Arsip Tag: metafora perjalanan

Perjalanan ke Bulan

Fiksi Kilat Merry Fatma

 

gadis rembulan
gambar diunduh dari bp.blogspot.com
Hari ini ada seorang teman yang sedang melakukan perjalanan ke bulan. Aku diam, tidak mengucapkan selamat berpisah padanya. Aku yakin, perjalanan ke bulan ini tidak berarti untuk selamanya, kami akan bertemu lagi. Tetapi alasanku bukan itu. Aku tidak mengantar kepergiannya, toh, nanti kami akan berjumpa kembali. Sekali lagi, bukan karena itu.
Sore ini mendung begitu pekat di langit kotaku. Aku tidak begitu tahu apakah perjalanannya baik-baik saja. Dengan enggan kuambil telepon genggam, penasaran ingin tahu kabar darinya.
Teman, bagaimana perjalananmu?
Secepat kilat di antara mendung yang pekat, kuketik deretan huruf lantas kukirim ke nomornya. Oh ya, begitu lama kami tidak saling bicara. Biasanya jika tiga hari saja kami tidak saling bertegur sapa dia akan meledekku: sombong.
Aku kira, ini sudah lebih dari selamanya kami tidak saling bicara. Apa pun alasannya, ini sudah salah. Seperti ada semacam pengkhianatan perjanjian tidak tertulis yang telah kami sepakati bersama. Aku mencoba mengingat hari-hari yang lalu, ketika segala serupa pelangi terbit usai hujan reda. Memang, aku yang menjauh saat itu. Aku mengaku. Aku terlalu cemburu perlakuannya pada teman-temannya selain aku.
Kami sudah lama bersama, baik jika engkau tahu, itu lebih dari akrab dengan kata berdua. Tentu saja ada rasa tidak rela saat satu atau dua atau bahkan serombongan teman-temannya hadir di antara kami. Apalagi kemudian aku tahu, ada salah satu yang istimewa baginya.
Barangkali ini sudah salah. Tetapi debar di dadaku lebih menggelegar dari guntur di mendung sana. Aku deg-degan menanti balasan darinya.
Tentu saja sudah kuperkirakan sebelumnya bahwa sudah tidak ada lagi yang istimewa di antara teman-temannya. Aku yang lebih dulu, seharusnya aku yang paling istimewa. Akan tetapi soal hati siapa yang tahu, bukankah cinta tidak lantas tertuju kepada siapa yang datang lebih dahulu?
pip,pip,pip… Pesan balasan darinya.
Baik-baik saja. Sombong sekali baru menyapa sekarang. Ke mana saja?

Bah, memang pada awalnya aku yang menjauh darinya. Tetapi bukankah dirinya juga tidak mencariku? Tidak merasa kehilangan aku? Aku berharap di bulan juga sedang mendung. Seperti di sini, lalu gerimis. Semoga dia tidak lupa membawa jas hujan.
Ada pelangi di ujung sini, cantik sekali. maaf aku lupa pernah berjanji untuk mengajakmu kemari.
Pesan lagi darinya. Satu permintaan maaf. Tanpa sesal. Tanpa usaha memenuhi janji. Sudahlah. Dia tinggal lama di bulan pun tidak mengapa. Aku cuma akan berdoa untuk kesehatannya. Dan untuk sisa waktunya di bulan, yang katanya akan ia gunakan untuk melakukan penghijauan.
Mengenai sisa perasaanku ini, kuusahakan untuk mengalirkannya perlahan-lahan, ke sungai. Supaya kelak bermuara di lautan, menguap kemudian menjadi hujan. Semoga kelak hujannya akan turun sampai ke bulan. Menemani perjalanannya.
 
 
*) Merry Fatma, saat ini tengah berkutat menyelesaikan skripsi di sebuah perguruan tinggi negeri di Yogja.
Iklan

Narasi Sungai

Puisi Ahmad Yulden Erwin

Sungai adalah sebuah metafora dari perjalanan, sedetik yang mengalir di ujung jemari waktu, kemudian bergeser, meluapkan tepi-tepinya, tertawa dan menangis, mencatat gigil terakhir di antara dua alir mata air. Meski angin mungkin saja berjinjit di antara ranting-ranting waru. Seekor belalang menatap tenang puncak sekeping batu. Air mengalir. Tepian penuh gelagah, sangkik plastik, kaus kaki hitam, dan angin yang jatuh menembus daun-daun waru dan sayap belalang dan, seperti tak percaya, sebangkai mimpi yang terapung di tengah permukaan sungai — timbul tenggelam. Kau bertanya: Masih lama? Aku menjawab: Entahlah. Angin memeluk arus di tepian sungai. Laut membayang dalam mimpi arus sungai. Kita seperti berada dalam lingkaran, katamu. Akhir menjadi awal yang baru, kataku. Kau melangkah perlahan ke dalam mataku. Aku melangkah perlahan ke dalam senyummu. Aku mesti pergi, katamu. Aku mesti kembali, kataku. Sepasang sayap kecici itu berkepak terbang, menyeberangi sungai yang mengalir di antara jejak-jejak kaki, melupakan arah mata angin. Kau tak ingin menunggu? tanyaku. Seperti batu yang dikutuk itu? jawabmu. Dua bayangan itu tertawa dalam mimpi bangkai seorang pemburu yang terapung di tengah sungai. Kupikir kita berdua telah menemukan sesuatu, katamu. Atau telah kehilangan yang bukan-sesuatu, kataku. Sungai di antara dua mata air itu bertemu. Sepasang mata mendekap lindap dua bayangan di bawah pohon waru. Masih lama? tanyaku. Entahlah, jawabmu. Aku pergi, kataku. Aku pulang, katamu. Kita cuma bertukar tangkap dengan lepas, katamu. Entahlah, kataku.

 

melankoli sungai
gambar diunduh dari facebook Ahmad Yulden Erwin

Kita berdua melompat ke sungai itu. Timbul tenggelam. Sesaat. Kemudian kau mengayuh mataku. Aku pun mengayuh senyummu. Aneh juga, kita berdua seperti mencecap sedikit rasa garam di arus sungai itu. Seperti di muara? tanyaku. Sudah dekat? jawabmu. Keraguan kita berlompatan seperti dua ekor mujair yang mengejek kail seorang pemancing. Selembar daun waru tua terambing di permukaan sungai. Mungkin sedang menuju muara yang entah di mana. Mungkin rindunya pada laut di ujung muara tak habis memantulkan cahaya matahari, di antara gelembung arus, yang berteduh di sela rumpun gelagah. Kita bukan pencari, katamu. Hanya sepasang peziarah, kataku. Lalu kau teringat perayaan musim panen padi tahun lalu. Dan aku teringat sewaktu angin pagi melepas kuntum-kuntum bunga layu tenggelam di telaga itu. Terlalu sepi di sini, katamu. Terlalu piuh di sana, kataku. Kita tahu, ada yang tak mungkin kembali, meski kita telah bersiap untuk melangkah pergi, menatap ke belakang setiap jejak kaki, di jalan setapak berlumpur itu, tanpa perlu merasa perih, tanpa perlu merasa kehilangan…