Arsip Tag: musim semi

Musim Semi, Deru Ombak

Puisi John Kuan

sendiri di pantai
gambar diunduh dari amorimagenes.net

Musim semi, jalan raya, tepi laut

濤 聲 迴 盪 兮 臘 月 的 街 巷
[ tāo shēng huí dàng xī là yuè de jiē xiàng ]
Dibalik selembar cahaya terkurung 70 tahun
demikian kau berkata. Deru ombak patahan
sajakmu, terus bergaung dari Minguo 32 tahun
hingga hari ini, bahkan bergulung berputar keluar
percikan buih-buih huruf Latin ku kenal:
[ Ah, deru ombak lorong-lorong Bulan Pertama ]

 Aku melangkah di jalan imlek, angin laut bersiul

Pada jamanmu disebut Lorong Taopekong, lurus
menembus Lorong Pisang menembus kain gendongan
nenek mendekap aku nanar di depan Jalan Merdeka
kembali bercahaya setelah dihangus tahun 1959
Aku menembus timbangan karet mentah, arang bakau
tepung sagu, ikan asin, udang kering, mungkin
di atas meja kasir remaja bersinglet putih ini, kau
menjentik sempoa sambil merancang sepatah sajak

Melewati Hok An Kiong, sehabis hujan, jalanaan berpijar

Bagai berulang kali ditulis, variasi baris-baris puisi kita
terus menunggu tanpa peduli betapa jauh jalan gunung
jalan laut pengembara. Datang di tepi pantai ini ( kupu-kupu
istirahat di atas bunga liar dalam rindang pokok kelapa,
seolah julur tangan bisa tangkap ), bersiul perlahan,
bernyanyi melengking, semalam penuh kaki-kaki joget
dan kini mulai berserpih. Sehabis cahaya pagi, aku melihat
tangan-tangan berpukat melewati gulungan ombak.

Angin, mengibas laut musim semi bagai lembaran partitur

Kami petik senar petik kelapa, kami petik awan juga
berselancar nada ikut ayunan ombak. Kami bakar dupa,
kami tuang arak, kami panggang sajak bau samudera.
Angin senja bersiul, laut yang agung memberi kami
sebuah mesin peras, dengan gema gulungan ombak,
desir pelepah kelapa, memori putaran rumah keong
membantu rongsokan mimpi, perangkat keras hidup kami
diperas jadi jus dibawa angin, jilat telinga, lidah, dan dahi

Ah, musim semi, resmi dan sehat berdesir lagi

pecah di udara jadi lonceng es lilin, yang menolak
leleh kami jilat jadi puisi, jadi berbagai bau dermaga
dan kapal, pernah membawa kau pergi atau pulang
mengikuti asap dupa, mengikuti bintang Serigala Langit
melewati sederet tebing terjal, selaut angin amis,
sungai tenang, jerit siamang, seekor kupu-kupu di rawa
hutan bakau, sebab indah, tanpa maksud atau tanpa daya
jatuh di dalam cahaya celah dedaunan, menolak kepak sayap

Iklan

Perawi

Puisi Ahmad Yulden Erwin

Di Portland yang dingin, sepasang gagak
               menolak menjadi angin. Matamu tersedak
mencari langit yang lain. Fajar musim semi
                 mematuki embun di putih kuntum cherry.
Hitam paruh gagak mengepak ke batang
               pohon oak. Kuning napas waktu merayap
di kerah jaketmu. Matamu telah terjepit
               di ruang tunggu. Derit kereta menjemput
jerit gagak. Para penumpang menjemput
               jerit yang lain, senyap yang lain. Tak ada
angin akan menjemput hitam sayap gagak
            ke hijau bukit itu. Sebuah teluk terbentang
ke dalam matamu. Kausesap bau ombak
               dengan kulitmu. Kautangkap jerit senyap
dengan bibirmu. Langit menjadi lidahmu.
foto yulden erwin
Foto diambil dari album Ahmad Yulden Erwin

*Perawi: orang yang menyampaikan kabar bahagia.

Bukan Sekali Duduk di Mulut Jendela

Cerpen John Kuan

*

1

lelaki di balik jendela
Gambar diunduh dari kolomkita.detik.com

Di luar jendela adalah Central Park. Pepohonan yang gugur habis dedaunan di dalam musim dingin menjulur hingga jauh dari bawah telapak kaki, menampakkan semacam sapuan warna keabuan ranggas dan kuning keemasan, di dalam diam senyap mengisyaratkan daya hidup yang tak terhingga. Pencakar langit di sisi dua jalan besar sebelah timur dan barat taman berdempetan naik turun seolah bergerak pergi, menatap ke bawah hamparan pepohonan itu. Langit adalah abu-abu diselingi warna biru muda. Pukul delapan pagi, mungkin bertepatan dengan hari minggu, kau akan merasakan New York adalah mati kaku, seperti baru saja terjadi sebuah kudeta, diam-diam dirasuki sedikit gelisah dan teror, orang-orang berada di dalam rumah menunggu, mengamati, tidak tahu apa yang mesti dilakukan, tidak tahu bagaimana mengurus satu hari ini, waktu sehari penuh ini.

Dari lantai enam belas memandang ke bawah, jalanan seakan kosong luas terbentang. Lampu lalu lintas masih berkedip seperti biasa. Di seberang jalan ada dua patung perunggu, dua-duanya adalah penunggang, dengan gaya pamer perkasa pamer wibawa, menebarkan hijau murung yang kuno, topi tentara dan tapak kuda membentuk sudut yang agak menggelikan, keseimbangan yang tak terkira. Pedang panjang penunggang menunjuk ke bawah, saya konsentrasi memandang ke arah itu, di bawah ujung pedang yang tajam ada dua lelaki mengelilingi sebuah drum sambil berloncat, di dalam drum dihidupkan segumpal api yang penuh asap, mungkin koran kemarin, dipungut dari tong sampah. Mereka menyulut koran dengan api, lalu berdiri di sisi drum mengambil kehangatan, mengerutkan leher menggosok telapak tangan, sesekali meloncat, juga berbicara, namun saya tidak dapat mendengar apa yang mereka ceritakan. Api berkobar sejenak kemudian melemah, mereka bergilir pergi mengorek ke dalam tong sampah yang di sisi jalan, setumpuk-setumpuk koran dilempar ke dalam drum, asap putih tiba-tiba memanjat naik, di pagi yang dingin beku, di satu pojok taman, di bawah ujung pedang patung penunggang perunggu.

Merpati-merpati yang bangun pagi berpencar terbang datang.
Merpati-merpati lalu mendarat di lapangan, senyap sekali.

2.

Saya menarik sebuah kursi ke mulut jendela, duduk menguji kesunyian. Beberapa orang di kamar lain sedang berbicara tentang masalah kebebasan berpendapat. Sesungguhnya tidak ada yang perlu dibicarakan, sebab mereka saling menyetujui, hampir sepenuhnya saling menyetujui, kebebasan berpendapat adalah hak asasi, semuanya seperti berebut mengatakan, samasekali tidak bisa diubah dan sebagainya dan sebagainya. Mereka seperti bukan sedang bertukar pendapat, tetapi lebih mirip bertukar logat masing-masing. Sesekali terdengar ada suara mengaung: Chauvinism!

Sekarang di atas jalan yang membelah taman mulai ada beberapa mobil bergerak pelan-pelan, keluar masuk di antara pepohonan. Langit menampakkan sekeping biru, cahaya matahari dengan hangat menyorotinya. Di telingaku terdengar gaung suara orang-orang berbicara, tanpa henti, penuh diselingi suara gelas berbenturan dengan es batu, dan suara batuk yang sesekali melayang naik. Semua ini mengapung di dalam ruangan, cahaya lampu memenuhi hingga ke setiap sudut, dan di luar jendela adalah diam senyap.

Mereka bergiliran mengeluarkan pendapat, sepenuhnya saling menyetujui.

3.

Sore itu saya kembali ke mulut jendela melihat Central Park, pepohonan, dan pencakar langit yang berkilau di dua sisi. Hari itu sejak pagi, matahari masih belum mengundurkan diri. Di jalanan kian bertambah pejalan kaki, bahkan ada beberapa pedagang sedang menjual sweeter di mulut pintu taman, sehelai-sehelai digantung di minibus, berwarna terang, membuat orang berhalusinasi musim semi telah tiba.

Tapi musim semi belum tiba, atau mungkin sudah tiba. Saya melihat danau kecil berbentuk bulan sabit di dalam taman, setelah lama membeku, ternyata mengepak beterbangan beberapa ekor merpati yang riang. Merpati bermain air di beberapa bagian permukaan danau yang sudah mencair, bolak-balik menjulang menusuk, begitu mendekati permukaan air mengepak sayap mereka, cepat dan bernyali, menebarkan percikan air yang tak terhitung, begitu semangat bergiliran mengepak sayap, berebutan, tidak juga takut air danau yang baru mencair terlalu dingin.

Saya berdiri di tempat tinggi. Seumur hidup ini masih belum pernah melihat pemandangan yang begitu nyata, mencairnya sedanau air, setelah air danau itu menutup diri karena terlalu lama menahan dingin, setelah terkejut jadi retak-retak, tiba-tiba karena ada aliran hangat lewat, ternyata bisa juga dengan diam-diam mencair dari dalam, bahkan meluap keluar segenang air jernih, sekalipun di saat orang-orang bergegas memburu perjalanan, atau agak bosan terpaksa berdagang keliling sweeter, atau mengurung di satu sudut lantai tinggi berdiskusi Whitman, berdiskusi sastra anak-anak, memetik, meminjam, menghempas dengan keras sebuah ungkapan, mengisap rokok dengan gelisah, agak panik menggunakan Bahasa Inggris, sedang menguji-coba perlunya perdebatan dan unjuk diri, satu musim semi tiruan seakan telah tiba, air danau telah mencair, merpati dari tengah jalan terbang masuk ke dalam taman, sedang membersihkan sayap mereka di permukaan air yang dangkal.

Di bawah cahaya matahari musim dingin yang hangat dan warna-warni, merpati mengepakan sayap mereka dalam tempo cepat, gayanya yang bernyali itu bahkan membuat orang lupa bahwa sesungguhnya mereka mesti termasuk salah satu jenis burung berwarna abu-abu, sekarang tanpa henti memamerkan bulu-bulu mereka yang putih bersih, yang tersembunyi di tempat yang paling mendekati darah dan tulang, pernah di dalam dingin beku mempertahankan sedikit kehangatan. Saya dari atas menatap ke bawah, seolah mendengar sepotong alunan piano yang jernih, jari-jari tangan lentik bergerak berloncat dengan cepat beterbangan di atas tuts-tuts hitam dan putih, hanya melihat kumpulan merpati mendekati permukaan danau berputar, menusuk ke arah air jernih yang baru mencair, mengepak dengan sayap-sayap bergelora, menebarkan percikan air yang menyilaukan mata, berpijar bagai api.

*

See, they return; ah, see the tentative

    Movement, and the slow feet,
    The trouble in the pace and the uncertain
    Wavering!

 

      ——— Ezra Pound

1.

Saya ingin berbicara denganmu, dengan cara begini. Saya ingin duduk begini, duduk di mulut jendela, di luar hujan masih terus turun, seolah belum pernah berhenti sejak tadi malam. Di luar jendela kamar penginapan, langit dan bumi basah kuyup, dinding-dinding gedung tampak berwarna kuning pupus, jejak-jejak air malang melintang tercetak di atasnya, bergetar di dalam lembab dan dingin. Di satu sudut yang agak jauh tegak sebatang tiang bendera yang luar biasa besar, bendera yang terlalu lama direndam air hujan, menumpuk jadi segumpal kain basah dan berat, walaupun warnanya tampak jelas, tetapi lelah tergantung di sana, samasekali hilang semangat. Lebih jauh lagi apapun sudah tidak kelihatan, bersembunyi di belakang hujan senja, ada sedikit bayangan agak kabur, mungkin atap restoran, atau papan reklame, atau antena. Saya sesuka hati menyapu pemandangan di luar, ada semacam perasaan yang aneh: Bagaimana bisa bertemu dengan cuaca yang begini lembab, di Taipei?

Saya coba mengatur kembali pikiran yang kacau.

Hanya kacau saja, tidak apa-apa, bukan, bukan, bukan tidak senang, bukan gelisah.

Saya sudah lupa kapan pertama kali berkunjung ke kota ini, lima belas tahun yang lalu? Atau lebih? Musim panas tahun itu saya seorang diri datang ke kota ini. Kita berjanji bertemu di sebuah kedai kopi, seperti biasa, cerita-ceritamu membuat seluruh perjalanan menjadi ringan. Saya mesti mundur lagi lima tahun, teringat malam pertama kita, di atas sepuluh ribu kaki, membelah Lautan Teduh, saya ingin mengajak kau bicara, bersama-sama membunuh waktu yang tak terhingga di dalam sebuah penerbangan panjang, namun kau mati-matian menggenggam sebuah injil, membenamkan diri ke dalam cerita-cerita kudus, saya tidak tahu harus masuk dari celah sebelah mana. Akhirnya saya mengambil resiko dengan beberapa buah puisi, sebotol tabasco dan sesungai cerita ikan salmon melawan arus mempertahankan spesiesnya. Ternyata ampuh, kau mencair jadi searus air jernih, sebuah nyanyian merdu dari lembah yang hening, tanpa henti, dari Taipei hingga Anchorage hingga Seattle hingga New York, saya disihir jadi pendengar tak terhingga, dan kau tetap adalah gadis dari sekolah katolik yang ingin menjadi santa.

Kau membawa saya keluar masuk lorong-lorong sempit, bercerita tentang rencanamu pindah ke San Fransisco, membeli sebuah rumah di tepi laut. Kita berputar dan berputar lalu keluar di sebuah jalan yang cukup lebar, saya masih pendengar tak terhingga, tetapi di saat matahari senja dengan potongan-potongan besar cahayanya menumpah di atas bangunan di satu sisi jalan hingga terang dan mewah, konsentrasiku pecah, sedikit tersentuh melihat bangunan itu berkata:

” Matahari ini sungguh bagus ”

” Memang bagus. Begitu terang. Begitu hangat. ”

” San Fransisco pasti juga begitu. ” Saya berkata: ” Sesungguhnya belum pasti. Ada orang merasa California semestinya begini atau begitu, namun sering bukan demikian. Nathanael West pernah menulis sebuah novel… ”

” Novel apa? ”

” Judulnya sudah lupa. Begini kira-kira ceritanya, ada seseorang yang sejak kecil seluruh harapannya tertuju ke California. Dia tumbuh besar di sebuah kota kecil di Midwest. Dia berpikir, California sama dengan buah orange dan sinar matahari, dan sebagainya, dan sebagainya. Akhirnya dengan susah payah dia sampai di California — mungkin California Selatan — baru menyadari bahwa bukan di setiap tempat dapat menemui buah orange dan sinar matahari. Mungkin saja ada buah orange dan sinar matahari, namun juga ada hal-hal lain, seperti berbagai macam kekerasan, penipuan. Dia sangat kecewa. ”

” Lalu? ”

” Sangat kecewa, lelah, sedih. ”

” Lalu? ”

” Lalu mati. ”

” Mati? ”

” Mati. ”

Kau berkata bahwa saya benar-benar tidak pandai bercerita. ‘ Lalu mati ‘ bagaimana bisa dianggap sebagai penutup novel? Saat itu kita berputar masuk ke jalan lain, pelan-pelan bergerak ke depan menghadap matahari senja, seperti tak berujung, seperti menuju rumahmu yang di tepi laut, di San Fransisco itu. Kau kelihatan begitu bersemangat, mulai mendeskripsikan bagaimana dan bagaimana rumahmu yang di tepi laut itu. Saya kehilangan konsentrasi. Bukan tidak berminat, saya sangat nyaman memandang jalan yang terhampar di depan, cahaya matahari senja yang berpijar jatuh menutupi seluruh jalan, memantul di atas rumah-rumah bergaya kolonial, genteng merah, tembok putih, pagar rendah dan pohon hijau bunga merah. Kau terus mendeskripsikan rumahmu yang di tepi laut, saya hanya menyahutnya, tidak henti-hentinya mengangguk.

2.

Saya membawa sebuah payung hitam turun ke jalan, keluar masuk lorong-lorong, berputar dan berputar, tergesa-gesa menyeberang, saya ingin begini berbicara denganmu, dalam suara hujan, dalam suara nafas saat berjalan, mobil-mobil bergerak pelan dan senyap, samasekali tidak terdengar suara mesin. Air hujan yang jatuh di atas payung, menimbulkan suara tumpul yang menggema, membuat saya terasa begitu aman, benar-benar aman. Di atas trotoar bata merah orang lalu lalang, tidak kelihatan ada raut wajah tidak bahagia. Taipei telah hujan. Muka toko besar maupun kecil semuanya bergantungan butiran air dan uap, namun di dalamnya masih seperti biasa, banyak orang berdiri atau duduk, sedang memilih lagu-lagu di dalam cakram, sedang menutup dan membuka buku, sedang memperhatikan sebuah baju rajutan, sedang mencoba sebuah topi, sedang tertunduk menyeruput sup, sedang dengan sendok keramik menikmati pangsit rebus, ada orang angkat kepala minum anggur, matanya menatap lurus keluar jendela, tepat mengenai saya. Di sudut lobi sebelah sana, terpisah sebuah meja ada lelaki berbicara dengan perempuan, di dinding tergantung beberapa lembar poster, selembar adalah New York, selembar adalah Brussel, selembar adalah Sydney, selembar adalah Bali.

Saya samasekali tidak ada ekspresi tidak senang, sesungguhnya saya sangat senang, saya dan kau yang hidup di dalam nafasku, kita cukup tidur, kondisi prima, samasekali tidak ada masalah jetlag. Saya tertarik memperhatikan orang-orang yang berjalan di trotoar, berani pastikan yang menyeberang ke sana kemari sebagian besar adalah turis, turis semacam diriku, di musim dingin, karena suatu keperluan harus melakukan perjalanan, mungkin bisa menemui sedikit kesulitan, mungkin juga tidak, dan dengan santai sudah mendarat di Taipei.

3.

Di hari kedua hujan sudah berhenti, saya masih juga keluar masuk lorong-lorong, berputar dan berputar. Orang-orang telah mengatupkan payung pegang di tangan, agak ringan mengayunkan kaki, lihat sana lihat sini. Dari satu sudut jalan yang agak jauh meniup datang sedikit suara seruling atau alat tiup lain, orang-orang mengitari satu pojok itu, kelihatannya seperti turis, iya, turis yang mirip diriku dan dirimu ini. Saya menpercepat langkah, sebab musik itu menarikku. Seorang polisi muda dengan seragam biru berputar keluar dari samping lalu bergerak maju serentak bersamaku. Dia mungkin juga tertarik oleh musik itu, matanya menatap lurus ke pojok jalan yang ada kerumunan. Suara musik kian dekat, nada yang tidak asing, seperti nyanyian, sahutan, keluhan orang Indian, juga seperti nyanyian Spanyol, membawa sedikit irama religi abad pertengahan yang bertahan hingga hari ini, displin agama Katolik dan puasa agama Islam, seolah, atau mungkin, adalah penyatuan syair dan nada itu, semacam harapan dan permohonan yang berulang kali ditumpuk, bermaksud, bersabar, dengan irama cepat disiarkan kemari, menceritakan, seolah, atau mungkin saja, seolah menceritakan sepotong dan sepotong kisah yang hampir sama, yang terjadi di dataran tinggi, di dalam lebat hutan hujan, di dalam sungai besar yang menggemuruh, di padang datar dan bukit yang dekat laut berangin, seorang lelaki dan perempuan saling mencintai, ternak diam-diam memamah rumput, di atas dahan burung-burung bercericit, dua ekor elang berputar di langit biru, di dalam dusun lelaki sedang menimba air sumur, sedang memperbaiki tapal kuda, sedang memberi makan keledai, perempuan-perempuan duduk menjadi lingkaran, di bawah pohon rindang sedang mengupas kacang, rambut tebal dibiarkan jatuh di pundak, di belakang punggung, di dalam gelap menembus sedikit keemasan misterius.

*

Begitu masuk saya langsung terpukau dengan semua yang ada di luar jendela, merasa kapan saja buka mata memandang keluar, seperti bisa diduga, akan terjadi sesuatu, misalnya matahari pagi dan cahaya senja bagaimana timbul tenggelam, awan dan angin bagaimana berubah, warna pulau-pulau, jejak kapal melintas, bahkan mungkin saja dapat melihat kibasan ekor ikan hiu — konon perairan ini adalah tempat ikan hiu berkembang biak. Tempat ini di ketinggian lantai sembilan, seandainya memiliki cukup kesabaran, bisa saja memandang hingga sangat jauh. Awalnya memang demikian, terhadap penorama asing ini memiliki semacam pandangan yang polos, tulus, antusias, romantis, oleh sebab itu tidak henti-hentinya mengatur jarak pandang, semoga dapat melihatnya dengan sangat teliti, paling bagus adalah teliti namun tidak begitu jelas; semoga membiarkan ia memelihara sedikit misteri, sehingga saya bisa bertahan lebih lama mencarinya, karena tidak mengerti maka lebih ingin mencari, tentu saya tidak tahu apa yang dicari, atau kenapa pernah mencarinya, sekalipun antusias, romantis.

Hampir tengah hari, saya ingat adalah di saat matahari tengah hari sedang berpijar, saya berjalan ke arah mulut jendela yang di sisi pintu kaca menuju balkon, pasti kelihatan lelah dan serius, wajah yang baru keluar dari tumpukan buku kurang lebih mesti begitu, dan di dalam ruangan sunyi senyap. Saat itu, cahaya matahari yang dipantul masuk dari arah tenggara sudah mundur habis, namun di empat dinding masih berpijar kehangatan, mungkin ditebarkan oleh bayangan air berkilau di permukaan laut yang jauh. Saya melihat seekor elang.

Dia begitu nyata berdiri di sana, di atas pagar balkon, mungkin hanya sedepa di luar pintu kaca, membuat saya demikian terkesima memandangnya, lalu dengan lirikannya yang mempesona memandangku sebelah mata, seperti samasekali tidak mengacuhkan, elang memandang saya sekali lagi, matanya persis seperti mata barbar yang dinyanyikan Du Fu, tapi kepalanya berputar lalu berhenti menatap air laut yang berpijar, lama sekali, baru memutar kembali, tetapi pasti bukan demi melihatku, dia begitu kanan kiri berputar mengamati, saya pikir itu hanya semacam gaya angkuh bawaan, refleksi pundak dan leher, tegar, tegas, berwibawa. Saya menahan nafas melihatnya, dia berdiri di dalam cahaya matahari, di belakang pagar balkon yang berwarna hijau apel adalah biru air laut yang luas, dan langit yang tak terhingga, menampilkan sebuah latar yang amat misterius sekaligus sangat biasa, timbul tenggelam berjalin dengan alunan tipis musik yang seolah dekat seolah jauh. Saya melihat, mendengar semua ini.

Elang begitu saja berdiri di atas pagar balkon, memamerkan pada saya gaya indahnya yang lengedaris. Kepalanya kokoh, warnanya hijau keabuan membawa sedikit kuning gelap; kedua matanya bergerak sangat cepat, dan paruhnya yang melengkung seperti setiap saat dapat melumpuhkan ular dan kalajengking di padang tandus. Bulu-bulu di sayapnya berwarna terang, mengikuti corak kepala dan leher menjulur, menutup, setiap helai bulu mungkin saja telah diatur, disusun, tidak ada sedikit pun kekusutan, berlawanan, begitu teratur, begitu tenang, terpenjam istirahat, samasekali tidak menaruh perhatian terhadap antusias dan eksistensiku. Dengan cakarnya yang laksana besi bagai rantai erat-erat mencengkeram pagar balkon, lihat kanan lirik kiri.

Mungkin di dalam hati terbesit berbagai macam bentuk dan suara yang berbeda. Atau mungkin di satu dunia lain yang jauh, saya juga pernah bertemu dengannya, dengan antusias, kaget, dan satu ketulusan yang sama untuk mengingat dia selamanya, dan menangkapnya, tidak perlu jaring perangkap atau anak panah, gunakan puisi:

Dengan kedua tangan bengkok dia cengkeram tebing;
mendekati matahari di tanah yang agak sunyi,
selingkaran dunia biru mengitarinya, dia berdiri

Laut penuh kerutan merayap di bawahnya;
dari sebaris dinding gunung, dia memandang,
lalu berguling jatuh, bagai halilintar membelah langit

——— Alfred, Lord Tennyson

Elang seketika seperti terganggu, sejenak setelah saya membisikkan enam baris serpihan puisi Inggeris ini, menghadap sepuluh juta garis cahaya emas yang bergetar, dia benar-benar menggulingkan tubuh jatuh, membuka sayap, begitu ringan, merentangkan kedua sayapnya yang kokoh, menggores langit, pergi.

Membaca Puisi Mbeling Meng Jiao (751-814)

Gerundelan John Kuan
Sambungan dari Dunia Tang yang Dingin dan Pahit di dalam Puisi Mbeling Meng Jiao ( 751 – 814 )

dunia dinasti tang
Gambar diunduh dari mw2.google.com

Nyanyian Perpisahan

Awan putih mengayut di gunung pinus,

kiambang sungai terpencar dibawa arus.

Awan pergi ada kalanya terbang kembali,

air berpisah tiada muara bertemu lagi.

Hamparan rumput musim semi letihkan mata,

pemandangan ini membuat badan lunglai

Dedalu sedang mengayam pilu perpisahan

ah, bahkan lebih seribu sulur ikut berjuntai

古离别

松山云缭绕,萍路水分离。

云去有归日,水分无合时。

春芳役双眼,春色柔四支。

杨柳织别愁,千条万条丝。

Nyanyian Si Anak Hilang

Benang di tangan lembut ibunda,

adalah baju di badan si anak hilang.

Sebelum berangkat dijahit rapat-rapat,

risau si anak terlambat ingat pulang.

Siapa bilang tunas rumput seinci

mampu membalas cahaya satu musim semi?

游子吟

慈母手中线,游子身上衣。

临行密密缝,意恐迟迟归。

谁言寸草心,报得三春晖。

Keluhan

Coba adu airmataku dan airmatamu,

di dua tempat menetes ke air kolam.

kita akan lihat bunga lotus tahun ini,

demi siapa mati direndam asin

古怨

试妾与君泪,两处滴池水。

看取芙蓉花,今年为谁死。

Nyanyian di Tepi Kolam

Di tengah kolam daun ekor kucing bagai selendang, chesnut air matang

ungu bertanduk, bongkol lotus penuh dan montok. Gadis bergaun sutera

selendang setipis sayap tonggeret bersandar, angin disambut sampan

dikayuh, sepasang-sepasang burung cendet kaget terbang ke timur

临池曲

池中春蒲叶如带,紫菱成角莲子大。

罗裙蝉鬓倚迎风,双双伯劳飞向东。

Suatu Hari di Musim Semi

Tetes hujan jatuh, rumput berhambur

keluar sambut, sehari makin panjang sehari

Angin meniup sulur-sulur dedalu gemulai

bergoyang, satu ranting bersambung satu ranting

Hanya dia berwajah galau, sebelah mata

memandang musim semi. Mari tuangkan

arak hingga cawan meluap, nyanyikan

nada setengah tawa, setengah gila.

春日有感

雨滴草芽出,一日长一日。

风吹柳线垂,一枝连一枝。

独有愁人颜,经春如等闲。

且持酒满杯,狂歌狂笑来。

Renungan Musim Gugur

( 15 nomor pilih 6 nomor )

1.

Tulang sepi ini sulit lelap di malam.

Nyanyian serangga saling menyayat

Tangisan renta sudah lama kerontang,

tinggal embun musim gugur menetes untuknya

Masa muda sekejap tercecer, bagai di mata

gunting, dan tua datang seperti menenun

tak bertepi, aku menyentuh ujung benang.

Hati tanpa riak baru, kenangan merayap pilu

Bagaimana tega naikkan layar ke selatan lagi,

mengembara gunung dan sungai masa lalu

2.

Wajah bulan musim gugur berwarna dingin,

semangat seorang pengembara tua disapu tipis.

Embun gigil jatuh menetes koyak mimpi, angin

bergerigi menyisir ke dalam tulang, dingin

tikar penuh cap stempel sakit, segulung-gulung

risau berputar di dalam dada terpilin. Takut ini

tiada ruang bersandar lagi, seperti hampa

aku mendengar suara dari antah berantah

Pohon wutong meranggas, ranting bergesek

suara menggema bagai ratapan kecapi

4.

Musim gugur tiba, aku makin tua dan miskin

gubuk bocor bahkan hilang daun pintunya

Sekeping bulan jatuh di tepi di ranjang, dinding

membiarkan angin menyusup ke dalam baju

Mimpi renggang tidak lagi bergerak jauh,

hati rapuh ini mudah menemui jalan pulang

Bunga di ujung musim siap berpisah daun

hijau, gemulai memamerkan bias warna terakhir

Kian jarang bawa hati menginjak setapak dusun,

derita badan ingin mengelabui segala benda

Serangga bersembunyi di antara batang dan akar

rumput, gairah hidupmu lemah seperti aku

6.

Tulang tua takut bulan musim gugur, bulan

musim gugur tajam dingin seperti mata pisau

Seutas tipis cahayanya tidak juga menolong,

dan roh dingin duduk membeku, Chang’er sepi

bersarang di atas sekeping cermin gantung

di langit, angin dewata menggoncang es

terapung, takut langkahku goyah tergelincir

derita ini terlalu luas, tidak tabah lewat melangkah

Terbangun dalam cahaya pucat, sendiri

di atas ranjang, rebah di dalam teror hati:

bagai dibasuh dalam sungai, walau tiada air

tetap menembus keruh tubuh jadi bersih dan bening

Tentang puisi bertenaga, itu percakapan kosong

masa lalu, kini ikut rapuh, di mana bersandar aku?

8.

Tahun berakhir di dalam satu dunia kerontang,

angin musim gugur memulai suara gesek pedang

dan perisai, suara jengkerik merajut risau

tiada baju dingin, percuma menjerit dan menjerit

sendiri, di tengah malam angin musim gugur diasah

kian tajam, langkah goyah melumpuhkan jalan depan

Begitu dipangkas, rambut hitamku seperti taman

musim gugur: tidak pernah tumbuh kembali

Masa kecil adalah kunang-kunang mampir di mata

lapar, berpijar sekejap dan tidak pernah berkedip lagi

Sekokoh puncak gunung, orang mulia bertahan

manusia picik bercakar demi seutas benang dan bulu

Makin berebut makin terkuras hidup mereka.

Sebab Tao Langit melarang kepenuhan

9.

Embun dingin penuh pilu menetes kecewa,

angin di dahan kering berbisik dan merintih,

musim gugur telah dalam: bulan pahit kian jernih

serangga tua sedang memperagakan nyanyian kalem

Mutiara merah tergantung dari dahan ke dahan,

bunga krisan agak malas emaskan setiap tempat.

Pohon dan bunga siap menjawab isyarat musim,

bunga-bunga mekar dalam dingin, bagai sisa musim

semi, aku meratap hidup jatuh berserpih,

dan adakah sesuatu seperti hatiku di sini?

秋怀

孤骨夜难卧,吟虫相唧唧。

老泣无涕洟,秋露为滴沥。

去壮暂如翦,来衰纷似织。

触绪无新心,丛悲有馀忆。

讵忍逐南帆,江山践往昔。

秋月颜色冰,老客志气单。

冷露滴梦破,峭风梳骨寒。

席上印病文,肠中转愁盘。

疑怀无所凭,虚听多无端。

梧桐枯峥嵘,声响如哀弹。

秋至老更贫,破屋无门扉。

一片月落床,四壁风入衣。

疏梦不复远,弱心良易归。

商葩将去绿,缭绕争馀辉。

野步踏事少,病谋向物违。

幽幽草根虫,生意与我微。

老骨惧秋月,秋月刀剑棱。

纤辉不可干,冷魂坐自凝。

羁雌巢空镜,仙飙荡浮冰。

惊步恐自翻,病大不敢凌。

单床寤皎皎,瘦卧心兢兢。

洗河不见水,透浊为清澄。

诗壮昔空说,诗衰今何凭。

岁暮景气干,秋风兵甲声。

织织劳无衣,喓喓徒自鸣。

商声耸中夜,蹇支废前行。

青发如秋园,一剪不复生。

少年如饿花,瞥见不复明。

君子山岳定,小人丝毫争。

多争多无寿,天道戒其盈。

冷露多瘁索,枯风晓吹嘘。

秋深月清苦,虫老声粗疏。

赪珠枝累累,芳金蔓舒舒。

草木亦趣时,寒荣似春馀。

悲彼零落生,与我心何如。

Sungai Dingin

( delapan nomor pilih empat )

1.

Embun beku membasuh warna air

bening, tampak Sungai Dingin berkedip sisik.

Berdiri di tepi cekung cermin hampa,

memantul tubuhku goyang berserpih.

Ini terlalu jernih buat menyembunyikan

diri, terlihat di dasar cahaya berpijar kembali,

bening terbuka seperti sebuah hati bersih,

pernah juga menenggelamkan nurani

Terang dimulai, hati sederhana dan dangkal

malam membeku dan pagi telah cair meluap

Segenggam penuh, hijau terang bersihkan

seribu debu gelisah di tempat jauh. Sekali

langkah berlumpur masuk ke sungai, sulit

seperti mata air di gunung, mengalir murni

3.

Pagi mencicip secawan arak, injak salju

lewati Sungai Dingin kristal. Ombak beku

seperti mata pisau, menyayat itik liar

membelah angsa. Burung-burung menginap

semalam, menyisakan bulu-bulu berceceran,

gelegak darah telah terkubur di lumpur

dan pasir. Aku berdiri sendiri, hilang kata,

diam-diam baca ngilu mengiris hati.

Darah beku jangan menjelma tanah musim semi,

sebab tunas-tunas akan tumbuh terluka.

Darah beku jangan merekah jadi bunga, kau

mekar dan airmata janda akan menetes.

Begini hening, dusun penuh tanaman berduri,

ladang beku dan mati, sulit membajak di sini.

4.

Pengayuh perahu membuka sungai beku, dayung

menerbangkan serpihan giok, berkedip sepanjang jalur

bagai kunang-kunang. Dan retak es menjerit dingin

hingga ke dasar, sudut bibir pemburu lapar memohon

amis ikan tersembunyi. Gigi gemeretak menggosok

serpihan es, lonceng bergetar pilu di dalam angin.

Seluruh kesedihan begitu jernih —— tak terhindarkan,

mendadak telinga bagai bisa menangkap suara terkecil

dibasuh air dingin. Perahu bergerak, riak hijau hilang

membeku, jas warna pengayuh perahu mengibas

di dalam angin. Sebentar turun tergelincir di atas es,

sebentar naik ke perahu kandas, begini tiada

henti, terluka, menyerit dan merintih,

meratap langit: bila semua akan berakhir?

8.

Angin meniup, meleraikan sisa-sisa beku, sungai

mengantar cerah musim semi kembali ke bumi.

Bunga menetes, menetes bagai giok mencair,

naga menggeliat lepas, sisik-sisiknya berkilau.

Aku melangkah turun di sisi teluk, awal musim

salju cair dan air wangi, di ujung dermaga aku

membasuh diri. Jauh, seribu li lapisan es retak

terbuka, mencicipi sesendok penuh kehangatan

hati. Intisari beku sudah mencair, saling membasuh

saling berebut membentuk selingkar-selingkar hidup baru

Tiba-tiba, bagai seluruh luka pedang telah sembuh,

dan tubuh seratus medan perang tegak kembali

寒溪

霜洗水色尽,寒溪见纤鳞。

幸临虚空镜,照此残悴身。

潜滑不自隐,露底莹更新。

豁如君子怀,曾是危陷人。

始明浅俗心,夜结朝已津。

净漱一掬碧,远消千虑尘。

始知泥步泉,莫与山源邻。

晓饮一杯酒,踏雪过清溪。

波澜冻为刀,剸割凫与鹥.

宿羽皆翦弃,血声沉沙泥。

独立欲何语,默念心酸嘶。

冻血莫作春,作春生不齐。

冻血莫作花,作花发孀啼。

幽幽棘针村,冻死难耕犁。

篙工磓玉星,一路随迸萤。

朔冻哀彻底,獠馋咏潜鯹.

冰齿相磨啮,风音酸铎铃。

清悲不可逃,洗出纤悉听。

碧潋卷已尽,彩缕飞飘零。

下蹑滑不定,上栖折难停。

哮嘐呷喢冤,仰诉何时宁。

溪风摆馀冻,溪景衔明春。

玉消花滴滴,虬解光鳞鳞。

悬步下清曲,消期濯芳津。

千里冰裂处,一勺暖亦仁。

凝精互相洗,漪涟竞将新。

忽如剑疮尽,初起百战身

Sekedar Buat Jia Dao

( Dua nomor, pilih satu )

1.

Musim gugur di Chang’an bunyinya garing,

daun-daun pohon saling menjerit pedih.

Ada satu biksu kurus seperti tidur di balok es

menggigil, baca puisi menahan sobek bibir.

Luka sobek ini bukan disayat pedang perang

hanya dia suka menguyah kata-kata tajam.

Tulang puisinya lebih kurus dari Meng Jiao,

dan ombak sajaknya segemuruh Han Yu

Langkahnya kadang miring kanan kadang miring

kiri, orang sering terkejut oleh biksu bangau ini

Sayang sekali Li Bai dan Du Fu telah mati,

belum pernah melihat ada biksu sesinting ini

戏赠无本

长安秋声干,木叶相号悲。

瘦僧卧冰凌,嘲咏含金痍。

金痍非战痕,峭病方在兹。

诗骨耸东野,诗涛涌退之。

有时踉跄行,人惊鹤阿师。

可惜李杜死,不见此狂痴。

Bangau Subuh

Lidah bangau subuh memetik irama

kuno, bunyi doa-doa kitab Brahmana

Kau seharusnya melantun nada Langit,

tidak usah mencari di dalam debu dunia.

Segala mimpi di kehampaan akan putus,

ah, dambaan ini bagaimana dikekang.

Laksana membuka mulut bulan yang sepi,

seperti berbisik hati bintang gemintang.

Jika bukan nada alam manusia, sungguh

sia-sia kau menjelma jadi burung duniawi

Atau lebih baik terbang beriring pergi

hinggap di kedalaman sarang biru langit

晓鹤

晓鹤弹古舌,婆罗门叫音。

应吹天上律,不使尘中寻。

虚空梦皆断,歆唏安能禁。

如开孤月口,似说明星心。

既非人间韵,枉作人间禽。

不如相将去,碧落窠巢深。

Nyamuk

Malam Juni tengah berehat,

nyamuk lapar masih sibuk berputar.

Hanya ingat mencari darah kental,

tidak tahu hidupnya rapuh dan ringan!

Sungguh demi diri ini siap menyesal?

Curi setetes kehidupan mengisap manusia.

Aku sudi menjadi kelambu dunia,

buat pemandangan damai di satu malam.

五月中夜息,饥蚊尚营营。

但将膏血求,岂觉性命轻。

顾己宁自愧,饮人以偷生。

愿为天下幮,一使夜景清。

Ratapan Ngarai

( sepuluh nomor pilih empat )

2.

Di atas langit air di bawah langit air,

satu perahu keluar masuk bumi

Pedang batu saling tebas menusuk,

ombak pecah batu, naga garang amuk

Bunga musim lalu masih tersisa, angin

beku menggigilkan musim gugur purba

Suara misterius berbisik di dalam gua

lalu terbang mengerebuti laju arus

Matahari terbenam dan ratapan ikut

tenggelam, adakah ingin aku tuturkan?

4.

Ngarai kocar-kacir meraung, suara jernih

dan tajam, lahir mengelepar di batu

jadi sisik sisik segar, menyembul air liur

hujan amis, berembus jadi selobang

perigi hitam. Cahaya aneh menjilat segala rupa,

pedang-pedang lapar sudah lama siaga.

Usus purba ini masih belum kenyang, gerigi

abadi gemeretak di tebing-tebing amarah

Air terjun dikunyah keluar dari Tiga Ngarai

suara Tiga Ngarai saling menyikut, mengeram

7.

Tanduk-tanduk ngarai menggores matahari

dan bulan, matahari dan bulan disayat putus

cahayanya. Segala benda tumbuh miring

di sini, burung-burung juga terbang miring.

Bebatuan di bawah air saling menggigit,

roh-roh tenggelam tidak bisa dipanggil.

Ikan-ikan timbul hilang bagai baju zirah sungai

jernih, berkilau jubah lumut batu hijau giok.

Air terjun dengan lahap menelan, membahana

seperti air liur dikunyah berputar menjadi buih

Jangan mengembara ngarai di musim semi:

hanya mencuat sedikit rumput lemah dan amis.

10.

Burung hantu memanggil suara manusia,

naga mengisap gelombang hempas gunung.

Bisa juga di tengah terang hari, memikat

keheningan langit cerah angin bersahabat

pikiran terkejut, risau segala kehidupan

mengumpul amis di dasar kedalaman

tertutup tanaman merambat. Taring-taring

air terjun tanpa dasar menyobek, ludah

muncrat ke segala arah. Burung tidak bersarang

di pohon miring, siamang melompat

berpapasan di dahan. Ratapan ngarai jangan

didengar, ngarai berkata: buat apa mengeluh

峡哀

上天下天水,出地入地舟。

石剑相劈斫,石波怒蛟虬。

花木叠宿春,风飙凝古秋。

幽怪窟穴语,飞闻肸蚃流。

沉哀日已深,衔诉将何求。

峡乱鸣清磬,产石为鲜鳞。

喷为腥雨涎,吹作黑井身。

怪光闪众异,饿剑唯待人。

老肠未曾饱,古齿崭岩嗔。

嚼齿三峡泉,三峡声龂龂。

峡棱剸日月,日月多摧辉。

物皆斜仄生,鸟亦斜仄飞。

潜石齿相锁,沉魂招莫归。

恍惚清泉甲,斑斓碧石衣。

饿咽潺湲号,涎似泓浤肥。

峡青不可游,腥草生微微。

枭鸱作人语,蛟虬吸水波。

能于白日间,谄欲晴风和。

骇智蹶众命,蕴腥布深萝。

齿泉无底贫,锯涎在处多。

仄树鸟不巢,踔ez猿相过。

峡哀不可听,峡怨其奈何。

Aprikot Mati Muda

( sembilan nomor pilih enam )

Aprikot mati muda, masih kuncup

Embun beku mengguting mereka luruh,

serpihannya membuat aku meratap anakku

telah lama pergi, demikianlah aku menulis puisi ini

1.

Jangan membelai mutiara, O tangan dingin

beku, mutiara dibelai mudah terbang luruh

Embun beku jangan mendadak sayat musim

semi, musim terluka ini segera hilang pijar

Kuncup-kuncup bunga kecil gugur berserak

dalam warna-warni terkenang baju bayiku

Sudah kukutip namun tidak penuh segenggam

dan senja tiba, sedih hampa, kubawa pulang

2.

Memungut bintang di tanah kehampaan,

tidak tampak bunga tersisa di ujung ranting

adalah sedih dan duka: seorang lelaki tua

sendiri, sebuah rumah tiada anak merintih pedih

Bagaimana bisa serupa itik terjun ke dalam air?

tidak juga seperti gagak kumpul ranting buat sarang:

ombak menghempas, anak itik mudah kepak sayap

dan terbang, gagak kecil angkuh memanggil

di dalam angin. Bunga dan bayi tidak akan kembali

dalam sebuah dunia dikosongkan sedih, aku meratap

3.

Ini mesti seuntai airmata yang sama,

menusuk ke jantung pohon musim semi;

ranting demi ranting tidak ada mengikat jadi

bunga, sekeping-sekeping jatuh di mata gunting

Umur musim semi tidak pernah panjang, memang,

namun ratapanku pada embun beku sudah terlalu

dalam. Seharusnya di sungai mandi bunga harum

hari ini airmata membasuh ujung lengan baju

5.

Takut langkahku bisa menyakiti bumi,

melukai akar di bawah pohon berbunga ini.

tapi Langit tidak bisa mengerti, memotong

dan menghempas anak cucuku. Dahan berat

melengkung ada seribu kuntum bunga gugur

tidak satu pun kehidupan wangi itu tumbuh

Siapa sebut ini sebuah rumah buat kehidupan?

Warna musim semi tidak pernah masuk pintu

6.

Sesayat-sesayat embun beku membunuh

musim semi, bagai pisau kecil satu ranting

ke satu ranting. Akhirnya jatuh berkeping,

percuma setiap hati pohon di bawah lembah

menjerit lirih. Serpihan-serpihan warna gugur

ke bumi, setitik-setitik bagai minyak berpijar.

Dan segalanya jelas dan terang: di antara Langit

dan bumi, sepuluh ribu benda merenggang

9.

Embun beku tampak telah selesai membinasa

bunga merah, menyobek kunyah beberapa

puluh pasang, bebas terbang dalam keluhan

angin ringan: mulut ikan keluar merebut udara

di sungai dangkal. Tangisan beku tidak mudah mencair,

dan bersedih sendiri sulit menahan getir ini

Di sini hampa, hanya tersisa hari yang hilang,

sebuah jendela kecil buat kata-kata juga terlalu besar

杏殇(杏殇,花乳也,霜翦而落,因悲昔婴,故作是诗 )

冻手莫弄珠,弄珠珠易飞。

惊霜莫翦春,翦春无光辉。

零落小花乳,斓斑昔婴衣。

拾之不盈把,日暮空悲归。

地上空拾星,枝上不见花。

哀哀孤老人,戚戚无子家。

岂若没水凫,不如拾巢鸦。

浪鷇破便飞,风雏袅相夸。

芳婴不复生,向物空悲嗟。

应是一线泪,入此春木心。

枝枝不成花,片片落翦金。

春寿何可长,霜哀亦已深。

常时洗芳泉,此日洗泪襟。

踏地恐土痛,损彼芳树根。

此诚天不知,翦弃我子孙。

垂枝有千落,芳命无一存。

谁谓生人家,春色不入门。

冽冽霜杀春,枝枝疑纤刀。

木心既零落,山窍空呼号。

班班落地英,点点如明膏。

始知天地间,万物皆不牢。

霜似败红芳,剪啄十数双。

参差呻细风,噞喁沸浅江。

泣凝不可消,恨壮难自降。

空遗旧日影,怨彼小书窗。

Meratap Lu Yin

( sepuluh nomor pilih dua )

4.

Di rumahmu, rumput tinggi dan pohon

rimbun menyempit jalan, di sini matahari

dan bulan tidak lagi melepas cahaya.

Lumut entah kenapa telah menyelimuti

kau. Terlalu sedih, lelaki tua tiada anak,

semut-semut berkitar di atas daging sakit,

kau rebah melengkung tahun berputar

tahun, ratapan gelap mengalir dan mengalir

ratapan gelap mungkin didengar macan tutul

selain itu tiada orang datang menjegukmu

Kerabat terdekat hanya tinggal puisi

hati merangkulnya hingga maut membawa

kau kesini. Han Yu masih tergantung dirimu,

menulis untukmu sebuah elegi: dari ngarai

dan tebing, dia menggosok keluar tinta

melepaskan kata-kata berpijar seribu abadi

7.

Saat kita bertemu, rambut masih dilumur cat

hitam, dan berjuang agar bahasa bisa bertunas

Malam menginjak jembatan cahaya bulan,

atau bersandar di kursi kedai arak langganan

Setelah mencicip dua cawan, kita sudah

melayang, nama dan harum arak tercium

di empat penjuru kota, kita pergi memetik bunga

plum di kuil Buddha, menggunting bunga berayun

di taman, hati tinggi mencecap kuah hijau

sayur, hilang nafsu menatap lemak daging empuk

Kita membaca puisi, setiap irama bening kristal,

kata-kata penuh berisi nyanyian hati purba

Tiba-tiba kepala kita sudah menjadi putih,

dan tahun-tahun penuh berisi itu telah habis dicuri

Tidak perlu lagi mengejar jernih atau keruh,

kenapa mesti menuduh Sungai Nasib ini

吊卢殷

登封草木深,登封道路微。

日月不与光,莓苔空生衣。

可怜无子翁,蚍蜉缘病肌。

挛卧岁时长,涟涟但幽噫。

幽噫虎豹闻,此外相访稀。

至亲唯有诗,抱心死有归。

河南韩先生,后君作因依。

磨一片嵌岩,书千古光辉。

初识漆鬓发,争为新文章。

夜踏明月桥,店饮吾曹床。

醉啜二杯酿,名郁一县香。

寺中摘梅花,园里翦浮芳。

高嗜绿蔬羹,意轻肥腻羊。

吟哦无滓韵,言语多古肠。

白首忽然至,盛年如偷将。

清浊俱莫追,何须骂沧浪。

Dunia Tang yang Dingin dan Pahit di dalam Puisi Mbeling Meng Jiao ( 751 – 814 ) #1

Gerundelan John Kuan

dunia dinasti tang
Gambar diunduh dari mw2.google.com
Pemberontakan An Lushan yang bertahan delapan tahun ( 755 – 763 ) telah menyapu habis seluruh kebesaran dan kemegahan Dinasti Tang. Sejak itu Dinasti Tang di mata penyairnya telah berubah menjadi selingkar matahari musim dingin di ufuk barat. Sekalipun kadang-kadang masih kelihatan berpijar kemerah-merahan, tetapi bagaimana pun sedang perlahan-lahan terbenam. Dan kelapangan dada, semangat bergelora, dan keyakinan mencengangkan yang diwakili oleh Li Bai dan Du Fu, telah layu dan gugur di dada penyair. Mungkin kadang-kadang masih berkedip sekejap di dalam satu dua puisi penyair masa itu, tetapi sudah tidak bisa bertahan lama lagi. Ini mungkin dapat disebut suatu penyakit zaman: Realita yang merosot telah meracuni jiwa penyair ——— realita yang terpampang jelas di depan mata, siapa pun tidak mampu berlagak tidak kelihatan.

Pemberontakan memang berhasil dipadamkan, tetapi kedaulatan dan kekuasaan Dinasti Tang telah jauh berbeda. Untuk memadamkan pemberontakan ini Klan Li sebagai penguasa Dinasti Tang telah melakukan berbagai kompromi politik dan meminta bantuan militer dari jenderal-jenderal asing yang berkuasa di perbatasan. Tentu bantuan militer begini bukan tanpa imbalan; ada yang dijanjikan untuk menjarah kota yang berhasil direbut, ada yang dijanjikan jabatan Gubernur Jenderal setelah berhasil menguasai daerah itu. Keputusan-keputusan begini yang kemudian membentuk provinsi-provinsi yang memiliki otonomi penuh yang biasa disebut Provinsi Militer atau dalam catatan sejarah Cina disebut 藩镇 ( baca: fanzhen ). Provinsi-provinsi ini sesungguhnya memiliki kedaulatan penuh atas teritorinya, mereka juga tidak menyerahkan pajak ke pemerintah pusat, yang mereka lakukan terhadap pemerintah pusat di Chang’an tidak lebih daripada lip service. Permbangkangan provinsi militer serta pertikaian politik istana antara gerombolan kasim yang mengitari Kaisar dengan pejabat-pejabat tinggi dan jenderal-jenderal yang masih setia kepada kerajaan menjadi pemicu utama runtuhnya Dinasti Tang.

Menyusul krisis politik tentu adalah krisis sosial. Setelah provinsi-provinsi militer menolak menyetor pajak ke kas negara, dan biaya besar yang mesti dikeluarkan untuk memerangi pemberontakan yang meletup di sana-sini, keuangan kerajaan pada dasarnya sudah bangkrut, dan keadaan ini telah menggoyahkan sendi-sendii perekonomian, ditambah lagi kota-kota besar seperti Chang’an dan Louyang sudah tinggal puing setelah berulang kali dijarah, baik oleh tentara pemberontak, tentara asing maupun tentara kerajaan, maka pengungsian terjadi di mana-mana, kehidupan rakyat merosot dratis.

Gelombang pengungsian terus mengalir ke daerah selatan Cina, terutama ke Zhexi ( Provinsi Zhejiang ), Suzhou ( Provinsi Jiangsu ), Guangdong, dan Fujian. Daerah-daerah ini cukup aman dan belum begitu tersentuh api perang, perekonomian dan kebudayaan juga cukup berkembang.

Pengungsian sejumlah besar intelektual dari Cina bagian utara telah mengairahkan kehidupan budaya di daerah selatan ini, terutama sastra. Pada masa inilah komunitas-komunitas sastra berkembang pesat di daerah ini. Sebagian besar komunitas begini dibentuk atau didirikan oleh biksu penyair ( biksu yang suka menulis puisi ) yang cukup terpandang ataupun pejabat penting setempat, dan mereka biasanya melakukan pertemuan, diskusi, pembahasan puisi di kuil ataupun tempat yang disediakan pejabat. Antologi puisi mereka juga berhasil melewati kekacauan jaman dan masih bisa kita nikmati hari ini. Salah satu bentuk puisi yang agak menonjol dari komunitas sastra masa ini adalah Puisi Berantai atau Puisi Kolaborasi yang dalam Sastra Cina Klasik disebut 联句 ( baca: lianju ). Sekalipun bentuk puisi ini tidak pernah mendapat tempat dalam Sastra Cina Klasik ——— bentuk ini sudah mulai digunakan sejak Dinasti Han ( 202 SM – 220 ), tetapi mungkin adalah bentuk awal yang dibawa ke Jepang dan kemudian berkembang menjadi Renga yang merupakan cikal bakal Haiku. Dalam catatan pendek ini saya tidak bermaksud dan juga tidak memiliki kapasitas untuk membahasnya, mengenai hubungan Lianju dan Renga yang ditulis di sini hanyalah sebuah bersitan pikiran, untuk membahas hubungan mereka saya rasa masih perlu pendalaman.

Sekarang seperti sudah saatnya menampilkan tokoh utama dalam catatan ini: Meng Jiao. Dia hidup di dalam waktu dan ruang seperti yang digambarkan dalam paragraf di atas, lahir pada tahun 751 di Huzhou ( sekarang Wukang, Provinsi Zhejiang ). Seluruh masa mudanya dihabiskan di daerah ini, dia mungkin pernah bergabung dengan salah satu komunitas sastra yang dibentuk oleh biksu di sana, tidak jelas, namun ada satu hal yang bisa dipastikan adalah dia pernah hidup sebagai pertapa sebelum meninggalkan kampung halamannya pada usia 30 tahun. Hanya itulah yang kita ketahui tentang masa mudanya, dan beberapa paragraf di atas memang khusus ditugaskan membawa dia ke hadapan pembaca yang terhormat.

Suatu malam di awal musim semi 792, Meng Jiao duduk sendiri di mulut jendela sebuah kamar penginapan di Chang’an. Dia sedang bersedih, pengembaraan selama sepuluh tahun untuk mengumpulkan keberanian dan biaya mengikuti Ujian Negara telah sia-sia, tadi pagi namanya tidak muncul di papan pengumuman lulus. Tanpa terasa malam telah berangsur-angsur mundur dan pagi musim semi yang menyongsong terasa luar biasa dingin dan kecut. Bulan yang tergantung di satu sudut langit seperti sekeping cermin bulat, pucat dan redup. Tunas-tunas daun di ranting pohon seluruhnya tertutup embun beku, tidak ada kepakan burung yang memberitakan pagi musim semi. Dia tahu dunia pagi ini masih bulat, hanya saja terlalu hening dan sunyi. Dan sunyi ini telah masuk dan mengiris-iris tulang sepinya.

Dia tentu tidak tahu ini bukan terakhir kali dia mencicipi kekalahan, tahun berikutnya 793, dia kembali gagal dalam Ujian Negara. Dunianya mungkin sudah lama tidak utuh, tetapi kali ini dentingan serpihannya terasa jauh lebih menyayat.

Meng Jiao mungkin termasuk salah satu penyair Tang yang paling menderita hidupnya, dia tidak pernah benar-benar berhasil melepaskan diri dari kemiskinan yang mengerogotinya sejak kecil, dan kemalangan-kemalangan yang menimpanya sepanjang hidupnya telah membuat puisi-puisinya memiliki ciri khas yang tidak dapat ditiru penyair lain: dingin, pahit dan eksentrik.

Tetapi kekalahan demi kekalahan dan kemalangan yang datang beruntun dalam hidupnya tidak membuatnya roboh, kekuatan penopang ini terutama datang dari orang-orang yang tidak kenal lelah mendukungnya; ibunya, isterinya, dan seorang teman karibnya: Han Yu. Dia dan Han Yu membentuk satu kelompok penyair yang kemudian menjadi salah satu kelompok yang paling menonjol dalam puisi Tang Tengah, biasanya disebut Perkumpulan Mbeling atau Eksentrik. Sekalipun Han Yu adalah tokoh sentral dalam kelompok ini, tetapi Meng Jiao merupakan penyair terpenting dalam kelompok ini, dan namanya juga disejajarkan dengan Han Yu, sehingga dalam Sastra Cina Klasik juga disebut Perkumpulan Han Meng.

Dia mengenal Han Yu mungkin sewaktu menempuh Ujian Negara di Chang’an, antara 791 sampai 792, persahabatan ini bertahan sepanjang hidupnya. Walaupun umur mereka terpaut jauh, Han Yu lebih muda 17 tahun dari Meng Jiao, tetapi mereka memiliki pandangan yang sangat dekat tentang puisi, mungkin ini yang menyebabkan mereka selalu dianggap mewakili suatu kelompok penyair eksentrik yang suka menggunakan kata-kata kuno dan menciptakan suasana surealis dalam puisi-puisi mereka. Namun sesungguhnya puisi penyair-penyair ini memiliki perbedaan yang sangat mendasar dengan Meng Jiao maupun Han Yu.

Atas dorongan dan dukungan Han Yu, Meng Jiao kembali mencoba Ujian Negara dan berhasil lulus pada tahun 796, waktu itu usianya sudah 45 tahun. Upaya selama bertahun-tahun akhirnya membawa hasil. Kegembiraan dan hati yang meluap-luap ini dia tuangkan dalam sebuah puisi; walaupun puisi itu kedengaran sedikit lupa diri, tetapi kegalauan yang terpendam selama bertahun-tahun ketika dilepaskan pasti agak sedikit bau, saya rasa masih wajar, lagipula puisinya jarang ada yang bersuasana riang:

Gelisah tempo hari gemeretak di sela gigi

tidak usah diungkit,

pagi ini lepas kendali pikiran mengapung

tak bertepi

Angin musim semi meniup hati angkuh

tapak kuda melesat pergi.

Satu hari mata menyapu seluruh bunga

Chang’an habis

登科后

昔日龌龊不足夸,今朝放荡思无涯。

春风得意马蹄疾,一日看尽长安花。

Keriangan yang meluap ini sebentar saja sudah berubah menjadi sebuah penantian pahit. Setelah menunggu empat tahun yang melelahkan, Meng Jiao yang sudah berumur setengah abad ini akhirnya diberi sebuah jabatan kecil di kota Liyang ( Provinsi Jiangsu ). Hanya beberapa bulan berkantor di sana dia sudah dilaporkan melalaikan tugas. Dilaporkan bahwa dia sering seorang diri naik keledai ke pinggiran kota, memandang gunung menatap sungai, saya rasa pasti juga menulis sajak.

Dulu saya tidak bisa mengerti mengapa sebuah kesempatan yang ditunggu dengan susah payah selama puluhan tahun bisa dibuang begitu saja. Untung akhirnya saya paham. Paham akan frustasi seorang lelaki berumur 50 tahun yang mungkin seumur hidupnya belum pernah menyentuh birokrasi pemerintah, tiba-tiba sudah berada di dalam sebuah sistem yang kusut masai. Apakah ini bukan suatu hal yang membosankan dan melelahkan? Dia mungkin gagap atau enggan belajar, tetapi jabatan yang diberikan kepadanya memang terlalu kecil, semacam pegawai rendah di kantor kecamatan. Jabatan Meng Jiao ini akhirnya tetap dipertahankan atas bantuan teman-temannya di pemerintah pusat, namun gajinya dipotong separuh untuk mengangkat seorang wakil yang akan membantu dia menyelesaikan tugas-tugasnya. Keuangannya yang baru sedikit membaik kembali terpuruk.

Keadaan ini tidak bertahan lama, dia akhirnya mengundurkan diri dan membawa keluarganya kembali ke kampung halamannya: Huzhou pada tahun 804. Kemudian pindah menetap di Changzhou ( Provinsi Jiangsu ), di sini dia membeli rumah dan sawah. Pada tahun 806 pindah lagi ke Chang’an dan setahun kemudian pindah ke Louyang. Walaupun berpindah-pindah, tetapi kehidupannya pada tahun-tahun ini termasuk tenang dan berkecukupan.

Tetapi kemalangan kembali menghampirinya. Dia kehilangan anak bungsunya pada tahun 808, waktu itu usianya sudah 58 tahun. Dari puisi-puisinya kita tahu dia kehilangan tiga anak lelaki, dua meninggal ketika masih bayi, dan satu lagi meninggal pada usia sepuluh tahun. Di ujung senja usia dia tiba-tiba mendapati dirinya sudah tidak memiliki keturunan, hal ini adalah pukulan terberat bagi Meng Jiao. Dia adalah seorang pengikut Kongfuzi, dan tidak memiliki keturunan adalah durhaka terbesar dalam Konghucuisme. Penderitaan batinnya tidak usah ditulis lagi.

Ibunya meninggal dunia di tahun berikutnya. Pukulan demi pukulan telah menghancurkan sedikit ketenangan yang tidak mudah dia peroleh di usia senja. Pada masa-masa inilah Meng Jiao menulis cukup banyak puisi-puisi sekuens yang panjang, dingin, dan pahit. Ini adalah cara dia mengobati dirinya. Penderitaan tahun-tahun terakhirnya di Louyang sangat sulit dibayangkan; tua, miskin, dan sunyi. Walaupun demikian, keinginan untuk berbuat sesuatu untuk negara ( dunia? ) masih belum padam.

Pada awal musim semi 814 dia menerima tawaran seorang kenalannya, Zheng Yuqing – 郑余庆 ( waktu itu memegang jabatan sekretaris jenderal biro eksekutif ) sebagai penasehat. Dia berangkat bersama isterinya, tetapi jatuh sakit di tengah perjalanan, dan meninggal beberapa waktu kemudian. Dia meninggal dalam keadaan miskin, tanpa anak, jauh dari rumah. Bab penutupnya ini terlalu menyedihkan. Pemakamannya diurus oleh Han Yu dan beberapa temannya yang merupakan penyair Tang Tengah terkenal, seperti Zhang Jie, Wang Jian, dan Jia Dao. Dia dikubur di sebelah timur luar kota Louyang.

Puisi-puisi Meng Jiao baru mulai dikumpulkan dan dibukunya pada awal Dinasti Song ( 960 -1279 ), sehingga jumlah puisi yang hilang mungkin tidak kalah dengan yang berhasil dikumpulkan. Kumpulan puisinya yang beredar hingga hari ini adalah sebuah buku berisi 511 puisi yang disusun oleh sejarawan Dinasti Song: Song Minqiu – 宋敏求 ( 1019 – 1079 ). Dari 511 puisi saya memilih 13 puisi untuk diterjemahkan.

Di catatan ini saya rasa tidak usah lagi membahas puisi-puisinya, terlalu pahit dan dingin, mungkin dilompati dengan satu dua kalimat saja, dan tulisan ini memang sudah terlalu panjang. Hidupnya yang malang tertuang seluruhnya di dalam puisi-puisinya, ini sangat mudah kita rasakan. Dia hampir tidak menggunakan alusi dalam puisi-puisinya, cara ini dianggap aneh bagi pembaca puisi Cina Klasik. Dia suka menggunakan kata-kata kuno, atau yang mati suri, atau yang jarang digunakan. Dia sengaja menciptakan irama janggal yang terasa menusuk bagi telinga-telinga tradisional. Dia suka menciptakan pemandangan artifisial atau fantasi dan menghadirkan indah dan buruk secara beriringan…

Bersambung ke Membaca Puisi Mbeling Meng Jiao (751-814)