Arsip Tag: reinkarnasi

Abelard, Heloise, Birahi dan Reinkarnasi

Gerundelan John Kuan

tragedy love story
Gambar diunduh dari http://www.derekdelintfansite.com

Sudah beberapa kali saya melepaskan kesempatan mengunjungi Cina, selalu merasa sebaiknya menjaga sedikit jarak, mungkin dengan begini akan lebih bagus terhadap panoramanya, produk budayanya, atau orang-orang yang hidup di dalam sejarahnya. Pernah seorang teman bertanya seandainya saya berkunjung ke Cina lagi, paling ingin kemana, saya menjawab Yicheng dan Tibet.    Yicheng dan sekitarnya adalah daerah pengembaraan dan tempat Li Bai menumpang hidup di masa tua. Nama tempat ini agak jarang disebut, ia terletak di barat laut provinsi Hubei, atau mungkin saya kasih titik koordinat saja: 111°57′-112°45′ bujur timur, 31°26′-31°54′ lintang utara.

Dan Tibet, adalah demi berbagai lapis perbandingan sejarahnya dan letak geografinya, tentu juga demi agamanya.

*

Reinkarnasi lama, saya kira, adalah satu hal yang paling misterius di dunia moderen ini. Dan yang percaya akan hal ini kelihatannya sungguh tidak sedikit ——— bahkan yang tidak percaya agama Buddha Tibet juga mengakuinya dalam diam. Ini adalah salah satu sisi yang memancarkan kebaikan dunia manusia, saya berharap akan terus berlangsung. Kadang-kadang penganut agama Kristen terhadap perihal tertentu bisa menjadi sangat ketat dan sempit, seringkali memiliki semacam gaya ‘ ketika menguasai sebuah perdebatan, akan mengejar hingga lawan kehabisan nafas ‘, tetapi terhadap reinkarnasi lama, seperti tidak ada orang yang tampil meragukannya. Mengikuti perkembangan ini, tampaknya kelanjutannya tidak ada masalah besar.

 

*

Reinkarnasi lama biasanya seperti tidak keluar dari lingkup Dataran Tinggi Tibet.

Pada 3 Maret 1984 Lama Yeshe mencapai nirwana di San Fransisco, tanggal 12 Februari tahun berikutnya ada seorang bayi laki-laki lahir di Granada, Andalusia Spanyol, ternyata adalah reinkarnasi sang lama. Granada adalah dunia agama Katolik Spanyol kuno, Federico Garcia Lorca pernah menulis sebuah puisi, judul dan temanya mengambil ‘ Santo Mikael ‘, dengan Malaikat Agung Santo Mikael sebagai malaikat pelindung Granada. Saya pernah coba menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia, puisinya sekitar enam puluh baris, bait pertama dan bait terakhir kira-kira begini:

 

Dari pagar balkon juga bisa kelihatan

bayang antara barisan keledai dan barisan keledai

penuh memikul bunga matahari, telah mendaki

gunung, gunung, gunung

 

……

 

Santo Mikael, raja segala benda Langit

raja diraja sejak dahulu kala

penuh dengan keagungan orang Berber

jeritan dan keanggunan jendela balkon

 

bagaimana seorang lama bisa memilih reinkarnasi di dunia seperti di atas? Tetapi menurut cerita, semasa hidup lama Yeshe pernah beberapa kali ke Granada menyebarkan Darma, dan kedua orangtua anak lelaki itu: Osel Hita Torres, adalah pengikut agama Buddha Tibet, ah, rupanya mereka adalah murid-muridnya!

Ketika Osel Hita Torres berumur dua tahun, dia dibawa orangtuanya ke India, Dalai Lama menatapnya dari dekat, memastikan bahwa anak Spanyol ini memang reinkarnasi lama Yeshe, maka prosesi masuk kuil dilakukan, dia menjadi pemimpin Kuil Kopan di Nepal, melanjutkan posisi lama Yeshe sebelumnya. Di seluruh dunia bukan sedikit orang yang tahu hal ini, saya kira, dan semua orang membelalakkan mata lihat, diam-diam mengakui maknanya yang penuh misteri itu, tanpa hingar-bingar.

Ini sungguh mitologi moderen yang paling menyentuh, sebuah kitab wahyu besar yang sulit dijelaskan. Saya sampai tidak tahan menulis sebuah puisi, meniru gaya nyanyian rakyat. Mengapa menggunakan gaya ini? Rupanya Malaikat Agung Santo Mikael yang di bawah pena Lorca membimbing saya, Granada yang dia lindungi membimbing saya.

 

     Datanglah datanglah, datang sampai di Andalusia

     Carilah daku carilah daku di Granada yang jauh…

 

*

Rasa kesunyian yang diberikan agama kepada manusia dapat saya bayangkan, bahkan saya percaya saya dapat menghargai kesunyian begini. Asketisme adalah sesuatu yang mulia, hal ini saya setuju juga, maka membaca karya sastra Barat abad pertengahan, masih bisa memahami.

Konon, agama juga memberi orang rasa khidmat dan puas. Mengenai ini saya masih belum bisa memahami. Kadang-kadang di dalam filem menunjukkan adegan demikian, misalnya seorang prajurit yang telah mengalami duka dan luka pelan-pelan bersujud menghadap angin dan awan di padang luas berdoa, rendah hati, lelah, dan di jauh seperti ada cahaya ilahi berpijar, menciptakan semacam rasa khidmat dan puas, seperti juga sangat mengharukan. Namun saya berpikir kembali, yang membuat hati tersentuh, bukan ‘ seperti ada cahaya ilahi berpijar ‘, bagi saya, yang menggetarkan hati, rupanya adalah efek yang dihasilkan dari crescendo musik latar.

*

Kesunyian relijius membuat orang tetap memiliki kesempatan kontemplasi, memang bagus.

Membuang dan menutup hawa nafsu seharusnya juga merupakan satu bagian dari kesunyian.

Saya sering berpikir: yang paling sulit di dalam kehidupan biara, pasti adalah membuang dan menutup hawa nafsu. Seorang lelaki atau perempuan di masa remaja karena hasutan sisi rohani meninggalkan kehidupan duniawi, masuk ke dalam kesunyian relijius, menjadi biarawan, memutuskan akar dari perasaan dan emosi alamiah, menekan birahi, bagaimanapun adalah sesuatu yang sulit dipercaya.

Walaupun sulit dipercaya, namun saya memilih sikap tidak begitu curiga ——— memang sulit, tetapi bukan samasekali tidak mungkin.

*

Perancis di abad ke-12 ada seorang teolog bernama Abelard, dengan pengetahuan yang luas dan penampilan yang menarik menjadi sangat terkenal di seluruh Eropa, kemudian karena hubungan percintaan dengan muridnya, seorang gadis bernama Heloise, dia menikah dan mempunyai anak secara rahasia, melanggar sumpahnya, mereka masing-masing dikurung di dalam biara, seumur hidup tidak bisa bertemu. Ada yang menceritakan bahwa di masa tua Abelard menulis surat kepada teman, menyayangkan cinta lamanya yang makin kabur; hal ini diketahui Heloise, lalu menulis surat mengutarakan cintanya yang masih tumbuh merambat. Setelah keduanya meninggal dunia, surat-surat cinta mereka dicetak dan dibaca, menjadi salah satu kisah legendaris abad pertengahan yang paling memilukan dan memukau. Penyair Inggeris abad ke-18 Alexander Pope menulis sebuah puisi panjang: Eloisa to Abelard, membayangkan penerimaan dan penolakan Heloise terhadap cinta dan nafsu, membuat orang tercengang. Salah satu bagian seperti begini:

 

Datanglah, Abelard! Apa yang membuat kau takut?

Obor Venus tidak dibakar untuk yang mati.

Kemampuan alamiah tidak teledor, hanya agama tidak perbolehkan;

sekalipun kau mati jadi dingin, Eloisa tetap mencintaimu.

Ah putus asa ini, lidah api tak padam! Seperti demi yang mati membakar

terang, percuma cahaya yang hangatkan tempat abu tulang.

 

Setiap kali aku beralih pandang, apa pula itu?

Paras yang akrab, ke arahnya aku terbang mengejar,

bangkit dari dalam pepohonan, bangkit di depan altar,

menodai jiwaku, membuat sepasang mataku berenang liar,

Berkeluh demi kau, meniup mati lampu doa subuh,

kau diam-diam ikut campur di antara aku dan tuhan,

di dalam setiap himne aku seperti bisa mendengar dirimu,

sebiji rosari dihitung, setetes airmata lembut jatuh,

dan di saat gulungan awan harum dari tungku membumbung,

suara organ penuh berisi naikkan jiwaku berkibar,

begitu teringat dirimu, semua kekhidmatan menghilang,

biarawan, lilin panjang, gereja, berenang di depan mataku:

jiwaku yang terempas karam di dalam lautan lidah api,

dan altar menyala, malaikat-malaikat geleng menoleh.

 

Aku menelungkup di dalam kesedihan yang rendah, di sini

butiran kelembutan, kebajikan berkumpul di dalam kelopak mata,

aku gementar berdoa, berguling di dalam debu dunia,

mulai tahu di kedalaman jiwa kehormatan berpijar bagai cahaya fajar ———

Datanglah, kau yang paling sempurna, jika berani

dengan diri melawan Langit, merebut hatiku,

datanglah, dengan lirikan sepasang mata yang menggoda

sirnakan seluruh gambaran benderang sepenuh langit!

Bawa seluruh kehormatan, kesedihan, airmata itu pergi,

bawa seluruh pengakuanku yang tak berbuah dan doa pergi,

renggut aku, satu tarikan ke atas, renggut aku dari tempatku yang diberkati,

bantu setan-setan merebut paksa diriku dari sisi tuhan!

 

Tidak, tinggalkan aku jauh-jauh bagai kutub selatan buat kutub utara!

biarkan Gunung Alpen memisahkan kita, lautan luas menggemuruh.

Jangan datang, jangan tulis surat, tolong jangan mengingat diriku,

juga jangan seperti aku karena dirimu hati menjadi pedih!

Sumpah dapat dibatalkan, aku akan menghapus kenangan masa lalu,

lupakan aku, buanglah aku, sungguh-sungguh membenciku.

Mata yang indah, tampang memikat ( aku bisa melihatnya )

adalah paras yang telah lama aku cinta dan harap, selamat tinggal!

Oh cahaya kehormatan khidmat, oh kebajikan seindah Langit,

kelupaan suci membebaskan kegelisahan rendah!

Harapan yang segar merekah, gadis riang lembut punya Langit,

dan Keyakinan, kekekalan dini kita!

Silakan masuk, setiap tamu yang damai, yang ramah,

terima diriku dan selimuti aku di dalam peristirahatan kekal.

 

 

Come, Abelard! for what hast thou to dread?

The torch of Venus burns not for the dead.

Nature stands check’d; Religion disapproves;

Ev’n thou art cold–yet Eloisa loves.

Ah hopeless, lasting flames! like those that burn

To light the dead, and warm th’ unfruitful urn.

 

What scenes appear where’er I turn my view?

The dear ideas, where I fly, pursue,

Rise in the grove, before the altar rise,

Stain all my soul, and wanton in my eyes.

I waste the matin lamp in sighs for thee,

Thy image steals between my God and me,

Thy voice I seem in ev’ry hymn to hear,

With ev’ry bead I drop too soft a tear.

When from the censer clouds of fragrance roll,

And swelling organs lift the rising soul,

One thought of thee puts all the pomp to flight,

Priests, tapers, temples, swim before my sight:

In seas of flame my plunging soul is drown’d,

While altars blaze, and angels tremble round.

 

While prostrate here in humble grief I lie,

Kind, virtuous drops just gath’ring in my eye,

While praying, trembling, in the dust I roll,

And dawning grace is op’ning on my soul:

Come, if thou dar’st, all charming as thou art!

Oppose thyself to Heav’n; dispute my heart;

Come, with one glance of those deluding eyes

Blot out each bright idea of the skies;

Take back that grace, those sorrows, and those tears;

Take back my fruitless penitence and pray’rs;

Snatch me, just mounting, from the blest abode;

Assist the fiends, and tear me from my God!

 

No, fly me, fly me, far as pole from pole;

Rise Alps between us! and whole oceans roll!

Ah, come not, write not, think not once of me,

Nor share one pang of all I felt for thee.

Thy oaths I quit, thy memory resign;

Forget, renounce me, hate whate’er was mine.

Fair eyes, and tempting looks (which yet I view!)

Long lov’d, ador’d ideas, all adieu!

Oh Grace serene! oh virtue heav’nly fair!

Divine oblivion of low-thoughted care!

Fresh blooming hope, gay daughter of the sky!

And faith, our early immortality!

Enter, each mild, each amicable guest;

Receive, and wrap me in eternal rest!

 

Bait pertama di atas dengan cahaya api melambangkan cinta, disebut ‘ obor Venus ‘, adalah biarawati memohon Abelard datang, masuk ke dalam hati dan pikirannya, hidup nyalakan cinta dan birahinya, membuka kemampuan alami hidup dan nafsu. Bait kedua makin jelas menggambarkan yang siang malam dibayangkan Heloise adalah paras Abelard, sekalipun di depan altar juga tidak sirna, sehingga merasa Abelard telah masuk mengacau penglihatannya, berdiri di antara dia dan tuhan. Empat baris di awal bait ketiga, Heloise sendiri merasa terguncang oleh lindungan tuhan, merasa telah kehilangan kekuatan hati buat memikirkan Abelard, maka kian tidak peduli dengan bergelora memanggil nama Abelard, memohon dia dengan cintanya melawan tuhan, merebut hatinya, menghapuskan gambaran-gambaran malaikat di depan matanya, lalu bergabung dengan setan, merampas dirinya dari dekapan tuhan. Sekarang kita tahu nafsu adalah tidak baik, atau setidaknya di depan altar adalah sesuatu yang buruk, yang berlumuran dosa, yang dikuasai setan ——— dan Heloise dengan lantang meminta Abelard bersama setan, menuntaskan cinta dan birahinya terhadapnya. Ini adalah klimaks dari cinta yang menggelora dan gila, membuat pikiran orang terombang-ambing. Bait terakhir dimulai dengan [ Tidak ], Heloise jatuh dari puncak kegilaan cinta ke dalam kenyataan yang mati senyap, kembali ke dalam kesunyian yang mengelilingi biara, lelah, takut, lemah, hilang rasa, memohon malaikat menerimanya sebagai seorang biarawati yang taat, dan [ menyelimutinya di dalam peristirahatan kekal ].

Puisi Pope ini, telah memiliki kerangka discovering psychology, beberapa ratus tahun setelahnya, bagi yang pernah bersentuhan dengan psikologi analisis Freud, pasti akan melihat isyarat-isyarat seksualitas yang kuat di dalamnya. Dengan sedikit lebih dekat memperhatikan penggalan puisi yang tidak sampai lima puluh baris ini, dapat menguak gambaran yang diberikan Pope, mungkin adalah semacam proses masturbasi, adalah proses segelombang-segelombang menggulung naik gemuruh tumpukan fantasi seks Heloise. [ Merebut paksa diriku dari sisi tuhan ] tentu adalah klimaks, selanjutnya pelan-pelan surut, masuk ke alam kegelisahan, bimbang, penyesalan, dan putus asa.

*

Sesuai data sejarah sastra, ketika Heloise digoda, dirinya masih seorang gadis muda, sedangkan Abelard sudah lama melampaui parobaya. Setelah skandal ini meletus, Abelard dikebiri, dikurung di biara, Heloise juga dikurung di biara perempuan, membawa kenangan yang tak terkira.

Bagi Abelard, menghadapi [ biarawan, lilin panjang, gereja ] tidak terlalu sulit, walaupun masa lalu membuat sedih dan putus asa. Bagi Heloise, semua itu adalah hukuman tambahan yang dipaksakan dunia luar kepadanya: dia kehilangan kekasih, anak, dusun dan ladang, disekap di balik tembok biara; masa lalu tentu membuat orang sedih dan putus asa, yang terpampang di depan mata juga membuat sedih dan putus asa.

 

*

Umpama Heloise tidak mengalami sepenggal kisah dengan Abelard itu, umpama dia sejak gadis dan masih perawan sudah dibawa masuk ke biara sebagai biarawati, dia tentu tidak akan mempunyai nafsu yang begitu kuat bagai arus pasang naik. Kita seperti bisa begitu mengumpamakan, namun juga belum pasti.

Dengan demikian, kesunyian seharusnya adalah ritme kehidupan yang paling alamiah. Dia menengadah ke arah tuhan dan malaikat, khusuk mendengar lonceng doa subuh, bayang cahaya lilin panjang membawa damai hening dan ketaatan. Di bawah situasi begini, Heloise mungkin tidak akan mengalami pertentangan antara tubuh dan jiwa. Kemungkinan akan begini, namun juga belum pasti. Hal ini begitu sulit, begitu sulit benar-benar dipahami.

*

Mengekang nafsu di mulut dan perut, kekuasaan dan harta, nama dan lain-lain bisa dipahami, bisa dilaksanakan, hanya mengekang birahi adalah tantangan paling besar dalam hidup, dan yang bisa benar-benar teguh melaksanakannya sepanjang hidup sungguh sangat sedikit.

*

Apakah tuhan juga perlu mengekang birahi?

*

Maksud saya tuhan yang esa, apakah dia perlu mengekang birahi? Saya pikir, tuhan, yang esa itu, awalnya juga tidak mengekang birahi, kalau tidak dia tentu hanya menjadi tuhan bagi biarawan-biarawan yang teguh dan suci, dan tidak akan sejak awal sudah menjadi tuhan yang kita menengadah bersama.

 

*

Agama mendidik penganutnya dengan ‘ pengekangan nafsu ‘ yang terkandung di dalamnya, adalah hal yang baik. Seandainya ingin melalui pengekangan nafsu, meraba ke arah pertapaan, kesunyian, kehampaan, maka pasti harus ada sedikit ketentuan ——— yang disebut terakhir itu bukan setiap orang memerlukannya. Menurut saya, melakukan pengekangan nafsu, manusia masih bisa terus berkembang biak dan berkelanjutan, namun terhadap yang lain-lain mungkin agak sulit diduga.

Kecuali kita sungguh percaya perihal reinkarnasi itu.

Iklan

Memburu Penyihir

Gerundelan John Kuan

memburu penyihir
Woman & La Bete, diunduh dari 3bp.blogspot.com
Ini adalah satu halaman paling kelam dalam sejarah Abad Pertengahan Eropa, karena manusia pada masa itu panik terhadap ketidak-jelasan masa depan, ditambah diskriminasi terhadap kemerdekaan berpikir kaum perempuan, sehingga pelan-pelan terbentuk sepotong sejarah panjang pemburuan penyihir selama tiga abad. Dan Vaud ( Swiss ) adalah tempat pemburuan penyihir yang paling gaduh. Dari abad ke-15 hingga abad ke-17, tertangkap sekitar lima ribu penyihir di daerah ini, sekitar tiga ribu lima ratus penyihir dihukum mati, tujuh puluh persen adalah perempuan.

Kastil anggun Chateau de Chillon yang berdiri di tepi Danau Jenewa adalah tempat pengurungan dan eksekusi pada masa itu, sekarang telah menjadi tempat wisata yang mendunia.

Sebenarnya kaum perempuan cukup dihormati di Eropa sebelum Abad Pertengahan, terutama mereka yang mahir meramu obat, melakukan pengobatan, atau pun yang bisa membaca dan menulis. Tetapi mengapa sampai di abad ke-15 ” pemburuan penyihir ” bisa berpusat pada kaum perempuan? Semua ini terutama karena terbitnya sebuah buku, judulnya: Malleus Maleficarum, Martil Para Penyihir. Ini adalah salah satu buku yang paling jahat dan keji dalam sejarah manusia.

Tahun 1487, Malleus Maleficarum terbit di Jerman, menguakkan pintu pengadilan yang sangat gila, dan memperparah pandangan bias dan cenderung merusak terhadap perempuan di Eropa pada masa itu. Isi buku mengajari orang bagaimana mengenali ilmu sihir, membuktikan penyihir perempuan dan melaksanakan hukuman kejam terhadap mereka.

Menurut teori buku ini, karena ” penyihir perempuan ” telah diperdaya iblis, mereka tidak lagi peka terhadap rasa sakit, sehingga bisa sesuka hati melakukan hukuman kejam. Misalnya, menggunakan sekeping besi panas memerah membakar tangan mereka, seandainya tangan terluka, membuktikan mereka berdosa; menyuruh mereka mengambil sebentuk cincin suci di dalam air mendidih, kemudian tangannya diperban dan distempel, tiga hari kemudian jika ada bekas, berarti berdosa; atau pun langsung saja diikat dengan sebongkah batu lempar ke dalam danau, jika bisa selamat, berarti tidak berdosa.

Dalam tiga abad, ” penyihir perempuan ” yang dieksekusi di Kastil Chateau de Chillon berjumlah 3371 orang, kebanyakan dengan pembakaran, sebab waktu itu beredar isu bahwa penyihir perempuan harus dibakar agar tidak bisa reinkarnasi. Korban-korban ini kebanyakan berasal dari lapisan masyarakat bawah, mereka adalah perempuan-perempuan tua, sakit, miskin, tinggal sendiri, dan yang belum menikah.

Meteorologi tentu masih belum begitu dipahami pada masa itu, orang-orang mengalihkan ketakutan dan kegusarannya terhadap cuaca ke ilmu sihir, mereka menganggap ilmu sihir yang menyebabkan bencana yang datang sambung menyambung. Walaupun Gereja telah menolak ada hubungan antara cuaca dan ilmu sihir, namun masyarakat tetap saja sangat percaya. Cuaca yang tak terduga menyebabkan panen tidak stabil, lalu kelaparan menyusul, dan kelaparan menyebabkan tekanan sosial yang dashyat.

Kelaparan ditambah wabah yang meluas, kepanikan makin lama makin tak terkendali, emosi sosial kian perlu terobosan dan pelepasan, terakhir mendesak penguasa mengeluarkan perintah pemburuan penyihir, dan ini adalah salah satu cara masyarakat patriarki mempertahankan kuasa.

Begini tercatat di dalam sejarah Vaud:

Tahun 1572 terjadi kelaparan dan harga pangan melambung, penyihir perempuan pertama, Verena Gehrig mati dibakar. Kelaparan pada tahun 1589 juga menyebabkan beberapa penyihir perempuan dieksekusi. Wabah hitam yang meletus di tahun 1628 menyebabkan makin banyak penyihir perempuan mati… Orang-orang memasukkan berbagai macam bencana ini sebagai perbuatan penyihir perempuan, oleh sebab itu pemburuan penyihir pada tahun-tahun itu mencapai puncaknya, sedikit pun tidak aneh, lagipula semua penyihir perempuan ini termasuk secara terbuka mengakui diri mereka adalah penyebab semua bencana itu.

Berapa orang yang kuat menahan hukuman kejam itu, pengakuan mereka kemungkinan besar adalah karena tidak mampu atau tidak ingin lagi menahan siksaan, dengan kondisi dan kedudukan mereka pada masa itu, bagaimana mereka membela diri mereka?

Dari tahun lalu hingga Juli 2012, Kastil Chateau de Chillon yang pernah mengadili dan mengeksekusi begitu banyak penyihir perempuan ini, memamerkan sepotong sejarah pemburuan penyihir yang penuh bercak darah, ini adalah satu irisan masyarakat yang kehilangan nalar di Abad Pertengahan. Sepotong sejarah kelam ini, menjadi saksi sejarah perjalanan manusia dari ketidak-tahuan menuju peradaban.

AKU

Puisi Rere ‘Loreinetta

Aku biru yang terungkap lewat butiran jingga. Sore menjemput raut yang luput dalam rajutan memori. Gelanggang demi gelanggang merupa siluet klasik yang tampak tapi pudar bentuk. Sungguh puncak gelisah karena tiada segera menemui sejati, awanku mencair menjadi bulir di pelupuk. Ahh.. demi sunyi yang membekukan baraku, singgahlah duhai, meski sekadar merajuk atau menemani senja sampai landai.
EngganMu adalah tanda bahwa kecamuk tak lagi tersimpan di punggung, ia telah mencari ruas seperti juntai lamtoro yang dihembus angin. Benih-benih yang janggal, tumpah pada anak sungai. Kembali dukaku bermuara padaMu. Dan Kau berpaling sambil menikmati celotehan masa. Pada rimbun harapku yang melambai pudar, rautMu surut dan kasihku tak lagi patut.
Rampung. Sebentar lagi hari merangkak menemui ajalnya dan esok menjadi reinkarnasi yang dikemas seperti ritual yang tak ganjil. Kembali hidup menjadi kelakar untuk dipikirkan, menjejali telam-telam yang berhias pengkhianatan. Kuakui, adalah perlu bagiku mendengarkan setiap helai rencana meski begitu asing bila hendak menuntunku menemui kenyataan hidup. Ini, akan manis, mungkin. Selebihnya, menyakitkan.
Engkau hadir pada sebuah runtun yang pasti, jalan darahku beku seketika ucap cintaMu mengusik sendiriku. Ada kebingungan yang kunikmati, dalam palung hati yang berisik semenjak tanya dari ruang-ruang itu mengusung satu judul obrolan—-Kau-! Aku kemudian berpendar menjadi banyak bentuk dan acap kali kutemui ia satu persatu, hanya namaMu yang disebut-sebut.
Kita lalu melontarkan azimat yang meracau namun nikmat untuk didengarkan kalbu. Sederhana, tapi begitu mewah dalam waktu. Inilah kali pertama kurasai rindu berkali-kali padahal ketika itu, aku dan Kau tak ada spasi. Lalu, adakah beda kali ini? Entah, namun tak mudah untuk menghentikan seru rayu ku atas Mu, duhai, aku benci namun rinduku selalu berkali-kali.

Keadaan ini rupanya telah demikian memadai untuk dilabeli aneh. Bukan tidak mungkin, semakin kumengerti rasa benciku, semakin kusadari pula deru rinduku. Kelak akan kuketahui bahwa makhluk yang menggerayangi palungku hingga membuncah kebencianku kepadanya adalah bernama “ketidaktahuan” dan ia pun membawaku untuk menemui jalan rindu ini.
Ranum. Pergulatan dialektik seolah begitu lancang menghempaskan ego yang pongah. Lantas, malu pun tidak pula rela menampakkan batang hidungnya, sebelum dialektika rindu bergulat menemui stagnasi sambil kembali menjatuhkan jurus demi jurus hingga klimaks dan mengungkap; Benar! sambil mengetuk palu kesepakatan. Kelak seiring waktu, -Benar- ini pun menelan proses panjang untuk kembali menjadi topik sebagai jembatan menuju –Benar- yang lain.
Disebutlah sengketa, padahal begitu semarak anugerah yang menghujani tiap waktu. Namun, bagi ketidaktahuan, tidak ada penjelasan yang lebih baik dari apa yang tampak oleh indera penglihatannya. Sungguh kebutaan seperti itu menjadi lebih menyakitkan daripada kehilangan kornea.

Lantas kedukaan macam apa lagi yang disuguhkan matahari esok pagi, ketika kita terbangun dan merasai ketidaktahuan lagi sambil kerap menjalaninya dengan kerjap penuh pengharapan padanya.