Arsip Tag: lila prabandari

Lukisan Terakhir

Puisi Lila Prabandari

gambar diunduh dari 3.bp.blogspot.com

sudah kulukiskan,

pondok kecil berdinding kayu bangkirai

di tepi danau tenang yang beriak kecil airnya

ada dermaga panjang dan tempat makan di ujungnya

merapat sampan hangat di tepinya

dan kebun bunga di halaman depannya

oh tentu…

ada tempat workshop keramik mungil di sampingnya

kukuaskan warna-warna pelangi segar

dan kusapukan suasana nyaman

karena aku tahu

di situlah kau akan meninggalkanku…

Iklan

Puisi Lila Prabandari

Lagu ke-empat

 

hei,

ini lagu ke empat yang telah kunyanyikan untukmu

dengan nada dasar c memang tak cukup bagus untuk didengar

entah suaraku entah lagunya

atau barangkali syairnya

tapi aku ingin menyanyikannya

dan aku pun ingin kau mendengarnya

tentang hatiku yang merindumu

ingin sekali kau ada disini

melihat senyummu

atau obrolanmu yang terbata-bata gagu

aku rindu sikap salah tingkahmu

saat kunyanyikan lagu ke empat ini

lagu rindu

 

 

gambar diunduh dari shutterstock

Biarlah

 

kubiarkan luka itu,

untuk yang kesekian kali

meradang dan bernanah

perih? tak lagi…

mati

kaku

dan tak berasa

senyum dan tatap mata kosong

tak bernyawa

diam…

dan lebih berarti

Malam Rindu

Puisi Lila Prabandari

lihatlah,

pelangi telah mengakhiri warnanya dengan ungu

hujan telah meneteskan rintiknya bergemericik

mentaripun menyisakan sinarnya dengan jingga kelam

masih akan berapa lama lagi

malam mengitari langit

tanpa bintang-bintang

yang telah kurengkuh menanti hadirmu

rindu…

seperti pengantin menanti bulan madunya

bernyanyi-nyanyi bergumam riang

menekuk-nekuk bantal mengusap renda

mengitari waktu dengan senyum sempurna

selalu…

rindu,malam rindu

Hai Raga

Puisi Lila Prabandari

siluet
gambar diunduh dari shutterstock

kukatakan…

raga, bolehkah aku mengkhianatimu?

ketika desau angin berhembus tak mampu menyampaikan inginku

ketika ilalang-ilalang yang bergoyang tak mampu lagi membisikkan resahku

ketika redup sinar kunang-kunang tak menggenggam lagi sepiku

saat matahari berbisik pada rembulan bahwa ia tak mau berganti posisi

raga kukatakan,

aku tak bisa bersamamu lagi

…..

Menangislah

Puisi Lila Prabandari

ilustrasi dari webpages_scu_edu

aku tak akan meneteskan airmata,
meski kudengar lirih ceria tawamu
senyum kemenanganmu yang menggores
melengkungkan garis dipipimu

aku juga tak akan meneteskan airmata,
meski alis kananmu kaunaikkan
hingga membentuk kurva enampuluh derajat
atau kaubengkokkan bibir atasmu seperti tikungan

tidak…
aku hanya ingin menatapmu saja
menatapmu dengan rasa
yang mengumpul bergumpal-gumpal di pelupuk mata
dan mungkin…

13 Oktober 2011