Arsip Tag: ranjang

Kinanti

Cerpen Uzairul Anam
malaikat maut
gambar diunduh dari mediaphotobucketdotcom
ALIEN muncul lagi. Aneh. Terlalu sering menampakkan diri tiba-tiba, tanpa bisa diduga. Masih mending bila muncul dengan salam sapaan. Selalu, orang itu datang mengagetkan. Pantas, Kinanti menyebutnya Alien.
“Aku Abdi,” jawab Alien, saat Kinanti bertanya nama.
Katanya ia datang dari seberang. Tak jelas seberang mana. Katanya ia memang sengaja ditugaskan menemui Kinanti. Tapi yang terlintas di pikiran Kinanti, Abdi tak lebih dari sekadar lelaki hidung belang yang gemar merayu. Selama ini Kinanti beranggapan, lelaki mana yang tak ngilu saat melihat bempernya melenggak-lenggok. Lelaki mana yang tak kepincut melihat gincu merah pekat di sepotong bibirnya. Dan lelaki mana yang tak menginginkannya sebagai teman ranjang saat melihat rok mini super ketatnya. Selama ini Kinanti sukses menjaring mangsa berhidung belang.
“Kau selalu mengagetkan. Bisakah kau lebih pandai lagi bergaul? Salam itu penting. Kau tahu berapa banyak orang mati bunuh diri karena tersinggung tak pernah mendapat salam dari orang lain?” Kinanti meracau. Ia bosan dengan sosok Abdi, si Alien itu.
“Ah, kenapa kau belum terbiasa dengan kedatanganku? Ayolah… Maksudku baik. Aku selalu mengunjungimu saat kau butuh teman, bukan? Dan itu penting untuk orang sepertimu.” Abdi menjawab dengan santai. Dengan senyum. Dengan suara yang terlalu lembut untuk seorang pria.
“Kau gila! Aku tak butuh teman sepertimu. Sebentar lagi, pasti ada yang datang menghampiriku. Yang tampan, tajir, pandai melucu, dan lebih sopan ketimbang Alien sepertimu.”
Okey. Baiklah, aku pergi.” Abdi melangkah menjauh. “Oh. Aku lupa. Aku ingin mengajakmu pulang. Kau mau, bukan?”
“Pergilah!”
Ribuan kali Abdi mengajak pulang. Kinanti selalu bertanya-tanya, ke mana ia akan dibawa pulang oleh Abdi? Ke kampung halamannya di Jawa pelosok sana? Yang tak pernah tampak di peta meski memakai kaca pembesar ekstra. Karena memang pembuat peta tak akan sudi menuliskan nama kota asalnya. Atau mungkin karena kampung halamannya memang tak perlu ada. Bisa jadi karena sebab itu, tempat tinggal Kinanti dulu tak pernah tersambangi subsidi pemerintah. Lantas, alasan klise laiknya si fakir dialami pula oleh Kinanti. Ia pun merantau ke kota, pusat peradaban. Berbekal ciuman tangan-kaki orang tua, Kinanti nekat menerobos gemerlap kota yang sejatinya temaram.
Dan jadilah Kinanti seperti sekarang ini. Seorang pedagang. Yang hanya berjualan di malam pekat. Para pembelinya adalah mereka yang haus jimak. Dan barang dagangannya pun harus dipesan satu paket: hotel dan alat pengaman.
Setelah Abdi pergi, Kinanti seorang diri di bangku kosong memandangi gelinding roda-roda kendaraan. Di pinggir jalan. Di depannya pelalulalang berseliweran. Acap dari mereka melengos ke arahnya. Macam-macam mata pria. Ada kalanya terbelalak, ada kalanya melirik munafik. Namun bukan Kinanti jika tak mahir membaca situasi. Seorang pengemudi memperlamban mobilnya. Ia menegur sapa Kinanti. Keduanya bertransaksi. Dunia malam menawar janji birahi. Kinanti pun masuk mobil setelah keduanya ada akad janji.
Yang terjadi kemudian, Kinanti dibawa terbang ke arah losmen syaitonirojim.

***

KEMBALI. Di malam berikutnya. Kinanti hadir di bangku kosong. Bangku panjang di pinggir jalan. Hanya ia sendiri duduk di sana. Di bawah langit gelap pekat. Berisi sekadar satu-dua bintang. Sisanya, rembulan amat pelit malam itu. Ia tampil menggores seumpama luka sayatan. Tepatnya, seperti sayatan di punggung kanan Kinanti.
Ia ingat–mungkin juga tak akan pernah lupa. Kejadian menjijikkan yang dilakukan majikannya dulu. Majikan yang menampungnya saat pertama kali menjejakkan kaki di kota pusat peradaban itu. Bermula ketika majikan laki-laki ingin menggagahi tubuhnya, yang sembilan belas tahun pun belum genap. Kala itu ia meronta sejadi-jadinya. Tubuh tambun seberingas binatang. Kinanti berdaya seujung jari lentik. Apalagi, si majikan biadab mengancam dengan benda metal mengkilap: pisau dapur. Kinanti punya naluri seorang wanita suci. Berusaha sekuat tenaga mengelak. Namun pisau terlanjur menggores punggung kanannya. Fatal jika melawan. Ia takluk oleh keadaan. Kinanti terkapar, terjerembab, lunglai tak berdaya. Jadilah musabab dari kenaasan-kenaasan hidupnya kemudian.
Kinanti terpekur mengulas pil pahit masa lalu. Kembali ia melangut di pinggir jalan sembari menanti pelanggan.
“Ah, melamun lagi.” Suara itu kembali mengagetkan Kinanti.
“Selalu saja begitu. Sudah kuduga kau pasti datang lagi.”
“Kenapa? Kau rindu?”
“Tunggu sampai aku sakit jiwa. Baru aku sudi merindukanmu.”
Sebagaimana lazimnya, Abdi datang dan membuat kesal Kinanti.
“Sebenarnya untuk apa kau ke sini? Kau selalu bicara tak jelas. Kali ini kumohon. Jujurlah padaku. Kau ingin tidur denganku, bukan? Kau tak punya uang tapi ingin meniduriku. Mimpi sajalah!”
Abdi terkekeh mendengar pernyataan itu. Kinanti bak pendakwa. Makhluk paling sok tahu.
Sudah dua minggu Abdi muncul di kehidupan Kinanti. Ia selalu muncul tepat saat Kinanti duduk sendirian di malam sunyi. Saat Kinanti menunggui pelanggan di pinggir jalan. Tak jauh dari situ, gapura batas kota berdiri. Gapura yang jika di kampung Kinanti kerap teronggok sesaji di bawahnya. Entah pesugihan, entah pekasih. Yang jelas, gapura adalah pintu masuk sebuah kota. Sedangkan pintu diidentikkan keluar-masuknya bala. Dan mungkin tradisi jampe-jampe semacamnya belum pupus di kampung halaman Kinanti. Warga satu dusunnya belum open-minded dengan teknologi dan modernisasi. Tak lain dan bukan salah lagi. Alasan utamanya, sebab kebodohan. Masa jahiliyah tak kunjung pungkas karena susahnya mengenyam bangku sekolah. Pun dengan Kinanti. Ia amat bersyukur bisa lulus SMP. Teman masa kecilnya banyak yang hanya lulus SD. Atau malah buta huruf.
“Sepertinya susah, bila sekejap saja kau tak melamun, Kinanti,” ujar Abdi memecah bisu.
“Benar sekali. Memang susah bagiku memahami jalan takdir. Ah, sudahlah. Kau tak akan mengerti keadaanku, nasibku, takdirku. Tak ada yang bisa mengerti. Mereka semua hanya melihatku dari luar semata. Lalu merutukku. Mereka bilang aku jalang.”
“Kau benar. Aku memang tak mengerti. Bahkan aku tak mau mengerti bagaimana keadaanmu, nasibmu, takdirmu. Aku tahu kau sudah sangat muak hidup di kota ini. Makanya, aku ingin mengajakmu pulang.”
“Pulang kemana? Aku mau turut kau bawa pulang. Kemana pun itu. Tapi tunggu sampai aku bisa kembali bersih. Tunggu hingga tubuhku kembali suci.”
“Kalau begitu, lakukanlah sekarang.”
“Kau gila. Aku bisa kembali suci hanya dengan reinkarnasi.”
Keduanya terdiam. Abdi melihat Kinanti kembali melangut. Tampak raut sendu Kinanti. Pundaknya memberat seolah ada puluhan peti kemas di atasnya. Tak lama, Abdi pun pergi. Tanpa permisi.
Sesaat setelahnya, mobil mewah berplat merah menghampiri Kinanti. Mereka bertransaksi. Dan klik! Wajah sepakat terpampang di kedua roman muka. Kinanti dibawa terbang lagi. Ke hotel, atau ke losmen syaitonirojim.

***

LALU kali ini. Di minggu lainnya. Kinanti masih tetap menjadi wanita yang sama. Yang gigih berdagang di malam hari.
Kulitnya entah terbuat dari apa. Angin malam tak mempan lagi. Ia pandai menahan gigil. Mungkin karena terbiasa. Ia menjelma jadi makhluk nokturnal. Berkeliaran malam-malam. Menemani mereka yang butuh dilayani.
Kota bernapas siang-malam. Hingga larut pun orang-orang masih sibuk cari rezeki. Termasuk si penjual sate itu. Datang berlalu di depan Kinanti. Ia lupa, perutnya belum sempat terisi. Di panggilnya si tukang sate. Hidung mengendus asap sate yang melenakan bagai anestesi. Perut keroncongan tak tertahankan di balik baju ketatnya. Sementara sebagai pejantan, mata penjual sate sesekali melirik ke dada Kinanti. Mata Kinanti menangkap hal itu. Namun ia sadar akan kejalangannya dan diam saja.
Ketika hendak melahap sebungkus sate di tangan, saat lidah sedetik lagi meraba rasa, ekor mata Kinanti memproyeksikan penampakan di bawah gapura. Seseorang duduk berselonjor di sana. Terdengar suara mengaduh dan mendesis dari mulutnya. Tangannya meremas-remas perutnya sendiri.
Kinanti pun mendekati. Ditemukannya seorang perempuan tua. Lusuh. Pakaian compang-camping. Pikiran Kinanti menangkap bayangan ibunya. Ya, perempuan tua itu seusia ibu. Ia jadi teringat seorang ibu yang selalu menanti kepulangannya. Mungkin saja di desa sana, ibunya sedang kelaparan, lalu menantikannya pulang membawa sebungkus makanan. Sate?
Entah siapa yang menggerakkan. Tangan Kinanti merentang mengulurkan sebungkus sate kepada si perempuan tua. Ada kepuasaan. Ada semacam rasa bungah setelah dilihatnya perempuan tua itu melahap habis sebungkus satenya. Kinanti merasa, hidupnya sebagai jalang ternyata bisa berarti untuk orang lain.
Setelah lama mengamati si perempuan tua makan sate, Kinanti kembali ke bangku kosong biasanya. Di pinggir jalan, sendirian, di telan sepi, dan memandangi roda-roda pelalulalang. Namun serasa ada yang ganjil. Ya, Si Abdi. Kemana Alien itu? Tumben ia belum datang. Bukankah biasanya ia acap datang mengagetkan? Entahlah. Tanpa Abdi, malam jadi hening dan sesenyap kuburan.
Keheningan membuat Kinanti tak siaga.
Awalnya lamat-lamat, namun kemudian suara sirine jadi menggema keras. Mobil patroli. Orang-orang berseragam didalamnya.
Kinanti panik. Ia tahu itu pertanda bahaya. Sesuatu yang harus dihindari segera. Secepat mungkin berlari. Jika tidak, salah seorang dari mereka akan menciduknya, meringkusnya, memungutnya seperti kotoran sapi. Namun sayangnya terlambat. Seorang pria bertubuh kekar berhasil mencengkeram lengannya.
“Mau lari ke mana kau! Dasar sundal!” Pria itu menyalak. Tercium bau alkohol saat ia terbahak.
Kinanti belingsatan. Badannya meronta ingin lepas. Ia ingat sebuah cara melepaskan diri dari hidung belang. Seketika kakinya mengayun. Lututnya menumbuk selangkangan pria bertubuh kekar. Dalam satu hentakkan si pria mengerang. Kinanti melangkah kabur.
Isi kepala Kinanti hanya berpikir tentang cara berlari cepat dan melarikan diri. Saat itu juga, ia ingin menuju ke seberang jalan dan menghilang di perkampungan penduduk. Namun tanpa di duga. Sebuah mobil berlari lebih kencang. Dan, buugg!!
Kinanti terpental setelah sebelumnya kepala membentur kaca depan mobil itu.
Ia tersungkur di atas jalan aspal. Matanya melihat banyak sekali kunang-kunang. Dari mana mereka datang? Jutaan kunang-kunang itu muncul dari balik punggung seseorang yang dikenalnya selama empat puluh hari belakangan.
“Abdi? Kaukah itu?”
“Ya, ini aku. Sekarang mari pulanglah bersamaku.”
“Ke mana?”
“Ke tempat yang telah disebutkan dalam doa wanita pengemis yang kau kasih makan itu.”
Kinanti pasrah tangannya digamit Abdi. Untuk pertama kalinya, Ia melihat Abdi mengepakkan ratusan pasang sayap di punggungnya. Yang tentu mampu membawanya terbang. Ke atas, hingga ia bisa melihat tubuhnya sendiri teronggok bersimbah darah di atas jalan aspal. (*)

 

Nasr City, 23 Januari 2012

*) Penulis adalah Mahasiswa, sedang mendalami bahasa dan kebudayaan Arab, tinggal di Kairo, Mesir

 

Negara di Bawah Bayang-bayang Ranjang

Gerundelan Ragil Koentjorodjati

Ilustrasi diunduh dari kompas.com

Sebenarnya saya cukup ragu menggunakan judul di atas. Mungkin akan lebih menarik jika berjudul “Negara Seluas Ranjang”. Tapi judul demikian akan terbaca terlalu satire dan tampak seperti mengarah pada satu ranjang saja. Bisa jadi pembaca menginterpretasikan sebagai ranjang Presiden saja. Ingatan pembaca seolah dikembalikan pada rumor pernikahan Pak Beye sebelum masuk Akabri. Padahal ingatan publik akan pernikahan Edhie Baskoro Yudhoyono dan Siti Aliya Radjasa belum lama ini, masih cukup hangat. Sebagian pengamat menyebut pernikahan tersebut sebagai pernikahan politik yang tentu saja dibantah Presiden (Republika, 22 November 2011). Bantahan Pak Beye pantas dimaklumi mengingat kesulitan awam membayangkan apa yang disebut pernikahan politik sebab sebenarnya memang tidak mudah mengawinkan ideologi.
Awalnya adalah Michael Foucault yang memberi istilah “tubuh adalah politik karena seks” pada wacana seks dan kekuasaan. Sebagaimana ditulis Haryatmoko (2010), Foucault memaparkan bahwa kekuasaan yang berfungsi mengatur kehidupan, memiliki tanggung jawab atas kehidupan sehingga memberi akses pada kekuasaan untuk masuk sampai pada tubuh. Dalam konteks demikian, tubuh bukan menjadi sesuatu yang penting jika tidak terdapat unsur seks. Kekuasaan menggunakan seks untuk mempolitisasi tubuh demi kekuasaan itu sendiri. Tanpa seks, tubuh bukanlah politik sebab yang demikian tidak menunjukkan tanggung jawab kekuasaan atas keberlangsungan kehidupan. (Catatan penulis tubuh di sini bisa saja tubuh lelaki atau tubuh perempuan). Penjelasan Foucault atas fenomena tersebut menarik untuk diperbincangkan terkait fenomena keindonesiaan akhir-akhir ini terutama bahwa pernikahan Ibas dan Aliya mendapatkan konteksnya. Tanpa ketertarikan seksual antara Ibas kepada Aliya atau sebaliknya, maka dapat dikatakan pernikahan Ibas dan Aliya memperoleh justifikasi sebagai pengawinan politik untuk kekuasaan semata.
Seharusnya, awal tulisan ini saya cantumi definisi seks terlebih dahulu. Mungkin saya cantumkan definisi menurut kamus besar bahasa Indonesia yang memberi definisi seks sebagai alat kelamin atau sebagai suatu hal yang berhubungan dengan kelamin atau sebagai birahi. Tetapi definisi-definisi tersebut masih belum cukup jelas menjelaskan “tubuh adalah politik karena seks”. Beberapa artikel terkait dengan seksual seperti pelecehan seksual, kuasa seks, paradok seks dan di beberapa artikel lain belum saya temukan penjelasan yang memuaskan mengenai seks. Dengan demikian saya tidak mencantumkan definisi seks sebab saya beranggapan definisi utuh serta berterima umum mengenai seks belum saya temukan.
Dengan ketidakpahaman secara utuh tentang seks, bagaimana saya harus menjelaskan keberadaan “tubuh adalah politik karena seks” pada fenomena menarik seperti pertarungan pilkada Bupati Kediri antara istri tua, Haryanti, dengan istri muda, Nurlaela, pada tahun 2010 lalu. Sebelumnya, kita ingat Rano Karno dan Dede Yusuf berhasil memenangkan pilkada. Jujur, andai mereka tidak ganteng dan seksi di mata pemilihnya, saya tidak begitu yakin mereka akan memenangkan pilkada sebab saya belum pernah membaca tulisan pemikiran Rano Karno maupun Dede Yusuf. Saya juga belum pernah membaca tulisan pemikiran Julia Peres, Inul Daratista dan Ayu Azhari yang mencoba peruntungan menjadi pejabat daerah. Absennya pemikiran dari para artis seksual tersebut seperti menjelaskan kepada publik bahwa mereka sedang mempolitisasi tubuh untuk mendapat kekuasaan. (Atau malah sebaliknya, seks menunjukkan kekuasaannya dengan menaklukkan kalkulasi-kalkulasi politik?)
Bagi kaum pembela hak-hak politik perempuan fenomena tersebut mungkin dianggap sebagai salah satu kemajuan emansipasi serta kesetaraan gender dalam hukum, politik dan kekuasaan kepemerintahan. Persoalannya, seksi pada dasarnya bukan monopoli kaum perempuan. Bisa jadi kemenangan Rano Karno, Dede Yusuf dan Dicky Chandra pun adalah karena keseksian mereka. Mengapa yang dikaitkan dengan keseksian mesti harus perempuan?
Bagi politisi tulen, tanpa daya tarik seksual mereka, tubuh-tubuh tersebut tidak menghasilkan keuntungan apapun. Tubuh-tubuh yang berpolitik tanpa comparative advantage. Adanya daya tarik seksual membuat mereka mampu melakukan penaklukan terhadap pakem politik yang lazim meski tentu saja tidak dapat dihindari perebutan kekuasaan antara politik dan seks itu sendiri. Untuk mengukur seberapa kuat daya tarik seks para calon bupati dan wakil bupati tersebut, mungkin dapat dilakukan dengan mengukur seberapa kuat competitive advantage antar mereka. Pada titik ini, apa yang disampaikan Foucault bahwa kapitalisme membutuhkan tubuh yang dapat dikontrol untuk produksi, kembali menemukan konteksnya.
Tetapi tulisan ini akan melenceng terlalu jauh dari pokok permasalahan semula tentang negara yang di bawah bayang-bayang ranjang jika memasuki kajian mana yang lebih kuat antara seks dan politik pada kekuasaan, terlepas dari rerangka kekuasaan kapitalisme yang mungkin tidak terlalu peduli mana yang lebih kuat, sepanjang tetap menghasilkan keuntungan maksimal bagi pemilik modal, itu bukan masalah urgen. Dengan kata lain, siapa yang mampu mengontrol tubuh, ia akan memperoleh keuntungan maksimal. Dan seksualitas berkali-kali tampaknya merupakan alat paling efektif dan efisien untuk melakukan kontrol tubuh. Pembicaraan di ranjang bisa jadi bermuara pada munculnya berbagai kebijakan di ranah publik. Pembicaraan para politisi dengan istrinya. Atau pembicaraan istri pertama dengan istri kedua. Atau pembicaraan para politisi dengan istri simpanannya. Atau pembicaraan entah dengan siapa yang kebetulan tidur satu ranjang. Dan di ranjang-ranjang yang tersembunyi, publik tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dibicarakan yang kemudian juga bisa jadi kebijakan yang sulit terpahami publik. Ketika kisah ranjang tersebut terkuak, kriminalisasi terhadap perempuan biasanya yang lebih dulu dilakukan.
Ambil contoh misalnya kasus Bill Clinton dan Lewinsky. Publik Amerika yang diperkenalkan sebagai negara dengan seks bebas dan bertanggung jawab, tetap lebih memilih agar Clinton mengakui perbuatan yang tidak patut. Mereka “hanya” menginginkan presidennya tidak berbohong. Tetapi, sejauh pengetahuan penulis, publik Amerika tidak menanyakan adakah kebijakan publik yang dipengaruhi kedekatan Clinton dengan Lewinsky.
Kita lihat kemudian kasus yang terjadi di Indonesia. Kasus Yahya Zaini, kasus bupati Pekalongan Qomariyah-Wahyudi, termasuk fenomena-fenomena politik yang telah disebutkan sebelumnya seperti pemilihan bupati Kediri, pencalonan Julia Perez, Inul dan Ayu Azhari. Publik lebih menyukai pewacanaan seks yang ada pada kasus-kasus tersebut tetapi abai pada substansi siapa sebenarnya pengambil keputusan yang nantinya akan berdampak luas. Pewacanaan seks ini lebih sering berujung pada kriminalisasi perempuan daripada, minimal menuntut politisi untuk tidak berbohong mengakui perbuatannya. Mengakui bahwa mereka takluk pada seks. Yang cukup mengkhawatirkan adalah apabila ternyata kriminalisasi perempuan merupakan bentuk balas dendam dari setiap kekalahan kekuasaan lelaki atas ranjang. Sayangnya, belum ada penelitian empiris tentang berbagai pertanyaan tersebut.
Dari uraian-uraian sebelumnya, saya ingin menyimpulkan bahwa terdapat kemungkinan bahwa kekuasaan dalam konteks kepemerintahan sebuah negara bisa jadi bukan tersebab oleh politik melainkan oleh dominasi seks. Dominasi tersebut tidak saja pada tataran konkrit yang kasat mata tetapi juga pada tataran abstrak imajinasi para pelaku atau obyek-obyek seks yang menjadi sasaran kekuasaan. Bayangkan perebutan kekuasaan atas kontrol tubuh itu terjadi di ranjang-ranjang para politisi kita. Bayangkan daya tarik seks Julia Peres, Inul dan Ayu Azhari menguasai imajinasi para pemilih yang kemudian dibawa keranjang kapan pun mereka mau. Emansipasi perempuan pada ranah politik mungkin saja melangkah maju, tetapi istri-istri atau perempuan-perempuan yang hak-hak seksualnya tidak terpenuhi adalah kemunduran di sisi lain.
Pada konteks pemikiran sebagaimana diuraikan di atas, pada akhirnya, baik buruknya sebuah negara, maju tidaknya sebuah negara, akan bergantung pada siapa yang menguasai ranjang. Dan celakanya, entah lelaki atau perempuan yang menguasai ranjang, pemenangnya adalah tetap kapitalisme. Mungkin kaum perempuan harus berpikir ulang perjuangan untuk kaum mereka yang sesungguhnya. Atau setidaknya, kita harus berpikir ulang tentang relevansi daya tarik seksual untuk memperoleh kekuasaan di satu sisi, dan berpikir tentang relasi seks dan kekuasaan dengan kapitalisme di sisi lain.