Arsip Tag: maria ita

Kucing

Flash Fiction Maria Ita

gambar diunduh dari informazioniunique.blogspot.com

Bu Marno dibuat geregetan setahun belakangan. Kamar sebelah dihuni oleh seorang gadis jomblo penyuka kucing berusia dua puluh sembilan tahun. Bu Marno dan si Gadis sama-sama menghuni rumah dinas yayasan tempat mereka bekerja. Yang bikin pusing tentu saja semua kelakuan si Gadis dan kucing-kucingnya. Suara mereka yang sangat ribut beradu dengan suara televisi yang menggelegar. Kucingnya bukan hanya satu tapi tiga ekor. Mulai dari yang badannya paling kurus berkaki panjang dan berdada montok bernama Meme, lalu yang paling kecil berbulu putih paling merasa cantik bernama Tutik dan yang paling gemuk berbulu paling panjang, paling manja, bernama Titin.
Ajaib! Ketiga kucing itu bisa bicara. Setiap hari mereka bermalas-malasan di lantai sambil ngoceh tak karuan dan menonton film Korea. Topik ocehannya macam-macam. Ada yang ngomongin kucing-kucing jantan imajiner, lalu gosip-gosip selebriti di televisi, dan yang tak pernah absen adalah ngomongin makanan. Sore harinya mereka berkebun dengan berkostum tanktop-hotpant sambil tetap ngeang-ngeong tidak jelas.
Kucing-kucing itu sangat mendewakan si Gadis sebagai sosok mamak yang perhatian, konsultan cinta yang jitu, orang penting karena dekat dengan para pembesar yayasan dan sering tercatat sebagai bendahara dalam setiap kepanitiaan. Titin, kucing termuda, paling terlihat mengagungkan si Gadis. Bu Marno semakin muak melihat gaya si Gadis yang tertawa-tawa bangga mendengar celotehan para kucing.
Dinding rumah bu Marno yang terbuat dari batu bata pilihan sepertinya tak mampu menjadi tameng bagi lengkingan-lengkingan mereka. Suaranya seperti menembus dinding lalu menusuk-nusuk gendang telinga bu Marno. Bu Marno selalu mengurung diri di kamar atau minggat dari rumah jika lengkingan tak juga berhenti, menyumpal telinganya dengan headset atau menaikkan volume speaker laptopnya. Suatu kali bu Marno pernah membanting pintu kamar. Tapi malang, bantingan pintu itu hanya disambut dengan tawa cemoohan dan sindiran-sindiran. Tak ada yang mempedulikan keberadaan bu Marno, sedikitpun.

Lahat, 15 Oktober 2012
*)Maria Ita, penulis kumpulan puisi Ibukota Serigala

Sidang Superhero

Puisi Maria Ita

yudas iskariot
gambar diunduh dari static.republika.co.id

memasuki ruang pengadilan, pagi itu:

seperti berada di persimpangan surga dan neraka,

ada batman, ada spiderman, ada superman, ada cat woman,

ada si anak setan, hellboy, datang tergesa-gesa,

dengan muka merah padam, dengan separuh tanduknya.

ada yudas iskariot/

 

tak seperti biasa,

batman mengenakan topeng berwarna putih,

spiderman menyulam jaring-jaringnya dari butiran berlian,

superman menyembunyikan celana dalam di balik jubah panjang,

cat woman memakai cambuk sebagai ikat pinggang,

si anak setan –hellboy-, melambaikan tangannya pada tangan-tangan,

tak bertuan di jendela-jendela pengadilan,

dan yudas iskariot menghitung kepingan/

 

hakim mengetuk palu, suasana tenang/

‘siapa bersalah?’

bisik-bisik terdengar di telinga, lalu para super hero berdiri,

‘dia!’, sambil menunjuk yudas iskariot/

yudas iskariot memegangi perutnya yang koyak,

katanya,’aku?’

 

hakim mengetuk palu, suasana tenang/

‘siapa buang angin?’

bisik-bisik terdengar di telinga, lalu para super hero berdiri,

‘dia!’, sambil menunjuk yudas iskariot/

yudas iskariot melemparkan sekantong uang perak,

katanya,’aku?’

 

hakim mengetuk palu, suasana tenang/

‘siapa pencium ulung?’

yudas iskariot berdiri berdiri seperti siap gantung diri,

katanya,’aku!’

seringai kemenangan menusuk-nusuk mata/

 

‘dia?’, kata para super hero setelah bisik-bisik terdengar,

di telinga/

‘harusnya aku!’, kata spiderman sambil melengos/

 

hakim mengetuk palu, suasana tenang/

‘siapa pengecut?’

yudas iskariot berteriak,

katanya,’mereka!’

‘aku bukan pengecut!’, kata hellboy dengan muka semakin padam

dan ekor yang tiba-tiba melecut/

 

hakim mengetuk palu, suasana tenang/

‘siapa membunuh?’

tak ada bisik-bisik, semua tunduk menatap lantai/

lalu, hakim keluar dari ruang pengadilan dengan santai//

 

*) Maria Ita adalah penulis buku kumpulan puisi Ibukota Serigala

Daun Telinga dan Pigura Tanpa Foto

Cerpen Maria Immaculata Ita
tanpa wajah
Gambar diunduh dari kabinet transformasi.org
“Hei, telingamu ?”

Usianya sekitar empat belas atau lima belas tahunan, sebaya dengan teman-teman sekelasnya. Berkulit putih keju, hidung mancung. Tinggi badan melebihi rata-rata. Menyandang tas warna hitam keluaran distro abal-abal, bernoda tipe ex di bagian depan, dekat resleting utama. Ekor bajunya hampir tak pernah tersembunyi di balik celana pendek. Terjulur begitu saja, tanpa takut ketahuan. Tampan, tapi tak terawat. Keturunan Arab, namanya Malkus.
Malkus, abinya seorang pembantu di rumah walikota. Tapi Malkus bukan satu-satunya keturunan Arab di daerah itu. Beberapa pembantu di rumah walikota rata-rata warga keturunan Arab juga. Entah mengapa.

“Mengapa ibu mendekati saya ?”

Usia Cen Vei Yin sekitar dua puluh lima tahun, sepuluh tahun lebih tua dari Malkus. Sesuai dengan namanya, Vei Yin keturunan Cina. Kulit kuning langsat, mata sipit. Hidung agak mancung, membuatnya terlihat aneh untuk gadis keturunan Cina seperti dirinya. Tinggi badan Vei Yin seratus enam puluh centimeter. Menyandang handbag coklat Elizabeth. Ekor baju hitamnya terlihat menutupi lingkar pinggang. Selalu warna hitam. Lengan panjang. Dengan paduan rok impor Taiwan berploi. Cantik, tapi rambut lurusnya tak pernah rapi.
Cen Vei Yin, mamanya seorang penjual mimpi di deretan ruko di jantung kota. Hanya saja, Vei Yin satu-satunya keturunan Cina di daerah itu.

“Telingamu, aku tak melihat telingamu mencuat di sisi kepala ?”

Malkus tak pernah mengerjakan pe-er Fisika. Tapi ia belum pernah terlambat atau belum pernah tak berangkat sekolah. Setidaknya begitu di mata Vei Yin. Sepertinya ia tak pernah sakit, tak perlu izin tidak masuk hanya untuk urusan keluarga atau pura-pura lupa jalan menuju sekolah.

“Bantu saya mencari daun telinga, bu …”

Dua tahun belakangan ini, Cen Vei Yin mengajar Fisika di sekolah tempat Malkus belajar. Setiap hari dia melihat mata, telinga, hidung dan mulut beraneka rupa. Tapi Malkus tak bertelinga hari ini. Mata Vei Yin meneliti lembaran-lembaran rambut yang tumbuh di kepala Malkus. Tak ada. Lalu diintipnya kantong saku yang terjahit di baju seragam Malkus. Juga tak ada. Daun telinga Malkus tak ada.

“Aku bertemu laki-laki itu semalam, bu …”

Vei Yin membungkukkan badannya. Barangkali terselip di kerah belakang Malkus, batin Vei Yin. Tak ada juga.

“Apa kau sudah bertemu laki-laki itu, Malkus?”

Siang terlewati dengan rapi. Jarum jam terdorong ke bawah menuju angka tiga.
Malkus tak juga beranjak dari tempat duduknya. Tetap sama, di bawah pohon Matoa. Sementara sekolah sudah begitu sepi. Kepala sekolah yang biasanya menutup pintu paling akhir pun tak kelihatan lagi. Pintu ruangan sudah terkunci.

“Laki-laki itu menghunuskan pedangnya … lalu mendekati saya dengan muka merah.”

Vei Yin menarik ekor mata sipitnya. Melipat tangan di atas dada yang hampir rata. Menarik nafas, seperti putus asa karena tak menemukan daun telinga anak muridnya.

“Pasti laki-laki itu …”

Malkus menggeser bokongnya, seperti menyilakan Vei Yin untuk duduk di sampingnya. Bersama-sama, di bawah pohon Matoa.

“Laki-laki itu mengayunkan pedangnya, dalam sekejap daun telinga saya tak ada di tempatnya semula. Di depan abi saya, bu … tapi abi diam saja.”

Akhirnya Vei Yin duduk. Tapi bukan di samping Malkus. Dia memilih mengambil posisi di depannya, sambil melirik air muka Malkus yang tak berubah. Cen Vei Yin, guru Fisika, dan Malkus, anak muridnya.

“Aku tahu laki-laki itu pasti menghunuskan pedangnya …”

Malkus menghembuskan nafas pelan-pelan.

“Perih … rasanya semua darah dalam tubuh saya mengalir keluar dari luka itu. Rasanya bayangan umi saya tiba-tiba hadir dan protes keras pada laki-laki itu. Tapi abi tetap diam saja … dan bayangan umi menggantung begitu saja di atas lantai tanpa bisa berbuat apa-apa, karena daun telinga saya terlanjur lepas.”

Vei Yin membuka tas, mengeluarkan sebungkus tisu dan menarik satu lipatan. Diberikan tisu itu pada Malkus. Lalu menarik satu lipatan lagi untuk dirinya sendiri. Vei Yin menepuk-nepuk telinga kanannya yang mendadak ngilu, dengan tisu.

“Pasti laki-laki itu buru-buru melarikan diri setelah mengayunkan pedangnya padamu …”

Malkus menopang dagunya dengan kepalan tangan kanan. Menggosok hidung hingga agak kemerahan dengan telunjuk kiri. Dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal beberapa kali.

“Dia tak segera pergi. Malah memandangi bayangan umi saya tanpa berkedip. Saya kira mereka kawan lama dari cara dia memandang umi. Dan pasti tak mengenal abi saya dari cara dia mengayunkan pedang”

Malkus membuka tasnya. Mengeluarkan sebuah pigura kosong tanpa foto. Menimang benda itu sejenak, lalu mengangsurkannya pada Vei Yin. Vei Yin menerimanya, dengan tangan kiri karena tangan kanannya masih menempel pada daun telinga. Pigura kosong tanpa foto. Vei Yin juga punya. Dengan pinggiran bermotif kupu-kupu dan floral. Hanya saja pigura tanpa foto itu digantungkannya di dinding kamar, di atas ranjang, di sebelah gantungan abu jenazah. Pigura yang ia terima dari mamanya setelah papanya meninggal sepuluh tahun lalu.

“Kata abi, umi saya menitipkan benda ini untuk saya, bu … dan saya tak boleh mengisinya dengan foto siapa pun, termasuk foto saya, selama saya masih bertelinga. Tapi sekarang saya sudah tak bertelinga. Telinga saya terlepas entah di mana. Saya menunggu laki-laki itu datang lagi tapi tak datang juga. Saya ingin dia mengembalikan telinga saya. Dan abi harus melihat saya pulang lengkap dengan telinga.”

Mama Vei Yin seorang penjual mimpi. Ketika papanya meninggal, mamanya memberikan pigura tanpa foto untuk Vei Yin. Pigura tanpa foto, tanda kasih keramat papanya untuk mama Vei Yin. Sejak saat itu mamanya menjadi pembual yang sehari-hari mendekam di depan ruko-ruko pribumi, menjual kata-kata, menjual mimpi. Papa Vei Yin sudah meninggal. Umi Malkus tinggal bayang-bayang.

“Laki-laki itu tak akan pernah kembali untuk yang kedua kali. Mungkin dia sudah menemukan umimu dalam daun telingamu, karena daun telinga itu miliknya yang pernah dipinjam umimu. Dan abimu pasti akan tetap diam saja. Pigura ini, simpanlah. Gantungkan di sebelah bayangan umimu.”

Malkus meraba sisi kepala. Daun telinganya memang tak ada. Lalu Vei Yin menyerahkan pigura tanpa foto itu pada Malkus.

“Saya tak ingin pulang, tanpa telinga.”

Malkus enggan menggerakkan badannya untuk tegak. Dia tetap duduk sambil mendekap pigura tanpa foto di dadanya, di depan Vei Yin, di bawah pohon Matoa.

“Saya harus pulang. Sudah ditunggu oleh pigura tanpa foto juga di kamar. Sementara saya tak mungkin meninggalkanmu sendirian, dan tak mungkin meminjamkan daun telinga. Hari sudah sore.”

Vei Yin bimbang dihadapkan pilihan, antara harus pulang dan masih ingin bersama Malkus. Tapi pigura tanpa foto di kamarnya sudah menunggu.

“Saya tak mungkin pulang tanpa telinga, bu … bagaimana saya bisa mendengar suara abi saya ? Saya akan menunggu laki-laki itu kembali.”

Malkus semakin enggan menggerakkan badan. Dia tak ingin pulang tanpa daun telinga.

“Kau tetap harus pulang, Malkus … hari semakin senja … Tentu abimu akan lebih suka kau pulang tepat waktu. Tak usah lagi kau pedulikan telingamu. Toh, kau tetap bisa mendengar suaraku dengan matamu. Pulang, gantungkan pigura itu di sebelah bayangan umimu.”

Malkus menatap Vei Yin seperti berusaha menemukan foto siapa yang akan ia pasang untuk piguranya.

“Pohon Matoa … pohon Matoa … bu Vei Yin seperti memintaku pulang tanpa telinga, membawa kembali pigura tanpa foto dan menggantungkannya di sebelah bayang-bayang umiku. Tolong jelaskan padaku mengapa ?”

Vei Yin menatap Malkus seperti berusaha menjelaskan foto siapa yang harus ia pasang untuk piguranya.

“Pohon Matoa … pohon Matoa … jelaskan pada Malkus tentang laki-laki dan pedangnya, tentang daun telinga dan pigura tanpa fotonya, tentang bayang-bayang uminya dan abinya, tentang aku dan almarhum papaku, tentang mamaku dan jualan mimpinya.”

Cen Vei Yin beranjak dari tempat duduknya. Pergi. Menyisakan Malkus, di bawah pohon Matoa yang tak bergeming.

“Bu Vei Yin, kalau boleh saya ingin memasang foto ibu pada pigura ini.”

Malkus meraba sisi kepalanya.

“… dan telinga ini untuk ibu. Laki-laki itu, pasti bu Vei Yin mengenalnya. Saya akan katakan pada bayang-bayang umi saya, bahwa saya telah menemukan isi foto pigura ini. Dan saya yakin abi akan tetap diam saja.”

Malkus meraba sisi kepalanya sekali lagi. Daun telinga itu memang tak mungkin kembali. Terlanjur lepas. Tapi dia yakin daun telinga itu dibawa ke tempat yang semestinya. Mungkin akan menjadi isi pigura tanpa foto juga, di sebelah abu jenazah.

“Esok kita bertemu lagi, Malkus … tapi ku harap kau tak lagi duduk di bawah pohon Matoa itu.”

Malkus mengiringi langkah Vei Yin yang menjauh dengan matanya.

“Titip salam untuk daun telinga saya, bu Vei Yin … juga untuk abu jenazah di sebelah pigura tanpa foto milik ibu. Sebentar lagi saya akan pulang.”

Vei Yin melambaikan tangan pada Malkus sebelum akhirnya hilang di balik pintu gerbang. Tersenyum, sesuatu yang tak dia lakukan dari pertama melihat Malkus di bawah pohon Matoa. Senyuman pertama untuk Malkus.

“Baik-baiklah, Malkus … sampaikan salam saya untuk bayang-bayang umimu. Saya pulang pada mamaku, kau pulang pada abimu. Tetap harus begitu.”

Malkus menganggukan kepala, anggukan pertama untuk Cen Vei Yin.

***

Maria Immaculata Ita, Penulis buku kumpulan puisi Ibukota Serigala

Selamat Datang di Ibukota Serigala

Ledakan ekspresi kebebasan, itulah yang ingin saya sampaikan untuk sebuah buku kumpulan puisi Ibukota Serigala. Ada marah yang tertahan. Ada sedih yang tertindih. Ada duka yang terlupa. Kejahatan tersembunyi yang terus menerus menjangkiti sendi-sendi kehidupan. Basa basi busuk. Semua tersimpul dalam dua kata sederhana: kekerasan psikologis! Jika dada tidak mampu lagi menahan luka, maka puisi menyuarakan yang tak berbunyi. Bagi Maria Immaculata Ita, semua rentetan kejahatan psikis tersebut terangkai menjadi sesuatu yang indah sekaligus ironis dalam Ibukota Serigala sebagaimana dapat kita simak pada penggalan bait puisinya;
: ingatkan aku untuk selalu mengucapkan salam saat memasuki pintu gerbangnya, wahai maria sofia
ingatkan aku untuk selalu membantu mengelap keringat wanita-wanita berantena,
ingatkan aku untuk mengamini ajakannya berdisko ria,
lalu kita akan tertawa bersama karena ternyata kita amnesia/

Tidak dapat dipungkiri bahwa karya penyair muda kelahiran 6 Oktober 1985 ini sarat dengan aroma kebosanan pada status quo generasi tua. Satu dari sekian banyak anak muda yang berani menyuarakan bahwa tua belum tentu dewasa, lama belum tentu baik, berkuasa belum tentu bijak. Kemapanan yang diterima sebagai sesuatu yang benar karena banyak orang mengamininya, itulah yang ingin didobrak. Menjadi sesuatu yang sangat masuk akal jika fenomena sekitar kita menunjukkan tingginya berbagai bentuk pemberontakan kaum muda. Inilah suara hati mereka:
Litani Sakit Hati
lama terdiam,
akhirnya ego kami melawan/
lama dibungkam,
akhirnya ego kami menyerang/
lama menangis,
membuat mata kami bengis/
lama menurut,
membuat ego kami menuntut/
lama ditirani,
membuat ego kami berani/
lama sendiri,
membuat kami tak perduli/
lama ditipu,
membuat kami berlalu/
lama merenung,
membuat kami susah tersenyum/
lama disakiti,
membuat kami sakit hati/

Selain puisi-puisi tersebut, Ibukota Serigala menyajikan 66 puisi yang sangat spontan dan cenderung impulsive. Sesuatu yang memikat sekaligus membutuhkan pencernaan yang baik di otak pembaca. Cerminan kegilaan yang memukau dari sang penulis di tengah badai hedonisme yang menggila. Sangat Layak dibaca. Proficiat! Selamat Datang di Ibukota Serigala.

Judul Buku : Ibukota Serigala
Penulis : Maria Immaculata Ita
Penerbit : Greentea
Cetakan : I, 2010
Tebal : xv + 110 halaman