Arsip Tag: puisi

Puisi-puisi Je Zee

#1 Tuhan dan Tuan

Aku melihat sabana
Dan domba yang mengikuti tuannya
Di sana
Aku juga mengikut, merunut

Lalu aku berdiri di tepi kali
Dengan ikan warna warni
Bak surgawi
Di sana aku menceburkan diri
Menceburkan diri berkali-kali
Melunturkan daki, juga warna diri

Aku juga melihat bukit yang lebih tinggi
Hingga ujungnya menyentuh cakrawala
Tapi tuanku tidak di sana

Dia di singgasanaNya
Yang tak pernah kutemukan di ujung bumiNya
Meski tubuhku abang biru
Tuanku tak terusik
Seperti hati yang tak pernah berhenti meyakini

gambar diunduh dari ceritainspirasi.net
gambar diunduh dari ceritainspirasi.net

#2 Bolehkah Aku Sembahyang

Tuhan, hari ini aku datang
Setelah puluhan kali aku tangguhkan
Kini, bolehkah aku bersembahyang?
Di tengah ladang  penuh kotoran
Bajuku pun hanya setengah menutupi badan
Di setiap sisinya penuh lubang

Tuhan, kali ini aku datang
Terhuyung sempoyongan
Menatap nanar tanpa haluan
Bisakah aku bersembahyang?

Bayangan ku sudah disemayamkan
Bersama reruntuhan aku ku
Bolehkah aku bersembahyang?
Di antara sampah yang beronggokan

Tuhan, pada akhirnya aku meyakini
Saat keningku kembali pada bumi
Sepenuh hati, setengah badan
Sehabis yang sebagian berceceran

Je Zee adalah nama pena dari Nur Ika Zuli Mulyasari, anak pertama dari tiga bersaudara. Lahir di Mojokerto 22 tahun yang lalu. Suka dengan Nh.Dini, Sutardji, Chairil. Suka juga dengan Kahlil Gibran. Pekerjaan sehari-hari hanya buruh di perusahaan swasta dengan gaji rata-rata. Menulis di sela jam kerja, atau sebelum tidur.Dapat disapa lewat FB dengan nama di atas.

Iklan

Cinta Pertama

Puisi Szymborska
Alih Bahasa John Kuan

Mereka berkata
cinta pertama paling penting
Sangat romantis
tapi itu tidak cocok dalam kasusku

Di antara kami seolah ada sesuatu juga seolah tidak
Ada hal-hal yang datang kemudian pergi

Ketika aku membuka cenderamata tertentu
tanganku tidak gemetar
Surat-surat kami diikat tali
— bahkan bukan sepotong pita

Setelah tahun-tahun berlalu kami bertemu
hanyalah dua buah kursi
berbicara di sisi meja dingin

Cinta yang lain
hingga hari ini masih bernafas di dalam tubuhku.
Tapi yang ini bahkan mengeluh saja kekurangan oksigen.

Justru sepotong cinta pertama begini rupa
ia dapat mencapai yang tidak bisa dicapai cinta lain:
terlupakan
bahkan mimpi pun tidak pernah
ia membuat aku terbiasa dengan kematian.

Perempuan yang Melayarkan Doa

Puisi Fajar M Fitrah

#Perempuan yang Melayarkan Doa

 

perempuan yang setia melayarkan doa

pada buih-buih yang berderu

menuju samudra waktu

 

di bawah bulan daging kelapa

di sela-sela jala musim

matanya sempurna jadi dermaga

: lapuk dan berlumut

namun penglihatannya

setajam cakar camar

tak henti menelusup ke juru-juru

mencabik bumantara biru

 

perempuan itu yakin

doanya berlabuh di ulu sukma

seseorang yang mengarung

samudra waktu

 

dalam dirinya terpancang tugu

mencusuar tersusun dari pukal hari

dan mimpi:  di senja bening

dari arah hening

dengan kapal cahaya

seseorang tiba

mengalungkan emas

dan sampur sutra

pada kecemasan

seorang perempuan

 

di bawah bulan daging kelapa

di sela-sela jala musim

perempuan itu setia melayarkan doa

sembari meyakin-yakinkan diri

: seseorang yang tiba dari samudra waktu

adalah anakku sekalipun berkalbu batu

 

2012

 

#Sunyi Jadi Lemari Besi

 

sunyi jadi lemari besi

mengunci percakapan dan kenangan

 

gelas-gelas rontang, sarang labalaba

botol-botol kosong, dan kerak darah

di lantai adalah sisa adegan remang

bagai jam kedipnya hilang

 

dinding berlumut bagai kutuk

kalimat-kalimat api, ilustrasi ngeri

dan kalender basi: ada angka dilingkari

semacam memo atau barzanji

 

pintu kayu, jendela kelu

onggokan buku, koran lalu

bendera luntur dan peta lecur

di sudut ruang adalah mulut

mengatupkan rahasia zaman

 

2013

Fajar M. Fitrah, Lahir di Bandung 25 Maret 1993. Mahasiswa Bahasa & Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia. Bergiat di ASAS UPI (Arena Studi Apresiasi Sastra) dan KSC (Komunitas Sastra Cianjur). Penggiat JurnalZine RajaKadal & GERPAMSI (Gerakan Pamflet Puisi).  Dapat dihubungi di nomor 087824244128.

Empat Puisi Alra Ramadhan

Ini

 

Kuriaskan asap dari tepian bibirku

yang landai

yang tersundut dan beruam, dan

yang seperti berdebu

—sebab kita telah sejauh setan-malaikat

 

(2013)

 

Tadi

 

Kilat datang dari arah barat daya

Langit tak nampak

Mendung menyembunyikannya

Entah sengaja, entah tak. Dan kecipak

air masuk ke kupingku. Mengalir,

mengalirlah

 

Pelan

mungkin dengan kepastian

segores di selatan menjingga

Tapi disini hujan belum jua reda

 

Darimana datang hujan turun

hingga tak ada waktu bagi kita berteduh?

 

Adakah sakit kala ia bertemu

tekel, atap genting, beton, kap mobil?

Atau apakah tanah telah

menangkap ia dengan cemerlang

maka ia jatuh ke bumi dengan ceria?

 

Aku tahu, aku tahu ini bukan waktu

yang tepat untuk berkata mesra. Tapi satu-dua

burung gereja pelan-pelan

meloncat-loncat di atas trotoar

Sebentar lagi terang, tapi mungkin tak ada pelangi

 

(2013)

 

Biru

 

Masih saja kusempat-sempatkan mataku menyapa cahaya

dalam mimpi, di pagi yang terlalu terang

ketika kau telah hadir dan merengkuhku:

“Darimana saja kau, Kawan, wajahmu melebihi biru langit?”

 

(2013)

 

Perburuan

 

Tak akan ada yang selamat

Engkau akan tersentak habis,

teriris,

dan segera menjadi tamat

 

Tubuhmu akan terbentur pucuk aspal

atau matahari yang mengepal

Engkau pun bertungkus lumus,

tubuhmu terpelanting

mengalunkan melodi rock dan blues

dengan nyaring

 

Tak matamu kuasa menatap lagi

meski sekali

Engkau mati—barangkali berulang kali

sepi pergi

tanpa mendekapmu

sebab tubuhmu telah jatuh dan bisu

 

Tubuhmu akan tak selamat

dari kiamat,

selama mataku kupejamkan

 

(2013)

 

 

Alra Ramadhan lahir di Kulon Progo, DIY, pada 9 Maret 1993. Saat ini menempuh perkuliahan di Jurusan Teknik Elektro Universitas Brawijaya, Malang. Lebih lanjut, penulis dapat diakrabi lewat Twitter: @alravox

Menulis Sepucuk Surat Panjang

Puisi John Kuan

Ingat kau melewati segaris pantai

mestinya di sakumu ada sepucuk surat

segitu panjang. Kau bilang: Tadi malam

gemintang porak-poranda, hatimu kacau

Juga ketika kau membereskan pernak-

pernik di dasar laci seringkali bertahan

adalah benda paling tidak disuka, namun

membuat hati risau. Jejak tinta di tengah

surat kadang dangkal kadang dalam.

Kuduga saat ini mestinya kau sudah bangun

segelas air putih, merapikan semestamu

atau mungkin berkitar di kamar, berjalan

sia-sia, bagai menjaga sebuah pikiran

mudah terlepas, lalu kau duduk, menulis

rinci per rinci yang kita sama peduli

bahkan mendampingi waktu menunggu

duniamu berputar ——— yang kau bilang

ataupun tidak, aku mengerti semuanya

 

:     :     :     :     :     :     :     :     :     :     :     :

 

Mereka cuma mainan: kau menyisip

di dalam benua abjadmu, bukankah aku

juga hanya seorang prajurit belaka?

Pada arus sungai yang mengalir deras

di antara kening kita, bunga datang bunga

pergi, puisi datang puisi pergi, aku sudah

separuh tanah berdiri di sini, setetes hujan

musim semi, akan menjelmaku lumpur lagi.

 

:     :     :     :     :     :     :     :     :     :     :     :

 

Ingin juga cerita sedikit aku terapung

setiap malam, di tepi ranjang melepaskan

sandal dan baju berlumur cahaya dan debu

mengayuh ke gelap, seperti ke pulau harta

masa kanak ——— ombak bergulung bulat

bagai sebiji airmata raksasa, atau satu embun

tergantung di kisi jendela. Burung melintas

akrobatik di langit berbintang, gerombolan

ikan unik menorehkan bayang berwarna

Mereka sering tanpa luka menabrak jalur

layarku. Saat putih perlahan panjat jendela

tirai bambu menggeliat binatang laut,

mengejutkan sandal yang terbaring miring

dua ekor ikan laut saling membuih itu,

di saat berbagai sampah kota terapung,

di antaranya ada sebutir mikrokosmos

berkulit keras, halus, di dalam lengkungnya

aku nyaman, kering, bersih, dan hangat

 

:     :     :     :     :     :     :     :     :     :     :     :

 

Pagi ini di dasar laci lemari dapur

menemukan kita di suatu malam hujan mati

lampu bersuka ria meraba-raba tapi tidak bisa

ditemukan sepotong lilin sisa separuh itu

Pagi ini di dasar laci meja mahoni tua

menemukan sebuah amplop kuning pudar

itu mestinya berisi seikat rambut sekian tahun

lalu tidak tahu sudah mati atau masih hidup

Ia tidak bisa tumbuh juga tidak bisa lapuk.

Pagi itu kenang kamu, tentu bukan sekedar

kenang, percakapan telepon, bahkan melingkar

tanggal temu ——— pada satu dunia berlumur

lembab malam, terima kasih kau membiarkan

buah pikiranku ada ranting hinggap

 

:     :     :     :     :     :     :     :     :     :     :     :

 

P.S.

Masih suka duduk di mulut jendela? Aku juga

satu posisi di musim panas yang jauh. Di luar

jendela, siang mengikuti bayang hitam pipih

bersandar malas, terdengar suara langkah

ringan, bagai buah yang matang dalam diam

tergantung di taman Adam dan Hawa ———

Orang berpayung, juga gumpalan awan

mungkin sedang santai melintas, tidak perlu

mengejar waktu, kau dan aku juga. Setelah

tertinggal kita bisa diskusi kenaifan dan sastra

Kalau tidak Homer buta, Plato terhormat

Kalau tidak Bach, Rachmaninoff boleh juga

atau buka buku biarkan kalimat panjang

kalimat pendek dibaca suara serangga.

Sebuah kesimpulan tanpa tema, besok boleh

dilanjut, kata-kata tak sempat dimuntah

besok juga jangan sebut. Hari sederhana

bagai segelas teh, kota serta orang-orang

tidak disukai, semuanya ada di seberang

arus sungai. Sebelah sini mungkin ada orang

suka bersedih, tapi bukan kita. Kita tahu Cinta

Petang masih juga suka petir dan hujan

tapi tidak usah risau, setelah jam 5 pasti cerah

 

:     :     :     :     :     :     :     :     :     :     :     :

Puisi-puisi Fajar M Fitrah

Tamu

 

dari pintu tua itu

berpupuran sepiku

waktu menunggu

di jendela ada kupukupu

 

dari kepak kupukupu

berguguran tanyaku

:

adakah yang lebih dulu

meminang denyutmu?

 

2012


 

Ruang Tamu

 

tiba-tiba lampu mati, lampu itu juga

waktu gelap semata, gelap sempurna

percakapan redup, kita pun lekas

memburu Pintu

yang mungkin tak ada itu

 

2011


 

Cadas

 

baginya sepilah

hembus di keharmonisan lautan

 

kala cakar-cakar ombak menyeruak

dan camar-camar berteriak

 

mimpinya

setia terlempar ke bugar akar-akar

 

sepi juga kekal baginya

: rasa bersalahnya

 

2011


 

Elegi

 

lalu mengalirlah sungai itu ke muara

segala duka, cuaca mengawal arusnya

sewaktu-waktu sirna

 

2011


 

Persimpangan

 

di antara jalan ke barat dan ke timur

: tertegun, barangkali ngungun

di kepala mendung telah mengurung

di belakang waktu jadi burung

 

2011

 

Fajar_M_FitrahFajar M. Fitrah, Lahir di Bandung 25 Maret 1993. Mahasiswa Bahasa & Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia. Bergiat di ASAS UPI (Arena Studi Apresiasi Sastra) dan KSC (Komunitas Sastra Cianjur). Penggiat JurnalZine RajaKadal & GERPAMSI (Gerakan Pamflet Puisi).  Dapat dihubungi di nomor 087824244128

Angin Daun Pisang Angin Gubuk Rumput

Chinese poet Li Bai from the Tang dynasty, in ...
Chinese poet Li Bai from the Tang dynasty, in a 13th century depiction by Liang Kai. (Photo credit: Wikipedia)

Puisi John Kuan

|| Angin Daun Pisang ||

 

Kau berkata: Biar di Kyoto, dengar wiwik

menjerit. Kurindu Kyoto. Aku bilang: Biar

di Daik, lihat ombak merajuk. Kurindu Daik.

Berkasut jepang aku injak empat musim

dan kau, lewat setahun lagi ——— tangan

memegang caping, kaki bersandal jerami.

Kau bilang: 行く春や鳥啼き魚の目は涙

yuku haru ya tori naki uo no me wa namida

berlalu musim semi, mata ikan sembab,

burung berkicau Blues. Sebab itu kita tahu

jalan hidup amat sempit, musim bunga

amat pendek. Begitu lengser musim salju

sebaiknya kau buka bilik hatimu, jajakan

riang bunga. Jelas itu sehamparan hening

bagaimana kau bisa dengar suara tonggeret

menyusup ke balik batu? Lalu bagaimana

pula di antara nasi dan asmara, induk kucing

jadi kurus? Kau berkata: Laut dah gelap,

suara panggilan camar, agak memutih.

Aku melihat kadang Selat Berhala kadang

Selat Malaka, laut kampungku pelan-pelan

gelap, kunang-kunang berkedip di kelam

bakau, bagai berjalan di bawah pijar bintang

negeri jauh. Kau berkata: Seladang kapas

laksana bulan telah merekah bunga

Aku bilang: Sekolam cahaya bulan, bagai

ikan perak, menggelepar sisik-sisik tubuhnya.

Di lubuk botan/ seekor lebah miring/ mundur

keluar. Ah, bukan main sedap, kau sedang

di dalam dunia rasa membuat filem iklan

tujuh belas detik tujuh belas silabel, bukan?

Di bawah pohon pinus bertanya katak, ekor

angin telah kacir ke mana: Dia satu suara,

ping pong, lompat ke dalam perigi tua,

daun pisang di permukaan air, suara serpih

daun pisang koyak, perlahan bergoyang

 

|| Angin Gubuk Rumput ||

 

Telah lebih sepuluh musim gugur menginap

di dalam puisimu, Mister Du. Kertas serbuk

emas di dalam angin barat memantul burung

dan tangga giok. Merah padam api peperangan

telah dingin abu. Gemeretak roda kereta juga

barisan prajurit terbangun di dalam sehamparan

panorama huruf-huruf kuning krisan. Chang’an,

sebuah gelas anggur, tidak bisa kau genggam

terlalu erat. Tamu datang, kau utang arak

Musim semi datang, pergi tonton bunga

Harum padi tentu telah habis dipatuk bayan

Setumpuk beras perang, aku curiga sangat

erat terkait dengan sintaksis terpelintir itu

selalu rampung dengan api kecil, berulang kali

diaduk, dikukus. Bukankah aku telah melihat

kau tuang sana tuang sini, meniup sambil nyanyi

karya baru selesai kau tanak, seolah seluruh

dunia hanya mendengar kau Mister Du seorang.

Namun, puisi bagaimana bisa cuma demi nama

ditulis. Saat memancing masih terkenang

Mister Tao Mister Xie, dan mengenai seafood

di mata kail itu, mana tahu apa epik apa liris?

Malam ini menumpang di dalam puisimu lagi

Mister Du, sebaris krisan di depan gubukmu

kuning hingga bibir sungai. Hanya teringat

seperti kemarin saja, aku melihat dia pulang

kantor, demi kupu-kupu sepanjang jalan

mengadaikan jubahnya. Sebuah kotak obat

kosong tercenung di pojok gubuk. Sakit tentu

masih punya, namun gelisah justru berkurang.

Tahu-tahu yang datang mengetuk pintu mimpi

adalah gerombolan ini ——— Li Bai telah mati,

Wei Ba hilang. Itu terjadi di malam bintang

padat merayap seperti kemacetan di pusat kota.

Mendengar angin musim gugur mengepak

atap gubuk, Mister Du buka mulut: Mau main

catur? Ke bandar besar di atas papan catur

adu langkah sambil petik bunga liar di luar bandar