Arsip Tag: sastra indonesia

Mengenal Puisi-Puisi Sufi yang Menenangkan Jiwa dan Universal

Gerundelan Sonny H. Sayangbati

Di dalam cahaya-Mu aku belajar mencintai. Di dalam keindahan-Mu aku belajar menulis puisi. Kau senantiasa menari di dalam hatiku, meski tak seorang pun melihat-Mu, dan terkadang aku pun ikut menari bersama-Mu. Dan “ Penglihatan Agung” inilah yang menjadi inti dari seniku. – (Rumi – Blog Sastra Indonesia)

Puisi-puisi sufi banyak diperkenalkan oleh para penyair Arab dan Persia sebagai salah satu cara melestarikan nilai-nilai keagamaan atau ajaran-ajaran dalam kitab suci mereka. Para penyair sufi berupaya menulis dengan nilai-nilai luhur atau menggunakan pendekatan yang dinamakan : ” Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme (bahasa Arab: تصوف , ) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi).” – Wikipedia Indonesia.

Pendekatan yang lain mengatakan bahwa : “Ada beberapa sumber perihal etimologi dari kata “Sufi”. Pandangan yang umum adalah kata itu berasal dari Suf (صوف), bahasa Arab untuk wol, merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asetik Muslim. Namun tidak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari wol. Teori etimologis yang lain menyatakan bahwa akar kata dari Sufi adalah Safa (صفا), yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh penekanan pada Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa. Teori lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani theosofie artinya ilmu ketuhanan.” – (Wikipedia Indonesia).

Di Indonesia yang saya tahu dan baca buku-buku puisinya tokoh penyair sufi atau pun puisi-puisinya banyak mengulas masalah-masalah sufi dan maknanya adalah : Abdul Hadi WM, Sutardji Colzoum Bachri, Martha Sinaga (Martha Poem), Dhenok Kristianti, juga ada yang mengatakan bahwa Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo dan Remy Sylado (tokoh mbling), dan mungkin banyak yang lain yang belum dipublikasikan dan tidak diketahui, ini pendapat pribadi saya membaca karya-karya puisi mereka yang seringkali memiliki nilai-nilai religi, walaupun saya tahu ada perbedaan antara puisi sufi dan puisi religi menurut beberapa pakar puisi, namun bagi saya perbedaannya sangat tipis sekali.

Tokoh penulis puisi-puisi sufi dunia seperti yang sering disebutkan dalam media dan buku : Jalaluddin Rumi, Ibnu Arabi, Abunawas, Rabiah Al-Adawiyah, Hasan al-Bashr, Malik bin Dinar, Ma’ruf al-Kharkhi, Fudhayl ibn ‘ Iyadh dan banyak lagi yang lainnya yang dicatat.

Sebenarnya masyarakat puisi belum terinformasikan dengan baik mengenai berbagai macam karya puisi-puisi ini, sepenuhnya kita tergantung dengan buku-buku terjemahan baik terjemahan dalam bahasa Inggris atau pun terjemahan dengan menggunakan bahasa yang lain, umumnya para sarjana Barat sangat menaruh minat yang besar sekali terhadap tulisan-tulisan puisi sufi ini dan merekalah yang paling pertama menggali tulisan-tulisan puisi ini untuk menambah kekayaan ilmu puisi sufi mereka, dan kita masyarakat puisi di Indonesia hanya menunggu terbitan penerjemahannya saja dan buku-buku ini boleh di kata sangat langka baik diperpustakaan maupun di toko-toko buku komersial lainnya, ironis sekali.

Buku-buku puisi sufi sungguh sangat bernilai sekali untuk masyarakat yang pluralisme, beragam kebudayaan dan agama, seharusnya tokoh-tokoh pemerintah dalam sastra menuruh minat besar terhadap karya-karya seperti ini dan ini sesungguhnya mengajarkan nilai-nilai moral yang luhur bagi generasi ke generasi lainnya dan juga sebagai jejak rekaman peristiwa, sungguh sayang sekali buku-buku semacam ini dikalahkan oleh buku-buku yang lainnya.

Saya mengamati, bahwa salah satu kelemahan khususnya juga bagi para ahli sastra dan puisi, mereka kesulitan dalam memperoleh sumber, kesulitan dalam mencari penerjemah sastra yang baik serta mungkin masalah dana dan kesulitan-kesulitan teknis lainnya. Saya berharap bahwa kepada para sastrawan dan tokoh-tokoh yang berwenang bisa mendatangkan karya-karya sastra terjemahan ke dalam khasanah kesuasteraan kita di tanah air, suatu hari kelak !

Mungkin karena di Indonesia memiliki banyak penulis puisi sufi, makanya mereka ingin menjadi tuan di negeri sendiri, iya itu sesuatu yang sangat positif, hanya saja puisi sufi belum populer di Indonesia, seandainya pun banyak dibahas hanya sebatas komunitas, dan mari kita menikmati hidangan rohani dari salah satu penyair religius ini, Abdul Hadi WM dalam blog pribadinya Kampung Puisi :

RAMA-RAMA

rama-rama, aku ingin rasamu yang hangat

meraba cahaya

terbanglah jangan ke bunga, tapi ke laut

menjelmalah kembang di karang

rama-rama, aku ingin rasamu yang hangat

di rambutmu jari-jari matahari yang dingin

kadang mengembuni mata, kadang pikiran

melimpahinya dengan salju dan hutan yang lebat

1974

Sebuah puisi yang indah dan bermakna religius, sejuk di hati, saya menganggap ini puisi bermakna sufi atau religi, mendambakan kehangatan cahaya dan kesejukan embun, bukankah kata-kata ini banyak digunakan untuk sesuatu yang religi ?

Menurut hemat saya siapa pun penyairnya bisa menulis puisi sufi atau bermakna religi ini, tidak terkecuali penyair dari Kalimantan Barat ini, Saifun Arif Kojeh (nama penanya) sedangkan nama aslinya Raden Sarifudin, puisinya menurut saya memiliki makna yang religius, dan dia menulis dengan indahnya dalam buku antologi puisinya : Sembahyang Puisi Menerjemahkan Rindu, h. 13

Sembahyang Puisi

Beduk menabuh di subuh kala

Menalu-nalu jantung kerinduan

Menyegerakan sembayang puisi-puisi terbuai

Menemui dan mencumbui kekasihnya

Dikerelungan yang syahdu ini

Dia mengharu biru dalam munazatnya

“Akulah pecinta dan yang dicinta”

Puisi ini menyejukkan hati, seperti kita ketahui seorang Muslim merupakan kewajiban baginya untuk sembahyang subuh, dan bagi pemeluk agama lain bangun pagi subuh juga merupakan pendekatan yang menyegarkan apabila kita khusuk berdoa dalam keadaan yang segar baik tubuh dan hati yang terdalam, pada saat-saat seperti ini jiwa manusia akan berkomunikasi dengan syahdunya antara pecinta dan yang dicinta.

Kata ‘kekasih’ dan ‘rindu’, seringkali digunakan dalam memaknai sebuah arti dalam puisi sufi dan religi ini, umum diketahui kata-kata ini memiliki arti tersendiri yaitu memaknai : Tuhan atau Allah, saya memaknai puisi Saifun Arif Kojeh ini sebagai puisi sufi dan puisi ini sungguh indah dan puitis :

Bila kutahu

Bahasa air yang mengalir ke muara

Sudah ribuan rindu mampu kuterjemahkan

Rindu ingin terbang seperti burung merpati

Dengan kesetiaannya

Mengantarkan amanat pengirimnya

Kepada orang yang ditujunya

Rindunya Leuser mengarungi laut lepas

menemui bidadari di ujung pulau impian itu

Menantang ombak dan badai yang mengganas

Untuk sampai di sana

Berbagai perasaan yang telah melepas sauh di hati

Bila kutahu

Bahasa bintang menerangi malam

Sudah ribuan rindu mampu kuterjemahkan

(Sembahyang Puisi Menerjemahkan Rindu, Saifun Arif Kojeh, Cover belakang buku)

Sesungguhnya syair-syair dalam puisi sufi itu memiliki nilai keabadiaan, ia sangat dekat dengan ‘Kekasih’, karena Allah adalah Kasih, ia mengasihi manusia tanpa batas dan kasihNya sangat ‘bermartabat’ dan ‘murni’ serta ‘universal’, mengapa demikian ?

Penyair Martha Sinaga (Martha Poem) menulis puisi singkatnya yang religius dalam bukunya : “Kumpulan Seribu Puisi”, h. 30. Ia menulis :

Ayat-Ayat Kekal

Semua ada

Lengkap

Runtun

Ajaib

Mujizat

Pengisi Iman

Kekal

Banyak penyair sufi dan religi beranggapan bahwa nilai-nilai rohani ini membawa manusia kepada sebuah kehidupan yang lebih baik, sebuah kehidupan yang sangat didambakan seluruh umat manusia yaitu kehidupan abadi, sesuatu yang kekal dan tidak binasa, begitupun dengan nilai-nilainya, mungkin juga sebuah puisi akan dibacakan di taman firdaus sebagai pembuka bagi para manusia yang mendapatkan kehormatan untuk hidup abadi di sana.

Banyak sahabat-sahabat penyair yang suka menulis puisi-puisi jenis sufi ini dan beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :

MUNAJAT

wahai pemutus tali pusatku, hingga pisah dengan ketuban pahit. ajari aku faham jeriji hidup

di tajamnya kerikil singgahan dan simpang terlewati. tak keliru tafsir perhentian itu

biar dada teguh mengemudi beban dengan roda ganjil. di simpang-siur pertemukan bukan benang kusut

duhai penghulur rahmat. kolong ranah liar meriak. lubang-lubang pecah berserak bertubi-tumbang; aku terambing di bebatuan serpih antara duri-duri

duhai yang Maha. kentali dadaku dengan kasih.

Januari, 2013

(Kameelia, Bintang Kartika, penyair wanita Malaysia)

Artikel Terkait:

Puisi 2 Koma Tujuh, Sebuah Fenomena

Puisi-puisi Sonny H. Sayangbati

Apa Kata Pendukung Petisi Pembubaran Kementiran Agama?

Tentang Lomba Menulis Cerpen RetakanKata 2013

Kabar Budaya – RetakanKata

Setelah masa pengumpulan naskah diperpanjang hingga 16 Juni 2013, tercatat 502 judul naskah cerpen diikutkan dalam lomba menulis cerpen RetakanKata tahun ini. Mungkin karena kurang memahami petunjuk lomba, banyak pembaca yang mendaftarkan diri namun tidak melampirkan naskah lomba. Peserta yang demikian secara otomatis tidak terdaftar.

Judul-judul cerpen yang masuk dapat dibaca di situs BukuOnlineStore.com. (Private: Naskah Cerpen yang Diterima Panitia Lomba Menulis Cerpen RetakanKata 2013) Dengan password dan link yang dikirim ke alamat email peserta, Anda dapat membaca judul-judul cerpen yang ikut dalam perlombaan ini. Tanpa login terlebih dahulu, Anda tidak akan dapat membaca artikel yang bersifat private tersebut.

Mengingat jadwal pengumpulan naskah yang diperpanjang dan banyaknya cerpen yang ikut dalam perlombaan, maka target pengumuman lomba diperpanjang sampai tanggal 17 Agustus 2013. Pengumuman lomba akan disampaikan melalui situs RetakanKata dan BukuOnlineStore. Panitia akan mengumumkan judul-judul yang terpilih dan peserta pemilik naskah akan diminta untuk konfirmasi ke panitia.

Terima kasih atas partisipasi para sahabat RetakanKata dalam lomba menulis cerpen RetakanKata 2013. Ikuti terus informasi terkait lomba ini hanya di RetakanKata. Salam menulis dan jayalah sastra Indonesia!

Artikel Terkait:

Lomba Menulis Cerpen RetakanKata 2013

Perubahan Ketentuan Lomba Menulis Cerpen RetakanKata 2013

Lomba Menulis Cerpen RetakanKata 2013

Kabar Budaya – RetakanKata

Sebenarnya kami kurang begitu suka menyebut ini sebuah lomba. Kami lebih suka menyebut ini sebagai ajang bersuka ria dengan menulis. Semacam seremoni merayakan kemerdekaan untuk menulis. Tapi, apa boleh buat, istilah lomba ini terlanjur memudahkan komunikasi kita tentang bagaimana sebuah perayaan ini dilakukan sehingga menjadi semacam kegembiraan bagi siapa saja. Yah, itulah tujuan utama kegiatan menulis kita kali ini: merayakan kemerdekaan menulis dengan penuh suka cita. Penggunaan istilah lomba cukup dipandang sebagai pemudahan komunikasi saja.

Seharusnya lomba ini diselenggarakan setiap menyambut ulang tahun berdirinya RetakanKata. Tetapi karena beberapa hal mengganggu agenda, terpaksa tahun ini sedikit mundur ke belakang. Dengan parade lomba yang begitu panjang sepanjang tahun 2012, kami berharap, mundurnya agenda lomba menulis cerpen ini dapat dimaklumi. Tentu kami membutuhkan sedikit jeda untuk bernafas setelah lomba cerpen RetakanKata 2012, menyusul rangkaian lomba-lomba yang lain, sebut saja misalnya lomba menulis opini sebanyak dua kali, lomba menulis resensi, lomba menulis flash fiction, weekly writing challenge dan festival blog sastra indonesia. Meski cukup melelahkan, namun kebahagiaan sahabat RetakanKata menjadi penghibur yang menyemangati kami untuk terus mempertahankan RetakanKata.

Mengawali lomba di tahun 2013 ini, RetakanKata kembali menyelenggarakan lomba menulis cerpen yang tetap GRATIS bagi siapa saja. Dengan menambah kategori lomba, mudah-mudahan perayaan kemerdekaan menulis ini menjadi lebih meriah. Ya, lomba kali ini dibagi menjadi dua kategori, yaitu: kategori untuk umum dan kategori untuk buruh migran. Kategori umum terbuka bagi siapa saja, baik warga negara indonesia maupun bukan. Sedang kategori buruh migran hanya diperuntukkan bagi warga negara Indonesia yang bekerja sebagai buruh migran di mana pun mereka berada. Ketentuan lebih lengkap mengenai lomba cerpen ini dapat disimak di page Lomba Cerpen RetakanKata. Selain menambah kategori lomba, kali ini juga menambah daftar panjang hadiah untuk para juara. Semoga perayaan kemerdekaan menulis ini benar-benar membawa kegembiraan bagi siapa saja.

Untuk membaca ketentuan lomba dan mengunduh formulir pendaftaran klik: LOMBA CERPEN RETAKANKATA 2013.

Kami tunggu karya-karya Anda dan Selamat Bersukacita!

FBSI: Catatan dan Pengumuman Festival

Kurang lebih dua bulan berlalu sejak peluncuran Festival Blog Sastra Indonesia (FBSI) di blog RetakanKata. Sebanyak tujuh belas blog perorangan turut serta dalam festival kali ini. Meski hanya tujuh belas, namun blog-blog tersebut menunjukkan kelebihan para pemiliknya yang tidak saja mengerti dunia kepenulisan namun juga mengerti bagaimana menggunakan teknologi untuk mendukung talenta menulis mereka. Terima kasih kami sampaikan kepada para blogger yang turut memeriahkan festival ini.

Satu bulan penilaian blog yang dimulai sejak Januari hingga Februari telah usai. Dan berikut ini disampaikan beberapa catatan hasil dari pengamatan blog-blog para peserta festival. Mudah-mudahan catatan ini memberi manfaat buat para sahabat blogger khususnya yang bergulat di bidang seni.

banner festival blog indonesia
alamat yang ditautkan pada banner ini adalah:
http://retakankata.com/fbsi/

Secara umum, tampilan blog para peserta menarik dan menunjukkan ciri khas masing-masing. Sayang jika blog yang sudah menarik tersebut jarang sekali di-update. Blog yang sangat jarang di-update menyebabkan pengunjung malas untuk kembali mengunjungi blog Anda sebab tidak mendapat sesuatu yang baru. Ibarat tuan rumah, pemilik blog semestinya tidak membiarkan tamunya disuguhi “yang itu-itu saja.” Jika ada tamu yang mengajak Anda berbicara, tamu itu seperti berbicara di rumah kosong tak berpenghuni. Tentu hal semacam ini membuat mereka malas untuk kembali mengajak berbicara.

Selain itu, update blog tidak harus melulu masalah isi (content). Sahabar blogger bisa melakukan update tata letak (layout), tampilan yang salah seperti misalnya kode html muncul ke permukaan atau memeriksa link-link yang putus (broken links). Perawatan yang baik tentu bermanfaat bagi mesin pencari dan para pengunjung sehingga mereka tidak masuk ke tempat yang salah atau tersesat di blog Anda.

Tampilan yang baik, petunjuk arah yang jelas serta tidak banyak gangguan (noise), atau biasa disebut clean, membuat pembaca nyaman. Dan karena ajang ini adalah festival blog sastra, maka content tetap merupakan kekuatan utama sebuah blog. Maka dengan memperhatikan berbagai pertimbangan untuk memilih blog terpopuler dan terbaik, berikut ini adalah blog-blog yang berhak mendapat penghargaan dari RetakanKata.
 

de baron martha
Street Poems

Juara pertama mendapat Smartfren Andromax atau jika memilih uang tunai akan diganti dengan uang sejumlah Rp 750.000,- adalah Blog STREET POEMS;
 
catatan ahmad saadilah
Catatan Diriku (Ahmad Saadillah)

Juara kedua mendapat uang tunai sebesar Rp 500.000,- adalah Blog CATATAN DIRIKU
 
sebuah tanya di ladang sunyi
Sebuah Tanya di Ladang Sunyi

Juara ketiga mendapat uang tunai sebesar Rp 250.000,- adalah Blog SEBUAH TANYA DI LADANG SUNYI

 

Selamat kepada para pemenang dan silakan melakukan verifikasi dengan mengirim surel ke RetakanKata yang dilampiri data diri dan nomor rekening bank. Kami akan memverifikasi melalui nomor telepon genggam.

Salam sastra Indonesia!

Festival Blog Sastra Indonesia (FBSI)

Kabar Budaya – RetakanKata

festival blog sastra indonesiaMendasarkan pemikiran yang ada di sini dan menyadari bahwa setiap pemikiran dalam upaya menumbuhkembangkan seni dan sastra Indonesia adalah berharga maka RetakanKata menyelenggarakan Festival Blog Sastra Indonesia.  Untuk FBSI kali ini khusus diselenggarakan sebagai bentuk penghargaan terhadap pelajar dan mahasiswa yang secara mandiri menuliskan karya-karyanya di blog. Untuk FBSI yang bersifat umum, kami menunggu kalau sudah ada sponsornya. Yang berminat menjadi sponsor FBSI untuk umum, silakan menghubungi Redaksi RetakanKata.

Untuk mengikuti festival ini, simak ketentuan-ketentuan berikut:

Kriteria Peserta

  • Pelajar dan atau Mahasiswa warga negara Indonesia yang berdomisili di Indonesia.
  • Usia peserta antara 17 – 30 tahun.
  • Memiliki blog pribadi yang berusia minimal 3 bulan.
  • Sudah menjadi follower RetakanKata. Jika belum, sila daftarkan dulu blog atau user email pemilik blog sebagai follower blog yang ada di sidebar blog RetakanKata. (Perhatikan: follower blog bukan follower di facebook atau twitter)

Kriteria Blog

  • Blog mengandung unsur tema seni dan budaya Indonesia (tidak terbatas pada seni tulis saja). Blog yang –minimal-, memuat puisi, cerpen atau otobiografi, diperbolehkan ikut serta.
  • Blog bersifat pribadi dan mandiri. Artinya blog bukan merupakan bagian dari blog keroyokan atau blog yang diisi oleh banyak orang.
  • Tidak ada batasan dalam penggunaan platform blog (wordpress, blogspot, blogger, multiply.)
  • Setiap peserta hanya diperbolehkan mendaftarkan satu blog.

Ketentuan Umum dan Tata Cara

Peserta mendaftarkan blog yang diikutsertakan festival blog sastra Indonesia dengan tata cara sebagai berikut:

1)      Kirim surel (email) dengan subyek “DAFTAR FBSI_NAMA” ke retakankata@gmail.com dengan dilampiri:

a)      identitas diri (copy/scan) kartu identitas pelajar/mahasiswa

b)     nama dan alamat blogmu, logo atau image Blog (ukuran maks 400×400) dan slogan (tagline) atau deskripsi blogmu (maksimal 120 kata). Buatlah sebagus-bagusnya sebab deskripsi blogmu akan ditampilkan di laman FBSI.

2)      Lakukan reblog atas artikel festival ini dan pasang banner FBSI di laman depan (frontpage) blogmu.  Jangan lupa mentautkan banner dengan alamat link yang mengarah ke laman (page) FBSI.

banner festival blog indonesia
alamat yang ditautkan pada banner ini adalah:
http://retakankata.com/fbsi/

3)      Jika proses pendaftaran di atas sudah purna, maka logo dan deskripsi blogmu akan ikut tampil di laman FBSI.

Keuntungan yang Didapat

  • Memperkenalkan blogmu pada pembaca yang lebih luas
  • Kamu bisa saling tukar menukar link dengan sesama pecinta sastra
  • Menambah kenalan para pecinta seni dan budaya dari seluruh Indonesia
  • Dan tentu saja, yang beruntung akan mendapat hadiah atau uang pengembangan blog sebagai berikut:
  1. Juara pertama mendapat Smartfren Andromax atau jika memilih uang tunai akan diganti dengan uang sejumlah Rp 750.000,-
  2. Juara kedua mendapat uang tunai sebesar Rp 500.000,-
  3. Juara ketiga mendapat uang tunai sebesar Rp 250.000,-
Kriteria Penilaian

Penilaian blog akan ditentukan dengan menggunakan gabungan cara-cara berikut:

  1. Penilaian juri independen
  2. Popularitas (rating) dan pendapat atas blogmu di laman FBSI. Gunakan hashtag #festivalblog untuk mengundang kawanmu di twitter dan google plus untuk memberi komen dan memberi rating logo blogmu di laman FBSI.

Untuk mengetahui rating dan pendapat, kamu dapat klik logo blogmu di laman FBSI.

  • FBSI akan dimulai sejak 16 Desember 2012 dan ditutup pada 10 Januari 2013.
  • Periode penilaian dimulai sejak 10 Januari 2013 sampai 10 Februari 2013.
  • Target pengumuman lomba tanggal 14 Februari 2013.

Contoh tampilan festival blog akan seperti Galeri Foto. Jika logo atau foto yang ditampilkan di-klik, maka akan tampak gambar diperbesar.

Di gambar tersebut terdapat tombol komentar, reblog dan suka. Kawanmu bisa memberi rating suka dan meninggalkan balasan di ruang komentar -di bawah nama gambar-. Jadi, tunggu apa lagi, ajak kawan-kawan bloger memperkenalkan blog-blog sastra di seluruh Indonesia melalui Festival Blog Sastra Indonesia (FBSI)

Antara Konsistensi Prinsip dan Goda Politik

Arif Saifudin YudistiraResensi Arif Saifudin Yudistira

Aku mencintai bahasa. Aku mencintainya karena perannya terhadap kehidupan kita, bagaimana bahasa menyediakan kita cara untuk mendedakan luka, keagungan nuansa dan kehalusan eksistensi kita (Maya Angelou)

Pram, begitulah kita mengenal sastrawan yang mencintai bahasa dan menggunakan bahasanya untuk berbuat. Pram barangkali adalah sastrawan yang tak hanya kritis tapi juga konsisten dengan apa yang disuarakan. Perjalanan karir dan hidupnya seperti lika-liku yang tak habis untuk dibaca. Di balik kebesaran dan nama Pram, kita mengenal sosok Pram yang lain, Pram dikenal sebagai sosok yang keras, tegas dan juga sangat kritis terhadap para pengkritiknya. Dunia sastra Indonesia seperti tak seimbang menempatkan posisi Pram di samping para sastrawan yang lain. Pram adalah luka, karena keberpihakannya pada PKI yang dinilai Pram sebagai partai paling konsisten terhadap revolusi. Pram pun mengalami nasib naasnya setelah peristiwa 65 dengan menanggung resiko karyanya dihanguskan dan dibuang di pulau buru. Tapi di sanalah Pram justru menciptakan kuartet pulau buru di tahun 1975 meski sudah dilisankan di tahun 1972.
pramoedya ananta toerKarya-karyanya erat dengan kehidupannya, ia seperti meniupkan nyawa dalam karyanya, hingga karya itu secara tak sadar adalah suara jiwanya. Meski demikian, ia menganggap karya sastra tetap tidak bisa dikontrol oleh sang pencipta itu sendiri. Ia adalah anak dan buah pikiran dari penulis yang terbuka terhadap kritik dan interpretasi pembaca. Di awal kepengarangannya, ia kerap diserang oleh para kritikusnya yakni balfas desember 1956 novel perburuan dinilai tidak terstruktur, akhir kisahnya dibuat-buat dan tokoh-tokohnya tidak meyakinkan. Pram pun akhirnya naik pitam dan menanggapi dengan cara yang emosional. Kritik ini dilancarkan setelah Pram dan teman-temannya mempelopori gelanggang seniman merdeka tahun 1947. Tahun 1950 ia ikut menandatangani “surat kepertjayaan gelanggang” 18 Februari 1950. Pramudya ikut menyepakati konsepsi “humanisme universal” yakni istilah yang dipopulerkan oleh HB.Jassin yang menandai angkatan 45. Buku karya Savitri Scherer ini membantu kita memahami mengapa dan bagaimana Pramudya bisa ikut luruh dalam peristiwa perdebatan dan polemik sastra yang semula ia ikut dalam “gelanggang seniman merdeka” hingga akhirnya ia pun tidak sepakat dan melepaskan diri dari kelompok gelanggang, ketika ia bergabung dengan lekra, ia pun mulai simpatik terhadap PKI dan juga terlibat dalam polemik sastra yang menyerang para generasi baru gelanggang dalam manifes kebudayaan 1963.
Goda Politik
Faktor-faktor yang menyebabkan Pram meninggalkan gelanggang dan akhirnya memutuskan hubungan dengan HB Jassin tidak semata persoalan politik semata, tapi juga karena Pramudya merasa dikhianati oleh prinsip-prinsip yang dinilainya tak sesuai dengan yang diajarkan Jassin kala ia mencetuskan “humanisme universal”. Pram menilai, Jassin dan para pengikutnya tak konsisten dan hanya “klenengan” dan tak mempedulikan rakyat sebagai aspek yang penting dalam karya sastra. Pram pun kecewa dengan sikap gurunya yang kemudian tak peduli ketika ia dipenjara karena menulis Hoa kiau di Indonesia (1960).
Buku ini mengurai dengan jelas mengapa Pramudya bergeser pada ideologi kiri dan memihak PKI. Meski ini berakibat dengan tuduhan ia adalah anggota PKI. Melalui lekra itulah ia bersuara dan menyuarakan prinsip-prinsipnya. Ia sadar betul, ide-ide awalnya bermula dari kritik para seniman dan kritikus lekra termasuk A.S Dharta yang membukakan matanya terhadap kenyataan-kenyataan sosial dan akan pentingnya arti rakyat dalam kesenian dan kesusasteraan. Ia pun tak mampu menahan goda politik yang waktu itu menjadi prinsip PKI bahwa politik adalah panglima, yang sebelumnya menggunakan demokrasi rakyat.
Melalui 10 bab dalam buku ini kita diajak tak hanya menelusuri karya Pramudya, riwayat kepenulisannya, tapi juga lika-liku politik dan kehidupan yang dijalani Pramudya sebagai penulis. Buku ini diawali dengan pendekatan kritis yang menganalisis terhadap perkembangan sastra Indonesia, kemudian menjelaskan kehidupan singkat Pramudya, bab berikutnya membahas tentang polemik sastra dan diikuti dengan pembahasan karya-karya Pramudya dan kontroversi karir Pram antara tahun 63-65. Menurut Savitri, Pramudya adalah penulis yang berdiri di tengah masyarakatnya dan bagian hakiki darinya, meminjam Teuw, Pram adalah “novelis yang tidak hanya mewakili Indonesia, melainkan juga seorang sastrawan yang mewakili kawasan Asia”.
Buku ini juga mendudukkan posisi Pram yang larut dalam posisi yang dilema antara berpihak pada corong partai atau tetap konsisten dengan karyanya yang dicipta. Ia menulis novel “Sekali Peristiwa di Banten” yang mencerminkan sikap Pramudya yang harmonis terhadap borjuasi nasional dan kekuatan angkatan bersenjata. Secara teoritis ini tidak sesuai dengan program pembentukan negara sipil sosialis. Di tahun 60, karya Pramudya yang membela minoritas tionghoa menyatakan siapa musuh Indonesia yang sebenarnya dan borjuasi nasional adalah bagian dari musuh tersebut. Savitri menyebut sikap ambivalen Ppramudya dapat dilihat cerminan akurat sikap ambivalen PKI terhadap “borjuasi nasional”.
Di akhir buku ini, Savitri menjelaskan bagaimana Pramudya menciptakan karyanya yang berbeda dari periode sebelum ia di pulau buru. Ia menciptakan “Bumi Manusia” dengan idealisme konservatif yang berbeda dengan “Gadis Pantai” dengan idealisme revolusioner. Bagaimanapun juga Pram adalah penulis yang tak pernah lepas dari prinsip-prinsip dan tujuan awal dia menulis yakni mendekapkan dirinya di tengah-tengah masyarakat dan tidak terlepas dari masyarakat. Pram adalah representasi dari sosok penulis yang konsisten dengan prinsip meski dengan sikapnya itu pula ia harus melibatkan diri dengan goda politik dan sikap politik partainya.

pramoedya ananta toerJudul buku : PRAMOEDYA ANANTA TOER , Luruh Dalam Ideologi
Penulis : Savitri Scherer
Penerbit : Komunitas Bambu
Hal : 190 halaman
ISBN : 978-602-9402-02-5
Harga : Rp.50.000,00

*) Penulis adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, Aktifis IMM, bergiat di Bilik Literasi Solo.