Arsip Tag: pulang

Andalas Pulang Kawin

Puisi John Kuan
 
pulang
1959 berkubang di tepi Sungai Siak
7 kerabatku dijerat ekpedisi Denmark
atas nama kepunahan dua terpaksa ditarik
ke atas tongkang masuk Selat Melaka
menyusuri jalur timah dan minyak bumi
tiba di Kota Singa bersama saudara
sehutan, ramin nyatoh meranti balam
meninggalkan tanah rawa bergambut
menjadi alat ukur cendekia orang Eropa
persis seperti kitab, artefak dan fosil
hanya saja kau tidak bisa membungkus
atau menyimpannya ke dalam palka
sebab kami adalah badak Sumatera
 
1515 berkubang di tepi Sejarah Eropa
1 kerabat jauhku dijerat Sultan Muzafar
sebagai titip salam buat Raja Manuel I
dengan Osem pengasuhnya dia keluar
Goa melingkar Tanjung Harapan 120 hari
bersama bau kematian dan rasa pedih
rempah: pala cengkeh kayu manis merica
di Istana Ribeira Raja Portugal perintah dia
melawan anak gajah, sejarah salah catat,
dia bukan ngamuk melihat gajah, cuma
gertak orang Eropa, Duret juga keciprat
rejeki 500 tahun walau salah gambar
sebab kami adalah badak Sumatera
 
1990 berkubang di Bronx, New York
aku tidak yakin bibiku Rapunzel, mestinya
Delima, Melati atau Harum, tapi biarlah
ahli binatang mengacak dongeng Jerman
buta warna, sawo matang tampak pirang
Bibiku imigran resmi bukan suaka politik
walau kampungnya digusur kebun sawit
tapi dia tegar, patuh, orang Manhattan
suka parasnya, diabadikan di kue kering,
cangkir, grafiti tembok dan dinding subway,
perempuan lilit di syal, lelaki ikat di sabuk
penyair kaget menulis sebaris sajak cinta:
Sebab kami adalah badak Sumatera!
 
2001 aku bagai Prometheus bawa api
turun ke bumi, menerangi jerih payah
kawin paksa 112 tahun, kandangku berpijar
televisi radio suratkabar meliput total, tiada
pangeran dilahirkan seheboh aku, Andalas
demi tanah leluhur, kata ibu, kadang aku
ingin jadi pipit atau kupu-kupu, tapi dokter
bilang aku keturunan purba, kulit tebal,
dua cula, mata lemah, otak kecil, kau
terancam punah, kata-kata ini menyayat
walau aku introvet, soliter, vegetarian
tapi lelaki impoten tetap incar culaku
sebab kami adalah badak Sumatera
 
2007 aku pulang sebagai warga asing
murni kelahiran Amrik, ibu mengecup
aku dua pipi lumpur Ohio sambil berbisik
ingat pesan tetangga kita, Orang Utan:
hati-hati makhluk yang mengitarimu
mereka cuma tumbuh bulu di kepala,
ketiak selangkangan tapi sangat kejam
saling bunuh adalah pencapaian tertinggi
sejarah mereka, namanya homo sapien
sudah lama terjatuh dari pohon evolusi
sedang siapkan sebuah pesta threesome
di Way Kambas, tapi aku pilih tradisonal
sebab kami adalah badak Sumatera

Iklan

Mengantar Wang Wei Pulang

Puisi John Kuan

Buat Ahmad Yulden Erwin

gambar diunduh dari lgt560111.blog.163.com
gambar diunduh dari lgt560111.blog.163.com

Sedahan burung gunung tegak ngantuk, kaget
terbangun oleh risik bulan origami kertas puisiku
Suara kepak sayap menghardik bubar seluruh daun
Gunung hampa. Tiadakah orang? Hanya kau
tangan di tepi sungai menyentuh lumut di atas batu

Ah! Sudah begini tua. Selembah musim semi, bunga
sesuai waktu lalu gugur. Tarikh Tianpo 10 tahun?
12 tahun? 15 tahun? Hidup boleh, mati boleh, gontai boleh
santai boleh bagai sekuntum teratai di kolam belakang
dan setiap petang, dalam luar tubuh selapis hijau kelabu

hanya tinggal lekuk batu tinta belum kering
masih tergenang penuh keangkuhan hitam
sebab itu, agak santai, agak malas, tongkat ranting
di tangan, keluar tiga li ke arah tepi air melangkah

.

Tegak, mendongak, tengok gunung, tengok awan
melintas, bergeser, menyebar dari keningmu yang sunyi
di saat begini mendadak terpetik sepatah puisi indah
lalu hilang ditiup rambut kusut baru kau rapikan
Beberapa saat lalu, ada orang datang menyapa:

Puisimu yang mana paling ada renungan zen?
Kau menjawab santai: Bukankah bangau putih itu
diam-diam terbang keluar baris ketiga Genangan
Hujan Wangchuan. Habis ucap, selengan baju bunga alfalfa
menyusuri batu anak tangga, terguncang jatuh

Musim gugur, dengan kurus, dengan ikut
hangat senja, menyusup ke dalam sepi rumahmu
hari disiram hujan gunung, bisa semadi, bisa edit puisi
cicip sedikit hambar Zhuangzi, atau lewat jendela kuyup
menonton asap liar di kaki gunung kepang rambut

Kadang juga teringat An Lushan dan segala rutinitas
Dinasti Tang, atau berdiri, atau duduk, atau lempar pena
bangkit, hingga matahari di ujung dermaga terbenam
dimuat sampan nelayan ke seberang. Pada hening kolam pagi
melihat diri telah sebatang bambu, ditiup angin

setiap ruas bergoyang, setiap ruas tampak kukuh

.

Antar kau, di setapak Hujan Wangchuan, memasuki
kosong ruasmu yang terakhir kau sisakan buatku