Arsip Tag: sunyi

Elegi untuk Ibu

Puisi-puisi Ragil Koentjorodjati

elegi untuk
Ilustrasi diunduh dari community.imaginefx.com

#1 Elegi untuk Ibu

Ibu, inilah anakmu,
dalam kesendirian yang sunyi,
aku pernah melata di rahim kudusmu.

Enam belas tahun sudah usiaku,
mungkin tak sudi kauingat ini,
lahirku yang bagai perkosaan kedua bagimu.

Ibu, nyatanya aku ada,
bersamamu rasakan hidup tanpa martabat.
melolong-lolongkan luka yang makin nganga.

Martabat itu, Ibu,
bagaimanakah kita merayapinya dari titik terendah manusia,
sedang kau pun tak pernah menginginkanku,
buah yang kauanggap lahir dari perzinaan di pelacuran.

 

#2 Di Tikungan Itu

Di tikungan itu,
orang gegas berbelok,
dan aku terjerumus
hanya karena ingin berjalan lurus.

 

# Kepada Calon Presiden

Bukan politisi berpuisi yang kami cari,
Tapi politisi yang mengilhami lahirnya puisi-puisi.
Bukan politisi yang tahu betul teori di buku-buku yang kami mau,
Tapi politisi yang mengilhami lahirnya buku-buku.
Cerdaskan anak-anak, cerdaskan guru-guru.
bimbing kami jadi bangsa maju.
Sebab sesungguhnya, kesejahteraan adalah buah pohon-pohon pengetahuan.

Iklan

Secangkir Kopi untuk Ari Pahala

Puisi Ahmad Yulden Erwin

puisi dan kopi
Ilustrasi diunduh dari kolom.abatasa.co.id

Tak ada  secangkir kopi untukmu, Kawanku, tak  ada ruang tamu.

          Kau  pun  tak  hadir di situ, hanya keramik angsa, boneka-

          boneka  tua, porselin  cina,  atau  sebingkai  lukisan rimba.

          Kukatakan  kepadamu, Kawanku: di sini, di ruang tamu ini,

          aku merasa begitu sunyi.

Masih terkenang juga suaramu, sebentuk perlawanan pada batu-

          batu.  Lantas kita pun seru  berdebat:  tentang  sajak-sajak

          awan  dan sungai, tentang debur ombak gelisah mencapai

          pantai, juga kalimat cemas dalam puisi-puisi Paz.

Siang  ini  aku merasa  sedikit  asing, Kawanku,  merasa seakan

          cemas telah meruncing  pada meja dan kursi tamu. Di luar

          jendela, langit begitu kering, cuaca membentur dinding.

‘Kini,  apa  makna  kebebasan  bagiku?’  tanyamu,  suatu ketika.

         Lantas  kau  pun  bercerita  tentang  teater  luka, mencoba

         menafsir duka dalam  pantun  melayu  dan syair-syair  tua,

         atau tenggelam dalam diksi-diksi Akutagawa.

Lewat  teng  12  siang,  aku  merenungkan  budaya yang hilang,

         atau  negara  yang  tak pernah bisa  berdaulat, mirip kisah

         apel yang penuh ulat. Terkadang  kita pun mencoba untuk

         reda, abai pada suasana, tapi di luar kita, cuma pertikaian

         dan hunus senjata.

‘Ideologi  begini,  sebutir  peluru  dan  batu-batu,  apa peduliku!’

         gerutumu,  suatu  pagi,  sambil  mencatat  kalimat-kalimat

         nyeri, mencoba  mengaitkan  rindu pada rintik-rintik sunyi,

         hingga awan-awan dan sungai dalam puisimu: mendadak

         kehilangan dasar imaji.

Di sini, di ruang  tamu  yang sunyi ini, bersama  secangkir kopi:

         aku menyesali suatu bangsa….. yang tak pernah dewasa.