Arsip Tag: sufistik

Tentang Engkau

Puisi Rere ‘Loreinetta
Siapakah Kau yang mengubah benci menjadi cinta buta tak terkendali?
Siapakah Kau yang di bumi, namun aku mencariMu hingga ke langit?
Apakah Kau sengaja merangkum drama kepedihan menjadi cerita cinta?
Seorang penyairkah Kau atau penyihir, yang telah memetikkan sebuah bintang untukku?
Kau hidup dalam diriku, berjalan, menyalakan parafin dan terlelap.
Kau tidak meninggalkanku, akulah yang tertinggal.
Kehausanku menjadi kekasihMu jauh lebih manis dari semua yang manis,
BersamaMu tak ada apapun yang membahayakan diriku
Walau kegelapan dan kebencian mereka bagaikan awan ancaman yang menyelubungiku.
Tetapi bukankah mutiara tetap bersinar di tempat yang gelap kelam,
Dengan latar yang suram bahkan mutiara bersinar lebih terang.
Kerengganganku padaMu membuatku teringat kembali akan rayuan para perindu.
Mengapa aku tak lagi merasa akrab padaMu?
Menjauhkah Engkau karena jarak yang kubentang sendiri?

Sungguh Engkau Sang Maha Kreatif yang selalu menempaku dengan cobaan dan godaan.
Saat satu masalah berhasil kutaklukkan, Engkau memberi kerumitan baru yang penuh teka teki.
Bagaimana memaknainya jika hatiku kusut begini?
Rasanya seperti berjalan sendiri.
Sebentar-sebentar bersandar pada bahu yang sama rapuhnya.
Sedikit waktu terdiam dalam kacau, sunyi, bising dan termangu.

Perjalanan panjang ini penuh hambatan, belum lagi kumengumpul bekal yang banyak untuk tiba di tempat tujuan, tempat menuai kisah hidup sendiri, tapi sedikit bekal yang kupunyai bahkan kuhamburkan di tengah jalan, begitu saja dan sia-sia.
Adakah mataMu yang masih sudi melihatku walau dengan memicing? Aku tersendat dan terhambat meraih syafaat Para Suci. Tekurung aku dalam puja puji dunia yang tak perlu. Bantu aku yang tak bisa menolong diri sendiri. Aku menunggu dan mencari-cari. Mencuri yang benar dari mana saja yang kutemui.

Maukah Engkau akrab denganku lagi bila kumerayu dengan rindu, atau kumeratap dengan pilu?
Aku tak letih menanti cintaMu.

AKU

Puisi Rere ‘Loreinetta

Aku biru yang terungkap lewat butiran jingga. Sore menjemput raut yang luput dalam rajutan memori. Gelanggang demi gelanggang merupa siluet klasik yang tampak tapi pudar bentuk. Sungguh puncak gelisah karena tiada segera menemui sejati, awanku mencair menjadi bulir di pelupuk. Ahh.. demi sunyi yang membekukan baraku, singgahlah duhai, meski sekadar merajuk atau menemani senja sampai landai.
EngganMu adalah tanda bahwa kecamuk tak lagi tersimpan di punggung, ia telah mencari ruas seperti juntai lamtoro yang dihembus angin. Benih-benih yang janggal, tumpah pada anak sungai. Kembali dukaku bermuara padaMu. Dan Kau berpaling sambil menikmati celotehan masa. Pada rimbun harapku yang melambai pudar, rautMu surut dan kasihku tak lagi patut.
Rampung. Sebentar lagi hari merangkak menemui ajalnya dan esok menjadi reinkarnasi yang dikemas seperti ritual yang tak ganjil. Kembali hidup menjadi kelakar untuk dipikirkan, menjejali telam-telam yang berhias pengkhianatan. Kuakui, adalah perlu bagiku mendengarkan setiap helai rencana meski begitu asing bila hendak menuntunku menemui kenyataan hidup. Ini, akan manis, mungkin. Selebihnya, menyakitkan.
Engkau hadir pada sebuah runtun yang pasti, jalan darahku beku seketika ucap cintaMu mengusik sendiriku. Ada kebingungan yang kunikmati, dalam palung hati yang berisik semenjak tanya dari ruang-ruang itu mengusung satu judul obrolan—-Kau-! Aku kemudian berpendar menjadi banyak bentuk dan acap kali kutemui ia satu persatu, hanya namaMu yang disebut-sebut.
Kita lalu melontarkan azimat yang meracau namun nikmat untuk didengarkan kalbu. Sederhana, tapi begitu mewah dalam waktu. Inilah kali pertama kurasai rindu berkali-kali padahal ketika itu, aku dan Kau tak ada spasi. Lalu, adakah beda kali ini? Entah, namun tak mudah untuk menghentikan seru rayu ku atas Mu, duhai, aku benci namun rinduku selalu berkali-kali.

Keadaan ini rupanya telah demikian memadai untuk dilabeli aneh. Bukan tidak mungkin, semakin kumengerti rasa benciku, semakin kusadari pula deru rinduku. Kelak akan kuketahui bahwa makhluk yang menggerayangi palungku hingga membuncah kebencianku kepadanya adalah bernama “ketidaktahuan” dan ia pun membawaku untuk menemui jalan rindu ini.
Ranum. Pergulatan dialektik seolah begitu lancang menghempaskan ego yang pongah. Lantas, malu pun tidak pula rela menampakkan batang hidungnya, sebelum dialektika rindu bergulat menemui stagnasi sambil kembali menjatuhkan jurus demi jurus hingga klimaks dan mengungkap; Benar! sambil mengetuk palu kesepakatan. Kelak seiring waktu, -Benar- ini pun menelan proses panjang untuk kembali menjadi topik sebagai jembatan menuju –Benar- yang lain.
Disebutlah sengketa, padahal begitu semarak anugerah yang menghujani tiap waktu. Namun, bagi ketidaktahuan, tidak ada penjelasan yang lebih baik dari apa yang tampak oleh indera penglihatannya. Sungguh kebutaan seperti itu menjadi lebih menyakitkan daripada kehilangan kornea.

Lantas kedukaan macam apa lagi yang disuguhkan matahari esok pagi, ketika kita terbangun dan merasai ketidaktahuan lagi sambil kerap menjalaninya dengan kerjap penuh pengharapan padanya.