Arsip Tag: UMS

Opium yang Memerdekakan Kita

Resensi Irfan Ansori

Editor Ragil Koentjorodjati

perdagangan-canduPengetahuan sejarah sangatlah berharga. Itulah sebabnya, mengapa Sukarno melalui “Jas Merah”-nya mengajak kita untuk selalu merenungi sejarah, dengan menjadikannya sebagai cerminan agar kita tidak jatuh ke lubang yang sama. Maka dari itu, diperlukan bagi kita untuk sedikit-banyak membahas bagaimana cara bangsa ini berupaya mendanai perjuangan kemerdekaan. Hal ini mengingat terdapat suatu fakta yang jarang sekali terungkap dalam buku-buku sejarah, yakni perihal perdagangan dan penyelundupan candu atau opium.

Buku yang ditulis oleh Juliatmo Ibrahim berangkat dari laporan penelitian yang lakukannya pada tahun 2007-2009 di Surakarta. Buku ini mengungkap fakta sejarah bentuk-bentuk perdagangan dan penggunaan candu di Surakarta pada masa revolusi. Salah satu temuan menariknya adalah bahwa pemerintah Indonesia saat itu, melalui Kantor Besar Regi Candu, ternyata mengelola dan memperdagangkan candu untuk dana perjuangan. Di sisi lain, perdagangan candu secara ilegal telah pula dilakukan oleh pedagang-pedagang yang kebanyakan orang Cina di Surakarta dan bisnis itu dapat berkembang.

Candu merupakan sejenis bahan minuman yang diperoleh dari tanaman papaver somniferum. Bahan minuman ini mengandung racun yang dapat melemahkan syaraf-syaraf tubuh manusia, dan apabila dipergunakan berlebihan akan menyebabkan efek memabukkan. Candu dalam istilah umum disebut sebagai opium, berasal dari bahasa latin apion. Oleh karena memabukkan, maka otomatis candu menjadi haram dikonsumsi oleh umat Islam yang merupakan agama mayoritas rakyat Indonesia.

Faktor pendorong yang menyebabkan pemerintah memilih candu sebagai dana perjuangan adalah kondisi sosial, ekonomi, dan keuangan yang porak-poranda akibat pendudukan militer Jepang. Pemerintah republik menyadari bahwa sumber-sumber ekonomi dalam sektor pertanian dan perkebunan tidak dapat diandalkan karena sebagian besar pabrik-pabrik pengolah hasil perkebunan hancur akibat pendudukan Jepang.

Kesulitan ini diperparah dengan tidak berkembangnya sektor keuangan. Pada masa revolusi, terjadi kekacauan dalam penggunaan mata uang. Pada masa itu, beredar tiga mata uang di masyarakat yaitu mata uang Jepang, mata uang NICA dan mata uang Republik Indonesia (ORI). Pemerintah kesulitan untuk menghentikan laju kedua mata uang asing tersebut karena sudah banyak dimiliki oleh masyarakat. Bahkan nilai mata uang ORI lebih rendah dibandingkan kedua nilai mata uang tersebut.

Kondisi ekonomi yang tidak menguntungkan tersebut berdampak pada pemberian gaji kepada pegawai pemerintah dan penyediaan dana untuk perjuangan. Pemerintah harus menyediakan uang yang sangat besar untuk membeli perlengkapan perang dan menyediakan logistik atau perbekalan bagi para pejuang. Senjata dan amunisi yang dimiliki oleh para pejuang sebagian besar merupakan hasil rampasan dari para serdadu Jepang. Itulah sebabnya tidak mengherankan jika masih banyak perjuangan para laskar dengan menggunakan keris, bambu runcing dan alat tradisional lainnya.

Selain itu, diperlukan cadangan devisa yang banyak untuk membiayai perwakilan-perwakilan Indonesia yang berangkat ke luar Negeri, juga duta besar Indonesia di beberapa Negara seperti Bangkok, Rangoon, New Delhi, Kairo, London dan New York.

Untuk mengatasi masalah dana tersebut, pemerintah secara diam-diam menggunakan candu yang dianggap dapat segera menyediakan pendanaan secara cepat untuk kebutuhan perjuangan. Agar pengelolaan candu dapat berjalan lancar maka pemerintah kemudian membentuk beberapa kantor strategis. Kantor pusat pengelolaan candu bertempat di Surakarta dengan nama Kantor Besar Regi Candu dan Garam Surakarta. Kantor ini berada di bawah Kementerian Pertahanan bagian intendance dan Kantor Kementerian Keuangan. Oleh karena itu, badan-badan perjuangan yang menginginkan candu harus mendapatkan ijin atau pengesahan dari kedua Kementerian itu atau dari kantor wakil presiden.

Candu kemudian dijual dan diselundupkan ke luar negeri seperti Singapura atau Birma agar pemerintah Indonesia dapat menukarkan atau membeli senjata, mendapatkan devisa (uang asing) untuk membeli keperluan publik, dan juga ditukarkan dengan emas. Penyelundupan ke Singapura dimulai pada bulan Juli 1974 atas perintah perdana Menteri Amir Syarifudin. Penyelundupan candu semakin intesif dilakukan sejak dikeluarkan perintah penjualan candu (candu trade) oleh Wakil Presiden Muhammad Hatta pada bulan Februari 1948. Berdasarkan perintah tersebut, A.A. Maramis selaku Menteri Keuangan memerintahkan kepada kantor Regi Candu dan Garam di seluruh republik terutama di Surakarta dan badan-badan perjuangan untuk melaksanakan naskah tersebut.

Walaupun pemerintah Indonesia memperbolehkan badan-badan perjuangan memperdagangkan atau menyelundupkan candu untuk dana perjuangan, tetapi pemerintah juga melarang masyarakat memiliki candu tanpa izin dan melebihi besarnya candu yang dimiliki yaitu 1 tube. Namun tetap saja terjadi perdagangan secara illegal, seperti misalnya di beberapa pusat penjualan di Surakarta semacam Nusukan, Pasar Gede, dan Bekonang. Pedagang yang sangat terkenal pada waktu itu adalah Nyah Gudir, yaitu wanita yang tinggal di Nusukan.

Keberhasilan buku ini dalam mengungkap dokumen-dokumen rahasia yang menjadi penguat argumentasi buku ini. Sayangnya, buku ini tidak memberikan gambaran bagaimana respon umat beragama—dalam hal ini Islam—dalam menanggapi ini. Kita tahu, perdagangan candu jelas berbenturan dengan ajaran agama. Namun demikian, kehadiran buku ini setidaknya menunjukkan sisi lain perjuangan bangsa Indonesia. Fakta-fakta sejarah ini diharapkan membuat kita menjadi lebih arif dalam mensikapi masa lalu dan masa sekarang. Mungkin demikian.

perdagangan-canduJudul Buku: Opium dan Revolusi : Perdagangan dan Penggunaan Candu di Surakarta Masa Revolusi (1945-1950)
Penulis: Juliatmono Ibrahim
Tebal Buku: 156 Halaman
Penerbit: Pustaka Pelajar
Tahun Terbit: Cetakan I, Februari 2013

*) Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Pondok Sobron UMS.

Iklan

Nilai Sufistik Dunia Pakeliran (Pewayangan)

Resensi Riza Fitroh Kurniasih*)

“Hanonton ringgit menangis asekel muda hidepan, huwus wruh tuwin, jan
walulang inukir molah angucap” (Lukman Pasha)

pandawaMakna dari kalimat di atas adalah bahwa ada orang melihat wayang menangis, kagum serta sedih hatinya. Walaupun sudah mengerti bahwa yang dilihat itu hanya kulit yang dipahat berbentuk orang dapat bergerak dan berbicara.
Begitu membaca buku Tasawuf Pandawa (Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa) sekan-akan kita diajak menelusuri pemikiran penulis, kemudian berdialog dan selanjutnya seakan-akan kita menjadi sutradara dadakan yang mempunyai peran terbesar atas alur sebuah peristiwa. Pembaca diberi kebebasan dalam mengembangkan pemahamannya akan isi buku ini, pembaca menjadi dalang sekaligus lakonnya.
Muhammad Zaairul Haq menyadari bahwa wayang merupakan hasil kebudayaan yang sarat akan nilai kehidupan sehari-hari. Lima belas tahun yang lalu kita masih bisa melihat pertunjukan wayang di desa-desa dengan penuh hikmat. Pertunjukan wayang ini selain sebagai penghibur juga berperan besar dalam penyebaran Ad-dienul Islam. Namun, kini kesenian wayang sudah kehilangan gaungnya, ia hanya sebatas cerita turun temurun secara lisan yang diturunkan oleh pendahulu-pendahulu kita, dan kenyataannya kini kian lama kian terkikis. Bahkan wayang kembali menjadi perbincangan elit segelintir orang saja. Melihat kondisi seperti ini rupannya penulis dengan penuh kesadaran ingin menghadirkan kembali nilai-nilai yang terdapat di dalam jagad pakeliran. Sebagaimana diungkapkan di dalam bukunya “Wayang sebagai kesenian sudah habis, tetapi sebagai budaya ia masih hidup dalam diri kita”, nilai-nilai yang terdapat di dalamnya memang tidak pernah akan hilang.
Di dalam buku ini diceritakan terjadinya perang Bharatayuddha, yang mengisahkan terjadinya perang besar antara keluarga Pandawa melawan Korawa. Perang besar antara tokoh protagonis dan antagonis, satu peperangan yang membuka hijab kegelapan dan kejahatan, satu peperangan yang mengisahkan arti penting dari kemuliaan dan kebenaran. Peperangan besar yang memiliki makna simbolik bahwa kebenaran pasti akan menang dan kejahatan bagaimanapun besar dan dahsyatnya pasti akan terkalahkan.
Di sisi lain perang saudara ini bisa menjadi cermin dari setiap insan sepenuhnya bahwa kecenderungan setiap manusia adalah menyukai harta benda serta kekayaan. Kecenderungan setiap manusia adalah marah serta tidak ikhlas ketika harta benda mereka diusik sedemikian rupa apalagi dijajah atau diambil secara paksa.
Disebutkan oleh Muhammad Zaairul Haq, sang penulis buku ini, bahwa Korawa selalu hidup dalam dunia kegelapan, bermegah-megahan serta tak pernah memikirkan kebutuhan rohaninya. Hal ini tampaknya dipengaruhi oleh pendidikan yang diajarkan kepada Korawa, yaitu pendidikan kegelapan. Ini simbol dari kebutaan yang dialami oleh sang ayah serta tabiat sang ibu yang ikut-ikutan membutakan kedua matanya dengan kain. Kebutaaan ini secara simbolik memiliki arti bahwa kegelapan selalu menyertai putra-putra mereka. Keberpalingan Gendari dari mensyukuri nikmat Tuhan berupa penglihatan dapat diartikan sebagai keberpalingan Korawa, dan Korawa memilih menjadi pengikut kegelapan.
Pesan lain yang dimunculkan dalam buku ini adalah tentang kekalnya suatu kaum karena perbuatan mereka sendiri. Sebagaimana tersebut “sesungguhnya kekalnya suatu bangsa adalah selama akhlaknya kekal (mereka masih memiliki akhlak yang baik) tetapi jika akhlaknya sudah lenyap, musnah pulalah bangsa itu”. Tidak dapat dipungkiri jika akhirnya Korawa hilang dari peradaban oleh tingkah mereka sendiri, dan akhirnya Pandawa-lah yang menjadi pemenangnya.
Ketika pernyataan di atas kita sinkronkan dengan pilar-pilar yang ada dalam rumah tangga islam, “buniyal islamu ‘ala khomsin”. Lima pilar utama yang akan menjadikan umat islam kokoh, rukun islam menjadi pondasi kita dalam beragama islam. Rupanya hal inilah yang ingin dicerminkan oleh keluarga pandawa yang senantiasa memenuhi kebutuhan jasmani serta rohaninya.
Puntadewa sebagai simbol seorang yang sabar dan mampu mengayomi saudara-saudaranya. Puntadewa memiliki sebuat jimat bernama jamus kalimasada, jimat ini bermakna syahadatain. Di mana syahadatain di sini merupakan pondasi awal bagi seorang ketika dirinya telah percaya sepenuhnya terhadap keberadaan Allah Swt. Dengan kata lain, seseorang tidak akan bisa mencapai kesempurnaan bangunan islam dan iman sebelum ia bersyahadat.
Kehidupan spiritual selalu identik dengan olah-batin, hal ini menjadi sarana untuk mendapatkan kesempurnaan hidup. Yang padanya dicari suasana yang sejiwa dan sesuai dengan prinsip-prinsip hidup, sehingga batin menjadi siap ditanami dengan berbagai ilmu kerohanian. Dalam konteks keislaman, muka Bima (Werkudara) seperti orang menunduk dan belakangnya yang tiinggi digambarkan seperti orang sedang sholat. Dia tidak melayani orang lain jika pekerjaannya sendiri belum selesai. Isyarat bahwa sholat tidak boleh dibatalkan.
Titisan Bathara Indra yang memiliki sifat sebagai seorang yang tekun dan khusyuk dalam bertapa, pancaran mukanya cerah seperti matahari, menjadikan dirinya seorang kesatria yang terkemuka. Di sisi lain Arjuna juga sosok yang mampu khusyuk dalam bertapa dan tabah dalam menghadapi godaan. Dalam konteks keislaman sosok Arjuna dicirikan dengan orang yang selalu berpuasa, menahan diri dari godaan-godaan duniawi.
Nakula sebagai seorang yang tak pernah lupa terhadap segala hal yang dialaminya. Begitulah gambaran seorang yang selalu mensucikan diri akan keberadaan hartanya. Dalam keluarga Pandawa ia layaknya dewa pengobat, senang mengeluarkan zakat. Titisan dari Bathara Aswin ini identik dengan manusia tipe “zakat” arti bakunya yakni orang yang suka beramal atau shodaqoh kepada fakir-miskin.
Kembaran dari Nakula, yaitu Sadewa tercitra sebagai seorang yang tampan, cerdas, rajin, serta patuh dan berbudi bawaleksana. Sadewa menjadi seorang yang ahli peternakan, Sadewa tumbuh menjadi manusia yang “sebenarnya” kaya raya. Digambarkan sebagai sosok manusia yang mampu (secara materi) melakukan ibadah haji dikarenakan hartanya yang cukup, kaya dan terpenuhi sandang pangan serta dermawan.
Secara keseluruhan cerita wayang sebenarnya mendidik, tetapi orientasi pendidikan itu berupa penyajian kejadian yang artinya dapat dirasakan dan ditafsirkan oleh penontonnya menurut kemampuannya masing-masing dan kapasitasnya masing-masing. Pesan yang disampaikan melalui sajian peristiwa ini menggambarkan bagaimana perjalanan seorang manusia menjadi insan kamil, yang dimulai dengan muhasabah al-nafs, kemudian al-iffah dan yang terakhir adalah tazkiyatun nafs.

pandawaJudul buku : Tasawuf Pandawa
(Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa)
Penulis : Muhammad Zaairul Haq
Penerbit : Pustaka Pelajar
Harga : Rp. 50.000
Tahun : 2010
Tebal : 399 halaman
ISBN : 978-602-8479-91-2

*) Peresensi adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta Program Studi Pendidikan Biologi Semester IV

Segala Yang Tak Lengkap

Resensi Arif Saifudin Yudistira*
Editor Ragil Koentjorodjati

Alangkah nistanya dan tidak enaknya bila hidup ini dikelilingi dengan ketidaklengkapan. Keganjilan bukan suatu hal yang membuat teka-teki, membuat kita jadi seorang detektif dalam mencari keganjilan itu, tetapi keganjilan dan ketidaklengkapan itu adalah sesuatu yang dipaksakan untuk melengkapi hidup ini. Tragedi 65 adalah sejarah buram negeri ini yang menyimpan beratus kisah yang tak henti-henti mengalir deras paska kematian Suharto. Orang-orang seperti menjadi corong yang bebas bersuara tidak tahan menahan trauma, menahan derita fisik dan jiwa hingga mereka menuangkan dalam bentuk wawancara, dokumentasi pribadi catatan harian, ataupun memori yang masih tersimpan di otaknya. GM Sudarta adalah bagian dari itu, ia mengangkat kepedihan, kepiluan, kebiadaban, kebar-baran zaman itu, dengan lihai. Bukan karena bumbu-bumbu cerita yang ia buat, melainkan cerita itu adalah nafas dan suara korban yang merasai cinta, dendam, juga prahara dan teka-teki yang tak lengkap dari para korban tragedi 65.
kumcer gm sudartaBuku kumpulan cerpen berjudul “Bunga Tabur Terakhir: Cinta, Dendam dan Karma di Balik Tragedi 65” tak hanya elok karena menceritakan epik sejarah yang indah, realis, dan nyata di hadapan kita peristiwa kebiadaban di tahun-tahun silam. Namun buku ini juga menceritakan kelucuan dan keluguan anak-anak yang terlambat mengenali mbahnya. Di salah satu judul cerpennya “Mbah Broto” GM Sudarta berhasil mengolah kelucuan, dan gejala psikologis seorang yang eks-tapol berhasil menghibur sebagai tukang gali kubur, tukang binatu, hingga tukang bengkel bersama cucunya. Ia hanya ingin, kelak cucunya mengerti dengan kisah yang ada pada dirinya, dan di akhir cerita, betapa terkejutnya cucunya ketika menerima pusaka “madilog” sebagai warisan untuk cucunya. Kisah ini begitu dramatis, tapi penuh keindahan yang menghiasi akhir-akhir kematian Mbah Broto. Ia senang di alamnya, dan tenang, karena telah lega berjumpa dengan malaikat yang ditunda-tunda datangnya daripada teman-temannya yang dipanggil lebih duluan. Akan tetapi , Mbah Broto tampak lain, ia seperti memanggil malaikatnya sendiri, dan merasa puas sudah meninggalkan cerita dan kisahnya yang jujur pada cucunya. Setidaknya cucunya tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Sepuluh judul cerpen seperti mewakili kisah cinta, dendam, dan siksa pedih yang terjadi waktu itu, sekali lagi GM Sudarta, tak hanya berperan sebagai sosok yang melihat, ia berhasil melibatkan pengarang menyatu dengan kisah yang diceritakan, sehingga kita seperti diajak untuk tak hanya melihat ilustrasi-ilustrasi sebagaimana ia menggambar dalam keseharian sebagai kartunis, tapi oom pasikom ini berhasil mendeskripsikan dan menggambarkan cerita dan peristiwa 65 hadir di mata pembaca.
Cita-cita PKI sebagai organisasi yang membela buruh tani dan menggapai kesejahteraan rakyat, mengusir kapitalis jadi hancur, berantakan dan tiba-tiba penuh teror setelah terjadi pembunuhan jenderal. Banyak masyarakat tidak faham, jadi saling bunuh, saling dendam, dan saling tuduh menggunakan kata “terlibat”. GM Sudarta mengemas ini dalam beberapa kisah dalam kumcer ini di beberapa judul cerpennya sepeti :Sum; Orang-orang Yang Tidak Mau Masuk Kubur; Candik Ala; Merindu Jerit Kematian; hingga Perburuan Terakhir.
Di sana ada kisah cinta, ada pembunuhan kejam atas motif politik, ada yang memanfaatkan situasi, di situlah sebenarnya teror kemanusiaan bermula. Sejak itulah sejarah menjadi gelap, saling serang, dan tak memenuhi titik pangkal dari apa yang sebenarnya terjadi. Kumpulan ini tak hanya membuka memori gelap sejarah kita, tak hanya untuk mengingatkan, tapi juga sengatan, bahwa akankah kekejaman, kebengisan, dendam, dan darah menjadi hal yang wajar dan dibolehkan, ketika tragedi dan politik bermain di sana, sedang kita membiarkan begitu saja?.
Kumpulan cerpen ini begitu kuat menarasikan peristiwa bertahun-tahun silam, meski kita melacak tanggal penulisan cerpen ini sekitar 4 tahun berjalan seperti tahun 2003, 2007, bahkan 2011. GM Sudarta, barangkali bukan hanya bercerita tentang khayalan dia, tapi juga peristiwa yang dialaminya sehari-hari sewaktu remaja. Mengapa GM Sudarta menulis kumpulan cerpen ini? Ia menjawab, karena ada sisi-sisi kehidupan yang serasa lebih pas dan cocok bila disajikan dalam bentuk cerpen daripada dalam kartun dan lukisan.
Jika sebagai kartunis dan pelukis ia mengajak para pembaca kartunnya atau pembaca lukisannya untuk menyelami lebih dalam apa yang ada dalam kartunnya. Di kumcer ini pun demikian, ia seolah-olah mengajak ada narasi besar, ada peristiwa suram, ada teka-teki, ada pergulatan, ada banyak kisah yang mesti kita cari benang merah dan membuka misteri itu hingga kita benar-benar tahu sejarah sebenarnya dari tragedi 65 itu. Meminjam istilah Kontras : “Ketika sejarah digelapkan, di situ manusia dan kemanusiaan tersingkirkan”.
Kumpulan cerpen ini juga mengingatkan kepada pembaca semua, dan kita bahwa “hidup yang tak lengkap” sebagaimana dikisahkan dalam cerpen-cerpen GM Sudarta sangat tidak mengenakkan. Gejala teror psikis, siksa fisik, hingga siksa batin yang luar biasa mengakibatkan trauma yang dalam, mengakibatkan dendam yang membara, sehingga kita buta, dan mencari apa yang tidak lengkap tadi. Ketidaklengkapan yang dimaksud GM Sudarta tidak lain dan tidak bukan adalah ketidaklengkapan sejarah 65.
Sebagaimana yang ditanyakan Julius Pour dalam bukunya “G30 S: Pelaku, Pahlawan, dan Petualang”: Apakah kita akan membiarkan selama 46 tahun berlalu,dan mengubur peristiwa ini lebih dalam? Jika jawabannya adalah ya, berarti kita telah memutuskan hidup dengan ketidaklengkapan. Ketidaklengkapan sejarah itu pula yang kelak dikhawatirkan oleh GM Sudarta sebagaimana judul kumcernya “Bunga Tabur Terakhir: Cinta, Dendam dan Karma di Balik Tragedi 65”. Yang penuh dengan segala yang tak lengkap.

Judul buku : Bunga Tabur Terakhir: Cinta, Dendam dan Karma di Balik Tragedi 65
Penulis : GM Sudarta
Penerbit : Galang Press Jogja
Tahun : 2011
Tebal : 156 halaman
Harga : Rp.30.000,00
ISBN : 978-602-8174-65-7

*) Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, Presidium Kawah Institute Indonesia