Arsip Tag: resah

Ketika Bang Tigor Galau

Flash Fiction Risma Purnama

butet dan tigor
Gambar diunduh dari ivanaldie.files.wordpress.com

Sudah hampir sebulan ini Butet tak bertemu Tigor. Jangankan batang hidungnya, suaranya pun tak terdengar. Seperti hilang diculik alien! Berkali kali Butet memeriksa sms, inbox atau email, tak ada pesan di sana. Hapenya pun tak pernah aktif. YM, Twitter, fesbuk pun tak ada menunjukkan aktivitas terbaru. Ke mana kau bang Tigor? Butet mulai bertanya tanya dalam hati. Resah! Aku harus segera menemuimu! Butetpun mengambil keputusan, bergegas pergi ke rumah kontrakan Tigor, kekasih hatinya selama setahun terakhir ini. Tapi ke mana? Tigor tak pernah memberitahu alamatnya yang jelas. Jangan jangan alamat palsu, nanti aku kesasar pula, batin Butet berbisik.
Malam minggu mendadak menjadi selalu kelabu bagi Butet. Biasanya ada tawa canda Tigor di ujung telepon, atau sms gombal lebay, atau hanya sekedar jalan berdua di sepanjang trotoar kota sambil gandengan tangan…, hm romantisnya. Tukang bakso lewat pun tak lagi dihiraukan! Tapi kini semua itu seakan menjadi kenangan tak terlupakan. Tapi kenapa Tigor menghilang begitu saja? Apa sebabnya? Mungkinkah karena aku pernah menyinggung soal pernikahan? Ah, Tigor juga ga bilang kok kalau dia menolak akan melamarku, bahkan sepertinya Tigor sudah mempersiapkan arah ke sana. Butet mencoba menghibur diri sendiri. Langkah kakinya terus tak henti,sampai terdengar suara nyanyian, suara yang Butet kenal betul. Butet mengarahkan pandangan matanya ke sekitarnya.
Nah, itu dia asalnya suara itu. Di perempatan jalan dari sebuah lapo tuak di bawah rerimbunan pohon yang di depannya ada tambal ban. Butet berjalan mendekat, bibirnya tersenyum lega. Orang yang sedang dicarinya, bang Tigor sedang memainkan gitar sambil bernyanyi. Marmitu sambil marlissoi. Bah,di sini kau rupanya! Tanpa rasa malu Butet masuk ke sana di antara ramainya tetamu lapo yang  sedang  asyik dengan mendengarkan Tigor bernyanyi. Ueeee…Tigor kaget begitu melihat Butet hadir di sana, sontak dia menghentikan gitarnya dan nyanyiannya. Tigor menarik tangan Butet keluar…
“Bah, Tet…kenapa kau cari aku ke sini, apa kau tak malu?” tanya Tigor dengan raut wajah serius dahi berkernyit.” Kok dia tahu aku di sini ya,” hati  Tigor bertanya.
“ Tak sengaja bang, tadi aku lewat sini, kudengar seperti suaramu…” jawab Butet sambil tertunduk, takut kalau kalau Tigor marah karena dikira telah mengintainya. Berdua mereka duduk di kursi panjang di samping lapo itu di bawah rimbunnya daun pohon ceremai.” Kau tak ada kabar sebulan ini bang…”lanjut Butet lagi. Tigor menghela nafas mencoba menenangkan diri membersihkan pikirannya yang lagi galau.
“Begini ya Tet, aku bukannya menghilang apalagi diculik alien! Aku lagi ada masalah besar ini, sebulan lalu aku menabrak motor dan aku terpaksa ganti rugi, mana pula SIM aku sudah mati. Angkotku disita sama juraganku Tet! Angkot itu akan dijual karena rusak bekas tabrakan, mana pula BBM akan naik nanti. Juraganku  babeh Tohir terpaksa mau menjual saja angkot itu karena tak mau menanggung  kerugian yang lebih besar kalau ga dapat setoran. Sudah sebulan aku tak bayar kontrakan Tet, makanya aku hidup hanya menumpang di rumah teman. Aku memutuskan akan pulang kampung saja ke Laguboti, aku akan bertani saja! Soal hubungan kita, aku minta maaflah kalau aku tak kasih kabar berita, aku takut menyakiti hatimu dan menganggu pikiranmu.”
Butet hanya terdiam sambil menelan ludah di kerongkongannya yang kering. Hatinya tercekat. Pikirannya pun ikut menjadi galau. Tigor akan memutuskan hubungan mereka?”Oh…aku belum siap, “ teriak bathin Butet.
“Tapi begini Tet, kalau kau memang cinta sama aku, ikutlah aku pulang ke kampung, kita menikah di sana, hidup bertani, orangtuaku masih punya sawah yang bisa kita olah, bagaimana Tet?” tanya Tigor mendesak.
“Pulang kembali ke kampung?Oh…tidak! aku sudah meninggalkan kampungku Samosir karena sulitnya hidup bertani di sana, sekarang aku sudah ada pekerjaan meskipun hanya kerja kantoran staff rendahan. Sekarang aku harus kembali lagi demi mengejar cinta Bang Tigor?” bathin Butet berkecamuk. Dia harus memilih.
Sekarang tak lagi hanya Tigor yang galau, Butet pun tertular menjadi galau! Berdua mereka menghabiskan waktu hingga larut malam, membicarakan akan nasib masa depan mereka. Semoga kau tak sedang mabuk Tigor, bisik hati Butet, karena tercium bau aroma tuak dari mulut Tigor, kekasihnya yang sekarang jadi pengangguran.

Iklan

Ode untuk Jazz

Puisi Binandar Dwi Setiawan

mawar merah
Ilustrasi dari shutterstock
Di dalammu aku melihat air belum tentu mengalir
Ada kemungkinan air menyala
Kau mencipta aturanmu sendiri
Memaksa libatnya seluruh unsur keadaan mengatur wujud sebersama mungkin
Yang spesial darimu adalah kemampuanmu mempertunjukkan keluarbiasaan dirimu tanpa butuh mengagetkan penginderaan
Kau selalu menarikku ke dalammu
Untuk mensinyalkan bahwa aku pun adalah bagianmu
Kau merendah dan meninggi pada saat bersamaan
Kau menyentak para kejadian ketika caramu bersikap tak sepercik pun terbenak oleh mereka
Kau adalah pengharga terhebat ketika tak menganggap kecil sebagai kecil dan besar sebagai besar
Itu mengajariku untuk menggantungkan kebenaran kepada apa
Kau terlibat sekaligus tak terlibat, kau berbuat sekaligus tak berbuat
Wajahmu yang rumit tak sedikitpun menghalangiku melihat kesederhanaanmu
Sekaligus kealamianmu tak sedikitpun menghalangimu menjadi tak alami
Kau letakkan segalanya pada tempatnya
Menampilkan semuanya tanpa terjebak untuk memewahkan yang satu di antara yang lain
Aku tak punya kalimat untuk memprotesmu
Hanya bertekuk lutut menatapmu bagai aku
Terlalu banyak yang kau suguhkan
Kau puaskan dahagaku dengan melahirkan dahaga yang baru
Jazz, ketika apapun berkemungkinan menjadi dirimu
Aku jadi curiga, darimanakah aku berasal
Jazz, ketika terlalu banyak batas yang kau terabas
Aku tahu ada yang sanggup memelukku menenangkan seluruhnya resahku
Jazz, ketika yang duka dan yang suka kau sikapi sama
Aku jadi tahu mengapa kata sempurna pantas disandang oleh siapapun

Tentang Engkau

Puisi Ragil Koentjorodjati

ilustrasi diunduh dari google
Aku membebaskanmu,
serupa bibir pantai melepas resah,
dari berjuta rasa yang dilesakkan kecupan ombak,
meski cecamar membisik: jangan!

Aku membebaskanmu,
sebebas petualang membawa hati terbang,
membadaikan rasa: jatuh-melayang-jatuh-mengawang,
meski sekeping diri terbawa, entah ke mana menuju.

Aku membebaskanmu,
sebebas kehendak mempermainkan tulus cinta,
hingga saat musim hujan tiba, aromaku akan bersamamu,
mengingat perih batin mengering di hari bergerimis yang setiap rintiknya adalah basah

Dan ketika semua kausadari,
betapa waktu mampu mengubah cinta,
kita bukan lagi manusia yang sama.
:bukankah sepenggal kata yang telah terucap tak mungkin ditarik kembali?

25/01/2012