Arsip Tag: teka teki

Menelanjangi Kata

Resensi Riza Fitroh Kurniasih*)

Seni memungkinkan kita untuk masuk dalam jagat rasa atas keindahan.
(Wiji Thukul)

penerbit jagad abjadBagi seorang pembaca awan, keindahan puisi adalah ketika ia langsung mengerti akan makna yang terkandung di dalamnya. Puisi menjadi sebuah karya yang tidak asing lagi dan mudah untuk kita jumpai. Namun, puisi kadang hanya berhenti sampai di lidah saja, manakala puisi ini menjelma menjadi kejenuhan. Akan tetapi lain bagi mereka yang memiliki jiwa seni, mereka akan memelototi puisi itu hingga menemukan arti dan makna yang sesungguhnya yang terkendung di dalamnya. Baginya satu puisi yang belum ia temukan maknanya sama saja menciptakan misteri dalam diri, yang pada akhirnya nanti hanya menjadi bayang-bayang ketidak pastian.

            Budiawan Dwi Santoso menyapa para penikmat puisinya dengan bait-bait puisi yang pendek dan penuh teka-teki itu. Tidak mengherankan ketika buku ini berjudul “Sekejap buku kumpulan puisi”, di dalamnya kita akan menemukan kumpulan-kumpulan puisi yang hanya dengan beberapa baris saja. Namun, kita akan duduk begitu lama dan terpana untuk menemukan makna yang terkandung dalam sekejap puisi itu. Disinilah letak keunikan dari puisi-puisinya tersebut, potongan-potongan kata yang simpel namun maknanya tak sesimpel potongan-potongan kata itu.

            Pria kelahiran Sukoharjo 04 Jannuari 1986 ini menyajikan puisi layaknya sebuah hidangan istimewa. Hidangan istimewa di sini karna puisi-puisinya disajikan dengan tema-tema yang sebenarnya sudah melekat pada diri kita namun kita tak pernah menyadarinya. Ia (si penulis) mengubahnya penampilan dari tema-tema tersebut sehingga layak untuk dinikmati. Tema-tema rumah, catatan, percakapan, jarum jam, dan jeda adalah sesuatu yang sudah melekat dalam keseharian kita, mereka begitu dekat dengan kita namun kita tak pernah menyadarinya.

            Kehidupan manusia kian modern dan kita kian meninggalkan kata, kita tak pernah membedahnya, kita tak pernah menelanjanginya, kita bahkan acuh tak acuh terhadap kata-kata yang berlalu-lalang di hadapan kita. Teknologi kian canggih, dan kata-kata kian beterbangan di antara tangan dan mata satu orang ke orang yang lain. Namun, kata-kata itu serasa hambar, datang kemudian pergi. Tak ada yang salah dengan teknologi, namun misteri yang ada di dalamnyalah yang kadang tak kita pahami. Pria yang aktif sebagai Santri Pengajian Malam Senin Bilik Literasi ini mencoba mendobrak itu semua, ia menghadirkan kehidupan-kehidupan yang sarat akan nilai-nilai estetis dan etika. Kita akan jumpai realitas ini dalam puisinya yang berjudul Catatan Senja, 5.

Catatan Senja, 5

Di batas memerah,

seorang lelaki tua mendapati dirinya

tergeletak dalam selembar promosi

Masa kecilnya terangkum

Dalam sekaleng minuman

Murah.

Keindahan Memori

          Manusia memiliki kemampuan untuk mengingat setiap peristiwa-peristiwa yang dilaluinya, seperti yang diungkapkan oleh Professor Hobby bahwasannya anugerah terbesar manusia-kemampuan untuk mengejar mimpi-mimpi kita. Pengarang lewat kumpulan puisi ini menyimpan dan mengabadikan setiap kenangannya dengan hari-hari yang ia lalui, tersimpan di dalamnya cita-cita, misteri, kesedihan, kengerian, keindahan, bahkan cinta.

            Baginya (si penulis), setiap detik adalah kenangan yang begitu sayang untuk dilewatkan dan dilupakan begitu saja. Bahkan kesedihan dan kerinduannya pada kekasihnya menjadikan ia bermain dengan kata-kata ini hingga tercipta sebait puisi. Ia mampu mengabadikan perasaannya dan memepersembahkannya untuk sang kekasih. Pada awalnya kita tidak akan merasakan bahwa itu sebuah puisi biasa, namun setelah kita menghayati kata demi kata, kita akan menemukan makna yang sebenarnya terkandung di dalamnya.

 

Catatan Malam, 2

Aku rindu sajak yang terbit

Menyinari diriku,

menghangatkan tubuhku

aku rindu sajak yang terbit

membangunkan hidupku

menggerakkan jiwaku

aku rindu sajak yang terbit,

mempertemukan kumbang dan kembang

menumbuhkan-kembangkan hutan perlambangan

 

            Puisi ini menggambarkan bagaimana seseorang sangat ingin bertemu dengan orang yang dirindukannya. Merindukan sapa yang mampu membuatnya bangkit dan kembali berjalan menggapai citanya. Menggambarkan keinginan yang mendalam akan sebuah pertemuan dua insan hingga tak kan terpisahkan lagi. Ia (seseorang dalam puisi) ingin menciptakan tanda akan keberadaannya dengan sang kekasih.

            “Penyair haruslah berjiwa ‘bebas dan aktif’. Bebas dalam mencari kebenaran dan aktif mempertanyakan kembali kebenaran yang pernah diyakininya” (Wiji Thukul). Begitulah gambaran ideal seorang penyair, bagaimana ia seharusnya memiliki pikiran yang bebas dan juga aktif, tanpa adanya keperpihakan terhadap pemegang kepentingan. Begitu juga dengan puisi-puisi yang terdapat di dalam buku ini, puisi-puisi di dalam buku ini patut kita bedah dan kita telanjangi makna yang ada di dalamnya, hingga kita tak akan menemui keperpihakan terhadap pemegang kepentingan.

            Catatan Malam, 7, seakan-akan menyapa kita tentang bagaimana masa kecil kita yang penuh tawa kini hilang tak berjejak, atau bahkan masa kecil mereka yang terenggut, hingga kita tak mampu untuk mengingat kenangan masa kecil kita lewat masa kecil anak-anak zaman kini. Sebuah sajak gelap, menceritakan tentang kita: masa kecil menertawakan lupa-Kita. Puisi ini menggambarkan bagaimana kenangan-kenangan yang sempat terjadi pada masa lalu yang menceritakan tentang ia dan alam serta apa yang ia alami, kini hanya menjadi bahan ejekan diri sendiri. Betapa mirisnya keindahan kenangan tak pernah dikenang, bahkan sesuatu yang indah hanya dianggap sebagai sesuatu yang lalu tanpa arti, kematian, kelahiran, tawa lepas, itu semua bagi mereka di masa sebagai bukti eksistensi. Namun, sekarang orang sudah terlalu percaya diri dan merasa bahwa tak ada yang lebih hebat dari dirinya, fakta inilah yang menjadikan manusia kian terpuruk dengan egoisme diri.

            “Sekejap buku kumpulan puisi” ini menjadi buku yang patut untuk kita dalami akan arti yang terkandung di dalamnya, bagaimana seharusnya kita bermesraan dengan kata-kata dan bagaimana seharusnya kita menyikapi kata-kata yang begitu singkat namun penuh akan makna. Kumpulan puisi ini menjadi kumpulan puisi yang sekejap, namun kita tak akan pernah kehabisan kata dan akal untuk menelanjangi kata-kata yang terdapat dalam puisi tersebut.

Judul buku: Sekejap: Buku Kumpulan Puisi
Penulis: Budiawan Dwi Santoso
Penerbit: Jagat Abjad
Harga: Rp. 15.000
Tahun: 2013
Tebal: 98 halaman
ISBN: 978-979-1032-92-6

*) Peresensi adalah Mahasiswa FKIP Biologi Semester 6 Universitas Muhammadiyah Surakarta, aktif sebagai asisten laboratorium.

Puisi-puisi Alra Ramadhan

gambar disediakan oleh Alra Ramadhan
gambar disediakan oleh Alra Ramadhan

KOPI

setelah menjura untuk kesekian kali, kaucabut
kepada lembut
kabut, kaupusatkan dua lensa
yang nila
“oh, kau harus lihat garis edar bendabenda angkasa.”

aih, ya saja, merekamereka berputarberputar
di gelas memar
waktu kaudaratkan ujung penamu di kotak
tekateki silang, dan kekatamu tak pas:
revolusi, katamu
revolusi (?), ini aku
revolusi, kau beri tanda seru
dan kausebut angka pasti
ratus hari

tapi aku tak ingat angka itu
dan revolusi, aku cuma menjawabnya sendiri
sebab sejak itu kauberlalu
sisakan ampas kopi yang masih mengorbit
di kotakkotak yang belum kaupenuhi

(Malang, 2013)

TEH

tenang,
sebentar lagi bakal datang,
sst… kubilang tenang,
tahan pelatukmu
dan lihat itu, di celah pohonan yang menyerap air langit, dekat semak tempat kaukencing tadi, kau lihat bukan, itu buruan kita!

toh aku mengangguk saja waktu ia menyuruhku untuk tenang. baru kali ini aku benarbenar menurut. tapi bagaimana lagi, dia memang lebih jago berburu, sedang aku tak tahu apaapa soal ini. amatir. maka kutahan juga pelatukku–butuh waktu menariknya

kubilang juga apa,
dia mengendusnya,
bau pipismu! haha, dia benci itu. ia tak senang ada pengganggu masuk wilayahnya. dan kalau kau sadari, dia segera mencarimu setelah ia tahu cirimu. dan perlu kugaris bawahi, seperti dugaanku, ia tak akan pedulikan jika itu air seniku

oh ya, dia berkata begitu,
sebelum menyuruhku
keluarkan kelamin dan menyemprot pohon itu,
katanya: kalau aku, buruanku sudah hapal pada taktikku, kita perlu yang baru, tenang saja, kau akan tetap aman di dekatku

tenang, tenang,
aku tempelkan telunjukku di mulut,
kudesiskan desis,
sempat ia tadi tak percaya: bagaimana kautahu ia akan mencariku, dengan membaui kencingku? seakan kaubisa menjadi mereka saja!

tapi dia benar,
dan kami duduk di beranda sekarang,
dengan hasil buruan
dan gelas yang masih penuh
berisi teh panas
di mana di sana muncul raut wajah tenang
sang serigala yang kutembak mati tadi

(Malang, 2013)

SUSU

nyatanya masih aku palingkan juga
wajah ke arah celahnya
bahkan ketika kausekedar lewat
di depanku dan tanpa sapaku,
tanpa juga sapamu,
sapa kita

siapa kita
yang tak dikenal tak dikekang tak dikenang?

ah tapi kuingat juga senyummu manis
dan gigigigimu yang berbaris
begitu rapi,
dekat sisasisa susu, di pojok bibirmu,
yang kuhapus dengan kecupan merdu

nyatanya aku masih palingkan pula
wajahku
ke arah tak tentu
ketika kuteguk hangat susu
dan berharap kutemu lagi kamu
serta baris putih gigimu rapi
di sudut gelas bundar ini

(Malang, 2013)

Alra Ramadhan lahir di Kulon Progo, D.I. Yogyakarta, dan sekarang berkuliah di Jurusan Teknik Elektro Universitas Brawijaya, Malang. Saat ini ia sedang menyiapkan himpunan puisi dengan judul Salindia. Selebihnya, dipersilakan merapat ke twitter @alravox

Teka-teki Mati dalam Kematian

Resensi Riza Fitroh K*
Editor Ragil Koentjorodjati

Kematian, adalah kejadian paling pasti yang memberikan konfirmasi
atas kesementaraan ini. Adanya kematian sejelas adanya diri kita: maka,
tak ada alasan untuk tidak membicarakannya.
buku muhammad dammMengungkap tabir akan arti dari sebuah kematian antara ada dan mengada-ada. Kematian sering kita lihat dalam kehidupan bersosial. Fenomena kematian sangatlah dekat dengan kita, bahkan kematian adalah suatu sisi lain dari kehidupan. Namun, tahukah kita akan makna dari kematian itu sendiri. Konsep kematian yang berkembang di tengah masyarakat pada umumnya adalah berpisahnya antara ruh dan tubuh. Dalam kehidupan bersosial kematian selalu dinilai dengan hilangnya harapan, terputusnya cita-cita dan hilangnya eksistensi diri dari kehidupan nyata.
Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah kematian itu berwujud? Mengapa pula kematian harus kita takuti, mengapa pula kematian dianggap sebagai sebuah kondisi yang meniadakan apapun yang ada pada manusia sedangkan kematian itu sendiri menjadi sesuatu yang nyata untuk kita. Dalam buku ini kita akan banyak bertanya-tanya tentang bagaimanakah hakikat dari kematian itu sendiri dan apakah sebenarnya kita membutuhkan kematian itu. Teka-teki tentang kematian tak akan pernah hilang dan lenyap begitu saja tanpa kita menyelami dari makna mati itu sendiri.
Persepsi yang terbangun tentang apakah yang menentukan keberadaan seorang individu adalah tubuh biologisnya, jiwanya atau kemampuan untuk memiliki kesadaran diri, merupakan persoalan yang tak bisa kita abaikan ketika membicarakan tentang kematian yang terjadi pada manusia. Jikalau kematian selalu diidentikan dengan tangisan, bendera putih, batu nisan, kain mori, dan diiringi dengan berselang selingnya tangisan dari para peziarah, benarkah kematian selalu identik dengan kesedihan dan keputusasaan?
Mengingat akan fenomena penciptaan manusia, di sana harus ada beberapa peristiwa kematian, dalam perkembangannya kita harus merelakan pula kematian-kematian itu sehingga terwujudlah bentuk yang sangat sempurna seperti yang ada pada diri masing-masing kita. Ketika kita membicarakan tentang kematian, kemudian kita akan menjumpai istilah bahwa kematian adalah sebuah pilihan atas keadaan, seperti apa yang dilakukan oleh Socrates yang mati karena meminum racun cemara. Lalu benarkah kematian sebagai sebuah noktah atas penerimaan diri akan takdir?
Konsepsi yang mengendap dalam alam pikiran kita tentang kematian adalah kematian yang terjadi pada tubuh korporeal, karena tubuh korporealah yang pernah dilahirkan sehingga memiliki kehidupan, sedangkan tubuh sosial tak pernah dilahirkan namun di-ada-kan. Dalam diri manusia tidak hanya melekat satu tubuh. Namun juga tubuh yang diadakan pula, yang bukan dihasilkan secara institusionalisasi. Mampukah tubuh sosial ini lenyap pula?
Steven Luper (2009:44-46) mengadakan satu eksperimen yang bisa membuat manusia hidup kembali dengan cara; meletakkan atom-atom penyusunnya, lantas diletakkan di tempat mereka semula, sebelum kematian itu terjadi, sehingga orang yang bersangkutan bisa hidup kembali. Bertolak dari teori Steven Luper, Sigmund Freud memperkenalkan sebuah teori Death Drive yang merenungkan tentang dorongan untuk melakukan perubahan melalui disolusi, sebuah dorongan untuk mengubah keadaan dengan mengobrak-abrik situasi yang sudah ada dan terbangun. Dalam teori ini sangat erat dengan munculnya bunuh diri sebagai sebuah perwujutan untuk mendapatkan harapannya.
Dari buku Kematian Sebuah Risalah Tentang Eksistensi Dan Ketiadaan ini kita akan mengetahui di manakah kita akan menemukan kehidupan dan dari manakah kita tahu akan keberadaan kematian itu. Pengetahuan akan kematian ini akan membuat kita lebih memahami akan kehidupan, karena kematian hanya menjadi urusan bagi orang-orang yang masih hidup, tidak pernah menjadi urusan mereka yang telah mengalaminya. Namun, hal ini tidak membawa kita semakin dekat pada pengetahuan paripurna. Di sini kita akan menemukan tentang manakah orang yang mati dan manakah orang yang hidup.

buku muhammad dammJudul buku : KEMATIAN
Sebuah Risalah Tentang Eksistensi Dan Ketiadaan
Penulis : Muhammad Damm
Penerbit : Kepik
Harga : Rp. 30.000
Tahun : 2011
Tebal : 115 halaman
ISBN : 978-602-99608-1-5

*Riza Fitroh K adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta

Tentang Engkau

Puisi Rere ‘Loreinetta
Siapakah Kau yang mengubah benci menjadi cinta buta tak terkendali?
Siapakah Kau yang di bumi, namun aku mencariMu hingga ke langit?
Apakah Kau sengaja merangkum drama kepedihan menjadi cerita cinta?
Seorang penyairkah Kau atau penyihir, yang telah memetikkan sebuah bintang untukku?
Kau hidup dalam diriku, berjalan, menyalakan parafin dan terlelap.
Kau tidak meninggalkanku, akulah yang tertinggal.
Kehausanku menjadi kekasihMu jauh lebih manis dari semua yang manis,
BersamaMu tak ada apapun yang membahayakan diriku
Walau kegelapan dan kebencian mereka bagaikan awan ancaman yang menyelubungiku.
Tetapi bukankah mutiara tetap bersinar di tempat yang gelap kelam,
Dengan latar yang suram bahkan mutiara bersinar lebih terang.
Kerengganganku padaMu membuatku teringat kembali akan rayuan para perindu.
Mengapa aku tak lagi merasa akrab padaMu?
Menjauhkah Engkau karena jarak yang kubentang sendiri?

Sungguh Engkau Sang Maha Kreatif yang selalu menempaku dengan cobaan dan godaan.
Saat satu masalah berhasil kutaklukkan, Engkau memberi kerumitan baru yang penuh teka teki.
Bagaimana memaknainya jika hatiku kusut begini?
Rasanya seperti berjalan sendiri.
Sebentar-sebentar bersandar pada bahu yang sama rapuhnya.
Sedikit waktu terdiam dalam kacau, sunyi, bising dan termangu.

Perjalanan panjang ini penuh hambatan, belum lagi kumengumpul bekal yang banyak untuk tiba di tempat tujuan, tempat menuai kisah hidup sendiri, tapi sedikit bekal yang kupunyai bahkan kuhamburkan di tengah jalan, begitu saja dan sia-sia.
Adakah mataMu yang masih sudi melihatku walau dengan memicing? Aku tersendat dan terhambat meraih syafaat Para Suci. Tekurung aku dalam puja puji dunia yang tak perlu. Bantu aku yang tak bisa menolong diri sendiri. Aku menunggu dan mencari-cari. Mencuri yang benar dari mana saja yang kutemui.

Maukah Engkau akrab denganku lagi bila kumerayu dengan rindu, atau kumeratap dengan pilu?
Aku tak letih menanti cintaMu.