Arsip Tag: tercabik

Desember Debu Kelabu

Puisi Anwari WMK

burung pipit
gambar oleh Anwari WMK

Bertengger di reranting pohon
Seekor burung bernyanyi
Senandungkan lagu ihwal
Desember mendebu kelabu

Nyanyian adalah tanda
Tentang suka cita jiwa
Untuk selarik makna
Nikmat mereguk fana

Sukma kian tercabik dingin
Desember mendebu kelabu
Seekor burung di reranting pohon
Hanya dimampukan takdir
Senandungkan tembang pilu

Hingga senja menjelang
Burung itu masih bernyanyi:

“Tak ada perih lebih sembilu
Dari Desember mendebu kelabu
Tak ada pedih di atas nyeri
Dari Desember mendebu kelabu”

(Desember 2012)

Kumpulan Fiksi Super Mini

Flash Fiction Ragil Koentjorodjati

Ilustrasi dari kaskus

~kemarau~
“Sayang, kemarau akan segera usai. Gerimis semalam telah menumbuhkan kuncup rerumputan,” katanya.
“Ya, kecuali di hatiku. Kemarau masih panjang dan ilalang tinggi menjulang.”

~penumpang VIP~
“Tahukah engkau nikmatnya naik kereta eksekutif? Jika engkau mengencingi gembel di sepanjang rel, niscaya engkau tahu nikmatnya”
“Bangsat!”

~perempuanku~
Perempuanku kelaminnya dua, satu di tempat biasanya, satu di dahinya. Yang terakhir ini entah untuk siapa.

~pelacur tua~
“Lima ribu atau kupotong kelaminmu!” bentaknya pada lelaki bermandi keringat di depannya. Setengah telanjang ia melirik pekuburan yang tidak keberatan menerima satu mayat lagi.

~mukjizat~
Selembar daun jatuh dari langit. Tercabik-cabik sebab panas, hujan dan angin.
“Subhanallah, nikmat mana yang kudustakan,” pekiknya ketika daun itu mendarat di kakinya dengan robekan semirip lafal Allah.