Arsip Tag: siluet

Hai Raga

Puisi Lila Prabandari

siluet
gambar diunduh dari shutterstock

kukatakan…

raga, bolehkah aku mengkhianatimu?

ketika desau angin berhembus tak mampu menyampaikan inginku

ketika ilalang-ilalang yang bergoyang tak mampu lagi membisikkan resahku

ketika redup sinar kunang-kunang tak menggenggam lagi sepiku

saat matahari berbisik pada rembulan bahwa ia tak mau berganti posisi

raga kukatakan,

aku tak bisa bersamamu lagi

…..

AKU

Puisi Rere ‘Loreinetta

Aku biru yang terungkap lewat butiran jingga. Sore menjemput raut yang luput dalam rajutan memori. Gelanggang demi gelanggang merupa siluet klasik yang tampak tapi pudar bentuk. Sungguh puncak gelisah karena tiada segera menemui sejati, awanku mencair menjadi bulir di pelupuk. Ahh.. demi sunyi yang membekukan baraku, singgahlah duhai, meski sekadar merajuk atau menemani senja sampai landai.
EngganMu adalah tanda bahwa kecamuk tak lagi tersimpan di punggung, ia telah mencari ruas seperti juntai lamtoro yang dihembus angin. Benih-benih yang janggal, tumpah pada anak sungai. Kembali dukaku bermuara padaMu. Dan Kau berpaling sambil menikmati celotehan masa. Pada rimbun harapku yang melambai pudar, rautMu surut dan kasihku tak lagi patut.
Rampung. Sebentar lagi hari merangkak menemui ajalnya dan esok menjadi reinkarnasi yang dikemas seperti ritual yang tak ganjil. Kembali hidup menjadi kelakar untuk dipikirkan, menjejali telam-telam yang berhias pengkhianatan. Kuakui, adalah perlu bagiku mendengarkan setiap helai rencana meski begitu asing bila hendak menuntunku menemui kenyataan hidup. Ini, akan manis, mungkin. Selebihnya, menyakitkan.
Engkau hadir pada sebuah runtun yang pasti, jalan darahku beku seketika ucap cintaMu mengusik sendiriku. Ada kebingungan yang kunikmati, dalam palung hati yang berisik semenjak tanya dari ruang-ruang itu mengusung satu judul obrolan—-Kau-! Aku kemudian berpendar menjadi banyak bentuk dan acap kali kutemui ia satu persatu, hanya namaMu yang disebut-sebut.
Kita lalu melontarkan azimat yang meracau namun nikmat untuk didengarkan kalbu. Sederhana, tapi begitu mewah dalam waktu. Inilah kali pertama kurasai rindu berkali-kali padahal ketika itu, aku dan Kau tak ada spasi. Lalu, adakah beda kali ini? Entah, namun tak mudah untuk menghentikan seru rayu ku atas Mu, duhai, aku benci namun rinduku selalu berkali-kali.

Keadaan ini rupanya telah demikian memadai untuk dilabeli aneh. Bukan tidak mungkin, semakin kumengerti rasa benciku, semakin kusadari pula deru rinduku. Kelak akan kuketahui bahwa makhluk yang menggerayangi palungku hingga membuncah kebencianku kepadanya adalah bernama “ketidaktahuan” dan ia pun membawaku untuk menemui jalan rindu ini.
Ranum. Pergulatan dialektik seolah begitu lancang menghempaskan ego yang pongah. Lantas, malu pun tidak pula rela menampakkan batang hidungnya, sebelum dialektika rindu bergulat menemui stagnasi sambil kembali menjatuhkan jurus demi jurus hingga klimaks dan mengungkap; Benar! sambil mengetuk palu kesepakatan. Kelak seiring waktu, -Benar- ini pun menelan proses panjang untuk kembali menjadi topik sebagai jembatan menuju –Benar- yang lain.
Disebutlah sengketa, padahal begitu semarak anugerah yang menghujani tiap waktu. Namun, bagi ketidaktahuan, tidak ada penjelasan yang lebih baik dari apa yang tampak oleh indera penglihatannya. Sungguh kebutaan seperti itu menjadi lebih menyakitkan daripada kehilangan kornea.

Lantas kedukaan macam apa lagi yang disuguhkan matahari esok pagi, ketika kita terbangun dan merasai ketidaktahuan lagi sambil kerap menjalaninya dengan kerjap penuh pengharapan padanya.

Cerita Bersambung: Tunangan (1)

Cerita Anton Chekhov
Alih Bahasa Retakankata
kasih tak sampai

Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam dan bulan purnama bersinar penuh di atas kebun. Di rumah Shumins acara merayakan malam atas permintaan nenek, Marfa Mikhailovna sudah berakhir. Nadya – tadi dia pergi sejenak ke taman – kini bisa melihat meja tempat pesta makan malam itu di ruang makan, sementara neneknya begitu gaduh dengan gaun sutra cantik nya. Bapa Andrey, seorang imam kepala katedral, sedang berbicara dengan ibu Nadya, Nina Ivanovna di bawah bayang cahaya senja yang menerobos melalui jendela. Ibunya, untuk beberapa alasan, tampak sangat muda di bayang cahaya senja itu. Andrey Andreitch, putra Bapa Andrey, berdiri mendengarkan pembicaraan itu dengan penuh perhatian.
Seperti biasa, udara di taman terasa sejuk, dan bayang gelap penuh kedamaian berbaring di tanah. Ada suara katak bernyanyi, jauh, jauh melampaui kota. Ada rasa bulan Mei, Mei yang manis! Seseorang menarik napas dalam-dalam dan meinginkan kemewahan yang tidak ada di sini, tetapi jauh di bawah langit, di atas pohon-pohon, jauh di alam terbuka, atau di ladang dan kayu hutan. Kehidupan musim semi yang sedang berlangsung, penuh misteri, indah, kaya dan suci di luar pemahaman yang lemah, manusia pendosa. Untuk beberapa alasan seseorang ingin menangis.
Dia, Nadya, sudah dua puluh tiga tahun. Sejak berumur enam belas tahun, ia begitu memimpikan pernikahan dan pada akhirnya ia bertunangan dengan Andrey Andreitch, pria muda yang kini berdiri di sisi lain jendela. Dia menyukainya, dan pernikahan mereka sudah ditetapkan tanggal 7 Juli. Namun entah mengapa, tidak ada sukacita dalam hatinya. Tidurnya tidak nyenyak dan semangatnya terkulai. Melalui lubang jendela yang menghubungkan dengan dapur di bawah tanah, dia dapat mendengar suara para pelayan bergegas, kelontang pisau, dan debam pintu ayun. Lalu bau kalkun panggang dan ceri acar menyeruak, dan untuk beberapa alasan tampaknya ia akan seperti itu sepanjang hidupnya, tidak ada perubahan dan tidak ada akhirnya.

Bersambung…