Arsip Tag: soekarno

Sekilas Tentang Inggit Garnasih

Gerundelan diambil dari Dokumen Salakanagara

gambar diunduh dari http://aleut.wordpress.com
gambar diunduh dari http://aleut.wordpress.com

Perjalanan hari ini pendek saja, jaraknya mungkin tidak sampai 2km, mulai dari Gedung MKAA sampai ke rumah Inggit Garnasih di Jl. Inggit Garnasih No. 8. Rumah ini mirip sebuah dapur. Dapur bagi perjuangan politik menuju kemerdekaan RI.

Banyak tokoh perintis kemerdekaan RI yang pernah menumpahkan ide-ide perjuangan mereka di rumah ini, Ki Hajar Dewantoro, Agus Salim, HOS Cokroaminoto, KH Mas Mansur, Hatta, Moh Yamin, Trimurti, Oto Iskandardinata, Dr Soetomo, MH Thamrin, Abdul Muis, Sosrokartono, Asmara Hadi, dan lain-lain. Di rumah ini pula diskusi-diskusi dilansungkan dan kemudian melahirkan berdirinya Partai Nasional Indonesia (PNI, 1927), Sumpah Pemuda (1928), dan Partindo (1931).

Inilah rumah tinggal milik Inggit Garnasih, istri seorang intelektual muda yang kemudian hari menjadi presiden RI pertama, Soekarno. Inggit dilahirkan di Kamasan, Banjaran tanggal 17 Februari 1888. Pada usia 12 tahun Inggit sudah menikah dengan Nata Atmaja seorang patih di Kantor Residen Priangan. Perkawinan ini tidak bertahan lama dan beberapa tahun kemudian Inggit menikah lagi dengan seorang pedagang kaya yang juga tokoh perjuangan dari Sarekat Islam Jawa Barat, H. Sanoesi. Mereka tinggal di Jl. Kebonjati.

Tahun 1921, datanglah ke rumah mereka seorang intelektual muda dari Surabaya yang akan melanjutkan pendidikan ke THS (sekarang ITB). Saat itu Soekarno muda datang bersama istrinya, Siti Oetari, puteri dari Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto. Hubungan Soekarno dengan Oetari ternyata tidak pernah selayaknya suami-istri, Soekarno lebih menganggap Oetari sebagai adiknya saja. Di sisi lain, Soekarno menaruh cinta pada Inggit Garnasih.

Soekarno akhirnya menceraikan Oetari. Dan ajaib, H. Sanoesi merelakan Inggit untuk dinikahi oleh Soekarno. Mereka menikah pada 24 Maret 1923. Alasan apa yang membuat H. Sanoesi mau melakukan itu tetap menjadi misteri mereka hingga sekarang. Menurut Bpk. Tito Zeni, cucu Inggit, kemungkinan karena H. Sanoesi melihat ada banyak harapan perjuangan pada diri Soekarno. Untuk itu Soekarno memerlukan seorang pendamping yang tepat. Dan Inggit, bagian dari perjuangan Sarekat Islam, adalah perempuan yang paling tepat. Kemudian hari terbukti, Inggit selalu mendampingi Soekarno dalam setiap kegiatan politiknya.

Soekarno-Inggit sempat beberapa kali pindah rumah, ke Jl. Djaksa, Jl. Pungkur, Jl. Dewi Sartika hingga akhirnya ke Jl. Ciateul. Rumah terakhir ini menjadi pangkalan para intelektual muda dalam menggodok pemikiran-pemikiran kebangsaan Indonesia. Rumah ini juga dijadikan tempat penyelenggaraan kursus-kursus politik yang diberikan oleh Soekarno.

Inggit selalu mengambil peran terbaiknya sebagai pendamping dalam setiap kegiatan politik Soekarno, saat keluar masuk penjara akibat kegiatan politiknya, maupun ketika dibuang ke Ende, Flores (1934-1938), dan juga waktu dipindahkan ke Bengkulu (1938-1942), Inggit selalu di samping Soekarno.

Di Bengkulu, Soekarno menampung seorang pelajar, putri dari Hassan Din bernama Fatma. Soekarno dan Inggit tidak memiliki keturunan. Dengan alasan itu Soekarno meminta izin pada Inggit untuk menikahi Fatma. Inggit menolak untuk dimadu, dia memaklumi keinginan Soekarno, namun juga memilih bercerai. Mereka kemudian bercerai di Bandung pada tanggal 29 Feruari 1942 dengan disaksikan oleh KH Mas Mansur. Soekarno menyerahkan surat cerainya kepada H. Sanoesi yang mewakili Inggit.

19 tahun sudah Inggit mendampingi Soekarno sejak masih berupa bibit intelektual muda dalam perjuangan memerdekakan Indonesia, pergelutannya dengan berbagai pemikiran kebangsaan, sampai pematangannya dalam penjara-penjara dan pembuangannya hingga ke Ende dan Bengkulu. Inggit mendampingi seluruh proses pembelajaran Soekarno hingga menjadi dan setelah itu kembali ke rumahnya yang sekarang menjadi sepi di Jl. Ciateul No. 8.

Inggit Garnasih menjalani pilihannya persis seperti yang digambarkan dalam judul buku roman-biografis Soekarno-Inggit karya Ramadhan KH, “Kuantar ke Gerbang” (1981), Inggit hanya mengantarkan Soekarno mencapai gerbang kemerdekaan RI, ke gerbang istana kepresidenan RI. Walaupun begitu, saya merasa lebih suka bila boleh mengatakan Inggit tidak sekadar mengantarkan, namun juga mempersiapkan Soekarno menuju gerbang itu. Soekarno kemudian memroklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 dan menjadi presiden pertama untuk periode 1945-1966.

Inggit sempat mengungsi ke Banjaran dan Garut pada masa Agresi Militer I & II (1946-1949) sebelum kembali lagi ke Bandung dan tinggal di rumah keluarga H. Durasid di Gg. Bapa Rapi. Rumah Jl. Ciateul rusak karena peristiwa Agresi Militer dan baru dibangun ulang dengan bangunan permanen pada tahun 1951 atas prakarsa Asmara Hadi dkk. Di sini Inggit Garnasih melanjutkan hari tua hingga akhir hayatnya. Inggit wafat pada 13 April 1984 dalam usia 96 tahun dan dimakamkan di permakaman Caringin (Babakan Ciparay), Bandung.

Soekarno wafat lebih dulu pada 21 Juni 1970 di Jakarta. Inggit yang renta masih sempat melayat ke rumah duka dan mengatakan, “Ngkus, gening Ngkus teh miheulaan, ku Nggit didoakeun…”

Rumah peninggalan Inggit di Jl. Ciateul No. 8 sekarang selalu tampak sepi. Sudah bertahun-tahun sepi. Sempat terbengkalai tak terurus, kemudian dipugar hanya untuk menemui sepi kembali. Beberapa waktu lalu, rumah ini kembali mengalami beberapa perbaikan, temboknya dicat bersih dan di halaman depan dipasang bilah beton bertuliskan “Rumah Bersejarah Inggit Garnasih”. Mungkin sebuah upaya untuk menghargai sejarah yang sayangnya, tetap saja disambut sepi.

Memang begitulah apreasiasi kita terhadap sejarah bangsa sendiri, seringkali masih tampak lemah. Masih banyak di antara kita yang terus saja mengandalkan dan mengharapkan orang lain untuk melakukan sesuatu sementara kita duduk anggun membicarakan berbagai masalah dalam masyarakat tanpa pernah menyadari bahwa kaki kita tidak menjejak bumi, bahwa tangan kita tak berlumpur karena ikut berkubang dalam berbagai persoalan masyarakat.

Akhirulkalam, bagi saya, Inggit adalah seorang pendamping yang luar biasa, dia bukan pendamping yang sekadar melayani, melainkan pendamping yang menjaga, merawat, dan mengarahkan. Seorang pendamping yang berdaulat atas keputusannya sendiri.

Semasa hidupnya Inggit Garnasih mendapatkan dua tanda kehormatan dari pemerintah RI. “Satyalancana Perintis Kemerdekaan” yang diberikan pada tanggal 17 Agustus 1961 dan “Bintang Mahaputera Utama” yang diserahkan di istana negara pada tanggal 10 November 1977 dan diterima oleh ahliwarisnya, Ratna Djuami.

Nama Sukarno di sini masih ditulis dengan bentuk populernya, dieja dengan ‘oe’ menjadi Soekarno. Namun sebetulnya, sejak diresmikannya Ejaan Republik (sering disebut juga Ejaan Suwandi) pada 19 Maret 1947 menggantikan Ejaan van Ophuijsen, Sukarno menginginkan agar namanya juga dieja berdasarkan ejaan baru tersebut. Sementara mengenai tandatangannya yang masih menuliskan ‘oe’, Sukarno mohon permakluman karena kesulitan mengubah kebiasaan yang sudah dilakukannya selama puluhan tahun.

(Dicandak tina : http://rgalung.wordpress.com/)

Sumber:

  • Cindy Adams, 1966, Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat, Gunung Agung, Jakarta.
  • Obrolan dengan Bpk. Tito Zeni Asmara Hadi, putra Ratna Djuami & Asmara Hadi, cucu Inggit Garnasih, pada tanggal 13 dan 30 Januari 2011.
  • Ramadhan KH, 1981, Kuantar ke Gerbang, Bandung.
  • Wiana Sundari (ed), Dra Eha Solihat, Drs. Eddy Sunarto, Dra., “Rumah Bersejarah -Inggit Garnasih”, Disparbud Pemprov Jabar, Bandung.

 

Artikel Terkait:

Kisah di Balik Pintu

Peluncuran Buku ‘Kisah di Balik Pintu’

Iklan

Obrolan Cangkrukan Ir Soekarno Vs KH Wahid Hasyim Soal Monas dan Istiqlal.


Oleh Rere ‘Loreinetta

Monumen besar atas bangsa ini dari pemikiran Soekaro adalah Tugu Monas dan Masjid Istiqlal. Dua bangunan itu cukup monumental di zamannya, dan di zaman sekarang pun masih terlihat gagah dan berani, seberani dan segagah pemikiran Soekarno.

Peletakkan batu pertama di kedua bangunan ini nyaris bersamaan, dan sedikit menimbulkan pro kontra antara Ir. Soekarno dan KH. Wahid Hasyim.

Wahid Hasyim (ayah Gus Dur) menjadi Menteri Agama waktu itu dan bersama para ulama lain berkeinginan mendirikan masjid skala Nasional.
Ide itu dicetuskan tahun 1950, atas sepertujuan presiden dibentuklah kemudian ketua panitia pembangunan sekaligus Ketua Yayasan Istiqlal, yaitu Bapak Anwar Cokroaminoto.
Pemikiran ini disampaikan sekali lagi kepada presiden, dan beliau sangat setuju dengan pembangunan masjid Istiqlal skala nasional. Maka tahun 1961 dilakukan peletakkan batu pertama pembangunan masjid.

Pada tahun 1961 juga Ir. Soekarno melakukan peletakkan batu pertama pembangunan tugu Monas. Dua bangunan yang cukup besar dan mustahil untuk zaman itu, karena rakyat masih sengsara, sementara pemerintah dalam pembangunan masjid dan monumen tentu menyedot biaya milyardan rupiah, (untuk Istiqlal pembangunan pertama menelan biaya 12. juta dolar Amerika, selesai tahun 1978), demikian juga Monas sangat sebanding atas pembiayaan APBN-nya.

Demi cita-cita yang besar ini, kedua proses pembangunan mengalami titik tegang antara Presiden dan Menteri Agama.

Presiden Soekarno melakukan peletakkan batu pertama untuk Istiqlal, demikian juga untuk tugu Monas. Setelah melakukan peletakkan batu pertama Soekarno melanjutkan pembangunan Monasnya, sementara Istiqlal ditunda sementara.

Kebijakan ini menurut Menteri Agama sangat tidak logis, sama dengan melecehkan tempat ibadah. Presiden lebih mengutamakan Tugu daripada Masjid.

Umat Islam protes dan berpandangan negatif terhadap pemikiran Soekarno.
Para Ulama mengajukan petisi gugatan yang diwakili oleh Menteri Agama, KH. Wahid Hasyim. Wakil umat ini menyampaikan protes kepada presiden. Ia mendatangi istana dengan serius sekali menyampaikan amanah umat.

Setelah menyampaikan proses itu, dengan tenang Soekarno menjawab (menurut prolog sumber, keduanya berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa Timuran),
“Kenengopo aku ndisikno tugu karo masjid….!”
artinya : (kenapa aku mendahulukan membangun tugu daripada masjid)

Selanjutnya kata Soekarno,
“Tugu iku uwekku, teko pikiranku kanggo negoro…, sa’wayah-wayah aku mati, sopo seng nerusno mbangun tugu! Ora ono!”
artinya : (tugu itu milikku, dari pemikiranku untuk negara sebagai monumen. Jika sewaktu-waktu aku mati, siapa yang akan meneruskan, Tidak ada! ini hanya tugu saja)

KH. Wahid Hasyim diam, ia mendengarkan petuah Sooekarno selanjutnya,
“Bedo karo masjid, Khid ! Sa’wayah-wayah aku mati, kowe seng nerusno. Sa’wayah-wayah awakmu mati, ono umat Islam seng mikirno lan nerusno pembangunane. Lan Tugu, ora ono seng nerusno!”
artinya : (Beda kalau masjid, Khid ! Jika aku mati, kamu bisa meneruskan. Atau jika engkau mati juga, maka di belakang masih ada umat Islam yang memikirkan dan meneruskan pembangunan masjid, dan tugu tidak ada yang meneruskan pastinya).

KH. Wahid Hasyim tidak memberikan komentar.
Beliau memahami maksud Soekarno, dan membenarkan pemikiran sang presiden.

BEGITULAH ADANYA..
Suatu pemikiran yang mendalam dan luar biasa atas bangsa ini, tanpa skat-skat kepentingan di dalam hati dan pemikirannya atas keanekaragaman bangsa dan negaranya.
Seorang politisi yang memegang teguh politik kerakyatan dan kebangsaan, ia tidak hanya berkutat pada politik praktis saja walaupun hidup masa muda aktif di dunia politik.

Politik baginya atas bangsa ini sebagai alat untuk kesejahteraan dan kebesaran bangsa dan rakyat. Bukan sebagai alat untuk memenuhi kepentingan nafsu sesaat saja.

Sumber : internet.

Kiamat dan Ratu Adil

ilustrasi dari shutterstock.com
Hari ini, Sabtu 21 Mei 2011, sudah berjalan hingga lewat tengah hari. Sebagian besar orang Kristen yang mendengarkan “maklumat” Presiden Family Radio, Howard Camping, sudah dag-dig-dug, jam berapa ya kiamatnya? Mungkin, bagi orang yang “termakan” maklumat Camping, tadi malam menekuk lutut, bertobat habis-habisan. Mengucapkan janji-janji ampun-ampunan, semoga dosanya terampuni dan sanggup menyongsong kiamat. Bagi yang sudah terlanjur frustasi, semalam suntuk mabuk-mabukan dan bersuka ria, siapa tahu besok sudah tidak mungkin lagi. Setelah hari ini berjalan seperti biasa dan baik-baik saja, apa yang terlintas di benak mereka? Mungkin sebagian besar kembali seperti biasanya dan dengan bodohnya mengucap syukur kiamat tidak jadi sehingga pertobatan bisa ditunda lagi sampai ada pengumuman kiamat berikutnya.
Lain lagi reaksi orang yang apatis pada tokoh agama. Dalam hati mungkin bergumam, kayak dia tahu rencana Tuhan saja. Ketika ucapan tokoh agama tidak terbukti, semakin kikislah legitimasinya sebagai penyambung lidah Tuhan. Bayangkan kalau tokoh-tokoh agama asal bicara, overclaim dan merasa dialah wakil Tuhan di bumi ini, lalu ucapannya melampaui batas-batas wewenang manusia, bukankah dia sedang membusukkan agamanya sendiri? Masih pantaskah tokoh-tokoh semacam itu dipercaya dan dijadikan panutan masyarakat? Akhirnya, orang yang apatis akan semakin apatis dan tak jarang berujung pada penolakan terhadap agama.
Kiamat menandai kedatangan Isa kedua kalinya di dunia ini. Meski berulang kali ada pihak yang meramalkan kapan kiamat terjadi dan berulang kali juga tidak terbukti, tetapi mengapa kebiasaan “menakut-takuti” akan datangnya kiamat tetap bermunculan? Apakah ini dapat diartikan sebagai bentuk rasa frustasi akan hilangnya harapan bahwa dunia ini tidak beranjak menjadi lebih baik? Lalu jalan pintas ditempuh supaya orang segera berbalik arah memperbaiki diri? Mungkin begitu bentuk frustasi orang Amerika.
Lain di Amerika, lain lagi di Indonesia. Selama ini, meski banyak yang frustasi, belum ada yang berani meramalkan kiamat secara terbuka. Tidak berani mengumumkan secara terbuka tersebut bisa jadi karena takut dihujat, atau memang religius atau sebenarnya memang takut mati. Paling pol yang keluar adalah harap-harap cemas ratu adil. Soekarno pernah menjawab soal ratu adil begini:
“Tuan-tuan Hakim, apakah sebabnya rakyat senantiasa percaya datangnya Ratu Adil. Dan sering kali kita mendengar di desa sini atau di desa situ telah muncul seorang “Imam Mahdi”, atau “Heru Cakra”. Tak lain tak bukan, karena rakyat menunggu dan mengharap pertolongan.” (Indonesia Menggugat)
Apa jadinya jika ratu adil yang ditunggu tak kunjung datang? Ada yang frustasi semakin parah hingga stress ringan, depresi bahkan gila. Mengharap pertolongan tapi tak pernah ada yang datang menolong lama-lama “kenthir” sendiri. Sakit psikologis merajalela. Dan ketika sakit ini dibiarkan berlarut-larut, maka tindakan-tindakan manusianya semakin menjauh dari rasionalitas manusia. Bunuh diri, anarkis, apatis, ekstrimis dan mencari bentuk-bentuk baru dengan harapan ada pelepasan beban secara instan. (Memang ada jamu anti melarat yang cespleng?) Berbagai aliran seperti jamur di musim hujan, berkembang dengan pesat. Akal sehat manusia benar-benar menjadi tumpul. Dan tak jauh-jauh dengan Amerika, isu kiamat pun bisa jadi dikumandangkan, meski sembunyi-sembunyi. Semua itu berawal dari depresi berkepanjangan. Rekoso kok ra sudo-sudo…
Ada hal sederhana yang terlupa bahwa sejatinya manusia mendapat tugas menjaga bumi dan kehidupan di dalamnya. Apakah tugas itu sudah diemban dengan baik? Mengapa kita lebih suka menunggu “penyelamat” itu datang? Waktu yang digunakan untuk menunggu itu mungkin sudah dapat menghasilkan tiga atau empat pemimpin besar dalam satu abad ini. Tugas menjaga bumi berarti pula tugas menyemai, memelihara dan menjaga benih-benih penyelamat. Mengkader pemimpin-pemimpin baru. Mengapa kita meragukan kepercayaan yang dimandatkan Tuhan pada manusia yang menjadi bukti nyata bahwa manusia mampu menjaga bumi dan kehidupan di dalamnya? Mari berbangkit dengan menajamkan prasangka baik. Positive thinking! Hingga tidak ada lagi model intimidasi, menakut-takuti ala agama dan harapan semu ratu adil. Pegang dan pupuklah apa yang ada di tangan. Karena hal-hal besar selalu dimulai dari hal-hal kecil yang ada di depan mata.