Arsip Tag: Riza Fitroh

Menelanjangi Kata

Resensi Riza Fitroh Kurniasih*)

Seni memungkinkan kita untuk masuk dalam jagat rasa atas keindahan.
(Wiji Thukul)

penerbit jagad abjadBagi seorang pembaca awan, keindahan puisi adalah ketika ia langsung mengerti akan makna yang terkandung di dalamnya. Puisi menjadi sebuah karya yang tidak asing lagi dan mudah untuk kita jumpai. Namun, puisi kadang hanya berhenti sampai di lidah saja, manakala puisi ini menjelma menjadi kejenuhan. Akan tetapi lain bagi mereka yang memiliki jiwa seni, mereka akan memelototi puisi itu hingga menemukan arti dan makna yang sesungguhnya yang terkendung di dalamnya. Baginya satu puisi yang belum ia temukan maknanya sama saja menciptakan misteri dalam diri, yang pada akhirnya nanti hanya menjadi bayang-bayang ketidak pastian.

            Budiawan Dwi Santoso menyapa para penikmat puisinya dengan bait-bait puisi yang pendek dan penuh teka-teki itu. Tidak mengherankan ketika buku ini berjudul “Sekejap buku kumpulan puisi”, di dalamnya kita akan menemukan kumpulan-kumpulan puisi yang hanya dengan beberapa baris saja. Namun, kita akan duduk begitu lama dan terpana untuk menemukan makna yang terkandung dalam sekejap puisi itu. Disinilah letak keunikan dari puisi-puisinya tersebut, potongan-potongan kata yang simpel namun maknanya tak sesimpel potongan-potongan kata itu.

            Pria kelahiran Sukoharjo 04 Jannuari 1986 ini menyajikan puisi layaknya sebuah hidangan istimewa. Hidangan istimewa di sini karna puisi-puisinya disajikan dengan tema-tema yang sebenarnya sudah melekat pada diri kita namun kita tak pernah menyadarinya. Ia (si penulis) mengubahnya penampilan dari tema-tema tersebut sehingga layak untuk dinikmati. Tema-tema rumah, catatan, percakapan, jarum jam, dan jeda adalah sesuatu yang sudah melekat dalam keseharian kita, mereka begitu dekat dengan kita namun kita tak pernah menyadarinya.

            Kehidupan manusia kian modern dan kita kian meninggalkan kata, kita tak pernah membedahnya, kita tak pernah menelanjanginya, kita bahkan acuh tak acuh terhadap kata-kata yang berlalu-lalang di hadapan kita. Teknologi kian canggih, dan kata-kata kian beterbangan di antara tangan dan mata satu orang ke orang yang lain. Namun, kata-kata itu serasa hambar, datang kemudian pergi. Tak ada yang salah dengan teknologi, namun misteri yang ada di dalamnyalah yang kadang tak kita pahami. Pria yang aktif sebagai Santri Pengajian Malam Senin Bilik Literasi ini mencoba mendobrak itu semua, ia menghadirkan kehidupan-kehidupan yang sarat akan nilai-nilai estetis dan etika. Kita akan jumpai realitas ini dalam puisinya yang berjudul Catatan Senja, 5.

Catatan Senja, 5

Di batas memerah,

seorang lelaki tua mendapati dirinya

tergeletak dalam selembar promosi

Masa kecilnya terangkum

Dalam sekaleng minuman

Murah.

Keindahan Memori

          Manusia memiliki kemampuan untuk mengingat setiap peristiwa-peristiwa yang dilaluinya, seperti yang diungkapkan oleh Professor Hobby bahwasannya anugerah terbesar manusia-kemampuan untuk mengejar mimpi-mimpi kita. Pengarang lewat kumpulan puisi ini menyimpan dan mengabadikan setiap kenangannya dengan hari-hari yang ia lalui, tersimpan di dalamnya cita-cita, misteri, kesedihan, kengerian, keindahan, bahkan cinta.

            Baginya (si penulis), setiap detik adalah kenangan yang begitu sayang untuk dilewatkan dan dilupakan begitu saja. Bahkan kesedihan dan kerinduannya pada kekasihnya menjadikan ia bermain dengan kata-kata ini hingga tercipta sebait puisi. Ia mampu mengabadikan perasaannya dan memepersembahkannya untuk sang kekasih. Pada awalnya kita tidak akan merasakan bahwa itu sebuah puisi biasa, namun setelah kita menghayati kata demi kata, kita akan menemukan makna yang sebenarnya terkandung di dalamnya.

 

Catatan Malam, 2

Aku rindu sajak yang terbit

Menyinari diriku,

menghangatkan tubuhku

aku rindu sajak yang terbit

membangunkan hidupku

menggerakkan jiwaku

aku rindu sajak yang terbit,

mempertemukan kumbang dan kembang

menumbuhkan-kembangkan hutan perlambangan

 

            Puisi ini menggambarkan bagaimana seseorang sangat ingin bertemu dengan orang yang dirindukannya. Merindukan sapa yang mampu membuatnya bangkit dan kembali berjalan menggapai citanya. Menggambarkan keinginan yang mendalam akan sebuah pertemuan dua insan hingga tak kan terpisahkan lagi. Ia (seseorang dalam puisi) ingin menciptakan tanda akan keberadaannya dengan sang kekasih.

            “Penyair haruslah berjiwa ‘bebas dan aktif’. Bebas dalam mencari kebenaran dan aktif mempertanyakan kembali kebenaran yang pernah diyakininya” (Wiji Thukul). Begitulah gambaran ideal seorang penyair, bagaimana ia seharusnya memiliki pikiran yang bebas dan juga aktif, tanpa adanya keperpihakan terhadap pemegang kepentingan. Begitu juga dengan puisi-puisi yang terdapat di dalam buku ini, puisi-puisi di dalam buku ini patut kita bedah dan kita telanjangi makna yang ada di dalamnya, hingga kita tak akan menemui keperpihakan terhadap pemegang kepentingan.

            Catatan Malam, 7, seakan-akan menyapa kita tentang bagaimana masa kecil kita yang penuh tawa kini hilang tak berjejak, atau bahkan masa kecil mereka yang terenggut, hingga kita tak mampu untuk mengingat kenangan masa kecil kita lewat masa kecil anak-anak zaman kini. Sebuah sajak gelap, menceritakan tentang kita: masa kecil menertawakan lupa-Kita. Puisi ini menggambarkan bagaimana kenangan-kenangan yang sempat terjadi pada masa lalu yang menceritakan tentang ia dan alam serta apa yang ia alami, kini hanya menjadi bahan ejekan diri sendiri. Betapa mirisnya keindahan kenangan tak pernah dikenang, bahkan sesuatu yang indah hanya dianggap sebagai sesuatu yang lalu tanpa arti, kematian, kelahiran, tawa lepas, itu semua bagi mereka di masa sebagai bukti eksistensi. Namun, sekarang orang sudah terlalu percaya diri dan merasa bahwa tak ada yang lebih hebat dari dirinya, fakta inilah yang menjadikan manusia kian terpuruk dengan egoisme diri.

            “Sekejap buku kumpulan puisi” ini menjadi buku yang patut untuk kita dalami akan arti yang terkandung di dalamnya, bagaimana seharusnya kita bermesraan dengan kata-kata dan bagaimana seharusnya kita menyikapi kata-kata yang begitu singkat namun penuh akan makna. Kumpulan puisi ini menjadi kumpulan puisi yang sekejap, namun kita tak akan pernah kehabisan kata dan akal untuk menelanjangi kata-kata yang terdapat dalam puisi tersebut.

Judul buku: Sekejap: Buku Kumpulan Puisi
Penulis: Budiawan Dwi Santoso
Penerbit: Jagat Abjad
Harga: Rp. 15.000
Tahun: 2013
Tebal: 98 halaman
ISBN: 978-979-1032-92-6

*) Peresensi adalah Mahasiswa FKIP Biologi Semester 6 Universitas Muhammadiyah Surakarta, aktif sebagai asisten laboratorium.

Kehidupan dalam Bingkai Kesederhanaan

Resensi Riza Fitroh K*)

“Pergilah ke mana kau harus pergi, tapi jangan sampai keadaan mendesakmu untuk melakukan apa pun yang sedang kau lakukan. Kau harus melakukannya karena kau memang memutuskan untuk itu. Jangan biarkan orang lain mendikte jalan hidupmu.”

            
syafii maarifSyafii tumbuh menjadi salah satu anak Muhammadiyah yang siap mengabdi dimanapun demi tanah airnya. Dengan berbekal kesederhanaan dan kemauan yang teguh, ia mampu melewati setiap rintangan yang didepannya. Karier pertama dimulai dengan menjadi guru sekolah dasar di Lombok Timur. Namun kerinduan yang terpendam selama 5 tahun kembali membawanya ke kampung halamannya di Sumpur Kudus.

Kesejukan alami dan keasrian yang belum terjamah teknologi modern menjadi daya tarik tersendiri bagi Lombok. Sesaat Pi’i-nama panggilan syafii- merasa berada di tempat kelahirannya kembali. Di lombok dia mengajar sekolah dasar dengan 4 kelas yang dikelompokkan berdasarkan umur dan mereka akan masuk kelas dengan bergantian. Dengan segera syafii menyukai murid-muridnya yang berwajah polos. Saat menatap wajah merek, ia bertekad, bahwa beberapa dari wajah mereka yang dilihatnya ini harus melanjutkan pelajaran ke sekolah yang lebih tinggi, mencencang awan, meraih langit.

Dua bulan berjuang sendirian dipulai ini, mencoba mencintai ilmu pasti yang tak disukainya. Pi’i tak menghiraukan kehidupan sosialnyam ia tak memperhatikan ketika beberapa wanita di desa itu meliriknya dan berusaha menarik perhatian sang guru alim tampan ini. Ia berkonsentrasi pada apa yang harus dikerjakannya, dan ia melakukannya dengan sepenuh hati.

Ditengah konsentrasinya di daerah perantauan, ditengah semangatnya para muridnya, tataannya jatuh pada munaris, sang orator cilik. Munaris maju kedepan dengan penuh percaya diri dengan wajah berseri-seri, muli berbicara mengenai penerapan islam dalam kehidupan sehari-hari. Melakukan apa yang diperintahkan dalam Alquran selama di sekolah dan di rumah. Itulah gambaran semangat anak didik Pi’i saat lomba pidato.

Sebelas bulan kebersamaannya dengan masyarakat Kampung Pohgading menjadi purna, dan Syafii mulai mengalami pa yang dirasakan santoso-teman seperjuangannya yang telah pulang ke kampung halaman-. Kerindun akan kampung halamannya terasa dahsyat, tempatnya dibesarkan dan membuai diri dalam kelembutan kasih sayang. Ia mengabarkan kepulangannya kepada Pak halifah, saudagar kaya di padang, untuk mengabarkan bahwa ia akan menginap di tempatnya selama sehari sebelum melanjutkan perjalanannya e Sumpur Kudus.

Bulan Maret 1957 Syafii menatap laut luas didepannya. Dua puluh dua tahun sudah terlewati dengan hampir lima tahun merantau, akhirnya ia pulang ke kampungnya. Setelah kapal lautna berlabuh, ia menuju rumah pak halifah dengan menenteng keranjang bawang merah. Sesampainya dirumah Pak Halifah yang kelak menjadi keluarganya, ia disambut dengan hangat oleh keluarga saudagar kaya itu. Tingkah laku Nurkhalifah gadis 13 tahun, putri ketig Sarialam -lip sapaannya- yang sangat lugu tak membuat Syafii berpikir panjang. Tidak ada yang dipikirkan dalam benaknya saat itu, bahwa wanita itu akan memainkan bagian penting dalam hidup Syafii.

Taun 1958. Perjuangan rakyat Sumatra barat bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang dilakukan dalam pemahaman mereka yang bertentangan dengan Presiden Soekarno, di bawah pimpinan Letkol Ahmad Husein semakin panas, dan akhirnya terputuslah hubungan para perantau Minang di Jawa dengan kampung halaman mereka. Saat itu Syafii berusia du puluh tiga tahun. Pertama-tama yang dilakukan adalah berpikir untuk melanjutkan sekolah tingkat enam Mua’limin Yogyakarta. Syafii berembuk dengan teman-temannya yang bernasib sama mereka semua masih ingin melanjutkan pendidikan dan akhirnya mereka memutuskan untuk mengikuti kelas persiapan masuk Universitas Tjokroaminoto.

Di Surakarta ini Syafii bersama Masiak, Hamid dan Talman menyewa sebuah tempat indekos mahasiswa. Untuk berhemat mereka menawarkan untuk menolong tante Nani sang pemilik kos, dengan memotong kebun setiap minggu dan mengepel lantai kos setiap pagi demi mendapatkan sewa kamar kos yang lebih murah.

Langkah pertama yang mereka lakukan adalah mendaftar di Universita Tjokroaminoto. Mereka tidak menemui banya kesulitan. Kelas persiapan yang diselenggarakan adalah persyaratan dan berfungsi hanya sebagai jembatan agar mereka dapat masuk ke universitas. Langkah berikutnya adalah berusaha menyambung nyawa agar tetap bernapas di bumi, khususnya di Surakarta: mencari pekerjaan.

Syafii menjadi pengajar mengaji bagi Saidah, gadis lim belas tahun yang menaruh harapan pada Syafii, Ia putri pak Lenggogeni seorang juragan kerajinan Surakarta. Yang sebelumnya ia menganggap bahwa dia akan mengajar anak laki-laki. Syafii merasa janggal harus mengajari seorang perempuan. Ia bukan seseorang yang anti kesetaraan gender. Hanya saja, ia sering merasa canggung berhadapan dengan wanita. Selama ini ia selalu bergaul dengan laki-laki.

Syafii mengambil pendidikan di kelas persiapan dan menenpuh ujian. Ia yakin telah mengerjakan ujiannya dengan baik. Tante nani sedang duduk-duduk di depan rumah dan melihat kedatangan Syafii dengan wajah serius. Dan keadaan ini membuat Tante Nani menyapanya. Dari perbincangan keduannya, akhirnya Syafii memperoleh pekerjaan baru setelah purna mengajar saidah yang tak terpikirkan lagi olehnya. Ia bekerja pada juragan tukang besi namanya Dalga. Beberapa bulan berlalu dan Syafii diangkat menjadi mandor, ia bertahan hidup, namun kuliahnya tidak.

Hidup sebagai perantauan membuat Syafii memegang prinsip bahwa prinsip hidup memang tidak boleh mudah dipatahkan. Dan kerinduan akan kampung halaman pun kembali dirasakannya. Payakumbuh, 1962, diseberang sana Etek Bainah sedang memikirkan keadaan Pi’i, dissampingnya ada Ismael Rusyid, keduannya terlibat perbincangan serius akan Pi’i. Perbincngan mengenai sebuah perjodohan antara Pi’i dan Lip, gadis lincah yang ditemuinya saat singgah di rumah saudagar kaya di Padang, pak halifah.

Bagi Syafii sekolah bukan saja menjanjikan sebuah pekerjaan yang lebih baik di masa depan., namun ia merasa bahwa berpengetahuaan sebanyak-banyaknya adalah sesuatu yang harus dilaksanakannya. Syafii dijodohkan dengan Lip, ia sosok wanita berjiwa sosial meski hidup dalam kecukupan yang lebih. Ia menyadari dirinya sangat pencemburu, bahkan apabila ada hal kecil yang kurang beralasan pun, ia dapat menjadi cemburu.

 Setelah itu Syafii harus kembali ke Surakarta, sejak ssat itu ula kabar tak sedap tentang Syafii terdengar ditelinga sang tunangan-Lip-. Dikabarkan Syafii telah memiliki satu anak, dan hal ini membuat Lip kian bersedih setelah kepergiann Sarialam-Ibundanya-. Syafii mengisi hari-harinya dengan kuliah, membaca di perpustakaan, menulis skripsi, pergi ke Pasar Pon naik kereta menuju Baturetno untuk mengajar di STPN, mengajar di sekolah Surakarta, dan satu kegiatan lagi: menulis surat pada Lip, menceritakan apa yang dilakukannya, menceritakan buah pikirannya, menceritakan perjuangannya.

Sumatra Barat, 5 februari 1965, sebuah catatan penting dalam kehidupan Syafii terukir pada hari itu dalam sebuah relief hidup yang berwujud akad nikah. Syafii Maarif, berdiri dengan gagah, memakai pakaian yang didominasi warna hitam dengan taburan sulaman emas dan kain songket bertaburan emas dengan ornamen khas Padang dan keris, menandatangani akad nikahnya. Disana Lip telah menunggu kedatangannya, wanita yang disandingkan menjadi istrinya itu memiliki sebuah aura kuat dan ketegasan yang tidak mudah ditaklukkan yang membuatnya merasa tertantang.

Syafii kembali merantau dengan membawa istrinya, meninggalakan kehidupan nyaman yang selama ini dijalani Lip. Diperantauan dari hari ke hari Lip makin gelisah, ia merasa tidak nyaman terus-terusan berada di kontrakan suaminya ditambah dengan kecemburuannya pada suaminya ini. Akhirnya Syafii memutuskan untuk mengambil program doktoralnya di FKIS-IKIP Yogya.

Dalam perjalanannya memasuki program doktoral di FKIS-IKIP tak semudah yang dibayangkan. Ia harus berhadapan dekan pembantu dekan FKIS-IKIP, Drs. Lafran Pane, yang merupakan pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dengan pertolongan beberapa orang mulia yang menemaninya maupun memberikan surat rekomendasi. Hingga akhirnya ia dapat diterima dengan bantuan Onga Sanusi Pane, seseorang yang membawanya ke tanah rantau pertama kali.

Sementara untuk biaya kuliahnya, Syafii menerima bantuan dari halifah. Di kotagede, Syafii menghabiskan waktu dengan menimba ilmu dari Profesor Kahar. Ia juga melakukan dialog agama dan intelektual dengannya. Seiring dengan berjalannya waktu, Syafii sering diminta menjadi khatib di masjid Kotagede dan masjid Perak-tempat alm. Kiai Amir, yang pernah menjadi majelis tarjih PP Muhammadiyah.

Tahun 1965 menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Syafii dan Lip, mereka akan memiliki buah hati dalam beberapa saat lagi. Bagi Syafii kelahiran adalah sebuah anugerah yang datang dalam kemasan kebahagiaan, harapan, dan konsekuensi.

30 september 1965, terjadi peristiwa G30S/PKI yang juga merupakan puncak peristiwa yang menuntun pada pergantian Soekarno sebagi presiden pada Soeharto. Pada waktu itu terjadi berbagai kejadiaan besar yang mengguncangkan tatanan negara. Kehidupan ekonomi masyarakat, termasuk kehidupan ekonomi Syafii dan Lip mengalami ujian yang berat, dan Syafii pun terbelenggu dengan keadaanya-tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan calon ayah, lagi pula ia masih kuliah. Kesulitan ekonomi sedang mengalami masa puncak.

Syafii tidak dapat banyak berperan bagi masyarakatnya dan berbela rasa karena kantong pertahanannya pun sedang menipis. Kekuatannya sebagai seorang laki-laki, kepala keluarga, dan cendekiawan sedang diuji dan dengan merangkak, menyeret berbagai beban berat di pundaknya, ia berusaha terus bertahan. Ia menyimak dan berkomentar dengan aktif di kampung, namun tidak dapat sampai turut berjuang kecuali secara konsep, bahwa ia memeras otak dan keringat ersama rakyat kecil yang juga berpayah lelah mengisi perutnya-berjuang untuk sekadar bertahan hidup.

Pada awal tahun 1966 terjadi demonstrasi di mana-mana. Tuntutan Tritura (Tri tuntutan Rakyat) meminta pemerintah membubarkan PKI, membersihkan kabinet dari unsur-unsur PKI, dan menurunkan harga dan meningkatkan perbaikan ekonomi. Sementara itu perut Lip mulai membesar. Akhirnya, pada bulan Maret 1966, saat Syafii baru pulang dari tempat kuliah, ia melihat Lip mengejag kesakitan sambil memegang perutnya. Dengan keringat mengalir deras, Syafii berlari untuk memanggil becak, kemudiaan menggotong istrinya ke Pusat Kesehatan muhammadiyah.

Anak pertama mereka bernama Salman, seorang anak yang tampan dan manis sekali. Syafii dan Lip menyadari akan kesehatan yang memburuk pada putra pertamanya ini, hingga akhirnya Lip memutuskan untuk mebawa Salaman ke Padang, agar memperoleh perawatan yang lebih baik sembari menunggu keadaan syafii membaik.

Pada saat anak dan istrinya berada di padang, syafii diangkat menjadi pegawai negeri dengan jabatan asisten Perguruan tinggi dengan gaji 868 rupiah sebulan, dan ia diberi tugas mengajar Sejarah indonesia kuni, dan Sejarah Islam pada Fakultas Syari’ah dan Tarbiyah UII (Universitas Islam Indonesia).

Kehidupannya mulai lancar dan kini Syafii mulai dapat menabung untuk anak dan istriya. Pada awal bulan Februari 1967, ia mengetahui bahwa mereka baik-baik saja, karena Lip mengirimnya paket dengan catatan dari Lip. Pertengahan semester, Syafii bermaksud menjemput Lip dan anaknya, namun niat itu diurungkan sampai tutup semester. Hingga akhirnya menjelang akhir tahun, saat itu musim penghujan yang dingin. Tiba-tiba Syafii menerima telefon dari Lip dengan nada sendu di kantor Suara Muhammadiyah, ia meminta untuk dijemput, ia akan menyusulnya kembali.

Syafii pun merasakan kerinduan yang memuncak pada keluarganya. Sudah waktunya mereka kembali bersama. Tabungannya sudah cukup memadai dan universitas sedang libur semester. Hal pertama yang dilihatnya di pelabuhan setelah kapalnya merapat adalah istrinya yang memakai pakaian hitam. Hati syafii langsung memberikan tanda bahaya. Sesuatu telah terjadi. Namun ia tak melihat kedatangan lip dengan buah hatinya. Ismael yang menemani Lip menyatakan bahwa anaknya sudah lemah, ia meninggal tanggal 21 november 1967. Begitu pilunya hati Syafii yang belum sempat melihat dan merawatnya kembali. Terselip dalam dirinya sebuah kesakitan yang melebihi sebuah penghakiman yang ingin dijatuhkan orang padanya.

 Buih-buih ombak mencium pantai kemudian berlalu dalam rangkaiaan waktu dan irama music sendu mengiring langkah-langkah berat perjuangan hidup yang bagai tak kunjung lalu…..

Ia merintih pilu, merasa paku menusuk kalbu, dan mendakwa hati yang menjadi kelu…..

Namun nurani itu tahu……..

Sebuah kejujuran hati dan imannya pada sang Illahi mengerti… dan memberinya kekuatan untuk bangkit berdiri…..

sekalipun dalam sepi,

syafii maarifJudul buku: Si Anak Panah (BERDASAKAN KISAH BUYA SYAFII MAARIF)
Penulis: Damien Dematra
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Harga : Rp. 50.000
Tahun: 2010
Tebal: 260 halaman
ISBN: 978-979-22-5812-7

*) Peresensi adalah Mahasiswa FKIP Biologi Semester IV Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Sebuah Alasan Mengapa (Kita) Harus Menulis

Resensi Riza Fitroh Kurniasih

“Syarat untuk menjadi penulis ada tiga,
yaitu menulis, menulis, menulis.” (Kuntowijoyo)

eko prasetyoBuku yang masih begitu segar untuk dinikmati, sebuah buku motivasi karangan Eko Prasetyo. Cocok bagi para pemula yang sedang terjun dalam dunia tulis menulis ataupun bagi mereka yang telah sukses berkarir di dunia tulis menulis untuk tetap berkarya.

Menulis sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bahkan hal ini sudah dilakukan oleh nenek moyang kita jauh sebelum mengenal buku dan alat tulis. Menjadi pertanda bahwa aktivitas menulis bukanlah hal yang baru, dan menulis pun dapat dimulai dengan apa saja yang ada di depan kita.

Buku dengan judul Kekuatan Pena ini terbagi menjadi 3 (tiga) bagian utama, yaitu; Catatan Pertama: Meretas Motivasi, Catatan kedua: Budaya Baca, dan Catatan ketiga: Suksesor. Pembagian subtema menjadi tiga bagian menjadikan pembaca lebih mudah dalam mengikuti alur yang dimunculkan.

Pada Bagian Pertama mengulas seputar bagaimana motivasi untuk memulai dalam menulis. Pemunculan realita yang dialami oleh beberapa pemula juga dimunculkan di dalam bagian ini, sehingga diharapkan para pembaca termotivasi untuk memulai menuliskan apa saja yang kita rasakan. Dalam buku ini dikisahkan bahwa seorang pelacur pun juga menulis, baginya menulis merupakan lahan yang potensial untuk digarap. Lebih dari itu menulis juga tidak harus identik dengan pendidikan yang tinggi. Segudang manfaat diperoleh dari kegiatan menulis ini, baik menulis opini maupun karangan sejenisnya. Menulis sebagai upaya membebaskan ide yang kita miliki.

Tak perlu berkecil hati ketika tulisan kita belum dimuat. Dengan tidak termuatnya tulisan tersebut kita mempunyai kesempatan untuk melihat dan membaca ulang tulisan kita. Mengoreksi dan berkonsultasi kepada yang lebih berpengalaman untuk perbaikan tulisan. Ketrampilan menulis menjadi indikasi kemajuan sebuah bangsa yang terpelajar. Menulis menjadi sarana untuk mencatat/merekam ssebuah peristiwa bersejarah, meyakinkan akan sebuah fakta, memberitahukan akan sebuah informasi dan mempengaruhi demi sebuah cita-cita. Hal ini hanya dapat terwujud dengan baik jika seseorang dapat menyusun dan mengutarakan pikirannya dengan jelas.

Dalam sebuah tulisan dengan judul “Menjaring Ide”, terdapat sebuah pesan yang mengungkapkan “kalau kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. Untuk mampu menyusun dan mengutarakan pikirannya dengan jelas hal utama yang paling penting adalah menjaring ide. Seorang yang berprofesi sebagai jurnalis dituntut untuk selalu mengembangkan kreatifitasnya, ide tidak oleh kering.

Eko Prasetyo menyadari akan hal ini, dalam buku ini ia menyebutkan bahwa langkah pertama untuk menjaring ide adalah kita cukup membawa buku tulis kemana pun kita pergi. Kedua memperbanyak membaca, dan yang ketiga adalah banyak mengobrol hal-hal positif. Setelah ide-ide tertulis dalam buku catatan kita tinggal menuangkan ide-ide ini ke dalam sebuah tulisan. Kita cukup menuliskan apa yang kita bayangkan.

Pada catatan kedua tentang budaya baca. Kita akan menjumpai sebuah fakta yang mengejutkan tentang negara kita, Indonesia. Pada tahun 2003, United Nations Development Programme (UNDP) menempatkan Indonesia pada urutan ke-112 di antara 174 negara. Sedngkan pada 2005 turun di urutan 117 di antara 177 negara, angka ini menunjukkan fakta adanya penurunan. Jika dibandingkan dengan negara sedang berkembang lainnya, bahkan di ASEAN sekalipun, kemampuan membaca (reading literacy) anak-anak Indonesia sangat rendah.

Pada tahun 1992, International Association for Evaluation (IEA) dalam sebuah studi memperoleh hasil bahwasannya kemampuan membaca murid-murid sekolah dasar kelas IV pada 30 negara di dunia menyimpulkan bahwa Indonesia menempati urutan ke-29. Posisi ini setingkat dengan Venezuela yang menempati peringkat terakhir. Hal ini didasarkan pada kondisi pasif tentang kurangnya gairah dan kemampuan para peserta didik untuk mencari, menggali, menemukan, mengelola, memanfaatkan dan mengembangkan informasi.

Pada bagian terakhir dari buku ini, catatan ketiga dengan tema suksesor, memuat secara eksklusif sekelumit orang-orang yang sukses dari hobinya. Eko Prasetyo menuangkan sebuah fakta kesuksesan dalam buku ini, tercatat per edisi 24 april-21 mei 2008 dalam majalah Adil menuliskan lima nama penulis terkaya di Indonesia. Tempat pertama diisi oleh Andrea Hirata, penulis tetralogi laskar pelangi, yang meraup keuntungan Rp. 2,5 miliar. Kemudian disusul oleh Habiburrahman El Shirazy-penulis novel laris ayat-ayat cinta-yang mendapatkan penghasilan Rp. 1,5 miliar. Berikutnya berturut-turut Nana Kinoysan, Asma Nadia, dan Helvy Tiana Rosa.

Kekayan materi bukanlah yang menjadi tujuan utama. Kekayaan yang diperoleh bisa berupa kepuasan seperti yang diperoleh oleh Helvy Tiana Rosa yang rajin menyumbangkan royaltinya untuk kegiatan sosial. Dengan menulis ternyata manfaat tidak hanya bermanfaat untuk kita, tetapi orang lain juga menikmati hasilnya.

Satu-satunya motivasi Toni Morrison adalah “Bila anda ingin sekali membaca sebuah buku tetapi belum ada yang menuliskannya, Anda harus menulis buku itu.” Tak ada lagi kata untuk tidak menulis, membaca menjadi akar dari terciptanya budaya menulis, membaca dan menulis menjadi sebuah aktivitas yang perkembangannya beriringan.

eko prasetyoJudul Buku      : Kekuatan Pena
Penulis             : Eko Prasetyo
Penerbit           : PT Indeks, Jakarta
Tahun              : 2012
Tebal               : 164 halaman
Harga              : Rp. 35.000,-
ISBN               : 979-062-328-3

*) Peresensi adalah Mahasiswa FKIP Biologi UMS Angkatan Tahun 2010. Aktif mengembangkan Komunitas 3 Pena Buku (K3PB)

Mengenang Kenangan Masa Kecil

Resensi Riza Fitroh Kurniasih*

kumcer mengenangDengan tampilan sampul yang sekilas mampu mengalihkan pandangan calon pembaca dari beberapa deretan buku yang tersedia. Serta pemilihan judul pun menjadi salah satu keunikan tersendiri, menciptakan kolaborasi pada kesan cerita masa lalu yang kini tinggal menjadi sebuah kenangan saja.

Masa SD yang ditempuh selama 6 tahun atau kurang, bahkan tak mengelak ada pula yang lebih dari 6 tahun, menjadikan masa ini sebagai dimensi kehidupan yang menjadi dasar hidup hingga kini. Masa awal sebagai akar diri tumbuh membangun karakter sebagai manusia. Menggambarkan bahwasannya begitu urgent-nya bagaimana roda perjalanan SD terlewati, serta sederetan peristiwa yang menjadi kenangan. Para lakon di dalamnya paham betul akan masa-masa itu, masa di mana seseorang tumbuh sebagai sosok yang sudah harus tersingkirkan karena latar belakang keluarga yang miskin. Tumbuh menjadi pujangga karena kekaguman atas sesama teman sebayanya. Bahkan tumbuh seakan-akan menjadi sosialis yang mengajarkan solidaritas kepada sesama teman, yang kelak dalam kehidupan sekarang menjadi dasar dalam memahami pluralisme.

“Masa kecil menjadi masa yang sangat penting dan perlu digarap dengan seksama, masa kecil menjadi fondasi terbentuknya karakter dan budi pekerti seseorang”. Begitulah tulisan Aji Wicaksono dalam Nostalgia Masa Kecil. Semakin kuat fondasi yang telah terbangun, akan semakin kokoh pulalah bangunan selanjutnya. Anak kecil juga merupakan sosok manusia, ia memiliki perasaan dan emosi yang masih bertumbuh sehingga perlu dibina dan diarahkan. Untuk itulah diperlukan peran serta orang tua, masyarakat dan sekolah. Orang tua menjadi kunci utama pembentukan karakter anak.

Buku kumpulan 25 cerpen yang terangkum dalam satu buku “mengenang…” tak hanya menjadi bukti dokumentasi atas kenangan pribadi di waktu kecil. Bahkan di masa itulah tumbuh pemahaman akan rasa solidaritas, masa penuh dengan kerjasama dan kebersamaan. Masa SD menjadi masa yang kebanyakan didominasi dengan belajar kelompok, begitulah kiranya yang dialami oleh Budiawan Dwi Santoso dengan Merah Celanaku, Putih Bajuku. Kegiatan rutinitas menjadi hal-hal yang dominan untuk diingat. Upacara bendera, senam pagi, bahkan berjalan mengendap-endap memasuki ruang kelas ketika telat dan tak bisa mengikuti kegiatan rutin pun menjadi kenangan tersendiri.

Dua puluh lima (25) judul cerpen mewakili kisah masa kecil yang telah terlewati. Dua puluh lima judul cerpen dengan 25 penulis, sekaligus sebagai sutradara. Di sisi lain merekalah pemeran dari jalannya narasi itu. Mereka mampu melibatkan pembaca untuk menikmati dan menyatu dengan kisah yang diceritakan, sehingga kita seakan-akan diajak untuk melihat gambaran masa lalu sebagaimana ia menggambarkannya dalam cerita di buku ini. Masing-masing penulis berhasil mendiskripsikan dan mengulas cerita masa kecil hadir di mata pembaca.

Tersurat dalam buku ini cerita tentang pergaulan masa kecil/keakraban dengan sesama anak yang tidak pernah membedakan antara juragan dan bawahan serta faktor perbedaan agama yang tidak pernah menjadi masalah. Yang ada dalam permainan adalah berbagi dan bertukar peran karena giliran, itu lebih karena pilihan atau menang kalah pingsut, bahkan prinsip negosiasi sudah diaplikasikan dalam proses berlangsungnya permainan. Pembagian ini bukan karena faktor agama/peranan ekonomi. Inilah pelajaran hidup yang berhasil dimunculkan Sanie B Kuncoro peroleh dari kampung tempat tumbuhnya. Dan di kemudian masa, pengalaman inilah yang menjadi dasar ia dalam memaknai pluralisme.

Keaktifan, kesombongan bahkan pengalaman akan cinta menjadi bumbu tersendiri dalam alur narasi ini. Pengalaman mengagumi sosok teman sebaya menjadi hal yang tabu sekaligus lucu. Pembaca diajak tertawa, karena yang ada di sini adalah perasaan kagum yang diekspresikan lewat kenakalan.

Jika kita menjadi penonton sebuah pertunjukan wayang, maka sang dalang mampu menunjukkan sisi lain dari masa-masa alur cerita perwayangan. Selain yang kita lihat tentang kesenangan, akan kita dapati makna lain dari pertunjukannya. Sang dalang seolah-olah menunjukkan adegan gara-gara yang membuat penonton sontak terkejut. Sebagaimana dikisahkan dalam buku ini, ada beberapa alur kisah yang menyiratkan termarginalkannya sang lakon. Munculnya tragedi ketidaksetaraan dalam hubungan antar manusia karena latar belakang materi, seorang berpotensi mendapatkan perlakuan lebih baik karena lebih berdaya ekonominya. Realitas gara-gara yang dihadirkan sang dalang menunjukkan pada kita bahwa dimensi ini membawa pada pengenalan dunia yang materialistis, pada kesadaran kelas.

Sungguh ironis melihat beberapa fenomena yang harus menjadikan anak-anak emas ini kehilangan sebagian senyum nikmatnya dunia pendidikan serta pupusnya rasa nikmat melahap buku. Sekolah menjadi suatu hal yang dipertanyakan kualitasnya karena tak mampu menghasilkan beras bagi keluarga. Di dalam kelas mereka dibuai dengan iming-iming kesejahteraan, namun jangankan membeli beras, untuk membeli buku, mereka sangat kerepotan.

Latar belakang keluarga menjadi faktor penentu teman mana yang pantas. Anak-anak sekolah dipaksa untuk memahami kelas-kelas sosial masyarakat. Batasan ini sekarang malah semakin jelas dengan adanya kelas atau sekolah eksklusif.

Kumpulan cerpen ini mengingatkan kepada pembaca bahwa sejarah bangku SD yang telah berganti, jika dahulu kita akrab dengan lagu lir-ilir ataupun bintang kecil serta deretan mainan tradisional. Kini telah berganti menjadi lagu-lagu bergenre cinta yang semestiny untuk mereka yang dewasa. Hal ini menyebabkan anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang sering berimajinasi dengan kegalauan jiwa. Permainan karet diiringi dengan celotehan sesama anak kini sirna berganti dengan deretan status di situs jejaring sosial.

“Mengenang kenangan masa kecil” menjadi sebuah nostalgia romantis sekaligus mengharukan. Bagaimana tidak? Sekilas kita mengenang masa-masa kecil kita dengan berbagai cerita asyiknya. Berpetualang menyusuri sungai, seakan-akan menjadi nahkoda yang handal, asyik berimajinasi dengan alam pikiran penuh fantasi. Namun, kenangan itu akan segera tergantikan dengan keharuan ketika melihat realitas yang terjadi sekarang. Permainan-permainan tradisional yang menjadi penghibur sekaligus wahana pembentukan karakter anak telah hilang. Apakah hilangnya tradisi ini disebabkan dampak dari modernitas?

Menjadi sebuah keprihatinan ketika pancasila tak terkenang dalam sanubari. Namun memang begitulah kenyataan yang ada kini, pancasila yang sarat dengan nilai keagungan kini hanya tinggal tulisan. Sebagaimana disuratkan dalam buku ini “Pancasila menjadi milik umum, dilahirkan orde lama, diasuh dan dibesarkan orde baru, namun dibuang sebagai wacana bungkus kacang oleh pasca-reformasi.” Nasib pancasila selanjutnya tergantung pada kita kaum-kaum muda, bila kita hanya diam saja, itu sama saja dengan membiarkan kemandegan yang terjadi saat ini.

“Mengenang…” menjadi salah satu buku kumpulan 25 cerpen dengan masing-masing ceritanya yang menimbulkan kekaguman, keheranan bahkan kemirisan. Di sisi lain buku ini juga mengisyaratkan pentingnya masa SD sebagai fondasi dalam menjalani kehidupan. Begitulah kiranya kita patut dan perlu membaca buku ini untuk menghadirkan kembali masa SD, masa kanak-kanak yang penuh akan nilai solidaritas.

 

kumcer mengenangJudul Buku: mengenang…
Penulis : Kumpulan 25 Penulis
Editor: Bandung Mawardi
Penerbit: Jagad Abjad
Tahun: 2012
Tebal: 172 halaman
Harga: Rp. 25.000,-
ISBN: 978-979-1032-73-5

*) Peresensi adalah Mahasiswa FKIP Biologi UMS Angkatan Tahun 2010. Aktif mengembangkan Komunitas 3 Pena Buku (K3PB)

Nilai Sufistik Dunia Pakeliran (Pewayangan)

Resensi Riza Fitroh Kurniasih*)

“Hanonton ringgit menangis asekel muda hidepan, huwus wruh tuwin, jan
walulang inukir molah angucap” (Lukman Pasha)

pandawaMakna dari kalimat di atas adalah bahwa ada orang melihat wayang menangis, kagum serta sedih hatinya. Walaupun sudah mengerti bahwa yang dilihat itu hanya kulit yang dipahat berbentuk orang dapat bergerak dan berbicara.
Begitu membaca buku Tasawuf Pandawa (Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa) sekan-akan kita diajak menelusuri pemikiran penulis, kemudian berdialog dan selanjutnya seakan-akan kita menjadi sutradara dadakan yang mempunyai peran terbesar atas alur sebuah peristiwa. Pembaca diberi kebebasan dalam mengembangkan pemahamannya akan isi buku ini, pembaca menjadi dalang sekaligus lakonnya.
Muhammad Zaairul Haq menyadari bahwa wayang merupakan hasil kebudayaan yang sarat akan nilai kehidupan sehari-hari. Lima belas tahun yang lalu kita masih bisa melihat pertunjukan wayang di desa-desa dengan penuh hikmat. Pertunjukan wayang ini selain sebagai penghibur juga berperan besar dalam penyebaran Ad-dienul Islam. Namun, kini kesenian wayang sudah kehilangan gaungnya, ia hanya sebatas cerita turun temurun secara lisan yang diturunkan oleh pendahulu-pendahulu kita, dan kenyataannya kini kian lama kian terkikis. Bahkan wayang kembali menjadi perbincangan elit segelintir orang saja. Melihat kondisi seperti ini rupannya penulis dengan penuh kesadaran ingin menghadirkan kembali nilai-nilai yang terdapat di dalam jagad pakeliran. Sebagaimana diungkapkan di dalam bukunya “Wayang sebagai kesenian sudah habis, tetapi sebagai budaya ia masih hidup dalam diri kita”, nilai-nilai yang terdapat di dalamnya memang tidak pernah akan hilang.
Di dalam buku ini diceritakan terjadinya perang Bharatayuddha, yang mengisahkan terjadinya perang besar antara keluarga Pandawa melawan Korawa. Perang besar antara tokoh protagonis dan antagonis, satu peperangan yang membuka hijab kegelapan dan kejahatan, satu peperangan yang mengisahkan arti penting dari kemuliaan dan kebenaran. Peperangan besar yang memiliki makna simbolik bahwa kebenaran pasti akan menang dan kejahatan bagaimanapun besar dan dahsyatnya pasti akan terkalahkan.
Di sisi lain perang saudara ini bisa menjadi cermin dari setiap insan sepenuhnya bahwa kecenderungan setiap manusia adalah menyukai harta benda serta kekayaan. Kecenderungan setiap manusia adalah marah serta tidak ikhlas ketika harta benda mereka diusik sedemikian rupa apalagi dijajah atau diambil secara paksa.
Disebutkan oleh Muhammad Zaairul Haq, sang penulis buku ini, bahwa Korawa selalu hidup dalam dunia kegelapan, bermegah-megahan serta tak pernah memikirkan kebutuhan rohaninya. Hal ini tampaknya dipengaruhi oleh pendidikan yang diajarkan kepada Korawa, yaitu pendidikan kegelapan. Ini simbol dari kebutaan yang dialami oleh sang ayah serta tabiat sang ibu yang ikut-ikutan membutakan kedua matanya dengan kain. Kebutaaan ini secara simbolik memiliki arti bahwa kegelapan selalu menyertai putra-putra mereka. Keberpalingan Gendari dari mensyukuri nikmat Tuhan berupa penglihatan dapat diartikan sebagai keberpalingan Korawa, dan Korawa memilih menjadi pengikut kegelapan.
Pesan lain yang dimunculkan dalam buku ini adalah tentang kekalnya suatu kaum karena perbuatan mereka sendiri. Sebagaimana tersebut “sesungguhnya kekalnya suatu bangsa adalah selama akhlaknya kekal (mereka masih memiliki akhlak yang baik) tetapi jika akhlaknya sudah lenyap, musnah pulalah bangsa itu”. Tidak dapat dipungkiri jika akhirnya Korawa hilang dari peradaban oleh tingkah mereka sendiri, dan akhirnya Pandawa-lah yang menjadi pemenangnya.
Ketika pernyataan di atas kita sinkronkan dengan pilar-pilar yang ada dalam rumah tangga islam, “buniyal islamu ‘ala khomsin”. Lima pilar utama yang akan menjadikan umat islam kokoh, rukun islam menjadi pondasi kita dalam beragama islam. Rupanya hal inilah yang ingin dicerminkan oleh keluarga pandawa yang senantiasa memenuhi kebutuhan jasmani serta rohaninya.
Puntadewa sebagai simbol seorang yang sabar dan mampu mengayomi saudara-saudaranya. Puntadewa memiliki sebuat jimat bernama jamus kalimasada, jimat ini bermakna syahadatain. Di mana syahadatain di sini merupakan pondasi awal bagi seorang ketika dirinya telah percaya sepenuhnya terhadap keberadaan Allah Swt. Dengan kata lain, seseorang tidak akan bisa mencapai kesempurnaan bangunan islam dan iman sebelum ia bersyahadat.
Kehidupan spiritual selalu identik dengan olah-batin, hal ini menjadi sarana untuk mendapatkan kesempurnaan hidup. Yang padanya dicari suasana yang sejiwa dan sesuai dengan prinsip-prinsip hidup, sehingga batin menjadi siap ditanami dengan berbagai ilmu kerohanian. Dalam konteks keislaman, muka Bima (Werkudara) seperti orang menunduk dan belakangnya yang tiinggi digambarkan seperti orang sedang sholat. Dia tidak melayani orang lain jika pekerjaannya sendiri belum selesai. Isyarat bahwa sholat tidak boleh dibatalkan.
Titisan Bathara Indra yang memiliki sifat sebagai seorang yang tekun dan khusyuk dalam bertapa, pancaran mukanya cerah seperti matahari, menjadikan dirinya seorang kesatria yang terkemuka. Di sisi lain Arjuna juga sosok yang mampu khusyuk dalam bertapa dan tabah dalam menghadapi godaan. Dalam konteks keislaman sosok Arjuna dicirikan dengan orang yang selalu berpuasa, menahan diri dari godaan-godaan duniawi.
Nakula sebagai seorang yang tak pernah lupa terhadap segala hal yang dialaminya. Begitulah gambaran seorang yang selalu mensucikan diri akan keberadaan hartanya. Dalam keluarga Pandawa ia layaknya dewa pengobat, senang mengeluarkan zakat. Titisan dari Bathara Aswin ini identik dengan manusia tipe “zakat” arti bakunya yakni orang yang suka beramal atau shodaqoh kepada fakir-miskin.
Kembaran dari Nakula, yaitu Sadewa tercitra sebagai seorang yang tampan, cerdas, rajin, serta patuh dan berbudi bawaleksana. Sadewa menjadi seorang yang ahli peternakan, Sadewa tumbuh menjadi manusia yang “sebenarnya” kaya raya. Digambarkan sebagai sosok manusia yang mampu (secara materi) melakukan ibadah haji dikarenakan hartanya yang cukup, kaya dan terpenuhi sandang pangan serta dermawan.
Secara keseluruhan cerita wayang sebenarnya mendidik, tetapi orientasi pendidikan itu berupa penyajian kejadian yang artinya dapat dirasakan dan ditafsirkan oleh penontonnya menurut kemampuannya masing-masing dan kapasitasnya masing-masing. Pesan yang disampaikan melalui sajian peristiwa ini menggambarkan bagaimana perjalanan seorang manusia menjadi insan kamil, yang dimulai dengan muhasabah al-nafs, kemudian al-iffah dan yang terakhir adalah tazkiyatun nafs.

pandawaJudul buku : Tasawuf Pandawa
(Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa)
Penulis : Muhammad Zaairul Haq
Penerbit : Pustaka Pelajar
Harga : Rp. 50.000
Tahun : 2010
Tebal : 399 halaman
ISBN : 978-602-8479-91-2

*) Peresensi adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta Program Studi Pendidikan Biologi Semester IV

Teka-teki Mati dalam Kematian

Resensi Riza Fitroh K*
Editor Ragil Koentjorodjati

Kematian, adalah kejadian paling pasti yang memberikan konfirmasi
atas kesementaraan ini. Adanya kematian sejelas adanya diri kita: maka,
tak ada alasan untuk tidak membicarakannya.
buku muhammad dammMengungkap tabir akan arti dari sebuah kematian antara ada dan mengada-ada. Kematian sering kita lihat dalam kehidupan bersosial. Fenomena kematian sangatlah dekat dengan kita, bahkan kematian adalah suatu sisi lain dari kehidupan. Namun, tahukah kita akan makna dari kematian itu sendiri. Konsep kematian yang berkembang di tengah masyarakat pada umumnya adalah berpisahnya antara ruh dan tubuh. Dalam kehidupan bersosial kematian selalu dinilai dengan hilangnya harapan, terputusnya cita-cita dan hilangnya eksistensi diri dari kehidupan nyata.
Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah kematian itu berwujud? Mengapa pula kematian harus kita takuti, mengapa pula kematian dianggap sebagai sebuah kondisi yang meniadakan apapun yang ada pada manusia sedangkan kematian itu sendiri menjadi sesuatu yang nyata untuk kita. Dalam buku ini kita akan banyak bertanya-tanya tentang bagaimanakah hakikat dari kematian itu sendiri dan apakah sebenarnya kita membutuhkan kematian itu. Teka-teki tentang kematian tak akan pernah hilang dan lenyap begitu saja tanpa kita menyelami dari makna mati itu sendiri.
Persepsi yang terbangun tentang apakah yang menentukan keberadaan seorang individu adalah tubuh biologisnya, jiwanya atau kemampuan untuk memiliki kesadaran diri, merupakan persoalan yang tak bisa kita abaikan ketika membicarakan tentang kematian yang terjadi pada manusia. Jikalau kematian selalu diidentikan dengan tangisan, bendera putih, batu nisan, kain mori, dan diiringi dengan berselang selingnya tangisan dari para peziarah, benarkah kematian selalu identik dengan kesedihan dan keputusasaan?
Mengingat akan fenomena penciptaan manusia, di sana harus ada beberapa peristiwa kematian, dalam perkembangannya kita harus merelakan pula kematian-kematian itu sehingga terwujudlah bentuk yang sangat sempurna seperti yang ada pada diri masing-masing kita. Ketika kita membicarakan tentang kematian, kemudian kita akan menjumpai istilah bahwa kematian adalah sebuah pilihan atas keadaan, seperti apa yang dilakukan oleh Socrates yang mati karena meminum racun cemara. Lalu benarkah kematian sebagai sebuah noktah atas penerimaan diri akan takdir?
Konsepsi yang mengendap dalam alam pikiran kita tentang kematian adalah kematian yang terjadi pada tubuh korporeal, karena tubuh korporealah yang pernah dilahirkan sehingga memiliki kehidupan, sedangkan tubuh sosial tak pernah dilahirkan namun di-ada-kan. Dalam diri manusia tidak hanya melekat satu tubuh. Namun juga tubuh yang diadakan pula, yang bukan dihasilkan secara institusionalisasi. Mampukah tubuh sosial ini lenyap pula?
Steven Luper (2009:44-46) mengadakan satu eksperimen yang bisa membuat manusia hidup kembali dengan cara; meletakkan atom-atom penyusunnya, lantas diletakkan di tempat mereka semula, sebelum kematian itu terjadi, sehingga orang yang bersangkutan bisa hidup kembali. Bertolak dari teori Steven Luper, Sigmund Freud memperkenalkan sebuah teori Death Drive yang merenungkan tentang dorongan untuk melakukan perubahan melalui disolusi, sebuah dorongan untuk mengubah keadaan dengan mengobrak-abrik situasi yang sudah ada dan terbangun. Dalam teori ini sangat erat dengan munculnya bunuh diri sebagai sebuah perwujutan untuk mendapatkan harapannya.
Dari buku Kematian Sebuah Risalah Tentang Eksistensi Dan Ketiadaan ini kita akan mengetahui di manakah kita akan menemukan kehidupan dan dari manakah kita tahu akan keberadaan kematian itu. Pengetahuan akan kematian ini akan membuat kita lebih memahami akan kehidupan, karena kematian hanya menjadi urusan bagi orang-orang yang masih hidup, tidak pernah menjadi urusan mereka yang telah mengalaminya. Namun, hal ini tidak membawa kita semakin dekat pada pengetahuan paripurna. Di sini kita akan menemukan tentang manakah orang yang mati dan manakah orang yang hidup.

buku muhammad dammJudul buku : KEMATIAN
Sebuah Risalah Tentang Eksistensi Dan Ketiadaan
Penulis : Muhammad Damm
Penerbit : Kepik
Harga : Rp. 30.000
Tahun : 2011
Tebal : 115 halaman
ISBN : 978-602-99608-1-5

*Riza Fitroh K adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta