Arsip Tag: menulis

Belajar Menulis pada Yu Xiuhua

Oleh John Kuan

Saya sudah jarang membaca puisi hingga gemetar, hingga hilang tumpuan, hingga mata berkaca-kaca. Ternyata setelah hidup hampir setengah abad dan 40 tahun membaca puisi, masih dikasih kemurahan dan kemewahan begini. Teman kirim saya sebuah buku kumpulan puisi Yu Xiuhua ( 余秀华 ).

penulis yang menderita sakit
Sumber Gambar China Daily

Dia adalah seorang penyair yang menderita CP ( Cerebral Palsy ), seorang perempuan juga seorang petani. Yu Xiuhua lahir pada tahun 1976 di sebuah dusun di Hebei, karena lahir dalam posisi sungsang, kekurangan oksigen menyebabkan dia lumpuh otak, syaraf motorik terganggu. Setelah tamat Sekolah Menengah dia membantu di rumah, pada tahun 1998 mulai menulis puisi.

Sebagai seorang petani yang menderita CP, menulis baginya adalah sebuah cita-cita yang tak mungkin tercapai. Namun, dia mengeluarkan seluruh tenaga memaksa tangan kiri menekan pergelangan tangan kanan, menggores satu per satu kata yang bengkok dan berantakan. Dia memilih puisi yang paling hemat kata, mengabarkan kepada pembaca perjalanannya melawan nasib. Setiap orang yang menulis puisi dengan jiwa dan hidupnya adalah seorang pemberani. Mereka memperoleh sangat sedikit, mereka memberikan amat banyak. Mereka harus bertarung dengan kelumrahan, dengan budaya populer, dengan kehidupan, dengan harta dan kuasa, bahkan juga teman dan keluarga.

Dia mengambil puisi sebagai senjata, namun bukan buat membalas dendam, bukan buat menyakiti diri sendiri, tetapi ingin menunjukan bahwa dia bisa memandang enteng nasib dan kehidupan yang telah demikian keras terhadapnya, dengan puisi dia mengabarkan kepada pembaca, ketulusan tingkah lakunya yang tanpa basa-basi, keyakinannya terhadap hidup.

Dan apa itu puisi? Susah diberitakan, mungkin adalah sekelumit rasa yang berdenyut, atau sekelumit rasa yang mengendap. Namun ketika hati berseru, ia akan tiba dengan gaya seorang anak yang polos, dan ketika seseorang terhuyung-huyung melangkah di dunia yang terombang-ambing, ia akan tiba sebagai sebatang tongkat.

Mencintaimu

Begitu gagap hidup, setiap hari timba air, masak, makan obat tepat waktu
Saat matahari bagus taruh diri ke dalamnya, seperti sepotong kulit jeruk
Daun teh gonta-ganti minum: krisan, melati, mawar, lemon.
Perihal bagus begini seolah membawa aku ke arah jalan musim semi
Sebab itu aku berulang kali menahan salju di hati
Mereka terlalu bersih terlalu mendekati musim semi

Di dalam pekarangan bersih membaca puisimu. Kisah asmara dunia
Sekejap bagai burung pipit tiba-tiba terbang melintas
Dan waktu begitu putih bersih. Aku tidak cocok sedih pedih
Andai kirim sebuah buku buatmu, aku tidak akan mengirim puisi
Aku akan beri kau sejilid tentang tumbuhan, tentang ladang
Beritahu kau perbedaan lalang dan gandum

Beritahu kau musim semi sebatang lalang yang cemas

Porselin

Cacatku adalah dua ekor ikan terukir di atas vas porselin
Di dalam sungai sempit, saling lawan arah

Hitam dan putih dua ekor ikan
Tidak bisa gigit ekor sendiri, juga tidak bisa gigit ekor lawan

Hitam mau, putih juga mau
Aku hanya membisu, tidak ingin bertanya, tidak mau bertanya

Mereka selalu di tengah malam berenang 
lewat beberapa garis retak vas porselin
Terhadap benda-benda yang terlihat, memilih tutup mulut.

Seandainya aku adalah normal, juga akan diukir di tempat sama
Agar orang tidak tahu bagaimana mengeluh.

Puisi 2 Koma Tujuh, Sebuah Fenomena

Gerundelan Sonny H. Sayangbati

2 koma tujuh
Gambar diambil dari grup puisi 2 koma tujuh

Tentang Payung

Jika dukamu adalah hujan

Payung itu aku

 

Mencintaimu

Kubiarkan mataku menggali kubur

Dengan huruf huruf

 

Sumber : Koleksi Puisi-Puisi Imron Tohari [@ Lifespirit) Imron Tohari (Catatan Pribadi) Facebook]

Menurut kamus populer (ensiklopedia) kata ‘fenomena’ (1) diambil dari bahasa Yunani ‘phainomenon’ yang artinya apa yang terlihat, menurut arti kata turunannya (adjektif) berarti : ‘sesuatu yang luar biasa’. Di mana luar biasanya puisi 2 koma 7 ini?

Saya pribadi mengagumi puisi ini, baik secara filosofi, estetika dan lain sebagainya, khususnya dari dua sudut pandang. Puisi ini mengagumkan, sejak pertama saya mengenalnya, bahasanya padat sekali dan kata-kata harus dibangun dengan teknik ‘bahasa tinggi’, bahasa filosofis, memiliki metafora yang unik, dibangun dengan susunan kata-kata yang indah, coba perhatikan dengan saksama puisi-puisi di atas tersebut.

Antara judul dan tubuh puisi, berkesinambungan dan serasi sekali, itulah sebabnya tidak mudah untuk menulis puisi jenis ini, namun mudah bagi seseorang yang mencintai dan mendalami puisi ini. Tentu saja secara teknik kita harus menguasainya terlebih dahulu.

Dalam hal ini secara tehnik atau teknis penulisan saya tidak membicarakan ini, dan sebaiknya Anda dianjurkan untuk memperhatikan dan mempelajari puisi 2 koma tujuh ini secara lebih mendalam.

Diluncurkannya Buku Puisi 2 Koma 7 Baru-Baru Ini

Buku di atas akan segera terbit dalam waktu dekat dengan sampul cover depan seperti tertera dalam gambar di atas. Dan ini merupakan sejarah bagi puisi 2 koma 7 yang akan ikut serta dalam meramaikan khasanah perpuisian di tanah air, dan ini merupakan karya dari penemu, penggagas, anggota dan simpatisan yang bergelut dalam fenomena puisi 2 koma 7 ini. Secara pribadi saya menyambut hal ini dengan hangat dan gegap gempita. Saya menulis bukan berdasarkan atas pesanan atau ingin sesuatu yang sensasi biasa. Semata-mata karena saya menyukai dan mengagumi, walaupun memang saya kenal penemu dan penggagasnya serta sahabat-sahabat simpatisan puisi 2 koma tujuh ini.

Sejak saya mengenal puisi 2 koma 7 ini sekitar bulan Desember 2012 di group puisi Bengkel Puisi Swadaya Mandiri asuhan penyair Prof. Dimas Arikha Mihardja (Nama Pena), saya mencoba menulis beberapa puisi jenis ini dan berhasil diapresiasi oleh creator dan admin group tersebut, dan inilah puisi yang pertama saya buat di group tersebut :

Nostalgia

jika kali ciliwung meluap,

kuingat rumahku, tenggelam

Puisi ini akan selalu saya kenang dan memang puisi ini sebuah nostalgia yang merupakan kenangan saya seumur hidup berdasarkan kisah nyata, sewaktu sungai Ciliwung meluap maka rumah-rumah di bantaran kali Ciliwung akan tenggelam.

Boleh dikata banyak juga mungkin para penyair membuat sesuatu kerangka baru dalam pembuatan puisi, seperti halnya puisi-puisi lama dan kontemporer : soneta, haiku, mbeling, stanza dan lain sebagainya dan ada yang jenis baru di laman media sosial facebook seperti puisi 517 di Ekspresi Seni yang diperkenalkan oleh Syafrein Effendi Usman.

Puisi 2 koma 7 menurut saya lebih fenomenal atau luar biasa, dan mungkin prediksi ke depan puisi model ini akan lebih banyak lagi penikmatnya, walaupun kelihatannya sederhana namun memiliki daya pikat tersendiri. Sama halnya puisi Haiku sangat terkenal dan disukai banyak kalangan penyair-penyair di Malaysia saat ini.

Kita harapkan puisi 2 koma 7 ini menjadi setidak-tidaknya tuan di negeri sendiri, dan bisa jadi sama halnya dengan seni-seni tradisional lainnya di Indonesia yang populer di negara-negara lain.

Puisi 2 koma 7 memang baru dikenal dikalangan terbatas saja, khususnya dalam dunia sastracyber atau cybersastra, namun jangan dikira penggemarnya dari kalangan penyair biasa, penyair-penyair akademik maupun penyair-penyair yang memang memiliki bakat tradisional dari lahir juga banyak yang menyukainya.

Tantangan Ke Depan Bagi Puisi 2 Koma 7

Secara tradisi puisi memang dibangun dalam komunitas seni atau hidup secara mandiri di kelompoknya yaitu sanggar. Jika dahulu para anggota dalam sanggar saling bertemu muka dan bercengkerama, bergaul dengan hangat dan membuat acara atau pagelaran ataupun sayembara puisi, kini ada fenomena baru yaitu sanggar cybersastra atau group puisi di facebook, di mana para anggotanya memiliki jaringan yang luas dan tersebar lintas batas dan dari berbagai macam kelompok strata sosial bergaul dan saling memberikan gagasan serta karya-karya mereka dalam group.

Fungsi sanggar yang tradisional memang tidak tergantikan keakrabannya, dari segi kehangatan tentu berbeda antara sanggar dengan komunitas cybersastra semisal group puisi di Facebook, namun dari segi kualitas serta daya jangkau memang ini sebuah fenomena tersendiri.

Tidaklah heran puisi 2 koma 7 tumbuh subur karena hal ini, kemudahan jangkauan, fasilitas yang mudah dan cepat, banyaknya informasi, serta apresiasi yang cepat ditanggapi membuat puisi 2 koma 7 ini tumbuh pesat sekali, sekitar 1.300 orang yang terdaftar dalam group ini yang tersebar dalam jangkauan daerah yang luas sampai ke luar negeri.

Membuat buku adalah salah satu cara untuk melestarikan sebuah karya menuju keabadian. Ini adalah sebuah rekam peristiwa yang tercatat. Hal ini akan lebih mudah lagi jangkauannya dalam menyebarkan atau mempopulerkan karya puisi atau gagasan baru, seperti halnya Remy Sylado dalam memperkenalkan puisi Mbelingnya di majalah Aktuil serta buku-buku puisinya ‘Mbeling’.

Dengan beredarnya puisi 2 koma 7 ini tentu akan direspon oleh para pembaca dari berbagai kalangan, dan interaksi tentu akan terjadi dan kita tidak tahu bagaimana interaksi ini disambut di kalangan masyarakat puisi di Indonesia, baik yang bersikap menerima dengan aktif, biasa-biasa saja atau kalangan sastra yang kritis. Ini merupakan ujian bagi puisi 2 koma 7, kita semua mengharapkan umpan balik itu, apa pun hasilnya.

Pertumbuhan dan perkembangan puisi 2 koma 7 ke depan bukan semata-mata tergantung dari para kritikus sastra semata, menurut hemat saya tergantung dari orang-orang yang memiliki dan mencintai serta meghargainya sebagai sebuah karya yang indah.

Kritikus sastra hanya sebagai medan uji atau secara akademik teori saja, namun yang penting adalah prakteknya, atau hasil mujarabnya bagaimana sebuah gagasan itu dicintai dan dinikmati.

Oleh sebab itu mari kita lihat bersama, bagaimana sebuah karya indah puisi 2 koma 7 ini direspon oleh masyarakat perpuisian di Indonesia, apakah ia memuisi atau tidak, Anda-lah yang tahu dan memilihnya.

JATUH CINTA

 Kulihat kupu-kupu di tanganmu

 Oh, kau memuisi

 (lifespirit, 1 Januari 2013)

KELUHAN CINTA

 Menatap selimut kesepian

Bersisian kabut adakah rindu?

 (lifespirit, 29 Januari 2013)

 Sebenarnya Hatiku yang Telah Kau Genggam

 (Puisi No. 1)

 Kau ada dalam gerabah,

setiap sentuhan tanganku

(Puisi No. 3)

Remaslah jari-jariku, genggamlah!

Milikmulah aku ini selamanya

Jakarta, 14/8/2013

*) Penulis kelahiran Jakarta, 14 Desember, tinggal di Jakarta, menyukai sastra, senang menulis puisi, prosa dan artikel mengenai sastra. Karyanya diterbitkan di beberapa media cetak dan media online seperti di : SKH Republika, SKH Mata Banua, Jurnal Kebudayaan Indoprogres, SKH Berita Minggu Singapura, SKH New Sabah Times, SKH Utusan Borneo, Kompas.com, Koran Atjeh Post, Koran Bogor, Jateng Times, Rima News, Radar Seni, RetakanKata, Jurnal Kebudayaan Tanggomo, Wawasan News, Angkringan News, Artadista.com, Majalah Sastra Digital Frasa, Majalah Review Malaysia, Ourvoice, Sastra Kobong.

Karya puisinya telah dibukukan dalam antologi bersama beberapa penyair manca negara : ‘Lentera Sastra’ diluncurkan pada tanggal 22 Juni 2013 di Kuala Lumpur bersama komunitas Puisikan Bait Kata Suara, ‘Manusia Dan Mata-Mata Tuhan’ bersama komunitas Coretan Dinding Kita, ‘Jendela Senja’ bersama komunitas Kabut Tipis, sedangkan buku Cinta Rindu Dan Kematian di komunitas Coretan Dinding Kita sedang dalam proses cetak.

Saat ini aktif menulis di sastra cyber (cybersastra) dan memiliki halaman puisi yang diberi nama : Info For Us by Sonny H. Sayangbati di media sosial Facebook, dan beberapa website sastra.

 Penulis bisa dihubungi di alamat email : sonny_sayangbati@yahoo.com dan sonny14sayangbati@gmail.com

Pengumuman Lomba Cerpen RetakanKata 2013

Kabar Budaya – RetakanKata

jawara menulis
Ilustrasi dari apegejadifilewordpressdotcom

Anda tentu sependapat bahwa lebih banyak orang yang meyakini menulis cerpen itu bukan suatu pekerjaan yang mudah. Banyak tip-tip ditulis di website, blog maupun buku-buku untuk memudahkan penulisan menunjukkan bahwa ada suatu tingkat kesulitan yang coba dipecahkan para pengarang. Harapannya, tentu para penulis tip menginginkan lebih banyak orang memiliki kemampuan menulis, tidak hanya cerpen namun juga jenis karangan yang lain.

Maka melimpahnya peserta lomba menulis cerpen RetakanKata 2013 patut disyukuri. Apresiasi luar biasa perlu disampaikan kepada para peserta yang telah berupaya dengan segenap kemampuan untuk menghasilkan karya-karya terbaik mereka, terutama pada para sahabat buruh migran yang telah mencuri waktu untuk menulis di tengah-tengah kesibukan mereka. Meski tidak semua dapat menjadi pemenang lomba tahun ini, namun ada harapan besar di kemudian hari para penulis ini akan menjadi penulis besar.

Dari dua kategori yang dilombakan tahun ini, sayangnya hanya sedikit yang mengikuti kategori B (buruh migran). Tercatat hanya ada empat naskah untuk kategori B. Hal ini bukan berarti tidak ada peserta dari buruh migran sebab para sahabat buruh migran lebih banyak mengikuti lomba pada kategori A (umum). Untuk itu, kedua kategori dilebur menjadi satu dan jumlah pemenang tahun ini diperbanyak menjadi 20 pemenang lomba dari 504 naskah cerpen yang masuk.

Menimbang pada dua kategori yang digabung menjadi satu, maka hadiah yang diberikan kepada para pemenang lomba adalah sebagai berikut.

  • Juara I, cerpen berjudul Jendela-jendela Aba karya Oddie Frente, berhak mendapat uang tunai Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) + 1 free blog premium senilai Rp 500.000, 00 per tahun  selama 2 tahun + buku kumpulan cerpen hasil lomba.
  • Juara II, cerpen berjudul Aedh Tak Lagi Mengharap Kain Sulaman Surga karya Victor Delvy Tutupary, berhak mendapat uang tunai Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) + 1 free blog premium senilai Rp 500.000, 00 per tahun  selama 2 tahun + buku kumpulan cerpen hasil lomba.
  • Juara III, cerpen berjudul Angsa Salju karya Sulfiza Ariska, berhak mendapat uang tunai Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) + 1 free blog premium senilai Rp 500.000, 00 per tahun  selama 2 tahun + buku kumpulan cerpen hasil lomba.
  • Cerpen Laki-laki dalam Kereta, Sesuatu yang Tak Menyenangkan dari Ibu Mertuaku dan Legiun Dajjal, berhak mendapat uang tunai masing-masing Rp 150.000 (seratus lima puluh ribu rupiah) + 1 free blog premium senilai Rp 500.000, 00 per tahun  selama 1 tahun + buku kumpulan cerpen hasil lomba.

Dan berikut ini adalah cerpen-cerpen terbaik yang berhak masuk dalam buku Antologi Cerpen RetakanKata 2013:

  1. Jendela-jendela Aba karya Oddie Frente
  2. Aedh Tak Lagi Mengharap Kain Sulaman Surga karya Victor Delvy Tutupary
  3. Angsa Salju karya Sulfiza Ariska
  4. Laki-laki dalam Kereta karya Diyah Hayu Rahmitasari
  5. Sesuatu yang Tak Menyenangkan dari Ibu Mertuaku karya Ardi Kresna Crenata
  6. Legiun Dajjal karya Royyan Julian
  7. Mak Parmi karya Danang Duror Alfajri
  8. Bayi yang Hilang karya Albert Wirya
  9. Savitri Jadi Sintren karya Imamul Muttaqin
  10. Anak Kocok karya M. Said Hudaini
  11. Garis Rosary karya Dhianita Kusuma Pertiwi
  12. Kirana karya Jenni Anggita
  13. Pulang karya Meilina Widyawati
  14. Musim Semi di Taman Ueno karya Yanti Hanalia Mantriani
  15. Esspreso Cinta karya Kadek Lestari Diah Paramitha
  16. Makan Malam Terakhir karya Lidya Pawestri Ayuningtyas
  17. Garis Waktu karya Wilibrodus Wonga
  18. Penari Tiang karya Marina Herlambang
  19. Hukum Pancung karya Upik Junianti
  20. Dubai di Ujung Hari karya Meylani Nurdiana

Catatan:

Seluruh cerpen pemenang lomba akan dibukukan dan masing-masing pemenang akan mendapatkan satu buku gratis Antologi Cerpen RetakanKata 2013. Pemenang yang ingin mendapatkan lebih dari satu buku, dapat melakukan pemesanan terlebih dahulu melalui email retakankata@gmail.com dengan mengganti  uang cetak dan penerbitan buku yang dipesan.

Para peserta dan pembaca yang ingin memesan buku Antologi Cerpen RetakanKata 2013 dapat mengirim pesanan melalui retakankata@gmail.com dengan melakukan pembayaran dimuka sebesar Rp 50.000 per buku belum termasuk ongkos kirim. Hubungi redaksi RetakanKata untuk keterangan lebih lanjut.

Hadiah berupa blog dan buku tidak dapat ditukar dengan uang dan blog tidak dapat dialihkan kepada pihak lain tanpa persetujuan dari RetakanKata. Lihat harga blog di Lapak RetakanKata.

Seluruh pemenang diwajibkan melakukan verifikasi dengan mengirim email yang dilampiri data diri berikut foto serta profile singkat penulis sebagai pelengkap penerbitan buku. Verifikasi dapat dilakukan sampai dengan akhir Agustus 2013. Jika lewat dari bulan Agustus pemenang belum melakukan verifikasi, maka kemenangannya dibatalkan dan hak-haknya dicabut.

Apabila para pembaca mengetahui adanya kecurangan, ketidakbenaran data dan naskah cerpen, diharapkan memberikan informasi kepada RetakanKata melalui retakankata@gmail.com sampai batas waktu akhir bulan Agustus.

Pengumuman ini juga dapat dibaca di BUKUONLINESTORE.COM sebagai bagian dari RetakanKata Network. Lihat juga blog-blog yang ada di bawah BukuOnlineStore:

FBSI: Catatan dan Pengumuman Festival

Kurang lebih dua bulan berlalu sejak peluncuran Festival Blog Sastra Indonesia (FBSI) di blog RetakanKata. Sebanyak tujuh belas blog perorangan turut serta dalam festival kali ini. Meski hanya tujuh belas, namun blog-blog tersebut menunjukkan kelebihan para pemiliknya yang tidak saja mengerti dunia kepenulisan namun juga mengerti bagaimana menggunakan teknologi untuk mendukung talenta menulis mereka. Terima kasih kami sampaikan kepada para blogger yang turut memeriahkan festival ini.

Satu bulan penilaian blog yang dimulai sejak Januari hingga Februari telah usai. Dan berikut ini disampaikan beberapa catatan hasil dari pengamatan blog-blog para peserta festival. Mudah-mudahan catatan ini memberi manfaat buat para sahabat blogger khususnya yang bergulat di bidang seni.

banner festival blog indonesia
alamat yang ditautkan pada banner ini adalah:
http://retakankata.com/fbsi/

Secara umum, tampilan blog para peserta menarik dan menunjukkan ciri khas masing-masing. Sayang jika blog yang sudah menarik tersebut jarang sekali di-update. Blog yang sangat jarang di-update menyebabkan pengunjung malas untuk kembali mengunjungi blog Anda sebab tidak mendapat sesuatu yang baru. Ibarat tuan rumah, pemilik blog semestinya tidak membiarkan tamunya disuguhi “yang itu-itu saja.” Jika ada tamu yang mengajak Anda berbicara, tamu itu seperti berbicara di rumah kosong tak berpenghuni. Tentu hal semacam ini membuat mereka malas untuk kembali mengajak berbicara.

Selain itu, update blog tidak harus melulu masalah isi (content). Sahabar blogger bisa melakukan update tata letak (layout), tampilan yang salah seperti misalnya kode html muncul ke permukaan atau memeriksa link-link yang putus (broken links). Perawatan yang baik tentu bermanfaat bagi mesin pencari dan para pengunjung sehingga mereka tidak masuk ke tempat yang salah atau tersesat di blog Anda.

Tampilan yang baik, petunjuk arah yang jelas serta tidak banyak gangguan (noise), atau biasa disebut clean, membuat pembaca nyaman. Dan karena ajang ini adalah festival blog sastra, maka content tetap merupakan kekuatan utama sebuah blog. Maka dengan memperhatikan berbagai pertimbangan untuk memilih blog terpopuler dan terbaik, berikut ini adalah blog-blog yang berhak mendapat penghargaan dari RetakanKata.
 

de baron martha
Street Poems

Juara pertama mendapat Smartfren Andromax atau jika memilih uang tunai akan diganti dengan uang sejumlah Rp 750.000,- adalah Blog STREET POEMS;
 
catatan ahmad saadilah
Catatan Diriku (Ahmad Saadillah)

Juara kedua mendapat uang tunai sebesar Rp 500.000,- adalah Blog CATATAN DIRIKU
 
sebuah tanya di ladang sunyi
Sebuah Tanya di Ladang Sunyi

Juara ketiga mendapat uang tunai sebesar Rp 250.000,- adalah Blog SEBUAH TANYA DI LADANG SUNYI

 

Selamat kepada para pemenang dan silakan melakukan verifikasi dengan mengirim surel ke RetakanKata yang dilampiri data diri dan nomor rekening bank. Kami akan memverifikasi melalui nomor telepon genggam.

Salam sastra Indonesia!

BAH!

Resensi Anggie Maharani

Ini adalah buku ketiga Martin Siregar. Buku pertama “Istriku” Kumpulan Cerpen Unkonvensionilm Jilid I (2003)”, langsung laris manis habis terjual. Buku terbit atas dukungan program kerjasama Ikatan Penerbit (IKAPI) Kalbar dengan Ford Foundation. Terbitnya buku ini mendorong Martin Siregar semakin mencintai kegiatan menulis. Sempat rutin menulis opini dan komentar pada surat kabar Suaka Pontianak tahun 2004. Dan selalu menulis makalah, refleksi, fiksi dan mencicil cerpen tuk diterbitkan. Sebenarnya naskah cerpen sudah tuntas naik cetak 2005. Tapi buku:”Kawan Kentalku Bason” Kumpulan Cerpen Unkonvensinil Jilid II, baru dapat diterbitkan tahun 2007 atas dukungan Members of The Camp Connection Medan. Buku kedua punya nasib yang sama dengan buku pertama. Laris manis laku terjual lewat gaya jual perkawanan model indi.Hadirnya facebook membuat Martin Siregar semakin terpacu, Sangat produkti menulis fiksi opini renungan yang disebarluaskan di kalangan perkawanan facebook. Naskah buku:”Kumpulan Renungan Singkat Unkonvensinil”. Sebenarnya sudah bisa diterbitkan tahun 2010. Kembali lagi Martin Siregar mengalami hambatan untuk menerbitkan buku ini. Dan, atas dukungan “gerombolan unkonvensinil” (**)buku ini terbit september 2012.

Diawali kata penghantar dari Pay Jarot Sujarwo Pontianak dan Jemie Simatupang Medan (keduanya perwakilan gerombolan unkonvensionil), buku langsung membahas Wacana Unkonvensionil yang sampai sekarang belum terformulasi dengan baik dan benar. Bab II Bertutur tentang:”Dunia Tulis Menulis”. Pada kesempatan ini Martin Siregar mengaku bahwa sejak zaman dahulu kala dihimbau untuk menulis. Tapi dia tidak memperdulikan dan baru bertobat mulai giat menulis ketika berumur 41 tahun, Nilai filosofi menulis, kegagalan membentuk kelompok, serta perdebatan hal ikwal unkonvensinil dipaparkan pada Bab II

Setelah itu Martin Siregar memberikan tinjauan kritis mengenai kehidupan ummat beragama. Kemunafikan, dan penyimpangan dogmatika/teologia agama ditelanjangi Martin Siregar pada …Bab III:”Perspektif Teologia”. Buku ini mengalir lancar karena pada Bab IV”Aku dan Kehidupan” menceritakan konflik bathin maupun kisah manis sejarah linear kehidupannya menyusuri garis matahari. Banyak pesan yang bisa memandu pembaca menghadapi kehidupan yang pincang. Selanjutnya Bab V:”Kisah Tentang Kawan Kawan” Realitas kehidupan sehari hari, kepincangan sosial, sosok sahabat muda yang kerja untuk perubahan sosial, pergumulan dalam gerakan sosial, dikupas tuntas pada bab ini.

Buku diakhiri dengan Bab VI:”Lampiran”.Jemie Simatupang menceritakan pengalaman Martin Siregar mengorganeser kelompok anak pedesaan korban Tsunami di Meulaboh Aceh Barat. Selanjutnya, cerita tentang keunikan yang dirasakan Budi Rahman melihat karakter bohemian acuh tak acuh sahabat tuanya Martin Siregar. Muchin cerita soal gaya Martin Siregar desak dan terror orang agar selalu menulis dengan gaya hasut PKI. Iphiet Safitri Rayuni kawan muda Martin Siregar ikut menulis. Semula Iphit pikir orang gendut Martin Siregar adalah kaki tangan intelijen yang nyusup ke aksi mahasiswa (1998). Tapi pada akhirnya mereka berkawan akrab saling curhat walaupun berjauhan. Pada lampiran ada juga tulisan kawan lama Martin Siregar. Yayak Yatmaka (sekaligus ilutrator dan cover buku ini) kartunis dan buron orde baru yang sampai sekarang masih membandel Hua…ha…ha.., menuliskan kesan tentang kawan kentalnya Martin Siregar.

Yah,..Buku ini berenergi menuntun kita semakin tajam melihat realitas kehidupan, walau dengan bahasa yang ringan santai. Tapi, memberi pesan yang sangat mendalam.

(**) Gerombolan Unkonvensionil: Merupakan kelompok kecil yang terus menerus mempertebal kecintaan terhadap kegiatan menulis dan usaha menerbitkan buku. Tidak patuh terhadap tata bahasa baku bahasa Indonesia. Lebih tertarik mempergunakan bahasa yang gampang dimengerti daripada bahasa Indoensia yang baik dan benar. Selalu bertutur tentang hiruk pikuk kehidupan sehari hari sebagai sarana menjernihkan mata hati sidang pembaca. Dan, berharap dapat memberi konstribusi untuk perubahan sosial dalam arti sesungguhnya.

Judul: BAH! :Kumpulan Renungan Singkat Unkonvensionil
Karya Tulis : Martin Siregar
Design Cover dan ilustrasi gambar : Yayak Yatmaka
Lay out : Pay Jarot Sujarwo
Tebal : xvi + 294 Halaman

*)Anggie Maharani adalah Pemerhati sastra Sanggau Kalbar.

Catatan:

Harga Eceran: Rp.70.000 (belum termasuk ongkos kirim di luar pontianak)
Transfer No. Rekening :

Bank Mandiri Sanggau 146 – 00 – 0652365 – 3 atas nama Martin Siregar
atau
Bank BCA no rekening: 0291465781 atas nama PY. Djarot Sujarwo

Bagi pemesan di luar pontianak, yang berminat membeli ongkos kirim 20.000 rupiah. dan jika sudah transfer, harap alamat pengiriman dikirim ke inbox Pay Jarot Sujarwo atau Martin Siregar, atau SMS ke 085750568003 atau 081256918507

Sebuah Alasan Mengapa (Kita) Harus Menulis

Resensi Riza Fitroh Kurniasih

“Syarat untuk menjadi penulis ada tiga,
yaitu menulis, menulis, menulis.” (Kuntowijoyo)

eko prasetyoBuku yang masih begitu segar untuk dinikmati, sebuah buku motivasi karangan Eko Prasetyo. Cocok bagi para pemula yang sedang terjun dalam dunia tulis menulis ataupun bagi mereka yang telah sukses berkarir di dunia tulis menulis untuk tetap berkarya.

Menulis sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bahkan hal ini sudah dilakukan oleh nenek moyang kita jauh sebelum mengenal buku dan alat tulis. Menjadi pertanda bahwa aktivitas menulis bukanlah hal yang baru, dan menulis pun dapat dimulai dengan apa saja yang ada di depan kita.

Buku dengan judul Kekuatan Pena ini terbagi menjadi 3 (tiga) bagian utama, yaitu; Catatan Pertama: Meretas Motivasi, Catatan kedua: Budaya Baca, dan Catatan ketiga: Suksesor. Pembagian subtema menjadi tiga bagian menjadikan pembaca lebih mudah dalam mengikuti alur yang dimunculkan.

Pada Bagian Pertama mengulas seputar bagaimana motivasi untuk memulai dalam menulis. Pemunculan realita yang dialami oleh beberapa pemula juga dimunculkan di dalam bagian ini, sehingga diharapkan para pembaca termotivasi untuk memulai menuliskan apa saja yang kita rasakan. Dalam buku ini dikisahkan bahwa seorang pelacur pun juga menulis, baginya menulis merupakan lahan yang potensial untuk digarap. Lebih dari itu menulis juga tidak harus identik dengan pendidikan yang tinggi. Segudang manfaat diperoleh dari kegiatan menulis ini, baik menulis opini maupun karangan sejenisnya. Menulis sebagai upaya membebaskan ide yang kita miliki.

Tak perlu berkecil hati ketika tulisan kita belum dimuat. Dengan tidak termuatnya tulisan tersebut kita mempunyai kesempatan untuk melihat dan membaca ulang tulisan kita. Mengoreksi dan berkonsultasi kepada yang lebih berpengalaman untuk perbaikan tulisan. Ketrampilan menulis menjadi indikasi kemajuan sebuah bangsa yang terpelajar. Menulis menjadi sarana untuk mencatat/merekam ssebuah peristiwa bersejarah, meyakinkan akan sebuah fakta, memberitahukan akan sebuah informasi dan mempengaruhi demi sebuah cita-cita. Hal ini hanya dapat terwujud dengan baik jika seseorang dapat menyusun dan mengutarakan pikirannya dengan jelas.

Dalam sebuah tulisan dengan judul “Menjaring Ide”, terdapat sebuah pesan yang mengungkapkan “kalau kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. Untuk mampu menyusun dan mengutarakan pikirannya dengan jelas hal utama yang paling penting adalah menjaring ide. Seorang yang berprofesi sebagai jurnalis dituntut untuk selalu mengembangkan kreatifitasnya, ide tidak oleh kering.

Eko Prasetyo menyadari akan hal ini, dalam buku ini ia menyebutkan bahwa langkah pertama untuk menjaring ide adalah kita cukup membawa buku tulis kemana pun kita pergi. Kedua memperbanyak membaca, dan yang ketiga adalah banyak mengobrol hal-hal positif. Setelah ide-ide tertulis dalam buku catatan kita tinggal menuangkan ide-ide ini ke dalam sebuah tulisan. Kita cukup menuliskan apa yang kita bayangkan.

Pada catatan kedua tentang budaya baca. Kita akan menjumpai sebuah fakta yang mengejutkan tentang negara kita, Indonesia. Pada tahun 2003, United Nations Development Programme (UNDP) menempatkan Indonesia pada urutan ke-112 di antara 174 negara. Sedngkan pada 2005 turun di urutan 117 di antara 177 negara, angka ini menunjukkan fakta adanya penurunan. Jika dibandingkan dengan negara sedang berkembang lainnya, bahkan di ASEAN sekalipun, kemampuan membaca (reading literacy) anak-anak Indonesia sangat rendah.

Pada tahun 1992, International Association for Evaluation (IEA) dalam sebuah studi memperoleh hasil bahwasannya kemampuan membaca murid-murid sekolah dasar kelas IV pada 30 negara di dunia menyimpulkan bahwa Indonesia menempati urutan ke-29. Posisi ini setingkat dengan Venezuela yang menempati peringkat terakhir. Hal ini didasarkan pada kondisi pasif tentang kurangnya gairah dan kemampuan para peserta didik untuk mencari, menggali, menemukan, mengelola, memanfaatkan dan mengembangkan informasi.

Pada bagian terakhir dari buku ini, catatan ketiga dengan tema suksesor, memuat secara eksklusif sekelumit orang-orang yang sukses dari hobinya. Eko Prasetyo menuangkan sebuah fakta kesuksesan dalam buku ini, tercatat per edisi 24 april-21 mei 2008 dalam majalah Adil menuliskan lima nama penulis terkaya di Indonesia. Tempat pertama diisi oleh Andrea Hirata, penulis tetralogi laskar pelangi, yang meraup keuntungan Rp. 2,5 miliar. Kemudian disusul oleh Habiburrahman El Shirazy-penulis novel laris ayat-ayat cinta-yang mendapatkan penghasilan Rp. 1,5 miliar. Berikutnya berturut-turut Nana Kinoysan, Asma Nadia, dan Helvy Tiana Rosa.

Kekayan materi bukanlah yang menjadi tujuan utama. Kekayaan yang diperoleh bisa berupa kepuasan seperti yang diperoleh oleh Helvy Tiana Rosa yang rajin menyumbangkan royaltinya untuk kegiatan sosial. Dengan menulis ternyata manfaat tidak hanya bermanfaat untuk kita, tetapi orang lain juga menikmati hasilnya.

Satu-satunya motivasi Toni Morrison adalah “Bila anda ingin sekali membaca sebuah buku tetapi belum ada yang menuliskannya, Anda harus menulis buku itu.” Tak ada lagi kata untuk tidak menulis, membaca menjadi akar dari terciptanya budaya menulis, membaca dan menulis menjadi sebuah aktivitas yang perkembangannya beriringan.

eko prasetyoJudul Buku      : Kekuatan Pena
Penulis             : Eko Prasetyo
Penerbit           : PT Indeks, Jakarta
Tahun              : 2012
Tebal               : 164 halaman
Harga              : Rp. 35.000,-
ISBN               : 979-062-328-3

*) Peresensi adalah Mahasiswa FKIP Biologi UMS Angkatan Tahun 2010. Aktif mengembangkan Komunitas 3 Pena Buku (K3PB)

Generasi Muda Harus Berintegritas

Opini Nailatul Faiqoh

gambar diunduh dari bp.blogspot.com
Setiap tahun, ratusan perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri di seluruh Indonesia mencetak sekian banyak wisudawan, sarjana-sarjana yang siap kerja dengan berbagai visi dan karakter juga watak yang bebeda. Seiring dengan semakin banyaknya tenaga lulusan perguruan tinggi justru memunculkan spekulasi-spekulasi yang baik disadari atau tidak oleh masyarakat, sering terlupakan dalam perkembanganya. Sudah cukupkah hanya dengan ijazah dengan IPK tinggi dan gelar sarjana menjadikan individu tersebut dibilang berhasil? Lantas keberhasilan yang bagaimana?
Seseorang bisa dikatakan berhasil bukan hanya dipandang dari segi berapa banyak jumlah gaji yang diperoleh dari pekerjaan, atau berapa besar kekayaanya setelah mereka bekerja, melainkan keberhasilan yang lebih mencerminkan sebuah hasil yang telah kita lakukan dari hasil kerja atau kegiatan yang berintegritas. Banyak bukti yang dapat kita lihat secara mata telanjang dan terjadi di sekeliling kita, dapat kita lihat di setiap cover surat kabar, atau pun menjadi topik perbincangan terhangat di berita elektronik ibukota, mulai dari masalah maraknya korupsi baik di badan pemerintahan tertinggi sampai rakyat jelata atau masalah-masalah di dunia pendidikan misalnya saja, adanya demo mahasiswa yang anarki bahkan berbagai berita yang membahas tindakan-tindakan tercela para pendidik yang semestinya di gugu dan tiru malah memberi bocoran soal ujian pada siswanya. Sungguh hal menghawatirkan serta memberikan dampak besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang semakin membuktikan banyaknya pelanggaran-pelanggaran.

Integritas Generasi Muda

Salah satu penyebab dikatakan tidak berhasilnya seseorang adalah terkait telah hancurnya integritas masyarakat baik secara kolektif dan terutama personal. Perlunya kder- kader baru yakni genereasi muda yang sedari sekarang kita pupuk dan tumbuhkan dalam pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan sosial di sistem sosial serta mampu menjadi penyatu unsur-unsur di berbagai bidang kehidupan bermasyarakat
Sudah sewajibnya mulai dari sekarang generasi muda khususnya menyadari bahwa pemuda menjadi tonggak kemajuan segala bidang, yang harus mulai menumbuhkan loyalitas dan integritasnya. Sekarang bukan waktunya untuk mengutuk kegelapan atas apa yang terjadi di negara kita, lebih baik mulai dari masing-masing individu untuk menyalakan obor penerang, dengan menjadi leaderships visioner dan transformative, serta berkekuatan intelektual dan mampu menggunakan kemampuan tersebut secara bijak dan berintegritas. Begerak sesuai jalur dalam birokrasi, tidak melanggar hukum, dan menjadi pribadi anti korupsi. Yang bukan hanya memahami dan menghayati tapi jauh berimbas bila kita mau mengubah pikiran dan pandangan kita akan arti kesuksesan itu dan tentunya diimbangi dengan nilai-nilai budaya serta keagamaan dari masing-masing individu.

mahasiswa universitas negeri semarangNailatul Faiqoh adalah mahasiswa fakultas teknik sipil Universitas Negeri Semarang

Sekali Lagi: Menulis Opini, Dapat Pulsa!

RetakanKata – Mengingat jangka waktu ‘Menulis Opini Dapat Pulsa‘ sebelumnya sangat pendek (hanya 3 hari), saya memaklumi kesulitan rekan-rekan RetakanKata dalam membuat tulisan. Untuk menebus ‘dosa’ tersebut, maka sekali lagi RetakanKata menyelenggarakan sayembara menulis opini dapat pulsa lagi. Hadiah tetap sama, yaitu tulisan pertama terbaik mendapat pulsa Rp 100.000,- dan dua tulisan terbaik berikutnya mendapat pulsa Rp 50.000,- Jadi jangan sampai lupa mencantumkan nomor hape ya!
Ketentuan sayembara sebagai berikut:

  • Tema: ABORSI
  • Panjang tulisan: minimal 1 lembar A4, dengan huruf Times New Roman, spasi 1,5, margin 3 atas, 3 kiri, 2,5 kanan dan 2,5 bawah. Maksimal 2 lembar A4.
  • Menggunakan bahasa Indonesia sesuai EYD
  • Jika ada referensi, kutipan dan daftar pustaka, maka harus mencantumkan sumber-sumbernya. Sumber referensi tidak boleh mengambil dari wikipedia.
  • Batas waktu kirim artikel 3 Juni 2012 pukul 00.00 WIB
  • Cantumkan identitas pengirim secukupnya dan mudah dihubungi.
  • Pemenang adalah yang artikelnya dimuat pada minggu berikutnya (tanggal 10 Juni 2012)

Kami tunggu karya-karyamu!

Menulislah

Puisi Ragil Koentjorodjati

one day writing
Ilustrasi dari ioneday.blogspot.com

Menulislah,
Jika kamu tidak lagi sanggup berbicara,
Simbol-simbol yang berhamparan di jagad ini menunggu seseorang untuk merangkainya menjadi suatu yang nyata. Sesuatu yang dapat dibaca. Tidak saja wujud harfiahnya tetapi juga bentuk-bentuk di sebaliknya.
Menulislah,
Jika suaramu tidak lagi ada yang mendengar,
Suara yang melekat pada batu-batu dinding kotamu tidak sekokoh goresan tangan yang berotot keprihatinan. Suara akan melembab di kaki-kaki pengembara dan meringkuk hilang makna seiring waktu menua. Tetapi tulisan tidak. Ia akan dibaca sebagaimana ia tertulis sepanjang masa.
Menulislah,
Jika namamu ingin tercatat di lintasan sejarah,
Betapa banyak jiwa-jiwa membeku di pengap waktu. Mereka binasa dengan sia-sia. Bergumul dalam kesendirian dan tidak mampu menolak zaman yang mengutuknya menjadi sekedar deretan huruf dan angka-angka. Bebaskan jiwamu dan jadilah manusia merdeka.
Menulislah,
Tangan dan kakimu dapat terbelenggu, tetapi tidak hati dan pikiranmu. Pikiran adalah hantu yang tidak terikat ruang dan waktu dan ia menyatakan dirinya dalam tulisan-tulisan. Menulis menghubungkanmu antara dunia jiwa dengan dunia nyata.
Menulislah,
Meski tulisanmu tidak seagung karya para pujangga atau tidak seindah rangkaian kata para penyair yang mabuk rindu. Meski penamu tak lagi tajam dan kertasmu mulai buram. Sebab Ia telah menghamparkan kertas di depan mata kita, mengisi penuh tinta di hati dan pikiran kita. Ia menunggu kita menulis sesuatu yang bermakna.
Menulislah,
Sebab sesungguhnya hidupmu lebih sastra daripada karya para pujangga dan lebih puisi daripada rangkaian kata para penyair.

Hangus Membaca

Gerundelan John Kuan

Sebuah meja bersama bangku, hangus, menjadi arang. Ada sebuah buku tebal di atas meja, putih, mulus tanpa satu goresan. Karya Titarubi ini berjudul: Bacalah! Terbuat dari Yin Yang Lima Elemen, saya duga. Meja dan kursi kayu, paku logam, buku tanah air, dibakar api, melewati perubahan Yin Yang. Sempurna.

Buku dari lempung. Begitulah orang Mesopotamia Kuno menggunakannya untuk menulis Epik Gilgames, puisi perjalanan manusia setengah dewa. Puisi yang setelah melewati beberapa ribu tahun masih hidup di dalam tablet-tablet tanah liat yang tahan bakar, bahkan menjadi jauh lebih kuat setelah keluar dari tungku pembakaran. Mereka memang telah berhasil melewati salah satu musuh bebuyutan buku: api. Tetapi apakah mereka cukup kuat menghadapi api amarah manusia moderen yang kian membara? Apakah masih dapat utuh terkubur setelah rudal-rudal dijatuhkan di atasnya, seperti beberapa ribu tahun yang lalu terkubur bersama Kekaisaran Asiria? Begitukah cara mereka mengelabui waktu?

Ternyata saya salah, buku putih ini bukan terbuat dari tanah liat.

*

Lapangan kecil di depan perpustakaan itu menyisakan satu jendela, tertutup kaca tebal, di bawahnya ada sebuah ruangan, ke empat dinding ruangan itu adalah rak-rak buku kosong. Tidak jauh dari jendela itu ada sebuah kutipan Heinrich Heine: Bakar buku, mungkin adalah petanda awal manusia memusnahkan dirinya. Lapangan ini berada di Universitas Humboldt.

Saya tidak tahu apakah ini benar posisi ruang penyimpanan buku sewaktu pembakaran buku terjadi di sini pada 10 Mei 1933, atau hanya sebuah rancangan untuk memperingati peristiwa itu. Tidak peduli yang manapun, pasti membuat orang yang melihatnya tercengang, hati terasa sekosong rak buku.

Sebuah institusi pendidikan bertaraf internasional merancang sebuah pemandangan begini di depan pintunya, adalah semacam peringatan, semacam keterus-terangan: ” Yang membakar buku di sini adalah murid-murid kita sendiri, segala tindakan pemusnahan budaya, juga memiliki nama dan identitas budaya, maka orang-orang yang bergegas dan berlalu-lalang, jangan terlalu percaya terhadap tempat ini! ”

Kutipan Heine di samping rak buku kosong itu berasal dari sebuah dramanya yang menceritakan tentang pembakaran buku di Spanyol dan Portugis pada abad ke-15: Almansor. Demikianlah, sebuah kutipan dari seorang cendekiawan yang hidup di abad ke- 19 dipakai untuk sebuah peristiwa di abad ke- 20 yang kurang lebih sama dengan yang terjadi di abad ke-15. Membakar buku memang terjadi sepanjang sejarah dan hampir pada semua bangsa yang mengenal tulisan, rak-rak buku kosong membuat saya teringat cerita-cerita kelam selama Revolusi Kebudayaan di Cina. Ada sebuah puisi yang ditulis Liu Shahe berjudul Bakar Buku:

Menahanmu sudah tidak bisa

Menyembunyikanmu juga susah

Malam ini mengantarmu ke dalam tungku api

Selamat tinggal

Chekov!

Kaca mata bulat berjanggut kambing gunung

kau sedang tertawa, kau sedang menangis.

abu terbang asap lenyap terang berakhir

Selamat tinggal

Chekov!

Dia adalah seorang anak tuan tanah, dengan latar belakang begini dapat kita bayangkan bagaimana penderitaan Liu Shahe selama Revolusi Kebudayaan.

Seorang teman berkata pada saya bahwa sekarang mulai banyak orang menggunakan cara ” Revolusi Kebudayaan “, serampangan merekayasa dan menulis ulang banyak kenyataan. Ini adalah sebuah isyarat yang berbahaya, penyebabnya adalah orang-orang tidak berani menggunakan cara yang kokoh dan transparan mempertahankan jejak-jejak sejarah sebuah malapetaka. Saya tidak tahu mengapa terhadap jejak-jejak sejarah begini jarang ada yang berani mengingat, waspada, dan berterus-terang.

Sebuah meja dan bangku hangus, sebuah buku putih polos di atas meja, saya lama menatap gambar yang tampil di dalam layar komputer itu. Kita memang mudah terbakar, meja hangus, bangku hangus, manusia hangus, namun tidak untuk sebuah buku putih polos, dia tidak hangus karena dia kosong, hampa, seakan tiada. Manusia paling suka menggunakan pengetahuan membakar pengetahuan, menggunakan keyakinan membakar keyakinan, menggunakan budaya membakar budaya, dan terakhir akan menggunakan kemanusiaan membakar kemanusiaan. Sebuah buku akan selamat ketika dia dianggap tidak memiliki pengetahuan, tidak berarti, sebuah buku kosong.

Ketika Rabi Haninah ben Teradion sedang dibakar bersama Kitab Taurat oleh tentara Romawi di abad ke-2 Masehi berkata kepada murid-muridnya: ” Aku melihat hanya gulungan saja yang terbakar, sedangkan huruf-huruf berterbangan ke atas ” Seandainya dinding ruang bawah tanah di samping kutipan Heine itu ditaruh rak-rak kosong yang hangus dan diisi dengan buku-buku putih polos, mungkin dapat membuat orang-orang yang melihatnya sedikit lebih waspada.

Atau mungkin membaca sejak awal sudah berhubungan dengan membakar buku, setidaknya hubungan begini sudah ada di dalam mitologi Romawi yang menceritakan Cumaean Sibyl dan buku-buku ramalannya tentang kejayaan Roma.

Semasa gadis, Cumaean Sibyl berkali-kali menolak Dewa Apollo, dan dewa ini kemudian melakukan pembalasan dengan memberinya kehidupan abadi yang diidam-idamkannya, namun tanpa memberi dia kemudaan abadi. Maka gadis muda yang hidup abadi ini tua di dalam waktu, tidak dapat menolak kulit berkeriput dan punggung membungkuk. Akhirnya Dewa Apollo menaruh kasihan kepadannya dengan memberi dia kemampuan meramal. Dia duduk di dalam gua di Bukit Cumae, melewati masa ke masa dengan menulis ramalannya di atas daun palem. Dalam cerita Virgil, Aineias mendarat di Cumae dan bertemu dengan gadis ini, dia kemudian memberitahu Aineias ramalannya yang menakjubkan sekaligus mengerikan akan masa depan Roma.

Salah satu fresko di Salone Sistino menceritakan tentang pembakaran buku ramalan Cumaean Sibyl oleh dirinya sendiri. Diceritakan bahwa gadis ini menawarkan sembilan buku ramalan yang ditulisnya kepada Raja Tarquin. Ketika raja menolak membelinya dia melemparkan tiga buku pertama ke dalam api, dan menawarkan enam buku yang tersisa dengan harga semula. Raja tetap menolak beli, dan dia kembali melemparkan tiga buku lagi ke dalam api, raja yang kurang panjang akal ini akhirnya sadar, lalu membayarnya dengan harga yang sama untuk tiga buku yang tersisa. Fresko itu menggambarkan Raja Tarquin dengan wajah sedih menatap tumpukan buku yang menyala di dalam api, sementara Cumaea Sibyl berdiri di samping dengan air muka yang datar.

*

Sekitar 100 tahun setelah Qin Shi Huang menurunkan perintah pembakaran buku, Sima Qian di dalam karya agungnya, Shiji, menulis bahwa Perdana Menteri Li Shi sangat menekankan usulannya:

Di masa lampau kerajaan ini terpecah belah dalam kekacauan dan tiada seorang pun mampu mempersatukannya. Oleh sebab itu semua penguasa-penguasa feodal bangkit, mereka semua berkoar-koar tentang masa kuno untuk mengacaukan masa kini, memamerkan kata-kata kosong untuk membingungkan kenyataan. Orang-orang membanggakan diri sendiri dengan teori-teori pribadinya dan mengkritik aturan-aturan yang diterima atasanya… Maka, hamba meminta semua catatan-catatan sejarawan selain sejarah Negeri Qin dibakar

Dan terakhir Sima Qian ingin meyakinkan pembacanya menulis: Kaisar sangat menyetujui proposal ini

Pembakaran buku oleh Qin Shi Huang merupakan peristiwa biblioklasme pertama yang tercatat dalam sejarah. Ini juga mungkin merupakan pemberangusan ideologi dalam skala besar pertama kali dicatat. Pasti tidak mudah untuk membakar begitu banyak buku-buku filsafat Cina Kuno, waktu itu kertas belum ditemukan, buku-buku pada masa itu umumnya berupa kepingan-kepingan bambu yang diikat jadi satu, ataupun ditulis di atas kain sutera. Sungguh suatu pemandangan yang mengerikan jika membayangkan di depan setiap sekolah-sekolah filasat yang sangat berkembang pada masa itu bertumpuk kepingan-kepingan bambu yang telah menjadi arang

Kebudayaan Cina dapat berkesinambungan selama lima ribu tahun tentu memiliki kelenturan dan dayanya yang tersembunyi. Ketika Qin Shi Huang sedang gencar-gencarnya melakukan pembakaran buku, cucu generasi ke delapan Kongfuzi berhasil menyembunyikan kitab-kitab penting sekolah Ru, seperti Shangshu, Liji, Lunyu, Xiaojing, di dalam tembok. Setelah berlalu sekitar seratus tahun, sewaktu Liu Yu yang diangkat sebagai Pangeran Gong di Negeri Lu ingin memperbaiki tempat tinggal Kongfuzi, dari dalam tembok buku-buku yang disangka sudah hilang itu kembali ditemukan.

Setiap kebudayaan pasti akan menghadapi masa-masa sulit dan diuji kesinambungannya, kebudayaan Cina paling diuji kelenturan dan ketahanannya terhadap perubahan jaman dan gempuran dari luar pada pertengahan abad ke- 19 hingga pertengahan abad ke- 20, terutama kerusakaan yang dialami dalam perang-perang melawan aliansi kekuatan Barat, serta penghancuran dan perampasan perpustakaan-perpustakaan di hampir semua kota penting di Cina oleh tentara Jepang dalam perang Cina- Jepang II. Kebrutalan dan kerusakannya sudah tidak perlu diceritakan lagi, di sini saya hanya ingin mengungkapkan satu bentuk lain perampasan dan pengerusakan budaya yang sering terjadi di abad ke- 20 atas nama perlindungan. Suatu produk budaya dicabut begitu saja dari tempatnya hidup dan berkembang lalu diletakkan di suatu tempat yang samasekali tidak berhubungan dengannya.

Misalnya yang terjadi di dalam Gua Mogao pada awal abad ke -20, sebuah kisah jual beli kitab-kitab agama Buddha yang paling tidak adil dan penuh rahasia di antara tiga orang lelaki. Yang pertama adalah Wang Yuanlu, seorang pendeta Tao yang tidak begitu berpendidikan dan waktu itu adalah penanggungjawab Gua Mogao, kedua adalah Aurel Stein, seorang arkeolog Hungaria yang baru pindah menjadi warga negara Inggeris, ketiga adalah seorang penerjemah bernama Jiang Xiaowan

Setelah Wang Yuanlu secara tidak sengaja menemukan sebuah ruang penyimpanan kitab-kitab agama Buddha di Gua Mogao, kabar dengan cepat menyebar keluar dan sampai di telinga Aurel Stein, tetapi arkeolog yang menguasai tujuh delapan bahasa ini ternyata tidak menguasai bahasa Mandarin, demikianlah Jiang Xiaowan terlibat dalam persekongkolan ini.

Awalnya Wang Yuanlu menunjukkan sikap waspada, menghindar, dan menolak kehadiran Aurel Stein. Jiang Xiaowan berbohong kepadanya bahwa Stein datang dari India adalah untuk mengembalikan kitab-kitab Xuanzang ke tempat asalnya, dan Stein juga bersedia membayarnya. Wang Yuanlu seperti umumnya rakyat Cina, sangat mengenal dan mengagumi cerita tentang mencari kitab ke Barat yang ada di dalam ‘ Kisah Perjalanan ke Barat ‘ itu, mendengar penjelasan Jiang Xiaowan dan juga melihat Aurel Stein berkali-kali bakar dupa bersujud di depan Buddha, hatinya tergerak. Maka, ketika Jiang Xiaowan mengatakan ingin ‘ meminjam ‘ beberapa kitab untuk dilihat, Wang Yuanlu yang awalnya ragu-ragu, agak lama mempertimbangkan, akhirnya tetap memberi dia beberapa kitab.

Ketika Jiang Xiaowan di bawah lampu redup membuka baca kitab-kitab yang diserahkan oleh Wang Yuanlu. Dia agak terkejut, buku yang serampangan diambil Wang Yuanlu dari tumpukan buku ini ternyata benar-benar adalah terjemahan-terjemahan dari kitab-kitab yang diperoleh Xuanzang dari tanah Barat, Wang Yuanlu sendiri juga terkejut dan terharu memandang jari-jari tangannya, seakan-akan mendengar perintah Buddha. Begitulah, pintu-pintu Gua Mogao pun terbuka lebar untuk Aurel Stein.

Setelah pintu terbuka dan isinya siap dikuras, tentu masih Jiang Xiowan yang membaca dan memilih di dalam tumpukan buku-buku tua itu, sebab Aurel Stein samasekali tidak mengerti bahasa Mandarin. Di malam-malam gurun yang dingin, ketika Aurel Stein dan Wang Yuanlu sudah tertidur, hanya tinggal dia sendiri yang membaca dan memecahkan kode-kode budaya untuk pertama kalinya setelah tersimpan lebih dari seribu tahun. Kedua pihak, pembeli dan penjual sama-sama tidak mengerti apa yang terkandung di dalam setumpuk-setumpuk lembaran kertas. Hanya dia sendiri yang mengerti, dia sendiri yang membuat keputusan diterima atau tidaknya sebuah kitab.

Demikianlah sebuah traksaksi yang paling tidak adil di dunia berlangsung, Aurel Stein menggunakan sangat sedikit uang untuk mendapatkan produk-produk budaya dari satu masa peradaban Cina yang berlangsung selama beberapa abad. Dan ini bahkan menjadi contoh sempurna untuk petualang-petualang dari beberapa negara kuat yang datang dengan sikap memborong barang murah dan ternyata memang dapat pulang dengan muatan penuh.

Ada sebuah kejadian yang perlu saya tuliskan di sini, suatu hari Wang Yuanlu merasa Aurel Stein sudah meminta terlalu banyak, dia lalu membawa sebagian kitab dan gulungan lukisan yang telah dipilih kembali ke ruang penyimpanan kitab, Aurel Stein meminta Jiang Xiowan pergi negosiasi, ingin menggunakan empat puluh tahil perak menukar kembali kitab-kitab dan gulungan lukisan itu. Ternyata Jiang Xiowan hanya menggunakan empat tahil perak sudah dapat menyelesaikan perkara ini. Aurel Stein sangat memujinya, bahkan mengatakan ini adalah sebuah kemenangan diplomasi Cina Inggeris. Jiang Xiaowan sangat bangga mendengar pujian itu, terhadap kebanggaan begini saya merasa sedikit mual.

Akhirnya, Alein Stein berhasil mendapatkan lebih dari sembilan ribu kitab Buddha dan sekitar lima ratus gulungan lukisan, semua ini dikemas ke dalam dua puluh sembilan peti kayu selama tujuh hari, unta dan kuda yang dibawa semula ternyata tidak cukup, dia kemudian memanggil lima kereta besar yang masing-masing ditarik oleh tiga ekor kuda.

Itu adalah satu senja yang sedih, barisan kereta mulai bergerak, Wang Yuanlu berdiri di sisi jalan mengantar. Aurel Stein ‘ belanja ‘ dua puluh sembilan peti barang-barang budaya langka, jumlah uang yang dikeluarkan untuk Wang Yuanlu, saya benar-benar tidak tega menulisnya, namun saat ini sudah seharusnya diungkapkan, nilainya jika ditukarkan dengan mata uang Inggeris, kurang lebih tiga puluh pounds! Begitu sedikit, tetapi bagi Wang Yuanlu sudah merupakan jumlah yang sangat luar biasa dibandingkan dengan uang yang dia dapat dari pemberian penduduk setempat yang serba kekurangan. Di dalam pikiran Wang Yuanlu, Aurel Stein adalah seorang dermawan dan tamu terhormat

Hal begini mungkin tidak hanya terjadi di Gua Mogao pada awal abad ke -20, di sekitar kita mungkin banyak hal begini sedang diam-diam berlangsung.

*

Al-Qifti, sejarawan abad ke-12 menceritakan bahwa ketika Mesir ditaklukan oleh Arab di tahun 641, Yahya al-Nahwi ( John Philoponus? ), seorang pendeta Koptik yang tinggal di Iskandariyah menghadap Amru bin Ash memohon agar buku-buku di dalam Perpustakaan Iskandariyah dapat diurusnya. Panglima menjawab bahwa dia tidak dapat memutuskan nasib buku-buku tersebut tanpa terlebih dahulu meminta petunjuk dari Khalifah Umar bin Khattab. Dan Khalifah menjawab: ” Buku-buku yang kau sebut, seandainya apa yang ditulis di dalamnya sesuai dengan Kitab Allah, kita sudah memilikinya, jika berlawanan, kita tidak memerlukannya, maka dapat dimusnahkan ” Konon, buku-buku yang berupa gulungan itu dikumpulkan dan diantar ke pemandian-pemandian umum sebagai bahan bakar, di sana, di tungku-tungku pemanas dibakar hingga enam bulan.

Sungguh cerita yang berwarna dan dramatis, hanya kebenarannya agak diragukan. Menurut Mostafa el-Abbadi, seorang pakar Klasik dari Mesir, kemungkinan al-Qifti menciptakan cerita ini untuk membenarkan tindakan Salahuddin Ayyubi menjual seluruh perpustakaan untuk membiayai perlawanannya terhadap tentara Salib.

Sekalipun cerita ini kemungkinan besar berakar Islam, namun diwariskan dan dijaga di dunia Barat sebagai ratapan Orientalis terhadap nasib peradaban Hellenistik di Timur Dekat.

Bagaimanapun ceritanya, buku-buku di Perpustakaan Iskandariyah kemungkinan selamat di masa Khalifah Umar, sebab ada sejumlah besar buku-buku perpustakaan ini kemudian dipindahkan ke Antiokhia yang dibawah Khalifah Umar II.

Ketika Dinasti Fatimiyah berkuasa di Mesir, Khalifah al-Aziz membangun sebuah perpustakaan di Kairo, berisi sekitar enam ratus ribu buku yang dijilid dengan indah, kemudian Khalifah al-Hakim menggabungkannya ke dalam perpustakaannya sehingga mencapai satu setengah juta buku. Namun, pada tahun 1068 ketika tentara Turki menghancurkan Kairo, sampul-sampul buku yang terbuat dari kulit bagus ini dilepas untuk dijadikan sepatu, sisa-sisa halaman buku yang tersobek dikuburkan di luar Kairo, dan tempat ini kemudian dikenal sebagai ‘ Bukit Buku ‘

Buku dan perpustakaan tumbuh pesat di setiap tempat yang dicapai Islam. Ibnu Sina memberikan kesaksiaannya terhadap perpustakaan yang menakjubkan di istana Persia. Di Baghdad, di Baitul Hikmah yang pada masa itu merupakan perpustakaan, pusat terjemahan, pusat penelitian, serta pusat perbandingan kearifan orang-orang dibawah Islam dari India hingga Semanjung Iberia. Di tempat ini, Banu Musa, tiga bersaudara merampungkan Kitab marifat mashakat al-ashkal, salah satu buku peletak dasar matermatika Arab. Di tempat ini, al-Hajjaj menerjemahkan Euklides, dan al-Khwarizmi, penemu aljabar membaca karangan-karangan matematika Hindu yang dikumpulkan perpustakaan kemudian mengadopsi sistem bilangan Hindu untuk kegunaan dirinya, melahirkan angka Arab yang kita kenal sekarang. Tetapi ketika langkah-langkah kuda perang Mongol menyerbu Baghdad beberapa ratus tahun kemudian, memporak-porandakan Baitul Hikmah, menghitamkan air ibu peradaban, Tigris dan Eufrat. Pikiran-pikiran cemerlang kembali menjadi tinta mengalir di dalam airmata hitam ibu peradaban. Mungkin di dalam reruntuhan kita masih bisa menemukan satu dua huruf yang telah hangus, atau mungkin kita akan sangka hanya potongan-potongan arang.

Di antara abad ke-13 hingga ke-15 sebagaian besar perpustakaan dunia Islam sudah hilang, dihancurkan oleh penakluk-penakluknya: tentara Turki, tentara Mongol, dan tentara Salib. Kaisar Habsburg, Charles V ketika menaklukkan Tunis memberi perintah semua buku dalam Bahasa Arab dibakar. Pada tahun 1492, setelah orang-orang Moor disingkirkan dari Spanyol, di seluruh Spanyol hampir tidak dapat menemukan buku yang berbahasa Arab.

Pembakaran buku terus terjadi sepanjang sejarah, dari Dinasti Qin di Cina hingga Hernan Cortes di Tenochtitlan, namun cara baru dan eksploitasi kerusakannya makin disempurnakan dan diujicoba di abad ke -20. Selain pembakaran buku dan penghancuran perpustakaa oleh Nazi, daftar kejadian begini di abad ke-20 bisa sangat panjang. Ketika Tentara Pembebasan Rakyat sampai di Tibet, ribuan buku-buku tua yang sangat bernilai dilempar ke dalam api, dan lebih sulit menceritakan kembali nasib buku-buku selama Revolusi Kebudayaan. Pada tahun 1981, nasionalis Sinhala menghanguskan ribuan manuskrip, buku daun lontar, dan buku-buku cetakan yang berada di dalam perpustakaan orang Tamil: Jaffna. Taliban beberapa tahun sebelum meledakkan patung Buddha di lembah Bamiyan, membakar dan menghancurkan lebih dari lima puluh ribu buku di Pusat Kebudayaan Hakim Naseer Khosrow Balkhi

Penyair Bosnia, Goran Simic menulis sebuah puisi untuk mengenang penghancuran Perpustakaan Nasional dan Universitas Bosnia oleh nasionalis Serbia di malam 25 Agustus, 1992:

huruf-huruf berkelana di jalanan

berbaur dengan orang yang berlalu-lalang dan roh-roh tentara mati

Ini bukan satu-satunya perpustakaan yang diserang nasionalis Serbia, tiga bulan sebelumnya mereka juga menghancurkan Institut Oriental Bosnia, dan ratusan perpustakaan, museum di seluruh Krotia, Bosnia, Herzegovina, dan yang terbaru Kosovo.

Di dalam sebuah buku, saya pernah membaca Andras Reidlmayer, seorang pustakawan dan aktivis Bosnia menceritakan cara lain membakar buku dari seorang temannya yang selamat dalam pengepungan Sarajevo. Pada musim dingin, temannya bercerita bahwa dia dan isterinya kehabisan kayu bakar, maka mereka mulai membakar buku untuk memasak dan menghangatkan tubuh.

” Ini memaksa seseorang harus berpikir kritis, ” temannya berkata, ” seseorang harus bersikap patriot. pertama, harus dipilih buku-buku teks perguruan tinggi, buku-buku ini mungkin sudah tiga puluh tahun tidak kau baca, selanjutnya baru memilih buku-buku duplikat. Namun, terakhir kau tetap harus membuat pilihan berat. Siapa yang akan kau bakar hari ini: Dostoyevsky atau Proust? ” Andras kemudian menceritakan bahwa setelah perang usai temannya masih menyisakan banyak buku, temannya memberitahu dia bahwa kadang-kadang dengan melihat buku-buku itu dia lantas memilih lapar

*

Sebuah meja bersama bangku hangus, menjadi arang. Ada sebuah buku putih di atas meja. Saya melihat beberapa saat gambar ini lagi, seperti dapat merasakan api yang melahap kayu dan suara kertas tersulut api. Saya teringat sebuah pertunjukan Yosuke Yamashita yang difilemkan dengan judul ‘ Burning Piano ‘ di tahun 2008 di sebuah pantai di Ishikawa. Ini mungkin dapat disebut sebagai pertunjukkan ulang, karena pada tahun 1973, ‘ Piano Burning ‘ dengan pemainnya yang sama sudah pernah difilemkan master desain grafis Jepang Kiyoshi Awazu

Beberapa saat setelah Yosuke Yamashita yang memakai helmet pemadam kebakaran mulai menekan tuts piano, asap sudah mengepul di badan piano, kemudian terdengar suara-suara yang terbakar berbaur di dalam dentingan piano. Api dengan cepat menjalar ke seluruh badan piano, bersamaan dengan itu suara piano sudah tidak terdengar jelas lagi, yang tersisa hanya semacam suara letupan kecil ketika kayu bertemu api, bersama satu dua suara ketukan piano yang terhempas, Terakhir piano samasekali tidak mengeluarkan suara lagi, dan yang terdengar hanya suara kayu terbakar dengan sedikit latar suara ombak yang sampai di bibir pantai.

Mengkremasi sebuah piano mungkin bisa berarti mengkremasi suara, jadi apakah membakar buku dapat dianggap mengkremasi tulisan? Saya tidak tahu, dan saya juga tidak berani menjawab. Yang saya tahu adalah sewaktu kecil, orang-orang tua di kampung kami setiap kali melihat kertas yang ada tulisan di jalanan pasti akan dipungutnya, tidak peduli sekalipun hanya sobekan koran bekas, kemudian dibawa ke kelenteng untuk dibakar di sebuah tempat pembakaran tulisan yang biasanya berada di samping tempat pembakaran kertas sembahyang. Walaupun kebanyakan mereka buta huruf, namun setiap kali saya bertanya mengapa kertas-kertas itu harus dibakar, mereka akan mengatakan dengan hati-hati bahwa itu bukan sekedar kertas, tetapi adalah kertas yang ada tulisan di dalamnya, ada pikiran di dalamnya, bagaimana bisa dibiarkan tergeletak di jalan dan diinjak. Begitulah sebuah tulisan dijaga dan dihormati dari generasi ke generasi.