28.11.2012)
*

688)
KI-ASI
PU-ISI

Kias berias
rias hiasi puisi.
Seperti ekspresi diri
gerak juang perjuangan
mengayomi hidup senantiasa
Dari masa ke masa Usia sendiri
Usia segala ragam makhluk alam insani
Gerak melebar layar maju melaju gapai pantai
Gapai titik arah tuju sebentang cakerawala
Dari jabang bayi hingga dewasa lansia
Oh! gerak dinamika tak mau sudah.
Senja ku fenomena pesta makna
hidup anugerah terindah Nya
Senja ku hingga jingga menjingga
Warna Warni Cahaya yang tak mau sudah.
Seketika ku simak Masa Usia lukisan David Friedrich
Seketika senyum berseri sembari bisik berbisik:
Yes! Perjalanan Layak Dilanjutkan.
Terus kibar bendera lebar layar
menggapai pantai tujuan.

*
(29 November 2012)
*

689)
KI-ASI
PU-ISI

kias hias rias
menghiasi puisi
seperti wajah
sumringah
pagi hari
senyum
berseri
meski tak urung
wajah muram terselimut
mega mendung cemberut
tergugat gundah teramat gawat
tercegat bingung murung tak untung
pula wajah wajah sangar tegar
galak bak siap menyalak.
duhai wajah manusia!
ragam macam wajah
tanda tertada bertanda
rasa dirasa terasa rasa
pun pikiran ragam macam
makhluk alami insani hewani
sesungguhnyalah layak simak
layak kaji ungkap arti dimengerti
saling mengerti sesama insan insani
demi mengayomi etika hidup kehidupan
layak selayaknya insani seraya menata bina
tradisi adab peradaban. Bukan yang kebalikan
yakni kebiadaban hewan berkehewanan
seperti hewan liar rakus ganas barbar
sebangsa sekawanan prema koruptor
seperti gerombolan begundal brandal
pawang uang kapital-imperial-kolonial!

*
(29.11.2012)
*

(690)
KI-ASI
PU-ISI

kias rias menghias
hias mengisi isi puisi
seperti kias tak pernah basi:
Tak Kenal Maka Taklah Sayang.
dampaknya rusak kerusakan dahsyat
malah ada yang mengeluh. ada yang prihatin
ada yang masabodoan ajah. celakanya
ada yang girang adanya konstatasi
banyaknya kaum buta sejarah.
dibodohi sejarah versi resmi
Iya iyalah — dampaknya
seperti dikeluh-kesah
diprihatin-sesalkan
makin menipisnya
rasa patriotisme
berkebangsaan
siapakah salah jika diingat banyak yang tuna-sejarah
siapakah salah terjejali sejarah yang dibengkokkan
aduhai! sayang disayang — adalah benarnya
sapatah dua kata kiasan kata pepatah:
Tak kenal maka tak sayang.

*
(30.11.2012)
*

"Empat Masa Usia" - lukisan cat minyak pelukis realis-romantis Caspar David Friedriech
“Empat Masa Usia” – lukisan cat minyak pelukis realis-romantis Caspar David Friedriech

Catatan:

(1).Rangkuman Nota Puitika Nyanyian Kemerdekaan disusun berdasarkan notasi-status AKI di FB – tertanggal. Disaji kembali dengan gaya penampilan ala kaligram: 19 Februari 2013.

Serial Nota Puitika Nyanyian Kemerdekaan dimulai dalam bulan Juli 2011 hingga Januari 2013 sudah mencapai 800.

NP Nyanyian Kemerdekaan merupakan Ekspresi kebebas-merdekaan berawal dari dalam jiwa diri sendiri; tanda nyata naluri makhluk insani semenjak keberadaannya dalam zaman dahulu kala.

Tentang Cerpen Terowongan Maut

Apresiasi Hudan Hidayat

Sitoyen Sant-Jean
Novel “Sitoyen Sant-Jean – Antara Hidup Dan Mati” oleh A.Kohar Ibrahim; Penerbit Titik Cahaya Elka, Batam, Kepri 2008. Editing: Lisya Anggraini.
CERITA pendek ini menyapa hampir maut dengan lembut sekali – nyaris sebuah kepasrahan dari seseorang yang telah sabar mengalami derita panjang, derita yang nampaknya bukan sekedar dalam makna pikiran, tapi derita pikiran dan derita fisik dari sebuah perjalanan hidupnya yang panjang.
Saya adalah anak sejarah yang masamasa lalu itu seolah sejarah itu sendiri. Sejarah pahit yang gelap. Hingga saat ini pun masih gelap. Tak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Ada pernah saya diberitahukan, bahwa karya sastra orang-orang LEKRA adalah tak lebih dari pamplet belaka. Semua kata yang mencungkup peristiwa dan makna memuara ke satu arah: politik revolusi. Sehingga cerita-cerita mereka, demikian sejarah itu memberitahukan,tak ada yang bermakna.
Tapi waktu membaca Pramoedya Anantatoer, semua kesimpulan semacam itu pupus. Apalagikah makna kalau kita berhadapan dengan cerita besar seperti Bumi Manusia itu misalnya.Lalu kini saya tertumbuk dengan sebuah cerita kecil hidup seseorang, yang dilambangkannya dengan terowongan. Terowongan, aduh, alangkah pas tanda ini untuk mengatakan hidup itu sendiri. Hidup adalah terowongan panjang yang kita tak tahu ujungnya. Sehingga berteriaklah orang seperti Albert Camus: absurd. Dan karena absurd, aku memilih tak Bertuhan saja.
Tapi lihatlah cerita A Kohar Ibrahim ini. Tiap katanya adalah sapaan lembut kepada Tuhannya. Kata yang berlapis membentuk dan mencampur dari jenis kata yang sama, seolah menganya labirin, seolah memasuki dan terowongan kata itu sendiri.
Tak sekalipun ia bercerita mati dalam peristiwa singkat yang diceritakannya ini. Ia begitu detil memapar daerah asing dari suatu peristiwa medis, detil asing seolah alam dari suatu daerah yang kita tak kenal tumbuhan dan batuannya. Ia pasrah saja berjalan melalui alam yang tak ia kenal itu. Pasrah dari sebuah tingkatan jiwa yang telah meninggi dari tempaan hidupnya sendiri. Seakan ia hendak berkata: sudah kulalui macam-macam terowongan fisik dan terowongan makna- seperti yang disebutkannya dengan mengutip beberapa cerita fiksi dari awal karangannya ini. Lalu apa lagi yang harus kutakuti?
Tentu saja takut bukanlah kata yang tepat. Yang lebih tepat lagi asing. Perasaan asing yang aneh seperti yang bolak-balik dikaitkannya dengan alat-alat medis agar ia selamat dari terowongan yang bernama operasi itu. Tapi dari cerita ini saya melihat sekali suatu ekspose dari manusia fakta dan manusia fiksi (yang lagi menuliskan ceritanya – seorang narator bernama aku) dengan terowongan itu seolah mengajak kita mengenang akan sepenggal kehidupan. Agar dari sepenggal kehidupan itu kita merenungkan apakah artinya dan apakah kesudahannya.
Di ruang yang sangat kecil ini, perasaan itulah yang saya alami. Mungkin kalau saya mengetik di ruang layar yang lebar komputer kelak, beberapa denyar yang merasuki hati saya ini bisa saya elaborasi ke dalam detildetil yang mungkin menjadi hak bagi peristiwa dan makna yang diletakkan, atau telah terjadi di sana. Saya kagum dengan cerita anda, Bung kohar.

Sekerat Roti Sepiring Nasi Lanskap Curahan Hati Nurani

Puisi A. Kohar Ibrahim

(1)
Sekerat Roti 
Lanskap Curahan Hati
 
subhanallah
betapa pun adanya
betapa pula indahnya
bangun pagi nikmat lezat
hela nafas lega hirup udara
meski sejuk dingin empat drajat
gugah kangen pertiwiku amat sangat
syukur alhamdulillah ragam rasa tercurah
nikmati secangkir kopi sekerat roti pula buah
kreativitas saudara dan saudari pertiwiku tercinta
sajian tersaji kreasi puisi lanskap alami pula insani
silvie ditha audna – imron tohari – hafney maulana
begitupun tak urung warta cerita penimbul murung
dalam gambar gambaran pamer pamor penggede
oh gede-gadangnya perut telanjang kelewat kenyang
rupa gaya rupanya bagai penari perut penghibur bar
mata jalang cuma ‘tuk pelampiasan pawang uang
aduhai! petinggi penggede perut besar-gadang
kegemaranmu memang sekitar bar bar barbar
tinggi-gede tapi cuma seperti kantong nasi!
kontras dengan pemimpin pejuang sejati
sehidup semati dikancah revolusi 
sehidup semati proklamasi
kemerdekaan bangsa
berdirinya r.i.
duhai!
peggede-petinggi 
gede-besar-gadang-tinggi
tak sepadan pertanggungjawaban
jika negeri negara kaya tapi rakyat melarat
sejak jabang bayi kekurangan gizi nyaris mati sekarat
sedangkan kaum pawang uang seperti kalian keliaran
seperti ular seperti buaya seperti tikus kecil besar
dalam pesta selingkuh melestari budaya orba
dalam rimba gedung pencakar langit 
hotel hotel berbintang bintang
karavan sedan sedan
edan sungguh
zaman
edan
penggugah gugat rasa dan pikiran terheran heran
selagi aku sarapan pagi secangkir kopi sekerat roti
seraya menikmati sajian kreasi puisi teman kawan
*
(14.12.2012)
*
 
(2)

Sepiring Nasi

Nasi
Nasi Nasi
Nasi Atau Kah Roti
Sepiring Nasi Sekerat Roti
Pertanda Harkat Rezki Didapat
Apakah Di Tunisia Kalkuta Atau Jakarta
Tuntutan Rakyat Sederajat Tak Sudi Melarat
Tak Mau Terbelenggu Kegelap Pengapan
Tak Sudi Kembali Ke Alam Perbudakan
Memeras Keringat Nafkah Didapat
Namun Kian Langka Kian Susah
Di Rimba Gedung Tinggi Pun
Kian Banyak Kisah Resah :
Mesti Jibaku Rebutan
Sisa Sisa Makanan
Semakin Banyak
Tukang Nyiping
Hanya Makan
Nasi Aking !
Oh Ibu Ibu Pak Bapak
Oh Ibu Kota Ibu Derita Sengsara
Semakin Padat Rakyat Hidup Melarat
Kilau Menyilau Galau Pergulatan Sengit
Di Tengah Rimba Gedung Pencakar Langit
Duhai ! Tuan Puan ! Jika Semua Tersumbat
Lapar Dahaga Bisa Berubah Bencana Murka
Seperti Gempa Tsunami Ledakan Merapi !
Rakyat Perlu Demokrasi Pun Sepiring Nasi
(15 .01.2011)
*
Catatan :
Nasi Aking – nasi rebus asal nasi sisa yang setelah dicuci dijemur kering.
Tukang Nyiping – pemungut-pengumpul butir-butir beras yang tercecer di jalanan.
Kemiskinan Pengangguran di Indonesia diperkirakan sekitar 70.000.000 jiwa.
Lanskap: pemandangan. Karavan: kafilah
Budaya OrBa: Budaya Dusta & KKKN.

~diunggah oleh RetakanKata~