Arsip Tag: pujangga

Melihat Dunia dalam Keindahan

Gerundelan Ardika Abuzaid

prosa liris
gambar diunduh dari bp.blogspot.com

Setiap kali berbicara tentang sastra, pikiran kita menerawang kembali ke masa-masa Chairil Anwar ketika menuangkan ide-ide spektakulernya dalam rangkaian puisi-puisi indah atau ke masa Merari Siregar ketika menuliskan penderitaan hidup dalam Si Jamin dan Si Johan-nya atau mungkin yang selainnya. Begitulah bangunan pemikiran yang sudah tertanam dalam otak pelajar di negeri ini. Sastra adalah puisi, gurindam, balada, novel dan yang sejenisnya.
Namun demikian, akan sangat sempit jika sastra hanya berkutat pada seputar masalah di atas karena sebenarnya puisi, gurindam dan yang selainnya hanyalah produk dari sastra itu sendiri. Ada yang lebih luas dan lebih dalam untuk dibicarakan terkait sastra ini, yakni bagaimana melihat dunia dan mengubah dunia melalui pena. Sejarah mencatat bahwa berbagai perubahan di dunia ini terjadi ketika pena telah berbicara melalui tangan-tangan mulia para penyair, pujangga dan orang-orang alim yang ada di masa itu. Lalu apa kaitannya dengan sastra? Secara sederhana, penulis mengibaratkannya sebagai sebuah sistem dalam mempresentasikan pemikiran orang-orang di masa itu dalam bahasa terbaik. Maka tidak mengherankan ketika ada banyak sekali karya sastra yang tetap masyur dari masa ke masa.
Lihatlah bagaimana maha karya yang sangat tua Ramayana dan Bharatayuda masih menarik untuk dikaji, atau setumpuk roman karya Khalil Gibran yang begitu menginspirasi atau karya-karya lain yang masih banyak jumlahnya dan tersimpan rapi serta terus digali melalui  berbagai pengkajian. Hal itu menunjukkan bagaimana sastra itu dapat mewarnai kehidupan ini dan menawarkan perubahan-perubahan yang besar di tengah-tengah masyarakat.
Namun demikian, dalam tulisan yang singkat ini penulis cukup membatasi pada pembahasan sastra dalam dunia pendidikan. Lebih khusus lagi, penulis ingin mengungkap benang merah antara sastra dan pendidikan yang selama ini hanya melambai-melambai dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Padahal sastra amatlah luas dan mampu memberikan ruh baru dalam mengubah generasi Indonesia menjadi generasi yang berperadaban maju dan unggul. Dunia sastra adalah dunia yang memberikan cara pandang terindah dalam membaca kebesaran ayat-ayat kauniah-Nya, melihat realita dan menyenandungkan sebuah gerakan perubahan.
Realita pendidikan yang ada saat ini, sastra menjadi sesuatu yang seringkali terpinggirkan. Bahkan seolah-olah sastra hanyalah milik orang-orang linguistik, dalam hal ini adalah guru bahasa. Dampaknya adalah sedikit siswa yang tertarik dalam dunia sastra. Jangka panjangnya adalah terbentuknya bangunan pemikiran picik seperti ini yang justru dimulai dari dunia sekolah, tempat yang seharusnya meningkatkan kualitas kemanusiaan seseorang. Sampai-sampai banyak guru eksak yang skeptis terhadap sastra dan cenderung suka mempertentangkan sebagai penghambat dalam pelajaran-pelajaran mereka.
Demikianlah realita yang ada saat ini. Adalah tidak penting bagi kita menggerutu atas kenyataan yang ada. Yang lebih penting saat ini adalah bagaimana menunjukkan sastra sebagai salah satu akselerator perubahan masyarakat khususnya dalam dunia pendidikan. Baik dalam mendidik kepribadian sekaligus mendongkrak kecerdasan yang dimiliki oleh setiap orang. Dan ini telah dibuktikan oleh sastrawan-sastrawan kita di abad ini yang menurut penulis mampu membuka ruang geliat bagi dunia sastra untuk lebih memasyarakat.
Kita ambil contoh Habiburrahman el-Shirazy yang berhasil mengguncang Indonesia bahkan dunia ketika berhasil menerbitkan novel Ayat-Ayat Cintanya sebagai salah satu karya terpopuler di Indonesia pada abad ini. Isinya sederhana tetapi ternyata mampu memberikan pengaruh yang luar biasa bagi perubahan masyarakat. Banyak sekali testimoni yang menunjukkan adanya perubahan positif perilaku masyarakat pascapeluncuran novel tersebut. Bahkan karya-karya beliau berikutnya begitu dielu-elukan sekaligus dinanti-nantikan.
Contoh lainnya adalah Andrea Hirata. Ekonom yang tulisan-tulisan ilmiah sering dijadikan referensi di Eropa ternyata juga mampu mengguncang masyarakat kita dengan memotivasi para pemuda dalam menjalani pendidikan mereka. Bahkan jika kita membaca novel Laskar Pelangi-nya, banyak hal yang tak terpikirkan di otak kita dapat tersaji secara apik melalui rangkaian deskripsi yang luar biasa dan memikat. Kemudian Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov pun tidak kalah serunya. Semua itu menjadi salah satu contoh bagaimana sastra berbicara untuk membawa angin perubahan bagi masyarakat menuju ke arah yang lebih baik.
Yang terpenting di sini adalah seharusnya sastra dapat dijadikan sebagai salah satu media atau mungkin sistem pengantar pendidikan di negeri ini yang kehalusan budinya mulai luntur. Di sadari atau tidak, pelajaran sastra (dalam hal ini Bahasa Indonesia) terkesan membosankan karena pendekatan yang digunakan kepada peserta didik belum mampu membangkitkan sense mereka. Apakah setiap orang dapat bertahan dengan bacaan-bacaan ilmiah yang bahasanya kaku dan membosankan? Apakah setiap orang harus memahami matematika dengan menyusun rumus-rumus paten dan sulit dihafal secara konvensional? Apakah setiap orang harus melihat fenomena alam melalui rangkaian teori fisika, kimia dan biologi yang ada dalam buku-buku karangan orang asing yang jelas beda cara pembahasaan mereka? Di sinilah ruang bagi sastra untuk memberikan jawaban.
Salah seorang pengajar berdedidkasi bagi pendidikan negeri ini, Munif Chatif, murid angkatan pertamanya Bobbie de Porter menyampaikan bahwa manusia dikaruniai oleh tuhan kecerdasan majemuk. Di antara kecerdasan itu adalah kecerdasan linguistik. Kecerdasan ini boleh jadi merupakan pondasi bagi seseorang untuk mengenal bahasa dan sastra secara lebih kuat meskipun anggapan ini belum tentu benar. Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa pendidikan yang terbaik adalah pendidikan yang memanusiakan bukan mengatur dan mendoktrin, yaitu pendidikan yang memberikan ruang kepada setiap siswa untuk berkembang meng-upgrade kapasitas mereka sesuai dengan potensi yang dimiliki. Maka segala pendekatan yang dilakukan seorang guru hendaknya disesuaikan dengan kecenderungan kecerdasan anak tersebut.
Benang merah dari uraian Munif tersebut adalah bagaimana sastra dapat menjadi warna dalam meng-upgrade potensi peserta didik dalam menguasai pelajaran dan kecakapan hidup. Dengan sastra, dunia dapat dieksplorasi dengan cara pandang dan cara berpikir yang indah. Jika pelangi dapat diungkapkan dalam rangkaian puisi, cerpen atau lagu yang lebih dekat dengan dunia anak-anak, mengapa harus dipaksakan dengan rumus-rumus yang begitu sulit dan terkesan hiperbolik di mata dan pikiran mereka. Jika ekosistem dapat dideskripsikan dalam novel menarik yang panjangnya berjilid-jilid mengapa mereka harus dipaksa untuk menelan mentah-mentah setiap butir teorinya. Di sinilah sastra berbicara, membuka dunia dalam untaian keindahan dan kearifan.
Dan masih banyak ruang-ruang yang dapat dimasuki sastra untuk membuktikan eksistensi dirinya. Sastra di mata pendidikan adalah sebuah keindahan. Sebuah senjata untuk menembus ruang-ruang pikiran siswa yang konkrit untuk dibentuk menjadi ruang-ruang abstrak yang siap melihat, mencerna dan mempresentasikan kenyataan. Dengannya perubahan yang diharapkan akan segera terjadi. Perubahan besar dan mendasar mulai dari pola pikir dan cara pandangnya. Dengan sastra, dunia ini terasa indah, hidup ini akan sangat halus, lembut, dan penuh dengan keharmonisan.

Mengenang Kenangan Masa Kecil

Resensi Riza Fitroh Kurniasih*

kumcer mengenangDengan tampilan sampul yang sekilas mampu mengalihkan pandangan calon pembaca dari beberapa deretan buku yang tersedia. Serta pemilihan judul pun menjadi salah satu keunikan tersendiri, menciptakan kolaborasi pada kesan cerita masa lalu yang kini tinggal menjadi sebuah kenangan saja.

Masa SD yang ditempuh selama 6 tahun atau kurang, bahkan tak mengelak ada pula yang lebih dari 6 tahun, menjadikan masa ini sebagai dimensi kehidupan yang menjadi dasar hidup hingga kini. Masa awal sebagai akar diri tumbuh membangun karakter sebagai manusia. Menggambarkan bahwasannya begitu urgent-nya bagaimana roda perjalanan SD terlewati, serta sederetan peristiwa yang menjadi kenangan. Para lakon di dalamnya paham betul akan masa-masa itu, masa di mana seseorang tumbuh sebagai sosok yang sudah harus tersingkirkan karena latar belakang keluarga yang miskin. Tumbuh menjadi pujangga karena kekaguman atas sesama teman sebayanya. Bahkan tumbuh seakan-akan menjadi sosialis yang mengajarkan solidaritas kepada sesama teman, yang kelak dalam kehidupan sekarang menjadi dasar dalam memahami pluralisme.

“Masa kecil menjadi masa yang sangat penting dan perlu digarap dengan seksama, masa kecil menjadi fondasi terbentuknya karakter dan budi pekerti seseorang”. Begitulah tulisan Aji Wicaksono dalam Nostalgia Masa Kecil. Semakin kuat fondasi yang telah terbangun, akan semakin kokoh pulalah bangunan selanjutnya. Anak kecil juga merupakan sosok manusia, ia memiliki perasaan dan emosi yang masih bertumbuh sehingga perlu dibina dan diarahkan. Untuk itulah diperlukan peran serta orang tua, masyarakat dan sekolah. Orang tua menjadi kunci utama pembentukan karakter anak.

Buku kumpulan 25 cerpen yang terangkum dalam satu buku “mengenang…” tak hanya menjadi bukti dokumentasi atas kenangan pribadi di waktu kecil. Bahkan di masa itulah tumbuh pemahaman akan rasa solidaritas, masa penuh dengan kerjasama dan kebersamaan. Masa SD menjadi masa yang kebanyakan didominasi dengan belajar kelompok, begitulah kiranya yang dialami oleh Budiawan Dwi Santoso dengan Merah Celanaku, Putih Bajuku. Kegiatan rutinitas menjadi hal-hal yang dominan untuk diingat. Upacara bendera, senam pagi, bahkan berjalan mengendap-endap memasuki ruang kelas ketika telat dan tak bisa mengikuti kegiatan rutin pun menjadi kenangan tersendiri.

Dua puluh lima (25) judul cerpen mewakili kisah masa kecil yang telah terlewati. Dua puluh lima judul cerpen dengan 25 penulis, sekaligus sebagai sutradara. Di sisi lain merekalah pemeran dari jalannya narasi itu. Mereka mampu melibatkan pembaca untuk menikmati dan menyatu dengan kisah yang diceritakan, sehingga kita seakan-akan diajak untuk melihat gambaran masa lalu sebagaimana ia menggambarkannya dalam cerita di buku ini. Masing-masing penulis berhasil mendiskripsikan dan mengulas cerita masa kecil hadir di mata pembaca.

Tersurat dalam buku ini cerita tentang pergaulan masa kecil/keakraban dengan sesama anak yang tidak pernah membedakan antara juragan dan bawahan serta faktor perbedaan agama yang tidak pernah menjadi masalah. Yang ada dalam permainan adalah berbagi dan bertukar peran karena giliran, itu lebih karena pilihan atau menang kalah pingsut, bahkan prinsip negosiasi sudah diaplikasikan dalam proses berlangsungnya permainan. Pembagian ini bukan karena faktor agama/peranan ekonomi. Inilah pelajaran hidup yang berhasil dimunculkan Sanie B Kuncoro peroleh dari kampung tempat tumbuhnya. Dan di kemudian masa, pengalaman inilah yang menjadi dasar ia dalam memaknai pluralisme.

Keaktifan, kesombongan bahkan pengalaman akan cinta menjadi bumbu tersendiri dalam alur narasi ini. Pengalaman mengagumi sosok teman sebaya menjadi hal yang tabu sekaligus lucu. Pembaca diajak tertawa, karena yang ada di sini adalah perasaan kagum yang diekspresikan lewat kenakalan.

Jika kita menjadi penonton sebuah pertunjukan wayang, maka sang dalang mampu menunjukkan sisi lain dari masa-masa alur cerita perwayangan. Selain yang kita lihat tentang kesenangan, akan kita dapati makna lain dari pertunjukannya. Sang dalang seolah-olah menunjukkan adegan gara-gara yang membuat penonton sontak terkejut. Sebagaimana dikisahkan dalam buku ini, ada beberapa alur kisah yang menyiratkan termarginalkannya sang lakon. Munculnya tragedi ketidaksetaraan dalam hubungan antar manusia karena latar belakang materi, seorang berpotensi mendapatkan perlakuan lebih baik karena lebih berdaya ekonominya. Realitas gara-gara yang dihadirkan sang dalang menunjukkan pada kita bahwa dimensi ini membawa pada pengenalan dunia yang materialistis, pada kesadaran kelas.

Sungguh ironis melihat beberapa fenomena yang harus menjadikan anak-anak emas ini kehilangan sebagian senyum nikmatnya dunia pendidikan serta pupusnya rasa nikmat melahap buku. Sekolah menjadi suatu hal yang dipertanyakan kualitasnya karena tak mampu menghasilkan beras bagi keluarga. Di dalam kelas mereka dibuai dengan iming-iming kesejahteraan, namun jangankan membeli beras, untuk membeli buku, mereka sangat kerepotan.

Latar belakang keluarga menjadi faktor penentu teman mana yang pantas. Anak-anak sekolah dipaksa untuk memahami kelas-kelas sosial masyarakat. Batasan ini sekarang malah semakin jelas dengan adanya kelas atau sekolah eksklusif.

Kumpulan cerpen ini mengingatkan kepada pembaca bahwa sejarah bangku SD yang telah berganti, jika dahulu kita akrab dengan lagu lir-ilir ataupun bintang kecil serta deretan mainan tradisional. Kini telah berganti menjadi lagu-lagu bergenre cinta yang semestiny untuk mereka yang dewasa. Hal ini menyebabkan anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang sering berimajinasi dengan kegalauan jiwa. Permainan karet diiringi dengan celotehan sesama anak kini sirna berganti dengan deretan status di situs jejaring sosial.

“Mengenang kenangan masa kecil” menjadi sebuah nostalgia romantis sekaligus mengharukan. Bagaimana tidak? Sekilas kita mengenang masa-masa kecil kita dengan berbagai cerita asyiknya. Berpetualang menyusuri sungai, seakan-akan menjadi nahkoda yang handal, asyik berimajinasi dengan alam pikiran penuh fantasi. Namun, kenangan itu akan segera tergantikan dengan keharuan ketika melihat realitas yang terjadi sekarang. Permainan-permainan tradisional yang menjadi penghibur sekaligus wahana pembentukan karakter anak telah hilang. Apakah hilangnya tradisi ini disebabkan dampak dari modernitas?

Menjadi sebuah keprihatinan ketika pancasila tak terkenang dalam sanubari. Namun memang begitulah kenyataan yang ada kini, pancasila yang sarat dengan nilai keagungan kini hanya tinggal tulisan. Sebagaimana disuratkan dalam buku ini “Pancasila menjadi milik umum, dilahirkan orde lama, diasuh dan dibesarkan orde baru, namun dibuang sebagai wacana bungkus kacang oleh pasca-reformasi.” Nasib pancasila selanjutnya tergantung pada kita kaum-kaum muda, bila kita hanya diam saja, itu sama saja dengan membiarkan kemandegan yang terjadi saat ini.

“Mengenang…” menjadi salah satu buku kumpulan 25 cerpen dengan masing-masing ceritanya yang menimbulkan kekaguman, keheranan bahkan kemirisan. Di sisi lain buku ini juga mengisyaratkan pentingnya masa SD sebagai fondasi dalam menjalani kehidupan. Begitulah kiranya kita patut dan perlu membaca buku ini untuk menghadirkan kembali masa SD, masa kanak-kanak yang penuh akan nilai solidaritas.

 

kumcer mengenangJudul Buku: mengenang…
Penulis : Kumpulan 25 Penulis
Editor: Bandung Mawardi
Penerbit: Jagad Abjad
Tahun: 2012
Tebal: 172 halaman
Harga: Rp. 25.000,-
ISBN: 978-979-1032-73-5

*) Peresensi adalah Mahasiswa FKIP Biologi UMS Angkatan Tahun 2010. Aktif mengembangkan Komunitas 3 Pena Buku (K3PB)